Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin – Djuz 4 (2)

Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin – Djuz 4 (2)

BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 4 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.

1. Rasa Malu dan Tidak Tahu Malu 

1. Ketahuilah! hai anak tercinta, rasa malu adalah pokok segala keutamaan dan sumber segala adab. Maka, manusia wajib berakhlak dengan rasa malu sejak awal pertumbuhannya, agar dia terbiasa dengan akhlak mulia dan adab yang baik di kala dewasa. Dalam hadits disebutkan: “Rasa malu itu selalu membawa kebaikan”. “Rasa malu itu . sebagian dari iman”. Juga “Rasa malu adalah pengamalan agama seluruhnya”.

Adapun perbuatan keji atau keberandalan, maka ia merupakan pembuka pintu perbuatan yang rendah dan hina seluruhnya. Nabi saw. bersabda: “Apabila engkau tidak merasa malu, maka berbuatlah sekehendakmu.” Penyair berkata: Jika engkau tak takut akibat di kemudian hari dan tidak merasa malu, maka lakukanlah segala yang engkau kehendaki. Demi Allah, tiada kebaikan dalam kehidupan di dunia bila lenyap rasa malu. Manusia hidup dalam kebaikan, selama ia merasa malu sebagaimana batang yang terjaga, selama ada kulitnya.

Sayyidina Abu Bakar ra. sering mengucapkan bait berikut, “Sungguh, seakan-akan aku melihat orang yang tak malu dan tidak jujur, telanjang di tengah masyarakat.”

2. Rasa malu itu terbagi menjadi tiga macam:

Pertama, terhadap Allah Ta’ala: Kedua, terhadap manusia, dan Ketiga, terhadap diri sendiri. Rasa malu terhadap Allah Ta’ala: Hal itu terwujud dengan mematuhi perintah-perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Nabi saw. bersabda: “Malulah terhadap Allah Azza wa Jalla dengan rasa malu yang sebenarnya.” Ada yang mengatakan: “Hai Rasulullah, bagaimana kami merasa malu kepada Allah dengan sebenarnya?” Beliau menjawab: “Barangsiapa memelihara Kepala dan apa yang dikandungnya (akal), perut dan isinya (makanan), dan meninggalkan perhiasan kehidupan dunia serta mengingat mati dan kehancuran, maka ia pun telah merasa malu terhadap Allah Azza wa Jalla dengan sebenarnya.”

Rasa malu ini adalah buah dari kekuatan iman dan keyakinan. Oleh karena itu, disebutkan dalam hadits: “Sedikit rasa malu adalah kufur, sedang rasa malu adalah ikatan iman. Jika ikatan dari suatu benda terlepas, maka bercerai berai dan berantakanlah segala isinya.”

Rasa malu terhadap manusia: Hal itu terwujud apabila kamu menjaga pandangan dari suatu yang tidak halal dari mereka. Disebutkan dalam hadits: “Allah melaknat orang yang memandang (aurat orang lain) dan orang yang menyuruh melihatnya”.

Seorang bijak ditanya tentang orang fasik, dia menjawab: “Dia (orang fasik) adalah orang yang tidak menjaga pandangannya dari pintu-pintu manusia dan aurat mereka”. Hendaklah kamu menampilkan akhlak yang baik terhadap. mereka, tidak mengganggunya dengan akhlak yang buruk, dan tidak melakukan perbuatan maksiat atau kebiasaan buruk di hadapan mereka, juga tidak berbicara dengan perkataan yang tidak pantas didekatnya, lebih-lebih perkataan yang keji. Rasulullah saw. bersabda : “Rasa malu itu termasuk pengamalan iman, sedang iman itu di surga. Perkataan yang keji itu termasuk kebejatan akhlak, dan kebejatan akhlak itu di neraka.”

Hendaklah kamu menampakkan penampilan yang bagus dalam semua urusan dan memelihara citra yang baik, agar tidak diceritakan perkara yang buruk tentang diri kamu. Dalam hadits disebutkan : “Termasuk takwa kepada Allah ialah menghindari celaan orang.”

Rasa malu ini menjadikan kamu memiliki harga diri, kebenaran, keberanian, kemurahan hati, kebijakan dan kejujuran. Maka, kamu pun berjiwa mulia dan bercitra baik. Ia mencegah kamu dari perbuatan rendah, sifat pengecut, kikir, dusta, khianat dan kebodohan. Karena kamu merasa malu apabila orang-orang melihatmu memiliki sifat-sifat yang buruk tadi.

Imam Syafii ra. berkata : “Demi Allah, seandainya aku tahu bahwa minum air dingin itu bisa merusak harga diriku, niscaya aku tidak akan meminumnya sepanjang hidupku.” Termasuk rasa malu terhadap manusia adalah: Apabila menghargai setiap orang yang memiliki keutamaan dan menghargai orang-orang yang patut dihargai menurut derajat mereka, misalnya, ayah, ibu, dan para guru serta orang-orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya dari kamu. Yakni harus berendah diri pada mereka.

Dalam Atsar (perkataan sahabat) disebutkan: “Berendah dirilah kepada orang-orang yang mengajari kamu.” “Ya Allah, jangan sampai aku mendapati zaman, dimana orang berilmu tidak diikuti dan orang yang tidak merasa malu terhadap orang yang bijak.” “Sesungguhnya yang mengetahui keutamaan bagi pemilik keutamaan, hanyalah orang yang mempunyai keutamaan.”

Rasa malu terhadap diri sendiri: Janganlah melakukan Suatu perbuatan di kala sendirian, apabila kamu merasa malu bila orang-orang mengetahuinya. Seorang beradab menga. takan: “Barangsiapa melakukan suatu perbuatan di kala sendirian (tidak merasa malu), sedangkan apabila ia melakukannya secara terang-terangan merasa malu, maka ia tidak menghargai dirinya.”

Seorang bijaksana berkata: “Hendaklah kamu lebih merasa malu terhadap dirimu dari pada orang lain.” Penyair berkata, “Perbuatanku yang tersembunyi seperti terang-terangan, dan inilah watakku, Gelapnya malamku seperti terangnya siangku.”

Rasa malu ini menunjukkan isi hatimu yang baik dan merupakan pengetahuan akan derajat dirimu. Bilamana dalam dirimu berkumpul ketiga macam rasa malu diatas, maka lengkaplah padamu hal-hal yang menimbulkan kebaikan dan lenyaplah darimu hal-hal yang menimbulkan keburukan. Disamping itu, kamu pun memperoleh ridha Allah dan dicintai oleh orang banyak.

3. Janganlah kamu memiliki rasa malu yang tercela, yaitu rasa malu yang menjadikanmu merasa tercegah untuk melakukan kebaikan, membela kebenaran dan berkata benar serta mengingkari kemungkaran. Jangan sampai rasa malu itu menjadikan kamu seorang yang hina dan takut, malu dan pengecut. Orang yang memiliki rasa malu semacam ini tidak mendapat kebaikan. Sebagaimana kata Sayyidina Ali ra.: “Rasa takut itu menimbulkan kegagalan dan rasa malu (yang tidak wajar) tidak menghasilkan kebaikan.”

2. Teladan Tertinggi dalam Masalah Malu 

1. Rasulullah saw. adalah orang yang sangat pemalu. Beliau tidak menatapkan pandangannya pada wajah seseorang dan tidak berbicara kepada seseorang dengan perkataan yang tidak disukainya. Seorang laki-laki datang kepadanya dengan memakai warna kuning pada rambutnya, sehingga beliau tidak menyukainya. Namun beliau tidak mengatakan apa-apa, sampai orang itu keluar.

Kemudian beliau bersabda kepada seseorang: “Sekiranya kamu katakan kepada orang tersebut agar menanggalkan warna kuning ini. Hal itu disebabkan terdapat semacam keserupaan dengan perempuan. Apabila tidak bertujuan menyerupai mereka, maka hukumnya makruh dan apabila bertujuan menyerupai perempuan, maka hukumnya haram.

Rasulullah saw. tidak pernah terlihat menjulurkan kedua kaki holiau di antara para sahabatnya. Apabila hendak buang hajat, beliau tidak mengangkat bajunya hingga mendekati tanah. Pernah Rasulullah saw. melewati seorang laki-laki yang sedang mandi. Kemudian beliau berkata, “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah Maha Pemalu, Maha Penyantun lagi Maha Penutup dan menyukai sifat malu serta menutupi kejelekan. Maka, apabila seseorang diantara kamu mandi, hendaklah kamu bersembunyi dari pandangan orang-orang.”

2. Sayyidah Aisyah ra. adalah sangat pemalu dan memelihara diri, hingga ia berkata: “Aru memasuki rumah tempat Rasulullah saw. dimakamkan bersama ayahku, (semoga Allah meridhainya) dan menanggalkan bajuku. Aku berkata: “Sesungguhnya kedua orang itu adalah suami dan ayahku. Ketika Umar ra. dikubur di tempat itu, demi Allah, aku tidak memasukinya kecuali mengenakan baju rapat-rapat, karena merasa malu terhadap Umar”.

Perhatikan! Bagaimana rasa malunya terhadap orang asing (yang bukan mahramnya) sekalipun orang itu di dalam kubur.

3. Diriwayatkan, bahwa Khuzaifah ibn Al-Yaman ra. mendatangi shalat Jum’at, ternyata dia mendapati orang orang yang sudah bubar. Maka, ia pun menjauhi jalan seraya berkata: “Tiada kebaikan pada orang yang tidak merasa malu terhadap orang-orang.”

4. Sekelompok orang memanggil seorang teman mereka untuk bermain-main di majlisnya, namun dia tidak memenuhi ajakan dan menulis surat kepada mereka: “Tadi malam aku memasuki usia 40 tahun, dan aku merasa malu terhadap umurku.”

5. Seorang bijaksana datang kepada seorang laki-laki. Dia melihat sebuah rumah yang tinggi dengan berbagai permadani terhampar. Namun terlihat pemiliknya kosong dari keutamaan budi (tidak mempunyai pekerti). Maka orang itu meludahi wajahnya. Pemilik rumah berkata kepadanya: “Apa maksud dari kebodohan ini hai orang bijaksana?” Orang bijaksana itu berkata: “Justru ini adalah hikmah. Sesungguhnya ludah itu dilontarkan ke tempat terhina di rumah ini dan aku tidak melihat di dalamnya orang yang lebih hina dari pada kamu.”

3. Sifat al-‘Iffah dan Qana’ah serta Kebalikannya

1. Al-‘Iffah (kelurusan budi) dan Al-Qana’ah (rasa puas dengan apa yang ada) adalah akhlak yang baik dan sifat yang terpuji. Al-‘Iffah artinya: Pencegahan manusia terhadap dirinya dari berbagai perbuatan haram dan penghindaran kebiasaan yang tidak baik hingga terpelihara tangannya: Yakni, dia tidak mencuri, tidak mengambil hak seseorang tanpa izin darinya, tidak mengganggu makhluk manapun dengan tangannya dan tidak menulis sesuatu yang tidak layak dengan kemuliaannya serta tidak menipu. Dalam hadits disebutkan: “Bahwa Rasulullah saw. melewati setumpuk makanan, lalu memasukkan tangan beliau ke dalamnya. Ternyata, tangan beliau menyentuh barang basah. Maka beliau bersabda: Hai pemilik makanan, apakah ini? Orang itu menjawab: “Makanan ini terkena air hujan, wahai, Rasulullah.” Beliau berkata: ‘Mengapa engkau tidak meletakkannya di bagian atas makanan sehingga orang orang melihatnya? Barang siapa menipu kami, maka ia pun bukan dari golongan kami.”

2. Hendaklah manusia itu memelihara kakinya dan tidak berjalan menuju kemaksiatan atau untuk mengganggu seseorang. Memelihara lidahnya, yaitu tidak boleh berbicara dengan perkataan yang tidak pantas. Memelihara pendengarannya, maksudnya tidak boleh mendengarkan kata-kata yang diharamkan. Memelihara penglihatannya, maksudnya tidak boleh melihat pada sesuatu yang tidak halal baginya atau tidak patut dilihatnya.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya …” (QS. Al-Isra’: 36). Dalam hadits disebutkan: “Bahwa seorang laki-laki mengintai ke dalam rumah Rasulullah saw. Beliau membawa alat untuk menggaruk kepalanya. Ketika Nabi saw. melihatnya, beliau bersabda: ‘Andaikata aku tahy bahwa engkau melihatku, tentu aku tusuk matamu. Sesungguhnya minta Izin itu diharuskan, agar menjaga pandangan’.”

Dalam hadits lain : “Barangsiapa mengintip rumah suatu kaum tanpa izin mereka, lalu mereka mencukil matanya, maka tidak berlaku qishas atau tebusan atas matanya.” Hendaklah manusia memelihara nafsunya. Tidak berlarut-larut dalam menuruti syahwat dan tidak menjadikan keinginannya hanya untuk meraih berbagai kenikmatan, tetapi menerima sesuatu yang ada dan tidak memaksa untuk mengadakan yang tidak ada. Hendaklah dia tidak hidup boros dan mewah, serta tidak meminta sesuatu dari seseorang. Rasulullah saw. bersabda.

“Janganlah kamu meminta sesuatu kepada orang orang. Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Telah beruntung orang yang berserah diri dan diberi kepuasan oleh Allah dengan apa yang diberikanNya kepadanya.

Barangsiapa memelihara diri, maka Allah menjadikan dirinya terpelihara. Barangsiapa yang tidak membutuhkan kepada orang lain, maka Allah akan mencukupinya. Barangsiapa mengalami kekurangan, lalu menimpakannya kepada orang lain, maka tidaklah terpenuhi kekurangannya. Dan barangsiapa mengandalkan Allah untuk mengatasi kekurangannya, maka Allah akan segera memberinya rezeki yang cepat atau di kemudian hari.”

3 Termasuk Al-‘lffah juga, apabila manusia tidak mengarahkan pandangannya pada makanan, minuman, pakaian orang atau lainnya. Apabila melihat seseorang makan, janganlah mendekatinya dengan maksud agar diberi makanannya. Apabila mendengar ada walimah, janganlah menghadirinya jika tidak diundang ke tempat itu. Janganlah menjadi tamu yang tak diundang, berjiwa rendah dan tidak disukai oleh semua orang.

Hendaklah tidak ikut campur dalam perkara yang bukan urusannya, demi mengikuti sabda Rasulullah saw.: “Termasuk kebaikan pengamalan Islam adalah, bila manusia meninggalkan perkara yang bukan urusannya.” Maka, janganlah bertanya kepada orang tentang berbagai rahasianya dan jangan menjawab pertanyaan yang tidak ditujukan kepadanya. Apabila bertemu dengan sekelompok orang yang berbicara tentang berbagai urusan yang khusus menyangkut mereka, maka janganlah ikut bicara dengan mereka dan jangan mendengarkan pembicaraannya, agar tidak bersifat ingin tahu atau suka menyelidiki, sehingga tidak disukai oleh semua orang. Allah Ta’ala berfirman: “…. dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain ….” (AS. Al-Hujurat:12).

Dalam hadits disebutkan: “Janganlah kamu memata matai. Barangsiapa mendengarkan pembicaraan suatu kaum, sedang mereka tidak menyukainya, maka kelak pada hari Kiamat akan dituangkan dalam kedua telinganya timah cair.”

4. Termasuk Al-‘lffah dan yang terpenting darinya adalah terpelihara kemaluan dan perutnya dari hal-hal yang diharamkan. Misalnya, zina, liwath (homoseks), makan riba’ atau makan harta anak yatim.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke api yang menyala-nyala (neraka).” (AS. AnNisa’:10).

Dalam hadits ditegaskan: “Kesucian yang paling disukai Allah Ta’ala adalah sucinya kemaluan dan perut.” Penyebab terjerumus ke dalam maksiat kemaluan adalah pandangan. Maka, kamu harus memelihara matamu dan tidak membiarkannya terus-menerus memandang hal-hal ” yang membangkitkan nafsu (selera) yang diharamkan.

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya …’” (QS. An. Nur:30). “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di dalam hati.” (QS. Al. Mukmin:19).

Dalam hadits Qudsi: “Pandangan (yang terlarang itu) merupakan salah satu panah beracun dari Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku, maka Aku menggantinya dengan iman yang dirasakan kenikmatan di dalam hatinya.”

Dalam hadits Nabawi: “Wanita adalah perangkap setan. Tidaklah aku tinggalkan sesudah aku wafat, fitnah yang lebih berbahaya atas laki-laki daripada wanita.” Maka, sadarlah atas nasihat ini dan amalkanlah itu, agar kamu selamat dari siksa dunia dan akhirat. Terutama di zaman ini, di mana tersebar berbagai kemungkaran (kemaksiatan) dan orang-orang meremehkannya.

Nabi saw. bersabda: “Tidaklah pelaku zina itu berzina bila dia seorang mukmin, tidaklah pencuri itu mencuri bila dia seorang mukmin, dan tidaklah peminum khamar itu meminumnya bila dia seorang mukmin.” “Rasulullah saw. telah melaknat pemakan riba’ (dimakan sendiri), dan yang memakannya (memberi makan kepada orang lain) dan penulis serta kedua saksinya.” Dalam hadits juga disebutkan: “Terkutuklah orang yang melakukan perbuatan kaum Luth (homoseks).”

5. Sesungguhnya, Qana’ah adalah kemuliaan, kehormatan dan ketenangan, sedangkan ketamakan adalah kehinaan, kepayahan dan kecemaran. Nabi saw. bersabda: “Kemuliaan orang mukmin ads lah apabila dia tidak mengandalkan manusia lainnya.

Selanjutnya Nabi saw. bersabda: “Ketamakan menghilangkan hikmah dari hati para ulama.” Datang seorang laki-laki kepada Nabi saw.,, lalu berkata: “Berilah aku wasiat.” Nabi bersabda: “Janganlah kamu mengharapkan milik orang lain dan janganlah kamu tamak, karena ketamakan adalah kemiskinan yang nyata.”

Sayyidina Ali Karamallahu Wajha berkata: “Janganlah kamu mengandalkan orang yang kamu kehendaki, niscaya kamu sebanding dengannya. Butuhkanlah orang yang kamu kehendaki, tentu kamu menjadi tawanannya. Berbuatlah baik kepada siapa saja yang kamu kehendaki, tentu kamu menjadi pemimpinnya. Orang merdeka itu dapat menjadi budak apabila dia tamak dan budak itu dapat merdeka apabila dia dapat menerima apa adanya.”

Allah Ta’ala telah memuji orang-orang yang memelihara diri melalui firman-Nya: “…. Orang yang bodoh menyangka mereka (sebagai) orang kaya, karena memelihara diri dari minta-minta …” (QS. Al-Baqarah:273).

6. Asal Qana’ah adalah berhemat. Disebutkan dalam hadits: “Tidaklah menjadi miskin orang yang berhemat.” Selanjutnya, disebutkan lagi dalam hadits: “Barangsiapa berhemat, Allah akan membuatnya kaya. Dan barangsiapa boros, maka Allah membuatnya miskin.”

Percayalah pada takdir Allah dan tenangkan hatimu dengan perbendaharaan Allah yang tidak pernah habis. Allah Ta’ala berfirman: “… dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia memberikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangkanya.” (AS. At-Thalaq:2-3).

Apabila keadaanmu sempit, maka tunggulah pertolongan dari Allah Ta’ala. Sayyidina Ali Karramaliahu Wajha berkata:

Janganlah kamu tunjukkan kepada mianusia, kecuali kebaikan.

Musibah akan menimpamu atau teman akan menjauhimu.

Jika rezeki hari ini menjadi sempit, sabariah hingga esok.

Mudah-mudahan musibah dunia lenyap darimu.

Berkata Ath-Thaghrai:

Kutenangkan jiwa dengan harapan yang aku nantikan

Alangkah sempitnya kehidupan kalau bukan karena harapan yang lurus.

Abu Firas Al-Hamdani berkata tentang qana’ah:

Sesungguhnya orang kaya Itu adalah yang kaya jiwa.

Apabila kamu miliki sifat qana’ah, maka segala sesuatu menjadi cukup.

Penyair lain berkata, “Qana’ah menimbulkan setiap kemuliaan padaku, Kekayaan manakah yang lebih mulia daripada qana’ah? Jadikan ia sebagai modalmu dan jadikan ketakwaan sesudah itu Sebagai barang dagangan.

7. Diantara hal-hal yang dapat membantu memelihara diri dari harta milik orang lain, ialah mencari harta dari berbagai jalannya yang sah. Misalnya, berdagang, bertani ataupun industri. Dalam hadits disebutkan: “Lebih baik seseorang di antara kamu mengambil tali-talinya, kemudian pergi ke gunung dan mengambil kayu sambil memikulnya, lalu menjualnya, hingga Allah melindungi wajahnya dari pada meminta-minta kepada orang-orang, baik mereka memberi atau menolaknya.”

Hal itu dapat memelihara kehormatan dan kemuliaa” Serta mendatangkan harta yang membantu dalam berbagai urusan dunia dan agama serta menjauhkan bahaya-bahaya pengangguran dan kekosongan.

Penyair berkata, “Sesungguhnya masa muda, pengangguran dan kekayaan itu menimbulkan kerusakan yang besar bagi manusia.

4. Bukti Nyata bagi Yang Memberi Nasehat 

1. Rasulullah saw. menerima tamu seorang laki-laki yang kafir, lalu menyuruh memerah susu seekor kambing dan tamu itu meminum susunya. Kemudian beliau menyuruh memerah susu dari kambing lain dan orang itu meminumnya, hingga minum susu dari tujuh ekor kambing. Kemudian pada waktu pagi dia masuk Islam. Maka, Rasulullah saw. menyuruh memerah susu seekor kambing, lalu orang itu minum air susunya. Kemudian beliau menyuruh memerah susu seekor kambing lainnya, namun orang itu tidak menghabiskannya. Maka, Rasulullah saw. bersabda: “Orang mukmin itu minum dalam satu usus, sedang orang kafir minum dalam tujuh usus.” (H.R. Muslim).

2. Diceritakan, Sayyidina Umar bin Abdul Aziz melihat anaknya pada hari raya memakai baju yang sudah usang, maka dia menangis. Lalu anaknya bertanya: “Kenapa ayah menangis?” Beliau berkata: “Hai anakku, aku khawatir hatimu sedih di hari raya, apabila anak-anak melihatmu dengan baju yang usang ini.” Maka berkatalah anak itu, “Sesungguhnya yang sedih hanyalah hati orang yang tidak mendapat ridha Allah atau mendurhakai ibu dan ayahnya. Sungguh aku berharap Allah ridha kepadaku sebab ridhamu.” Maka menangislah Sayyidina Umar dan memeluk serta mendoakannya.

3. Abdullah bin Dinar berkata: “Aku keluar bersama Umar ibnul Khattab ra. ke Makkah. Lalu kami beristirahat di suatu jalan. Kemudian datang kepadanya seorang pengembala dari gunung.” Umar berkata kepadanya: “Hai pengembala, juallah kepadaku seekor di antara kambing-kambing ini.” Pengembala itu menjawab: “Aku seorang budak.” Umar berkata: “Katakan kepada tuanmu, bahwa serigala telah memakannya.” Pengembala itu berkata: “Jika begitu, dimana Allah?” Maka Umar menangis.

Kemudian Umar mendatangi tuannya, lalu membeli budak tersebut dan memerdekakannya. Umar berkata: “Perkataan ini telah membebaskanmu di dunia dan aku berharap ia akan membebaskanmu di akhirat.”

4. Dalam hadits diterangkan: “Seorang laki-laki membeli sebidang kebun dari seseorang. Kemudian ia menemukan sebuah pundi berisi emas di kebun itu. Maka pembeli kebun berkata: “Ambillah emasmu dariku. Sesungguhnya aku hanya membeli tanah darimu dan tidak membeli emas”. Pemilik tanah berkata: ‘”Sesungguhnya aku menjual tanah itu beserta isinya padamu”. Kemudian kedua orang itu mengadukan perkaranya kepada seorang laki-laki. Orang itu berkata: Apakah kalian (berdua) mempunyai anak?’

Salah seorang dari mereka berkata: “Aku mempunyai seorang anak laki-laki”. Yang satunya lagi berkata: ‘Aku mempunyai seorang anak perempuan.’ Orang itu berkata: ‘Nikahkanlah anak laki-laki itu dengan anak perempuan ini dan keluarkan (belanjakan) bagi mereka (untuk keperluannya) dari emas itu dan bersedekahlah’.” (H.R. Bukhari).

5. Diceritakan, seorang laki-laki menangkap seekor burung. Kemudian burung itu berkata: “Apa yang ingin Anda lakukan terhadapku?” Orang itu menjawab: “Aku akan menyembelih dan memakanmu.” Burung itu berkata: “Demi Allah, aku tidak bisa memuaskan keinginan dan mengenyangkan dari lapar.

Akan tetapi aku ajari kamu tiga perkara yang lebih baik bagimu daripada memakan aku. Pertama, ketika aku berada di tanganmu. Kedua, bila aku berada di atas pohon. Ketiga, ketika aku berada di atas gunung.” Orang itu berkata: “Ajarilah yang pertama.” Burung itu berkata: “Janganlah kamu menyesali sesuatu yang luput darimu.” Maka orang itu melepaskannya. Ketika burung itu berada di atas pohon, orang itu berkata: “Ajarilah yang kedua”. Burung itu berkata: “Janganlah kamu mempercayai sesuatu yang tidak terjadi”. Kemudian burung itu terbang ke atas gunung. Kemudian burung itu berkata: “Hai orang yang sengsara, seandainya kamu menyembelihku, tentu kamu keluarkan dari rongga . tubuhku dua butir mutiara dan berat setiap butir adalah 20 mitsqal “. Orang itu menggigit kedua bibirnya dan menyesal, seraya berkata: “Ajarilah yang ketiga.”

Burung itu berkata: “Kamu telah melupakan dua perkara, maka, bagaimana aku ceritakan kepadamu yang ketiga? Bukankah aku katakan, janganlah menyesali sesuatu yang luput darimu dan jangan mempercayai sesuatu yang tidak terjadi? Daging, darah, dan buluku, semuanya tidak mencapai berat 20 mitsqal, maka, bagaimana mungkin terdapat dua butir mutiara di dalam rongga tubuhku, yang masing-masing seberat 20 mitsqal?” Kemudian burung itu terbang dan lenyap. Maksud dari cerita di atas adalah melarang keserakahan dan ketamakan.

5. Kejujuran dan Pengkhianatan 

1. Kejujuran termasuk akhlak yang agung dan kita diperintahkan Allah untuk mengamalkannya. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya …..” (QS. An-Nisa’:58). .

Allah menjadikan tanggung jawab amanat sangat berat, Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat pada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh.” (QS. Al-Ahzab:72).

2. Arti amanat ialah: Apabila manusia memelihara perintah-perintah Tuhannya. Di samping itu, dia pun mengerjakan berbagai kewajiban, misalnya, shalat, puasa dan haji, sebagaimana diperintahkan Allah mengamalkannya. Manusia harus menjauhi perbuatan maksiat dan mungkar. Maka, dia tidak boleh mendurhakai salah satu anggotanya, karena itu adalah amanat baginya, sedangkan Allah telah melarangnya berbuat durhaka.

Ia harus menunaikan hak-hak para hamba. Maka, dia tidak boleh mencuri, menipu, mengkhianati titipan, mengingkari agama dan lengah dalam menunaikan kewajibannya terhadap perbuatan yang diwajibkan kepadanya dan larangan-larangan lainnya. Dalam hadits dijelaskan: “Shalat, wudhu’ , timbangan, dan takaran adalah amanat.” Dan hal-hal lain yang disebutnya, sedangkan yang paling berat adalah titipan.

Dalam hadits lain diterangkan: “Masing-masing di antara kamu adalah pemimpin, dan masing-masing da kamu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin, dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Orang laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarganya, dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Pelayan adalah pemimpin mengenai harta tuannya, dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.”

3. Termasuk amanat ialah: Apabila kamu memelihara hak dari beberapa majlis. Maka, janganlah kamu menyiarkan rahasia-rahasianya. Banyak pertengkaran dan pemutusan hubungan yang terjadi karena menyiarkan rahasia.

Dalam hadits disebutkan: “Apabila seseorang berbicara kepada orang lain tentang suatu hal, kemudian dia menoleh, maka ia merupakan amanat. Kecuali majlismajlis maksiat, maka tidak ada kehormatan baginya.” Dalam hadits lain: “Majlis-majlis itu harus disertai amanat, kecuali tiga majlis: menumpahkan darah haram, kemaluan haram dan mengambil harta tanpa hak.”

4. Amanat adalah bukti adanya iman dan cinta kepada Allah, sedangkan kebalikannya adalah khianat.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. “ (QS. Al Anfal: 58). “.. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.” (QS. An-Nisa’:107).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) serta janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal:27).

Dari Anas ra., beliau berkata: “Tidaklah Rasulullah saw. berkhotbah kepada kami, melainkan beliau bersabda: “Tiada iman bagi orang yang tidak menunaikan amanat dan tiada agama bagi orang yang tidak menunaikan janji.” Dalam hadits lain disebutkan : “Tenda orang munafik Itu ada tiga, apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkari dan apabila diserahi amanat dia berkhianat,”

“Oleh karena itu, Nabi saw. telah memohon perlindungan dari khianat. Sabda Nabi: “Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelaparan, karena la adalah seburuk. buruk teman tidur. Dan aku berlindung kepada-Mu dari khianat, karena ia adalah seburuk-buruk kekenyangan.”

Dalam hadits lain: “Apabila Allah mengumpulkan antara orang-orang terdahulu dan yang kemudian di hari Kiamat, (maka) setiap pengkhianat diberi (dikibari) bendera untuk mengenalinya. Kemudian dikatakan: Inilah pengkhi-anatan si Fulan.”

 

 

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR