Sendratari adalah bentuk seni pertunjukan yang menggabungkan seni drama (narasi/lakon) dan seni tari. Biasanya diiringi musik dan kadang diselingi dialog atau narator. Ciri khas sendratari yang menonjol adalah cerita disampaikan lewat gerak tari, musik, ekspresi, dan kadang narasi. Tidak semua karakter harus berdialog — narator dan musik pengiring bisa menjadi pemandu cerita. Pertunjukan Sendratari cocok untuk mengangkat kisah sejarah, legenda, atau nilai-nilai budaya/keagamaan.
Berikut ini langkah-langkah dalam Menulis Naskah Sendratari
1. Tentukan Tema atau Cerita Pokok. Contohnya: Legenda, sejarah Islam, kisah santri, perjuangan rakyat, kisah nabi.
2. Tentukan Alur Cerita (Struktur Dramatik), bisa terdiri dari: Pembukaan (Pengenalan tokoh dan latar), Konflik (Masalah yang muncul), Klimaks (Ketegangan atau puncak cerita), Antiklimaks (Jalan keluar mulai muncul), dan Penutup (Penyelesaian, pesan moral).
3. Buat Sketsa Adegan / Babak, yang mencakup: Judul adegan, Ringkasan peristiwa, Siapa yang menari / berperan, Musik / lagu pengiring, Dialog (jika ada).
4. Tambahkan Narasi atau Narator. Bisa digunakan untuk menjelaskan situasi dan cocok jika penonton perlu pemandu alur.
5. Perhatikan Gerak, Kostum, dan Properti. Penting untuk diperhatikan bahwa Gerakan tari menggambarkan emosi tokoh, Kostum harus sesuai karakter: raja, santri, rakyat, dan lain-lain, serta Properti yang menyesuaikan, misalnya penggunaan tongkat, kitab, lilin, pedang, dan lain-lain.
Lihat pula: Naskah Sendratari “Tomanurunga ri Siang”
* * *
Contoh Naskah Sendratari (1):
Berikut ini Contoh Naskah Sederhana Sendratari (1), yang berjudul: “Sang Penjaga Ilmu”
Tema: Perjuangan santri mempertahankan pesantren saat penjajahan
ADEGAN I – Awal yang Damai
Narator:
Di sebuah pesantren kecil di tanah Sulawesi, para santri menuntut ilmu dengan khidmat. Mereka menimba ilmu agama dengan penuh semangat, di bawah bimbingan Kiai Ma’ruf yang bijaksana.
Gerak tari:
-
Tari lembut oleh para santri, berputar membawa kitab
-
Musik tradisional Bugis mengalun syahdu
-
Kiai duduk membaca kitab besar, dikelilingi murid.
ADEGAN II – Kedatangan Penjajah
Narator:
Suatu malam, kedamaian itu dirusak. Tentara kolonial datang, hendak membubarkan pesantren dan mengambil lahan.
Gerak tari:
-
Masuk tentara dengan gerakan tegas dan kasar
-
Para santri mundur, ada yang ketakutan
-
Musik berubah tegang, alat musik ritmis menguat
Dialog (diperankan atau dibacakan):
Pimpinan Penjajah: “Pesantren ini akan kami tutup. Kalian adalah ancaman!”
Kiai Ma’ruf: “Kami hanya menuntut ilmu, bukan berperang.”
ADEGAN III – Perlawanan dan Doa
Narator:
Santri tak punya senjata. Mereka hanya melawan dengan zikir, shalawat, dan semangat keilmuan.
Gerak tari:
-
Tari zikir dengan gerakan bersila, membentuk lingkaran
-
Tari santri yang membentangkan kitab di hadapan penjajah
-
Musik bertema heroik namun khusyuk.
ADEGAN IV – Kemenangan Jiwa
Narator:
Walau pesantren dibakar, semangat tak padam. Ilmu diwariskan. Para santri menyebar, membawa ilmu ke seluruh penjuru negeri.
Gerak tari:
-
Gerakan berjalan keluar panggung, masing-masing menyalakan lilin
-
Musik haru dan kemenangan
-
Sorotan cahaya pada kitab yang diselamatkan
Penutup:
Narator membacakan pesan moral:
“Ilmu tak pernah padam oleh api. Jiwa yang berilmu tak pernah tunduk oleh kekuasaan.”
* * *
Contoh Naskah Sendratari (2):
Berikut ini Contoh Naskah Sederhana Sendratari (2), yang berjudul: “Api yang Tak Pernah Padam”
Tema: Peran santri dalam mempertahankan kemerdekaan dan mewariskan ilmu Islam
Durasi: ±15–20 menit
Jumlah pemain: Bebas (minimal 10–12 orang)
STRUKTUR PERTUNJUKAN
ADEGAN I – Cahaya Ilmu di Tanah Pesantren
Narator:
“Di tengah penjajahan, cahaya Islam tak pernah padam. Pesantren berdiri sebagai tiang keilmuan dan akhlak. Di sana, santri ditempa. Bukan hanya untuk menjadi alim, tapi juga pejuang.”
Tari/Visual:
-
Para santri masuk sambil membawa kitab kuning
-
Tari lembut, khusyuk, gerakan saling mengaji
-
Musik: rebana atau instrumen lembut tradisional
Properti: Kitab, sorban, lampu lentera, alas duduk santri
ADEGAN II – Fitnah & Penjajahan
Narator:
“Namun kekuasaan penjajah tak suka ilmu yang membebaskan. Fitnah ditabur. Pesantren diawasi. Kiai ditangkap. Tapi mereka tak gentar.”
Tari/Visual:
-
Masuk penjajah/serdadu dengan gerakan tegas & kaku
-
Santri mundur, sebagian menyembunyikan kitab
-
Musik berubah mencekam
Dialog pendek (dibacakan oleh narator):
Penjajah: “Ilmu kalian menyesatkan. Diam atau dihancurkan!”
Kiai: “Kami tak diam. Kami berdoa dan berjuang.”
ADEGAN III – Resolusi Jihad 22 Oktober
Narator:
“Tahun 1945. Dari Surabaya, seruan jihad menggema. Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan para ulama menyerukan: membela tanah air adalah fardhu ‘ain!”
Tari/Visual:
-
Santri berdiri tegak, mengangkat kitab dan bambu runcing
-
Gerakan dinamis, kuat, penuh semangat
-
Musik semangat (gendang cepat, semacam marching gamelan)
Properti: Bendera merah putih, kitab, bambu runcing
ADEGAN IV – Api yang Tak Pernah Padam
Narator:
“Santri wafat, tapi semangatnya hidup. Api keilmuan tetap menyala. Pesantren tak hancur, justru makin tumbuh. Hari ini, kita adalah pewaris mereka.”
Tari/Visual:
-
Semua pemain membawa lilin / lentera kecil
-
Berjalan ke depan panggung, saling menyerahkan api ke generasi baru
-
Musik haru, sendu, mengalun pelan
-
Gerakan simbolik: mencium kitab, sujud, saling peluk
Akhir narasi (dibaca dengan suara penuh haru):
“Wahai santri, jangan lelah. Ilmumu adalah senjata. Akhlakmu adalah kekuatan. Doamu adalah penjaga negeri. Api itu kini di tanganmu.”
Penutup
Semua pemain berdiri membentuk lingkaran, mengangkat lentera atau kitab. Narator menyampaikan:
“Hari ini, kita bukan hanya memperingati Hari Santri. Kita sedang menyalakan kembali api perjuangan yang diwariskan ulama. Jadilah santri yang melek zaman, tapi tetap berpijak pada kitab.”
Lihat pula: Sendratari dalam Konteks Sejarah Budaya Sulsel
* * *
Demikianlah Tips Menulis Naskah Sendratari dan contoh naskah Sendratari yang sederhana, bisa diaplikasikan pertunjukannya dalam lingkungan Pondok Pesantren. Untuk contoh naskah Sendratari yang kedua, bisa dipersiapkan untuk Pertunjukan Seni pada Hari Santri 22 Oktober yang akan datang.
Sebagai tips tambahan, bisa menggunakan musik tradisional atau gamelan modern, Koreografi sederhana tapi bermakna: saling menolong, bersujud, melingkar, dan seterusnya. Bisa pula dikembangkan dengan multimedia (backdrop digital). Sebaiknya naskah bisa ditulis dalam bentuk tabel agar memudahkan pembagian tugas.
Demikian catatan pengantar tentang Menulis Naskah Sendratari ini. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)







