
BLOGGURU – Berikut ini lanjutan dari Part 17 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin.
Setelah Rasulullah saw. keluar dari pengucilan, tidak lama kemudian, yaitu tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah, Siti Khadijah r.a. wafat. Setelah itu Rasulullah saw. sering menyebut-nyebutnya dan menghubungkan silaturrahim-nya. Memang tidak aneh jika Rasulullah saw. berbuat demikian karena jiwa Siti Khadijah amat bersih, dan dialah orang pertama yang beriman terhadap apa yang disampaikan kepada Rasulullah dari Rabb-nya. Rasulullah saw. banyak mempunyai anak daripadanya, bahkan semua anak Rasulullah adalah dari Siti Khadijah, kecuali Ibrahim. Di antara anak Rasulullah saw. dari Siti Khadijah ialah Zainab. Zainab adalah anak perempuannya yang paling besar. Kemudian Zainab dikawin oleh Abul-‘Ash ibnur-Rabi’ sewaktu masih Zaman Jahiliyah. Dari hasil perkawinan ini Zainab mempunyai seorang putri bernama Umamah, yang kelak dikawin oleh Sahabat ‘Ali ibnu Abu Thalib setelah Siti Fathimah wafat.
Di antara anak-anak Rasulullah yang lain ialah Rugayyah dan Ummu Kaltsum yang kedua-duanya dikawin oleh Sahabat ‘Utsman ibnu ‘Affan. Siti Ruqayyah dikawin olehnya di Makkah sebelum hijrah. Ketika Sahabat “Utsman hijrah ke Abesinia, ia dibawa serta. Sedangkan Siti Ummu Kaltsum dinikahnya di Madinah sesudah saudaranya wafat lebih dahulu.
Anak Rasulullah yang bungsu ialah Siti Fathimah az-Zahra. Siti Fathimah dikawin oleh Sahabat ‘Ali ibnu Abu Thalib. Selain itu Siti Khadijah dianugerahi pula anak-anak yang lain: mereka wafat sewaktu masih kecil. Sesudah Rasulullah saw. wafat tidak ada seorang pun yang hidup di antara anak-anaknya selain Siti Fathimah yang masih hidup selama beberapa waktu sesudah Nabi wafat.
Sewaktu Siti Khadijah wafat, Rasulullah saw. sangat sedih karena Siti Khadijah lembut sekali, menjadi tempat pengaduan dan benteng Rasulullah dari perlakuan orang-orang kafir, sebab Siti Khadijah mempunyai kedudukan yang terpandang dalam lingkungan keluarganya, yaitu Bani Asad, hingga orang-orang kafir tidak berani berbuat sembarangan terhadap suaminya, Rasulullah saw.
Di antara anak-anak lelaki Rasulullah dari Siti Khadijah ialah AlQasim sehingga Rasulullah saw. dijuluki Abul Qasim (ayah AlQasim). Anak Rasulullah yang lainnya ialah ‘Abdullah, dijuluki Ath-Thayyib dan Ath-Thahir.
Setelah Siti Khadijah wafat, dan masih dalam bulan yang sama, Rasulullah saw. menikah dengan Siti Saudah binti Zam’ah al’Amiriyah al-Qurasyiyah sesudah suami dan saudara sepupunya yang bernama As-Sakran ibnu ‘Amr meninggal. Siti Saudah adalah wanita yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Prinsipnya berbeda dengan semua karib kerabatnya dan anak-anak pamannya. Ia turut hijrah bersama suaminya ke Abesinia karena takut terkena fitnah (cobaan). Hijrah yang dilakukannya adalah hijrah ke Abesinia yang kedua.
Akan tetapi, sekembali dari hijrahnya, tidak lama kemudian suaminya meninggal dunia. Tidak ada alternetif lain yang lebih baik bagi Rasulullah saw. selain menikahi bekas istri orang yang beriman kepadanya. Seandainya Rasulullah membiarkan Siti Saudah bersama kaumnya yang keras terhadap kaum Muslimin dan sangat membenci Islam itu, niscaya mereka akan memfitnahnya. Begitu pula karena mengingat keturunannya yang mulia di kalangan kaumnya, ia tidak mau kawin dengan lelaki yang lebih rendah keturunan dan kedudukannya. (*)