Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Nurul Yaqin (23): Bai’at Aqabah yang Pertama dan Kedua

Terjemah Nurul Yaqin (23): Bai'at Aqabah yang Pertama dan Kedua

BLOGGURU – Berikut ini lanjutan dari Part 22 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin.

BAI’AT AQABAH YANG PERTAMA

Tahun berikutnya telah tiba. Datanglah sebanyak dua belas orang lelaki dari kalangan mereka, sepuluh orang dari kabilah Khazraj, sedangkan yang dua orang lainnya dari kabilah Aus. Mereka adalah As’ad ibnu Zararah dan ‘Auf serta Mu’adz, keduanya anak Al-Harits: Rafi’ ibnu Malik: Dzakwan ibnu Qais: ‘Ubadan ibnushShamit, Yazid ibnu Tsa’labah, Al-‘Abbas ibnu ‘Ubadah, ‘Agabah ibnu ‘Amir, dan Qathabah ibnu ‘Amir, semuanya dari kabilah Khazraj: Abul Haitsam ibnu Taihan serta ‘Uwaim ibnu Sa’idah, dari kabilah ‘Aus.

Mereka semua berkumpul di ‘Aqabah dan masuk Islam serta berbai’at kepada Rasulullah saw. seperti bai’atnya kaum wanita karena pada masa itu perang (jihad) masih belum diwajibkan. Yaitu hendaknya mereka tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak boleh membunuh anak-anak mereka, tidak boleh melakukan perbuatan dusta di antara tangan dan kaki mereka, dan tidak boleh mendurhakai Allah dalam perkara makruf (kebajikan). Apabila mereka menunaikan janji, bagi mereka surga sebagai pahalanya. Apabila mereka melakukan kecurangan di antara salah satunya, perkara mereka terserah kepada Allah. Jika Allah swt. menghendaki memberikan ampunan kepada mereka, niscaya Dia akan memberikan ampunan, dan jika Dia menghendaki azab, niscaya Dia akan mengazab mereka. Bai’at ini adalah bai’at ‘Agabah yang pertama.

Selanjutnya Rasulullah saw. mengirimkan kepada mereka Mush’ab ibnu ‘Umair al-‘Abdari dan “Abdullah ibnu Ummi Maktum, anak bibi Siti Khadijah, dengan membawa tugas membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan mengajari mereka agama Islam. Mush’ab tinggal di rumah salah seorang yang telah berbai’at, yaitu Abu Umamah, nama aslinya ialah As’ad ibnu Zarrarah. Kemudian Mush’ab aktif mengajak sisa-sisa orang Aus dan Khazraj yang belum masuk Islam untuk masuk Islam.

Ketika pada suatu hari Mush’ab sedang duduk-duduk di sebuah kebun bersama As’ad ibnu Zarrarah, tiba-tiba Sa’ad ibnu Mu’adz, pemimpin kabilah Aus, berkata kepada Usaid ibnu Hudhair, saudara misan As’ad, “Tidakkah engkau bertindak terhadap dua orang lelaki itu, yang keduanya datang untuk mencekoki orang-orang lemah di antara kita? Cegahlah keduanya oleh engkau.” Lalu Usaid berdiri menghunus tombak pendeknya untuk menemui kedua utusan itu. Akan tetapi, ketika As’ad melihatnya datang, ia memberikan penjelasan kepada Mush’ab, “Ini adalah pemimpin kaumnya. Ia datang kepada engkau, maka berikanlah petunjuk jalan Allah kepadanya.”

Tatkala Usaid datang di hadapan kedua utusan itu, ia berkata, “Apakah gerangan yang menyebabkan kedatangan kalian berdua sehingga kalian berani mencekoki orang-orang lemah di antara kami? Apakah kalian berdua mempunyai keperluan tertentu?” Lalu Mush’ab berkata kepadanya, “Tenanglah, silakan engkau duduk dulu, kemudian dengarkanlah apa yang akan kusampaikan. Jika engkau suka perkara yang akan kusampaikan itu, engkau boleh menerimanya, dan jika engkau tidak menyukainya, maka aku akan menahan diriku, tidak melakukan apa yang tidak engkau sukai terhadap diri engkau.” Kemudian Mush’ab membacakan Al-Qur’an kepadanya.

Akhirnya Usaid menganggap bahwa agama Islam itu baik dan mendapat hidayah dari Allah, karena itu ia membaca Syahadat (masuk Islam). Lalu ia kembali menemui Sa’ad ibnu Muw’adz. Sa’ad bertanya kepadanya mengenai apa yang telah dilakukannya terhadap kedua utusan Nabi itu. Usaid menjawab, “Demi Allah, menurut pendapatku kedua orang itu tidak apa-apa setelah aku melihatnya.”

Setelah mendapat jawaban tersebut Sa’ad ibnu Mu’adz marah-marah, lalu ia segera berangkat untuk menemui keduanya. Mush’ab pun melakukan hal yang sama, dan ternyata Allah swt. memberinya petunjuk sehingga ia pun masuk Islam seperti Usaid tadi. Kemudian ia kembali bergabung dengan orang-orang Bani ‘Abdul-Asyhal. Mereka adalah salah satu puak kabilah Aus. Ia berkata kepada mereka, “Bagaimana anggapan kalian terhadap diriku ini?”

Mereka menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami dan anak pemimpin kami.” Sa’d berkata kepada mereka, “Kaum lelaki dan kaum perempuan kalian haram berbicara denganku sebelum kalian mau masuk Islam.” Akhirnya semua keluarga Bani ‘Abdul-Asyhal masuk Islam dan memenuhi ajakan Sa’d ibnu Mu’adz. Akhirnya agama Islam menyebar ke seluruh rumah di kota Madinah, sehingga tiada obrolan lain bagi mereka kecuali masalah agama Islam.

Pada musim haji berikutnya, yaitu setahun setelah Bai’at ‘Agabah. Pertama, datanglah ke Makkah sebagian besar dari mereka dengan maksud menunaikan ibadah haji. Di antara mereka terdapat pula orang-orang yang masih musyrik. Utusan mereka menghadap Rasulullah saw.dan menyampaikan pesan bahwa mereka berjanji akan bertemu dengan Rasulullah saw. pada malam hari di ‘Agabah.

Kemudian Rasulullah saw. berpesan kepada mereka agar mereka jangan sampai membangunkan orang-orang yang sedang tidur nyenyak, dan jangan pula mereka menunggu-nunggu orang yang tidak ada. Semua kegiatan ini dilakukan secara tersembunyi dan sangat rahasia agar Orang-orang musyrik Quraisy tidak mengetahuinya. Jika sampai mereka mengetahui hal ini, niscaya mereka akan mencegah apa yang telah mereka sepakati sejak semula bersama Rasulullah saw.

Setelah orang-orang Anshar menunaikan hajinya, mereka bergerak menuju ke tempat pertemuan yang telah dijanjikan secara sembunyisembunyi supaya tidak diketahui oleh rekan-rekan mereka yang musyrik. Hal itu mulai mereka lakukan setelah malam hari berlangsung sepertiganya (sekitar jam 10.00 malam). Mereka berangkat seorang demi seorang tanpa ribut-ribut sehingga jumlah mereka lengkap berada di tempat. Jumlah mereka semua ada tujuh puluh tiga orang. Di antara mereka terdapat enam puluh dua orang dari kabilah Khazraj, sedangkan sebelas orang lain. nya berasal dari kabilah Aus. Ikut dengan mereka ada dua orang perem. puan, yaitu Nasibah binti Ka’b dari Bani Najjar dan Asma binti ‘Amr dari Bani Salamah.

Rasulullah saw. menemui mereka di tempat tersebut. Ia diikuti oleh Al-‘Abbas ibnu ‘Abdul-Muththalib yang pada saat itu masih memeluk aga. ma kaumnya, tetapi ia ingin menghindari perkara keponakannya itu supaya ia yakin dan melihat sendiri apa yang akan dilakukannya. Setelah mereka berkumpul, Al-‘Abbas mengatakan kepada mereka bahwa keponakannya ini masih tetap disegani di kalangan kaumnya sehingga tiada seorang pun dari kalangan kaumnya yang menampakkan permusuhan dan kebencian terhadapnya dan mencelakakannya. Bahkan sebaliknya, mereka sendirilah yang menanggung banyak penderitaan dan keresahan dalam menghadapinya.

Selanjutnya Al-‘ Abbas menegaskan kepada mereka, “Bila kalian benar-benar akan menepati janji kalian terhadapnya sesuai dengan apa yang telah kalian utarakan kepadanya, maka kalian benar-benar harus siap membelanya dari perlakuan orang-orang yang menentangnya, siap sedia menanggung segala akibatnya. Bila kalian tidak bersedia melakukan hal tersebut, biarkanlah dia berada di kalangan keluarganya, sebab keluarganya berada dalam kedudukan yang besar (yang mampu melindunginya).”

Lalu pemimpin mereka selaku juru bicara mereka semua, yaitu Al-Barra ibnu Ma’rur, berkata, “Demi Allah, seandainya kami mempunyai sesuatu yang hendak kami katakan kepadanya, niscaya kami akan mengatakannya. Akan tetapi, kami datang ke sini tiada lain hanya demi memenuhi janji dan percaya serta siap mengorbankan jiwa demi Rasulullah.” Kemudian pada saat itu mereka semua berkata kepada Rasulullah saw, “Ambillah (dari kami) demi engkau dan Rabb-engkau apa-apa yang engkau sukai.” Maka Rasulullah saw. berkata kepada mereka, “Aku mensyaratkan kepada kalian, demi Rabb-ku, hendaklah kalian menyembah-Nya semata, dan jangan sekali-kali kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Aku mensyaratkan kepada kalian untukku, hendaknya kalian mempertahankan diriku sebagaimana kalian mempertahankan perempuan-perempuan dan anakanak kalian sendiri bilamana aku datang kepada kalian.”

Kemudian Al-Haitsam ibnut-Taihan berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di antara kami dan orang-orang lain terdapat ikatan perjanjian, dan kami telah siap untuk memutuskannya. Apakah jika kami melakukan hal tersebut, kemudian ternyata Allah swt. menyuruh engkau kembali kepada kaum engkau lalu engkau membiarkan kami begitu saja?” Mendengar perkataan tersebut Rasulullah saw. tersenyum, lalu berkata, “Tidak, tetapi darah dengan darah dan kehancuran dengan kehancuran.” Artinya, bila mereka ingin menuntut darah, maka Rasulullah akan menuntutnya: dan bila mereka ingin menyia-nyiakannya, niscaya Rasulullah akan menyia-nyiakan mereka pula. Atau dengan kata lain, Rasulullah saw. siap sehidup-semati dengan mereka.

Sejak saat itu mulailah pembai’atan, Bai’at ini dinamakan Bai”at “Agabah kedua. Kemudian mulailah orang-orang Anshar membai’at Rasulullah saw. sesuai dengan apa yang dimintanya. Orang yang mula-mula berbai’at ialah As’ad ibnu Zarrarah, tetapi menurut pendapat lain adalah Al-Barra ibnu Ma’rur.

Kemudian Rasulullah saw. memilih dua belas orang di antara mereka dari setiap keluarga diambil seorang, untuk dijadikan sebagai pemimpin mereka, sembilan orang dari kabilah Khazraj dan tiga orang dari kalangan kabilah Aus. Mereka adalah Abul-Haitsam ibnut-Taihan, As’ad ibnu Zarrarah, Usaid ibnu Hudhair, Al-Barra ibnu Ma’rur, Rafi” ibnu Malik, Sa’d ibnu Khaitsamah, Sa’d ibnur-Rabi”’, Sa’d ibnu ‘Ubadah, ‘Abdullah ibnu Rawwahah, ‘Abdullah ‘Amr, ‘Ubadah ibnush-Shamit, dan Al-Mundzir ibnu ‘Arnr.

Selanjutnya Rasulullah saw. berkata kepada mereka, “Kalian adalah para pelindung kaum kalian sebagaimana kaum Hawariyin melindungi ‘Isa ibnu Maryam, dan aku adalah pelindung kaumku.” Akan tetapi, sudah merupakan kehendak Allah swt. Akhirnya berita pembai’atan ini sampai juga ke telinga orang-orang musyrik QQuraisy. Mereka mendatangi perkemahan orang-orang Anshar, lalu mereka berkata, “Hai orang-orang Khazraj, aku dengar kalian telah mendatangi Muhammad dan kalian akan mengeluarkannya dari tanah air kami, kemudian kalian telah berbai’at kepadanya untuk memerangi kami.”

Akan tetapi, kaum Anshar membantah hal tersebut. Orang-orang musyrik yang datang dari Madinah bersama kaum Anshar, yaitu mereka yang tidak menghadiri bai’at tersebut, bersumpah kepada kaum musyrikin QQuraisy bahwa teman-teman mereka pada malam itu tidak pergi ke mana-mana dan tidak melakukan apa-apa (karena mereka tidak tahu, pen.) sehingga ‘Abdullah ibnu Ubay, seorang pemimpin dari kabilah Khazraj berkata, “Jika memang kaumku melakukan sesuatu dari hal-hal tersebut, niscaya mereka mengikutsertakan diriku.” (*)

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Teks Arab Kitab Syuruth Shalah
Oleh : Immim pangkep

Teks Arab Kitab Syuruth Shalah

Memahami Zuhud dan Wara'
Oleh : Immim pangkep

Memahami Zuhud dan Wara’

0 Komentar

KELUAR