
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Merenda Persahabatan di Pulau Gondong Bali
BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri mendapatkan anugerah usia, waktu, dan kesempatan untuk berbagi pengetahuan kesejarahan kepada ikhwah sekalian, kaum muslimin yang berbahagia. Dalam rentang masa yang cukup panjang belajar Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), ada satu fenomena menarik yang penulis temui ketika mengkaji sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Pangkep, sebagai bekas wilayah Kerajaan ‘maritim’ Siang.
Di sebelah barat daratan Pangkajene (yang dahulunya disebut Regentschappen Onderafdeeling Pangkajene), ada satu gugusan kepulauan dimana terdiri atas 117 pulau (yang dahulunya disebut Onderafdeeling Pulau-pulau) sebagai satu kesatuan wilayah, sehingga disebutlah Pangkajene dan Kepulauan. Deretan kepulauan yang terdekat itu—dalam bahasa lokal disebut Liukang Tupabbiring—sebenarnya merupakan deretan kepulauan “spermonde island” di Selat Makassar. Dari berbagai sumber terpercaya, baik tulisan maupun berdasar tradisi lisan, dari akhir abad 19 hingga awal Abad 20, terkenal dua pulau di Liukang Tupabbiring tersebut, Pulau Salemo dan Pulau Sabutung sebagai Pusat Penyebaran Islam, dari dua pulau ini menebarkan rahmat, menyebarkan cahaya Islam ke berbagai daerah di Sulawesi Selatan.
Apa yang menyebabkan Pulau Salemo dan Sabutung menjadi titik pusat episentrum penyebaran Islam dan Ulama di Sulawesi Selatan? Hal ini tentu tak terlepas dari dua hal: Pertama, terkait Madrasah Tradisional Salemo, atau dalam bahasa lokal disebut “Tudang Pangngaji Kitta” di rumah-rumah penduduk di Pulau Salemo dan Sabutung. Kedua, tentu tak bisa dipisahkan dari tokoh muslim atau ulama yang menyelenggarakan pengajian tersebut, yang disebut-sebut memiliki karomah atau status kewalian, sehingga mendapatkan sebutan dari masyarakat setempat sebagai “Puang Awalli”.
Siapa sebenarnya Puang Awalli ini? Nama lengkapnya Syaikh Abdul Rahim (diperkirakan tahun kelahirannya: 1863 M) merupakan ulama turunan dari Paria, Wajo-Luwu (Syaikh Afwan) dan Gowa-Labakkang (Basse Tekong Daeng Kira), kemudian menikah dengan turunan bangsawan Gowa dan menetap di Labakkang, Kabupaten Pangkep. Jadi dua kultur melekat kuat pada diri Syaikh Abdul Rahim, yaitu Kultur Bugis karena asal usul orangtuanya dari Wajo-Luwu, dan kultur Makassar karena ibunya Orang Gowa-Labakkang, lalu menikah dengan Istri Bangsawan dari Gowa serta pernah menetap di Labakkang, di Kampung ibunya.
Syaikh Abdul Rahim Puang Awalli menikah dengan gadis keturunan Bangsawan Siang, bernama Sayyana Daeng Jipa, yang mana dari perkawinan tersebut melahirkan 4 putra dan 2 putri. Keempat putranya inilah kemudian semuanya menjadi ulama dan membantu Tudang Pangngaji Kitta’ di Salemo dan Sabutung, yaitu Syaikh Abdul Rasyid (Puang Apala), Syaikh Abdul Wahab (Puang Massere’), Syaikh Abdul Rauf (Sidi Pupong), Syaikh Muhammad Shaleh (Sidi Cenno), sedang kedua putrinya bernama, Hj Sitti Fatimah dan Hj Zuhra.
Syaikh Abdul Rahim Puang Awalli yang pernah lama menetap dan menuntut ilmu di Tanah Haram, Mekkah merupakan perintis awal pengajian kitab kuning di Sulsel yang berpusat di Salemo. Beliau membuka pengajian di Pulau Salemo dan Pulau Sabutung, dibantu oleh putra-putranya yang juga pernah lama menuntut ilmu di Mekkah, kecuali Syaikh Abdul Wahhab (Puang Massere’) yang lebih banyak menuntut ilmu di Mesir. Sejak beliau berada di Pulau Salemo memulai pengajian menjadikan Salemo kemudian dikenal luas sehingga para santri berdatangan mengaji dan menuntut ilmu agama. Salemo melahirkan sejumlah ulama besar yang berkiprah di Sulawesi Selatan Barat.
Adapun model pengajian dipusatkan di Masjid (kelak Masjid yang ditempati pengajian dinamai “Nurul Ulama”) Salemo dan para santri yang berdatangan bermukim di rumah-rumah wakaf. Dari cerita para santri inilah kemudian banyak didapatkan tentang “cerita kewalian” Syaikh Abdul Rahim, seperti Shalat Jum’at di dua tempat pada waktu yang bersamaan, menagih nelayan “mana ikanku?” karena nelayan tersebut pernah berjanji jika hasil ikannya melimpah akan diberikan kepada Puang Awalli, dan ternyata sejak berkata begitu, nelayan tersebut selalu mendapatkan hasil ikan yang melimpah. Pernah pula suatu ketika Puang Awalli naik perahu dan perahu itu terbalik, namun justru beliau ditemukan sudah berada di daratan dan pakaiannya pun tdak basah.
Cerita-cerita kewalian Syaikh Abdul Rahim Puang Awalli banyak kita dengar dari masyarakat setempat maupun dari para santri yang pernah “Tudang Panngaji Kitta” di Salemo, sebagaimana pula pernah dituturkan ulama-ulama setempat, seperti AGH Haruna Rasyid, AGH Abdullah, AGH Muhammad, AGH Abdul Azis Mallawa, AGH Muhammad Sunusi, AGH Minhajje, AGH Cande, AGH Abubaedah, dan yang lainnya, yang pernah berguru di Salemo dan turut mengembangkan Pengajian di Salemo.

Pulau Salemo, Liukang Tupabbiring, Pangkep. (foto: ourislands.id)
Mengapa Salemo?
Ya, Mengapa Syaikh Abdul Rahim Puang Awalli memilih Salemo sebagai basis pengajian dan dakwah? Setelah menikah, Syaikh Abdul Rahim memilih menuntut ilmu di Makkah. Selama 19 Tahun di Tanah Suci, terpaksa harus pulang karena semakin kuatnya gerakan Wahabi (Wahabisme) di Makkah sebagai gerakan politik dan cenderung tidak lagi sesuai dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pulanglah Syaikh Abdul Rahim ke Kampung halaman istrinya di Labakkang (diperkirakan tahun kepulangannya dari Mekkah Tahun 1907) dan memilih Pulau Salemo sebagai basis pengajian dan dakwah untuk menghindari campur tangan Belanda dan intervensi penguasa lokal.
Pada saat Salemo menjadi basis pendidikan dan dakwah, penduduknya ketika itu mencapai 3000-an penduduk. Para santri yang berdatangan dari berbagai daerah, kemudian mukim di rumah-rumah wakaf tidak perlu terlalu memikirkan biaya selama menuntut ilmu “Tudang Pangngaji Kitta” karena ada banyak pengusaha ikan dan beras yang menanggungnya sebagai salah satu bukti penghormatannya pada Puang Awalli, dakwah dan pengajian yang dibawakannya.
Beberapa ulama besar Sulsel yang pernah berguru dan mengaji di Pulau Salemo adalah AGH Muhammad Thahir yang lebih dikenal dengan nama Imam Lapeo asal Polman, Mandar, AGH Muhammad Ramli, Sayyid Jamaluddin Puang Ramma, AGH Ahmad Bilalu, AGH Madepungeng, AGH Abdul Malik Parojai (lebih dikenal dengan nama Gurutta Malik Pompanua), AGH Muhammad Saide, AGH Amberi Said, AGH Said Musamma, AGH Abdurrahman Mattammeng, AGH Usman, AGH Sanusi Baco (Mantan Ketua MUI Sulsel)
Demikian sedikit catatan tentang Puang Awalli dan Cahaya Islam di Pangkep. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Ada salah satu murid Beliau yang juga merupakan Khadamnya Puang Awalli dan jarang terkenal yakni AG. Daeng Mangawing (Ince Kusumayatteng Dg. Mangawing Bin Ince Ali Asdollah Dg. Matakko) dari Salemo atau Masyarakat Sabutung dan Salemo biasa menyebutnya Daeng Mangawing Sapurata. Beliau adalah murid yg selalu di kisahkan bersama Puang Awalli pada kisah perahu bocor saat ingin menghadap Karaeng Gowa namun tidak disebutkan namanya, hanya dikatakan dalam cerita itu Puang Awalli bersama kedua muridnya naik perahu bocor.
Beliau lama berdakwah di Maros, Mengajar bersama Imam Lapeo di Lapeo dan Parabaja, kemudian hijrah ke Mamuju dan pada akhirnya Beliau dimakamkan di Mamuju Tengah kecamatan Topoiyo.
@Abdurrazak Dg Mambani: Kurru Sumanga, tambahan infota. 🙂
Alhamdulillah.Barakallahu fiikum. senang bisa membaca artikel tentang buyut kami. Sidi Walli. Begitu kami memanggil beliau sebagai cicitnya. Abah saya H. Abdul Salam Rasyid. cucu dari anak pertama KH. Abdurrahim puang awalli insyaAllah mengalir pahala jariyah untuk mereka semua yg Istiqomah mendakwahkan Islam hingga akhir hayat mereka. Aamiin
MaasyaaAllah Tabarakallah Alhamdulillah Syukron katsiran sudah menulis artikel tentang sidi walli. Seperti itu kami cucu dan cicitnya memanggil beliau. Saya Nur Ilmi bintu Salam bintu AbdurRasyid binti AbdurRahim. InsyaaAllah mengalir pahala jariyah untuk sidi walli dan sidi apala atas dakwahnya menyebarkan Islam di kab Pangkep dan sekitarnya. Aamiin yaa Robb