
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Al-Imam Adz-Dzahabi (W.748 H) rahimahullah ta’ala mengatakan, Hadits Mu’awiyyah bin Al-Hakam As-Sulami beliau mengatakan, “Dahulu aku mempunyai seorang budak wanita yang menggembalakan kambingku ke arah gunung Uhud dan Jawwāniyyah. Pada suatu hari aku memantaunya, tiba-tiba ada seekor serigala yang membawa lari seekor kambing (yang digembalakan budakku itu). Aku adalah manusia dari Bani Adam (yakni sebagaimana manusia biasa bisa marah) akupun menyesalinya , ketika itu aku memukulnya dengan keras , lalu aku mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau pun menganggap besar apa yang telah aku lakukan. Aku berkata : “Wahai Rasulullah, apakah aku harus memerdekakannya ?”
Beliau menjawab : “Panggillah budak wanita itu!”.
Aku pun memanggilnya. Lalu beliau bertanya kepada budak wanita itu : “Dimanakah Allah ?”
Ia menjawab : “Di atas langit”
Beliau bertanya lagi : “Siapakah aku ?”
Ia menjawab : “Engkau adalah Rasulullah utusan Allah ”
Beliau pun bersabda, “Bebaskanlah dia , sesungguhnya ia adalah seorang wanita yang beriman”.
《Kitab : Al-‘Uluw li Aliyyil Gaffar Fî Îdhāhi Shahîh Al-Akhbār Wa Saqîmihā , Penerbit Maktabah Adhwā’u As-Salaf Ar-Riyadh Cetakan pertama 1416 H – 1995 M , halaman 14》
Hadits Jariyyah adalah Hadits yang Shahih
Al-Imam Al-Baghawiy rahimahullah ta’ala (setelah membawakan hadits Mu’āwiyyah bin Al-Hakam As-Sulamiy secara lengkap termasuk kisah jāriyyah) berkata :
“Hadits Ini adalah hadits yang shahih.
Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Bakr bin Abi Syaibah, dari Ismā’îl bin Ibrahim, dari Hajjāj”
[Syahus-Sunnah, 3/239, tahqiq/ta’liq/takhrij : Syu’aib Al-Arna’uth & Zuhair Syāwîsy; Al-Maktab Al-Islāmiy, Cet. 2/1403].
Apakah Hadits Jariyyah dalam Shahih Muslim itu Dha’if?
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah ta’ala mengatakan, “Hadits jāriyyah ini adalah hadits yang shahih tanpa ada keraguan tanpa ada kebimbangan pada nya , kecuali orang yang jahil atau orang yang tak wajar dari orang-orang yang memiliki hawa nafsu yang setiap kali datang kepada mereka hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyelisihi kesesatan mereka , maka mereka mencoba agar terbebas darinya dengan takwil (yaitu memalingkan dari makna dzahirnya tanpa dalil yang bermakna tahrif , pent) atau ta’thil (menolak tidak mau menerima)
Jika mereka tidak bisa melakukan hal tersebut , mereka mencoba untuk menghujat pada keshahihannya , seperti hadits ini , padahal sesungguhnya perbuatan hujatan mereka terhadap hadits ini bersamaan dengan keshahihan sanadnya dan penshahihan para Imam-imam ahli hadits terhadap hadits tersebut tanpa ada perselisihan yang lebih mengetahuinya , diantaranya adalah Al-Imam Muslim dimana beliau meriwayatkannya dalam shahihnya , demikian juga Abu ‘Awānah dalam Mustakhrajnya dan Imam Al-Baihaqi dalam Kitab Al-Asma’ dimana beliau mengatakan setelah hadits ini : 422 : “Hadits ini adalah hadits yang shahih Imam Muslim telah meriwayatkannya”
《Kitab Mukhtashar Al-‘Uluw Li ‘Aliyyil Ghaffar Karya Adz-Dzahabi , ditahqiq dan diringkas oleh Asy-Syaikh Muhammad Nāshiruddin Al-Albani penerbit Al-Maktab Al-Islami cetakan pertama 1401 H – 1981 M : 82》
Apakah Hadits Jariyyah tentang Allah diatas itu, derajatnya Dha’if?
Al-Imam Adz-Dzahabi (W.748 H) rahimahullah ta’ala mengatakan: “Hadits ini adalah hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh orang-orang yang terpercaya dari Yahya bin Abi Katsir dari Hilal bin Abi Maimūnah dari ‘Atha bin Yasar dari Mu’awiyyah As-Sulami dikeluarkan oleh Imam Muslim , Abu Dawud , An-Nasa’i dan yang selainnya dari para imam-imam dalam kitab-kitab karangan mereka , mereka membiarkannya apa adanya dan mereka tidak menentangnya dengan takwil dan tidak juga dengan tahrif”.
《Kitab : Al-‘Uluw li Aliyyil Gaffar Fî Îdhāhi Shahîh Al-Akhbār Wa Saqîmihā , Penerbit Maktabah Adhwā’u As-Salaf Ar-Riyadh Cetakan pertama 1416 H – 1995 M , halaman 14》
Tuduhan Dusta dan Tipu Daya Al-Kautsari terhadap Hadits Jariyyah
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Bersamaan hal tersebut (shahih nya hadits ini dan penshahihan para Imam-imam ahli hadits) , kita melihat si Al-Kautsari (Muhammad Zahid Al-Kautsari) yang binasa , karena sikap fanatismenya dia mencoba untuk membuat keraguan pada keshahihannya dengan menganggap idhthirab (bertentangan) pada hadits jariyyah tersebut”
《Kitab Mukhtashar Al-‘Uluw Li ‘Aliyyil Ghaffar Karya Adz-Dzahabi , ditahqiq dan diringkas oleh Asy-Syaikh Muhammad Nāshiruddin Al-Albani penerbit Al-Maktab Al-Islami cetakan pertama 1401 H – 1981 M : 82》
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Perhatikanlah semoga Allah menjaga saya dan anda dari hawa nafsu, bagaimana bisanya orang ini “si Al-Kautsari (Muhammad Zahid Al-Kautsari)” bersandarkan dengan riwayat yang mungkar ini ?? Bukan ini saja , bahkan dia tabrakkan riwayat yang tsabit yang shahih yang disepakati atas keshahihannya diantara para ahli hadits.
Dia menganggap riwayat yang mungkar adalah sebuah dalil atas lemahnya dan goncangnya riwayat yang shahih
Maka orang yang beriman mau mengatakan apa lagi terhadap orang ini ?? Yang memanfaatkan atau menggunakan ilmunya dan pengetahuannya untuk membuat ragu kaum muslimin terhadap hadits-hadits Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam , semoga Allah memperlakukan terhadapnya apa yang pantas untuknya “.
《Kitab Mukhtashar Al-‘Uluw Li ‘Aliyyil Ghaffar Karya Adz-Dzahabi , ditahqiq dan diringkas oleh Asy-Syaikh Muhammad Nāshiruddin Al-Albani penerbit Al-Maktab Al-Islami cetakan pertama 1401 H – 1981 M : 82-83》
Fitrah Sehat Manusia bahwasanya Allah diatas, Bukan dimana-mana atau Tidak dimana-mana
Al-Imam Adz-Dzahabi (W.748 H) rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Demikianlah pendapat kami (Ahlus sunnah) setiap orang yang ditanya: “Dimana Allah ? ”
Dia segera dengan fitrahnya menjawab: “Di atas langit !”.
《Kitab Mukhtashar Al-‘Uluw Li ‘Aliyyil Ghaffar Lidz-Dzahabi , ditahqiq dan diringkas oleh Asy-Syaikh Muhammad Nāshiruddin Al-Albani penerbit Al-Maktab Al-Islami cetakan pertama 1401 H – 1981 M halaman : 81》
Faidah dalam Hadits Jariyyah
Al-Imam Adz-Dzahabi (W.748 H) rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Di dalam hadits ini ada dua perkara :
Pertama, Disyariatkan pertanyaan seorang muslim : “Dimana Allah ?”
Kedua, Jawaban orang yang ditanya: Dengan berkata “Allah di atas langit ”
Maka barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini berarti dia telah mengingkari Al-Musthafa (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
《Kitab Mukhtashar Al-‘Uluw Li ‘Aliyyil Ghaffar Lidz-Dzahabi , ditahqiq dan diringkas oleh Asy-Syaikh Muhammad Nāshiruddin Al-Albani penerbit Al-Maktab Al-Islami cetakan pertama 1401 H – 1981 M halaman : 81》