Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Kokurikuler 2025: Jaga Cagar Budaya

Kokurikuler 2025: Jaga Cagar Budaya

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Pemenuhan Tugas Kokurikuler Untuk SMA di Pangkep

BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, hari ini, Rabu (3/12/2025) dari Pukul 08.00 – 15.00 WITA, penulis menyelesaikan pendampingan kegiatan Kokurikuler 2025 yang mengambil tema, “Kokurikuler 2025: Jaga Cagar Budaya”. Kegiatan ini diikuti oleh 54 siswi/santriwati Kelas X dan XI SMAS Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep dan 8 guru pendamping/pembina.

Destinasi yang dituju ada dua, yaitu: (1) Pusat Informasi Geologi (PIG) Maros-Pangkep (Pukul 08.45 s.d. 10.45 WITA) yang lokasinya berada di Kompleks Rujab Bupati Pangkep dan (2) Taman Prasejarah/Kawasan Cagar Budaya Sumpangbita, Kecamatan Balocci Pangkep (Pukul 11.15 s.d. 15.00 WITA). Sebelumnya penulis telah beberapa kali mengunjungi PIG Maros-Pangkep sebagai Tour Leader/Guru Sejarah bagi siswi/santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep.  (Lihat Videonya: DISINI)

Apa saja yang dipelajari di Pusat Informasi Geologi (PIG) Maros-Pangkep?  PIG Geopark Maros Pangkep adalah destinasi wisata edukasi yang bertujuan memberikan pemahaman mendalam mengenai kekayaan geologi dan budaya kawasan tersebut. Setiap pengunjung dapat mempelajari berbagai aspek yang terbagi dalam empat zona utama, serta fasilitas pendukung lainnya, yaitu:

Zona 1: Sejarah Geologi Pulau Sulawesi,  Mempelajari tentang proses pembentukan dan perkembangan geologi Pulau Sulawesi dari masa ke masa.

Zona 2: Mitigasi Bencana, Sumber Daya Alam Terbarukan dan Terbatas, Mendapatkan informasi mengenai upaya mitigasi bencana geologi di wilayah tersebut dan Mempelajari tentang potensi sumber daya alam, baik yang terbarukan maupun yang terbatas.

Zona 3: Sejarah Kehidupan, Menggali jejak sejarah kehidupan yang terekam di kawasan Geopark, termasuk informasi tentang situs purbakala dan gua-gua prasejarah yang menyimpan lukisan dan artefak.

Zona 4: Geopark, Mendalami konsep dan pentingnya Geopark Maros Pangkep yang telah diakui sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp), dan Mempelajari tentang warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan keanekaragaman budaya yang menjadi kriteria pengakuan tersebut.

Ruang Audio Visual PIG Maros-Pangkep. (foto: ist/*)

Ruang Audio Visual PIG Maros-Pangkep. (foto: ist/*)

PIG Maros Pangkep ini memiliki Fasilitas Tambahan berupa Ruang Audio Visual, dimana setiap pengunjung bisa diputarkan video/materi edukasi dalam bentuk audio visual (video dan presentasi) yang mendukung pembelajaran di keempat zona tersebut. Untuk sekedar diketahui bahwa Bangunan PIG ini dahulunya merupakan Museum Karst dan Budaya, dan kini telah beralih fungsi sebagai PIG Maros Pangkep sebagai dukungan dari ditetapkannya Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung serta kawasan Taman Nasional tersebut sebagai Geopark, world heritage yang harus dijaga dan dilestarikan.

Setelah mengunjungi Pusat Informasi Geologi (PIG) ini yang telah menyisakan memori, kenangan dan pembelajaran sebagai pusat informasi kebumian yang menampilkan sebaran formasi batuan, sejarah geologi, bentang alam karst, aspek bencana geologi, sumber daya geologi, sejarah kehidupan, serta warisan geologi dan geopark secara menyeluruh, peserta Kokurikuler 2025 kemudian bergerak menuju Taman Purbakala/Kawasan Cagar Budaya Sumpangbita di Balocci.

Taman Prasejarah Sumpang Bita adalah salah satu situs arkeologi purbakala paling penting dan terbesar di Kabupaten Pangkep, serta bagian vital dari kawasan Geopark Maros Pangkep (UNESCO Global Geopark). Terletak di tengah bentang alam karst yang menjulang tinggi di Kecamatan Balocci, situs ini memadukan pesona alam dan nilai sejarah yang luar biasa.

Daya tarik utama Sumpang Bita terletak pada dua gua (disebut leang dalam bahasa setempat) prasejarah di kawasan tersebut, yaitu: Leang Sumpang Bita, Gua terbesar di Pangkep yang memiliki kubah tinggi dan Leang Bulu Sumi. Kedua gua ini menjadi saksi bisu kehidupan manusia purba dari zaman berburu dan mengumpulkan makanan (sekitar 8.000 hingga 1.500 tahun yang lalu).

Temuan Arkeologis Penting dalam kawasan Taman Purbakala Sumpangbita adalah Seni Cadas (Lukisan Gua). Terdapat lukisan-lukisan dinding gua berwarna merah yang dibuat dengan teknik cetak semprot. Lukisan ini meliputi: Cap tangan dalam berbagai ukuran, Gambar-gambar menyerupai babi rusa yang sedang meloncat, Lukisan menyerupai perahu atau sampan, serta Cap kaki anak-anak. Lukisan-lukisan ini diduga kuat memiliki fungsi sebagai sarana ritual keagamaan pada masa itu. Dalam kawasan cagar budaya ini, juga di temukan beragam Artefak, yaitu berbagai peninggalan lain seperti artefak batu (mikrolit), fragmen gerabah, cangkang moluska, serta fragmen tulang dan gigi.

Selain nilai sejarahnya, Taman Prasejarah Sumpang Bita juga menawarkan Panorama Alam Karst yang menjadikannya tempat wisata edukasi sekaligus healing, dengan Jalur tangga seribu yang harus dilewati pengunjung untuk mencapai kedua situs gua yang berada di ketinggian. Taman Purbakala ini dikelola dengan fasilitas seperti mushala, gazebo, kolam ikan, dan jalur trekking yang sayangnya, semakin tidak terawat. Mungkin seiring semakin menurunnya jumlah pengunjungnya.

Bagaimanapun Sumpang Bita adalah cagar budaya yang sangat penting, yang menunjukkan jejak peradaban manusia purba di Sulawesi Selatan dan membuktikan bahwa kawasan karst Maros-Pangkep telah menjadi hunian bagi nenek moyang kita selama ribuan tahun. Di lokasi ini, banyak pembelajaran sejarah dan geologi yang bisa dipelajari dan penulis sendiri selalu merekomendasikannya untuk dikunjungi.

Demikian sedikit catatan penulis terkait kegiatan pembelajaran yang telah dilewati. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

 

KELUAR