Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Kitab Akhlaq lil Banat – Djuz 2 (4)

Kitab Akhlaq lil Banat – Djuz 2 (4)

BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 2, yang diperuntukkan bagi Perempuan (Remaja Putri pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.

11. Abu Thalhah al-Anshari dan Para Kerabatnya

Disebutkan dalam hadits : bahwa Abu Talhah AlAnshary r.a. adalah orang Anshar yang paling kaya akan . pohon kurma di Madinah. Harta yang paling dicintainya adalah Biruha’ (kebun kurma) yang menghadap masjid.

Suatu ketika Rasulullah SAW. masuk kebun milik Abu Talhah dan minum air segar yang ada disitu. Tatkala turun ayat : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” (Ali Imran: 92).

Abu Talhah datang kepada Rasulullah SAW. lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta’ala telah menurunkan kepadamu ayat : “Kamu sekali-kali tidak . Sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu ‘ menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” Sedangkan hartaku yang paling kucintai adalah Biruha’. Dan sesungguhnya sedekahku ini adalah sedekah karena Allah Ta’ala yang aku harapkan kebaikannya dan menjadi, tabungan pahala di sisi Allah.

Maka pergunakanlah ia wahai Rasulullah, sesuai dengan yang ditunjukkan oleh Allah kepadamu.” Kemudian Rasulullah SAW. berkata, “Bagus, itulah harta yang beruntung, itulah harta yang beruntung. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Dan aku berpendapat agar engkau membagikannya diantara para kerabatmu.”

Maka Abu Talhah berkata, “Wahai Rasulullah.Aku akan melakukannya.” ‘ Maka Abu Talhah membagikannya kepada para kerabat dan putra-putra pamannya.

Kisah Lain

Sayyidatina Maimunah binti Al-Harits r.a. mempunyai seorang sahaya perempuan, ketika memerdekakannya ia tidak minta izin dahulu kepada Nabi SAW. Ketika Nabi SAW. datang ke rumahnya, Maimunah berkata, “Wahai Rasulullah tahukah Anda, bahwa aku telah merdekakan sahaya perempuanku?” Nabi SAW. bertanya, “Apakah itu sudah engkau lakukan?” Maimunah menjawab, “Ya.” Nabi SAW. berkata, “Seandainya ia engkau berikan kepada paman-pamanmu, niscaya. pahalamu akan menjadi “lebih besar.”

Kisah Lain

Di saat para sahabat radhiyallahu ‘anhum sedang duduk di dekat Nabi SAW., tiba-tiba beliau berkata, “Janganlah ada yang duduk bersama kami orang yang telah memutus hubungan kekeluargaan.” Maka kala itu berdirilah seorang anak muda dari majelis itu, lalu segera mendatangi bibinya untuk minta maaf. Rupanya ia barusan bertengkar dengan bibinya.

Maka setelah bibinya memberi maaf kepadanya, anak muda itu kembali ke majelis semula. Rasulullah SAW. lalu berkata, “Sesungguhnya rahmat itu tidak akan turun kepada suatu kaum yang disitu terdapat pemutus hubungan kekeluargaan.”

12. Apa Kewajibanmu terhadap Pelayan Perempuan?

a. Engkau wajib memperlakukan pelayan-palayanmu secara baik, dengan berbicara lemah lembut kepadanya apabila engkau menginginkan sesuatu darinya. Janganlah engkau mengganggunya dengan umpatan yang kasar, membentaknya ataupun bersikap sombong kepadanya. Dengan lemah lembut, engkau tunjukkan kesalahannya bila terbukti ia bersalah lalu engkau maafkan. Karena telah dimaklumi bahwa manusia adalah tempat kesalahan dan kelupaan.

b. Apabila engkau memanggil pelayanmu, sedang ia tidak menjawabnya dengan segera atau engkau menyuruhnya melakukan sesuatu, dan ia lambat mengerjakannya, maka janganlah segera menegurnya. Mungkin saja ia tidak mendengar suaramu atau ia lagi sibuk. Jadilah engkau seorang yang lapang dada. Engkau bersabar atas kesalahan kesalahan yang dilakukan para pelayan, karena biasanya mereka belum terdidik. Dan memaafkan mereka bila mereka telah memecahkan gelasmu.

Dalam hadits dikatakan : “Janganlah kalian memukul sahaya perempuanmu hanya karena memecahkan gelasmu, sebab gelas itu juga mempunyai ajal seperti ajalmu.” Apabila pelayan memuaskan dalam melayanimu, maka jangan lupa berterima kasih kepadanya atas kebaikannya dan beri dia imbalan atas kebaikan itu. Sebab Allah Ta’ala telah berfirman : “Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula)” (Ar-Rahman : 60).

c. Janganlah engkau tunjukkan rahasia rumahmu kepada pelayan agar tidak ada keinginan padanya untuk mencuri, dan jangan pula mengandalkannya dalam setiap keadaan. Hendaklah engkau berhati-hati kepadanya dengan menghindari duduk bersama untuk bergurau dan berbicara yang tidak ada gunanya. Supaya engkau tidak meniru tabiatnya dan tidak jatuh derajatmu disisinya, dan agar ia tidak berani kepadamu serta tidak berkurang santunnya terhadap dirimu. Adapun duduk bersama untuk suatu keperluan seperti menasihatinya atau mengajarinya urusan-urusan agama, maka hal itu tidak menjadi soal, bahkan ia adalah perbuatan yang dituntut.

d. Janganlah engkau menganiaya pelayan wanita dengan memaksanya melakukan pekerjaan yang di luar kemampuannya, atau menangguhkan pembayarannya, atau bahkan sengaja tidak memberinya upah sama sekali. Dalam hadits disebutkan : “Berikan upah kepada: pekerjamu sebelum kering keringatnya.” Janganlah engkau tangguhkan pembayaran upah yang ja patut memperolehnya. Dalam hadits : “Menganiaya buruh dengan tidak memberi upahnya termasuk dosa besar.” Janganlah engkau memukul pelayan tanpa dasar yang hak. Sebab ada dalam hadits : “Barangsiapa memukulkan cambuk secara aniaya, ia akan dibalas sama pada hari kiamat.”

13. Cara Memaafkan Pelayan

a. Rasulullah SAW. tidak pernah membentak seorang pelayan pun. Sahabat Anas bin Malik r.a. berkata, “Selama . 10 tahun aku melayani Nabi SAW. sama sekali beliau tidak pernah berkata “uff (cih)” kepadaku . Dan beliau tidak pernah mengolok atas sesuatu yang aku lakukan dengan : kenapa engkau melakukannya? Dan sesuatu yang aku tinggalkan : kenapa tidak engkau kerjakan? Jika aku dipersalahkan oleh istri-istrinya, beliau berkata : biarkan dia, sesungguhnya ini terjadi sesuai takdir Allah.”

b. Diriwayatkan suatu ketika Imam Ali karromallahu wajhahu memanggil seorang sahayanya, namun ia tidak segera menjawabnya, maka beliau memanggilnya untuk kedua dan ketiga kalinya. Namun sahaya itu tidak juga menjawabnya. Kemudian beliau datangi sendiri. Ternyata dilihatnya sahaya itu sedang berbaring. Kemudian Imam Ali bertanya, “Wahai anak, tidakkah engkau mendengar panggilanku?” Sahaya itu menjawab, “Ya.” Imam Ali bertanya lagi,” Mengapa engkau tidak menjawab ketika aku memanggilmu?” Sahaya itu menjawab, “Karena aku merasa aman dari hukumanmu sehingga aku bermalas-malasan.” Maka Imam Ali berkata, “Pergilah! engkau bebas merdeka karena Allah.”

c. Diriwayatkan dari Qais bin “Ashim : bahwa pada suatu hari di saat ia sedang duduk santai di rumahnya, tiba tiba datang kepadanya seorang sahaya perempuan dengan membawa alat pemanggang daging yang panas dan masih ada dagingnya. Tiba-tiba alat itu terjatuh dan menimpa anak sang majikan hingga meninggal. Maka sahaya itu pun cemas. Melihat itu Gais berkata kepadanya, “Engkau tidak usah merasa takut! Kemudian Gais memaafkannya sekalian membebaskannya karena Allah Ta’ala.”

14. Apa Kewajibanmu terhadap Tetanggamu?

a. Engkau wajib berakhlak baik terhadap tetanggatetanggamu, karena mereka mempunyai hak yang besar atas dirimu. Allah Ta’ala berfirman : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, sanak kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh” (An-Nisaa’ : 36).

Disebutkan dalam hadits : “Bergaullah yang baik dengan tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang muslim sejati.” Dalam hadits lain : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.”

b. Maka hormatilah para tetanggamu dan berhati-hatilah supaya tidak mengganggu mereka baik dengan memusuhi mereka, bersikap sombong kepada mereka, atau mencaci maki atau bahkan mengolok-olok mereka. Janganlah pula mengganggu mereka dengan mengeraskan suaramu, terutama pada saat-saat mereka tidur dan ketika ada yang sakit di antara mereka atau dengan mengintip mereka dari atap rumah, dari lubang-lubang dinding atau dari lubanglubang pintu dengan tujuan untuk mengetahui keadaan mereka atau untuk mendengarkan pembicaraan mereka.

Allah Ta’ala berfirman : “Dan janganlah kamu memata-matai” (Al-Hujurat : 12). Dalam hadits diriwayatkan : “Barangsiapa mendengarkan pembicaraan sekelompok orang sedang mereka tidak menyukainya. Pada hari kiamat nanti akan dituangkan timah panas dalam kedua ‘telinganya.”

c. Apabila engkau mempunyai kelebihan makanan, maka kirimkanlah kepada tetangga-tetanggamu dan mulailah dengan yang terdekat. Dalam hadits : Dari Aisyah r.a., ia berkata, “Aku berkata : Wahai Rasulullah, aku mempunyai dua tetangga. Kepada yang manakah aku memberi hadiah?” Nabi SAW. menjawab, “Kepada yang terdekat pintunya dirimu.” Apabila engkau membuat kuah, maka janganlah” mengganggu mereka dengan bau makanan dari pancimu, kecuali bila engkau mengambilkan sebagian untuk mereka. Dalam hadits lain : “Tidaklah beriman (sempurna) denganku barangsiapa yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangga disampingnya lapar, sedangkan ia mengetahuinya.”

Dalam hadits lain lagi dikatakan : “Wahai wanitawanita muslim, janganlah seorang tetangga perempuan meremehkan tetangganya, walaupun dengan menghadiahkan kuku kambing.” (kikil kambing/dengkil).

d. Ketahuilah, bahwa tetangga itu terbagi menjadi 3 macam sebagaimana dalam hadits : “Seorang tetangga mempunyai satu hak, seorang tetangga lagi mempunyai dua hak dan seorang tetangga yang lain lagi mempunyai tiga hak.

Adapun tetangga yang mempunyai tiga hak ialah tetangga muslim, yang masih ada hubungan kerabat, ia mempunyai hak tetangga, hak Islam dan ikatan kerabat. Adapun yang mempunyai dua hak ialah tetangga muslim saja, ia mempunyai hak tetangga dan hak Islam. Adapun yang mempunyai satu hak, ia adalah tetangga musyrik.”

e. Mengganggu tetangga adalah dosa besar. Nabi SAW. bersabda : “Tidak akan masuk surga barangsiapa yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.” Jika engkau merasa terganggu oleh para tetangga yang jahat, maka sabariah atas gangguan mereka. Janganlah engkau dekati perangai mereka yang buruk, supaya engkau selamat dari kejahatan-kejahatan mereka. Dan hindarilah bergaul dengan anak-anak perempuan mereka supaya engkau tidak tertular watak mereka yang buruk sehingga menjadi jahat seperti mereka.

Sebagaimana kata penyair, Bila engkau meniru akhlak yang rendah maka tidak berbeda antara engkau dan orang yang kau tiru

15. Kisah-kisah Nyata

a. Di zaman Rasulullah SAW. ada seorang perempuan yang amat tekun beribadah, siang hari ia berpuasa dan malamnya ia isi dengan shalat, tetapi sayang ia berakhlak buruk. la suka mengganggu semua tetangganya dengan lisannya. Maka orang-orang mengadukan perihal perempuan tersebut kepada Nabi SAW. Kemudian Nabi SAW. bersabda, “Tiada padanya kebaikan. Dan ia termasuk penghuni neraka.”

b. Mujahid berkata, “Ketika aku sedang berada di rumah Abdullah bin Umar kulihat sahayanya sedang menguliti seekor kambing.” Kemudian Abdullah berkata kepada sahayanya itu, “Wahai anak, apabila selesai mengulitinya, mulailah engkau berikan ke tetangga kita yang Yahudi itu.” Ia ucapkan kalimat itu berkali-kali. Maka aku heran dan berkata kepadanya, “Sampai berapa kali engkau katakan itu ?” Abdullah menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah SAW. selalu mewasiati kami mengenai tetangga, hingga Kami khawatir beliau akan menjadikannya mewarisi kami.”

c. Ada seorang mengeluh tentang banyaknya tikus yang ada di rumahnya. Maka dikatakan kepadanya, “Bagaimana seandainya engkau pelihara kucing ?” Orang itu menjawab, “Aku khawatir suara kucing itu membuat tikus-tikus pada lari ke rumah para tetangga, sehingga aku jadi senang musibah mereka sedangkan aku tidak suka hal itu menimpa diriku sendiri.”

d. Imam Abu Hanifah rahimahullah mempunyai seorang tetangga yang amat pendengki. Ia suka mengganggu dan menggunjing beliau. Akan tetapi Imam Abu Hanifah tetap sabar menghadapinya. Apabila beliau lewat di depannya, beliau memberi salam kepadanya, walau orang itu tidak sudi membalas salamnya. Maka orang-orang pun menegur beliau yang begitu tabah dan sabar dalam menghadapi tetangganya. Namun beliau hanya berkata, “Sesungguhnya mereka para tetangga itu mempunyai hak.”

 

(Bersambung ….. )

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR