
BLOGGURU – Berikut ini lanjutan dari Part 11 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin.
Tatkala Muhammad telah mencapai usia kesempurnaannya, yaitu usia em. pat puluh tahun, maka Allah swt. mengutusnya kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan guna mengeluarkan mereka dari kegelapan dan kebodohan (kemusyrikan) kepada cahaya ilmu (iman). Hal itu tepatnya terjadi pada awal bulan Februari tahun 610 Masehi, sebagaimana telah dijelaskan oleh almarhum Mahmud Basya, ahli ilmu falak. Sesudah dilakukan penelitian yang men. detail, ternyata hal tersebut terjadi pada tanggal 13 Ramadan tahun 13 sebelum Hijrah, bertepatan dengan bulan Juli tahun 610 Masehi.
Permulaan wahyu yang diturunkan kepadanya berupa impian yang benar, dan disebutkan bahwa Muhammad tidak melihat wahyu datang selain bagaikan cahaya subuh, sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan oleh Allah terhadap makhluk-nya, yaitu selalu dalam bentuk bertahap dalam semua hal, lalu meningkat sampai kepada tingkat yang sempurna karena sangat sulit bagi manusia untuk menerima wahyu dari malaikat secara langsung untuk yang pertama kalinya.
Kemudian Muhammad dibekali dengan kecenderungan senang ber-khalwat (menyendiri) supaya ia menjauhkan diri dari kegelapan umat manusia pada saat itu, memencilkan diri dari makhluk untuk ber-tahannuts (beribadah) kepada Allah swt. karena sesungguhnya ber-‘uzlah (mengasingkan diri) itu dapat menjernihkan jiwa. Muhammad sering melakukan ‘uzlah di Gua Hira. Dia melakukan ibadah selama beberapa hari, kadang-kadang selama sepuluh hari atau lebih dari itu hingga sampai sebulan. Ibadah yang dilakukannya ialah menurut agama Nabi Ibrahim a.s. Untuk itu Muhammad membawa bekal secukupnya. Bilamana bekal yang dibawanya telah habis, dia kembali kepada Siti Khadijah untuk mengambil bekal serupa sampai wahyu datang kepadanya di Gua Hira tersebut.
Pada suatu hari, ketika Muhammad sedang berada di dalam Gua Hira, tiba-tiba muncullah seseorang, lalu berkata kepadanya, “Bergembiralah, hai Muhammad, aku adalah Jibril, dan engkau adalah utusan Allah untuk umat ini.” Selanjutnya malaikat Jibril berkata kepadanya, “Bacalah.” Muhammad menjawab, “Aku tidak bisa membaca,” Karena Muhammad adalah seorang ummi (buta huruf) yang belum pernah belajar membaca. Lalu malaikat Jibril menutupi diri Muhammad dengan selimut yang dipakai sebagai alas tempat tidurnya sehingga Muhammad kepayahan karenanya. Kemudian malaikat Jibril melepaskannya. Ia berkata lagi, “Bacalah.” Muhammad menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Kemudian malaikat Jibril menyekab diri Muhammad untuk yang kedua kalinya.
Setelah itu dilepaskannya. Ia berkata lagi, “Bacalah.” Muhammad menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” kemudian malaikat Jibril menyekapnya lagi untuk yang ketiga kalinya, lalu dilepaskannya lagi dan berkata,
“Bacalah!” Akhirnya Muhammad mengucapkannya seperti berikut ini:
Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alag. Bacalah dan Rabb-mulah Yang paling pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan galam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. 96 Al-‘Alag: 1-5)
Setelah peristiwa itu Rasulullah saw. langsung kembali kepada Siti Khadijah dengan hati berdebar-debar dan badannya gemetar karena rasa takut yang masih tetap melekat pada dirinya sebagai akibat bertemu dengan malaikat untuk pertama kalinya. Lalu Rasulullah saw. memasuki rumah Siti Khadijah, dan langsung berkata, “Selimutilah diriku, selimutilah diriku!” supaya perasaan takut yang menghantuinya lenyap. Kemudian Siti Khadijah menyelimutinya hingga perasaan takut itu lenyap.
Setelah semua berlalu, kemudian Rasulullah saw. bercerita kepada Siti Khadijah tentang peristiwa yang baru saja dialaminya itu, bahwa dirinya baru saja bertemu dengan seorang malaikat, lalu malaikat itu menyekap dirinya sehingga ia merasa amat takut. Sebelum itu Rasulullah saw. tidak mengetahui sama sekali tentang malaikat Jibril, juga tentang bentuknya. Siti Khadijah langsung menjawab, “Tidak, demi Allah, Dia selamanya tidak akan menyianyiakan engkau. Sesungguhnya engkau selalu memperhubungkan silaturrahim, menanggung beban, menolong orang yang tidak mampu, menghormati tamu, dan menolong orang-orang yang tertimpa bencana. Allah swt. tidak akan membiarkan setan dan angan-angan (hawa nafsu) menguasai diri engkau, dan tidak mengherankan bila Allah swt. telah memilih engkau untuk memberikan hidayah kepada kaum engkau.” Untuk memperkuat dugaannya itu Siti Khadijah berangkat menanyakan tentang hal itu kepada orang yang mengetahui perihal rasul-rasul di antara orang-orang yang telah melihat kitab-kitab orang-orang zaman dahulu.
Siti Khadijah datang menemui Waraqah ibnu Naufal, saudara misannya yang telah memeluk agama Nasrani sejak Zaman Jahiliyah. Waragah ibnu Naufal ini pandai menulis dan menguasai bahasa ibrani. Ia menukil dari kitab Injil hal-hal yang dikehendakinya dalam bahasa Ibrani. Ia telah berusia lanjut, dan kedua matanya telah buta. Siti Khadijah berkata kepadanya, “Hai anak pamanku, dengarlah apa yang akan diceritakan oleh anak pamanmu ini!
Lalu Waraqah berkata, “Hai anak pamanku, apakah yang telah engkay lihat?” Rasulullah saw. menceritakan kepadanya semua yang telah dilihat dan dialaminya. Setelah itu Waragah berkata kepada Rasulullah saw., “Ini adalah An-Namus (malaikat) yang pernah diturunkan oleh Allah kepada Nabi Musa,” karena Waragah mengetahui bahwa utusan Allah kepada para nabi-Nya tiada lain hanyalah malaikat Jibril. Selanjutnya ia mengatakan “Aku ingin menyaksikan andaikata diriku pada masa itu masih muda dan kuat, yaitu ketika kaum engkau mengusir engkau dari tanah tumpah darah engkau karena mereka memusuhi engkau dan mereka benci terhadap engkau, yaitu tatkala engkau menyuruh mereka mengubah agama dan keyakinan yang telah mereka temukan dari nenek-moyang mereka.”
Mendengar keterangan tersebut Rasulullah saw. merasa heran, yaitu sehubungan dengan tindakan yang akan dilakukan oleh kaumnya terhadap dirinya karena selama ini ia merasakan bahwa kaumnya mencintainya mengingat ia berakhlak mulia dan selalu jujur dalam berbicara sehingga mereka menjulukinya Al-Amin (orang yang dipercaya). Oleh sebab itu Rasulullah saw. bertanya menegaskan, “Apakah benar mereka akan mengusirku?” Waragah menjawab, “Siapapun lelaki yang datang membawa seperti apa yang engkau bawa pasti dimusuhi mereka.” Hal ini memang telah dijelaskan dalam Al-Quran, yaitu sebagaimana yang telah difirmankan dalam surat Ibrahim:
Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, “Kami sungguhsungguh akan mengusir kalian dari negeri kami atau kalian kembali kepada agama kami.” (Q.S. 14 Ibrahim: 13)
Untuk menyempurnakan kepercayaan Waragah terhadap risalah yang diemban oleh Rasulullah saw., ia berkata, “Seandainya aku masih sempat mengalami zaman engkau, niscaya aku akan menolong engkau dengan sekuat tenaga.” Hanya sangat disayangkan karena tidak berapa lama kemudian Waragah meninggal dunia.
Sehubungan dengan pembahasan ini tiada seorang pun dari kalangan ahli tarikh yang sepakat mengenai masa terputusnya wahyu. Akan tetapi, pendapat yang paling kuat menyatakan bahwa tenggang masa tidak turunnya wahyu lamanya empat puluh hari. Maksudnya supaya Rasulullah saw. makin bertambah rindu kepada turunnya wahyu berikutnya. Memang, hal tersebut benar-benar terjadi sehingga disebutkan bahwa karena rasa rindu yang telah mencekam diri Rasulullah saw., ia menaiki puncak bukit, lalu bermaksud melemparkan dirinya dari puncak bukit itu, karena ia merasa bahwa Allah swt. telah melupakannya sesudah ia merasakan nikmat-Nya yang paling agung, yaitu pengangkatan dirinya sebagai perantara Allah dengan makhluk-Nya. Akan tetapi, sebelum ia melaksanakan niatnya, tibatiba muncullah malaikat Jibril seraya berkata, “Engkau benar-benar utusan Allah.” Mendengar jawaban tersebut hati Rasulullah saw. menjadi tenang kembali, lalu ia surut dari niatnya. Allah swt. menghendaki supaya ia menampakkan di dalam wujud cahaya agama-Nya. Sejak saat itu wahyu kembali turun kepadanya.
Tatkala Rasulullah saw. sedang berjalan-jalan, tiba-tiba ia mendengar suara dari langit, lalu ia mengangkat mukanya ke langit. Tiba-tiba ia melihat malaikat yang pernah mendatanginya ketika di Gua Hira. Malaikat tersebut selang duduk di antara langit dan bumi. Rasulullah saw. kembali merasa takut mengingat perlakuan malaikat tersebut terhadap dirinya di waktu yang pertama. Rasulullah saw. kembali ke rumah dan berkata kepada keluarganya, “Selimutilah diriku, selimutilah diriku.” Kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya:
Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan. (Q.S. 74 Al-Muddatstsir: 1-2)
Makna ayat: Berilah peringatan umat manusia dengan azab Allah bila mereka tidak juga mau kembali dari kesesatan dan penyembahan berhala seperti apa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka.
Dan Rabb-mu, agungkanlah. (Q.5. 74 Al-Muddatstsir: 3)
Makna ayat: Khususkanlah Dia dengan pengegunganmu terhadap-Nya, dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dalam hal tersebut dengan selain Dia.
Dan pakaianmu, bersihkanlah. (Q.S. 74 Al-Muddassir: 4)
Makna ayat: Bersihkanlah pakaianmu supaya kamu benar-benar mempersiapkan diri untuk berdiri di hadapan Allah, karena tidak pantas bagi seorang mukmin melakukan hal itu dalam keadaan kotor dan berpakaian yang terkena najis.
Dan perbuatan dosa, tinggalkanlah. (Q.5. 74 Al-Muddassir: 5)
Makna ayat: Tinggalkanlah hal-hal yang menyebabkan datangnya azab, yaitu dengan cara kamu taat kepada Allah dan melaksanakan perintahNya.
Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. (Q.S. 14 Al-Muddatstsir: 6)
Makna ayat: Janganlah kamu memberi kepada seseorang suatu pemberian sedangkan kamu mempunyai maksud untuk mendapat balasan yang lebih banyak dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, sebab hal ini bukan termasuk sifat orang yang dermawan.
Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-mu, bersabarlah. (Q.S. 74 AlMuddatstsir: 7)
Makna ayat: Kamu harus bersabar atas apa yang akan menimpa dirimu sebagai akibat dari perlakuan kaummu yang menyakitkan sewaktu kamu menyeru mereka untuk menyembah Allah.
(*)