Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Mengenal Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin

Mengenal Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Apa dan bagaimana itu Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin? Ya, bagi mereka yang pernah mondok di Pesantren tentu kitab ini sudah tidak asing lagi. Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin adalah salah satu karya paling monumental dan populer dalam literatur sejarah Nabi Muhammad SAW (Sirah Nabawiyah). Kitab ini menjadi rujukan standar di berbagai institusi pendidikan Islam, khususnya pesantren di Indonesia, karena penyajiannya yang sistematis dengan bahasa yang mudah dipahami.

Secara bahasa, Nurul Yaqin berarti “Cahaya Keyakinan”, sedangkan Sirah Sayyidil Mursalin berarti “Sejarah Pemimpin para Rasul”. Kitab ini merupakan ringkasan sejarah hidup Nabi Muhammad SAW, mulai dari silsilah keluarga, masa kelahiran, masa kenabian, perjuangan di Mekkah dan Madinah, hingga wafatnya beliau. Berbeda dengan kitab sirah klasik (seperti Sirah Ibnu Hisyam) yang sangat tebal dan penuh dengan rantai sanad yang panjang, Nurul Yaqin fokus pada narasi peristiwa yang sudah disaring keabsahannya sehingga lebih mengalir untuk dibaca.

Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin ini ditulis oleh Syekh Muhammad bin Afifi al-Bajuri, atau yang lebih dikenal dengan nama Syekh al-Khudari Bek (1872–1927 M). Beliau adalah seorang ulama, ahli sejarah, dan dosen di Universitas Fuad I (sekarang Universitas Kairo), Mesir. Syekh al-Khudari Bek dikenal memiliki kepiawaian dalam menyederhanakan materi sejarah yang kompleks menjadi tulisan yang akademis namun tetap bisa dinikmati oleh orang awam.

Ada beberapa alasan mengapa kitab ini sangat istimewa: (1) Sistematika yang Rapi. Pembahasannya dibagi berdasarkan tahun-tahun peristiwa (misal: Tahun Pertama Hijriah, Tahun Kedua, dan seterusnya), (2) Bahasa yang Jernih. Menggunakan bahasa Arab yang lugas dan tidak terlalu banyak menggunakan kiasan yang rumit. (3) Kesimpulan Moral (Khulashah). Di setiap akhir bab, biasanya terdapat ringkasan atau poin-poin penting yang berisi pelajaran (ibrah) dari peristiwa sejarah tersebut. (4) Berbasis Referensi Kuat. Meskipun ringkas, pengarang menyusunnya berdasarkan rujukan utama seperti Al-Qur’an dan kitab-kitab hadis shahih.

Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh dari kitab sirah ini, maka pertama-tama, sebagai seorang santri harus memahami konteks geografis dan silsilah. Sebelum masuk ke cerita, penting untuk memahami peta Jazirah Arab dan silsilah suku Quraisy. Ini akan membantu Anda memahami mengapa konflik atau aliansi tertentu terjadi dalam sejarah tersebut. Dan karena kitab ini disusun kronologis (berdasarkan urutan waktu), maka sebaiknya jangan membaca secara lompat-lompat. Memahami fase Sirriyah (dakwah sembunyi-sembunyi) sangat penting sebelum memahami fase Jahriyah (dakwah terang-terangan).

Untuk memahami kitab sirah ini sebaiknya menggunakan Metode “Talaqqi” (Berguru). Sangat disarankan untuk mengkaji kitab ini di bawah bimbingan seorang guru atau ustadz. Mengapa? Hal ini dibutuhkan untuk membedah diksi bahasa Arabnya, serta untuk mendapatkan penjelasan tambahan mengenai latar belakang (asbabun nuzul) ayat-ayat Al-Qur’an yang turun berkaitan dengan peristiwa sejarah tersebut. Dalam belajar sirah atau tarikh, jangan hanya menghafal tahun dan nama tokoh. Tanyakan pada diri sendiri: “Mengapa Nabi mengambil keputusan ini dalam situasi tersebut?” Syekh al-Khudari Bek menulis kitab ini agar pembacanya mendapatkan “Cahaya Keyakinan” (Nurul Yaqin) dalam menjalani kehidupan mengikuti jejak Rasulullah.

Bagi pemula atau santri di tingkat dasar, biasanya terdapat kitab pendamping berjudul Khulashah Nurul Yaqin. Ini adalah versi “ringkasan dari ringkasan” yang disusun dalam bentuk poin-poin pendek atau tanya jawab untuk memudahkan hafalan dasar bagi murid madrasah. Selamat belajar dan semoga dengan mempelajari Kitab “Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin” ini akan semakin menebalkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa syahbini wa sallam”. (*)

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Obat bagi Penyakit Hati
Oleh : Immim pangkep

Obat bagi Penyakit Hati

0 Komentar

KELUAR