Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Kitab Akhlaq lil Banat – Djuz 1 (4)

Kitab Akhlaq lil Banat – Djuz 1 (4)

BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq yang diperuntukkan bagi Perempuan (Remaja Putri pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.

23. Tata Krama Anak Perempuan kepada Pelayannya

Pelayanmu adalah dia yang selalu sibuk di dalam rumahmu, membersihkan peralatan rumah tangga, menyapu halaman, memasakkan makananmu, mencucikan pakaian-pakaianmu, membantu ibumu dalam kesibukannya, selalu diperintahkan untuk kebutuhan ibu, pergi ke pasar setiap hari untuk membeli daging, sayuran, rempah-rempah, dan lain-lain.

Jikala engkau ingin ibumu merasa senang denganmu, maka berakhlak yang baiklah kepada pelayanmu, apabila engkau ingin memerintahkannya, maka gunakanlah perkataan yang lembut, apabila pelayan melakukan kesalahan, maka beritahulah kesalahannya dengan cara yang halus dan lembut kemudian maafkanlah ia. Dulu nabi Muhammad SAW memiliki seorang pelayan bernama Anas. Nabi tidak pernah menggertak dan memarahinya. Seorang laki-laki lantas bertanya kepada Nabi: Berapa kali kita memaafkan seorang pelayan wahai Rasulullah? Nabi menjawab maafkanlah ia 70 kali dalam satu hari.

Jika engkau melakukan pernuatan yang bertentangan seperti memcahkan wadah, merubah peralatan-peralatan, kemudia ibumu marah, maka kabarkanlah kepadanya bahwa engkaulah yang melakukannya dan mintalah maaf kepadanya, dan janganlah sekali-kali engkau tidak mengakui perbuatanmu dan menuduh pelayan dengan sesuatu yang tidak ia lakukan, dan janganlah engkau berbohong dan membahayakan orang lain. Apabila engkau memanggil pelayanmu dan ia tidak menjawab panggilanmu seketika itu, maka janglah engkau memarahinya barang kali ia tidak mendengar suaramu. Begitupun jika engkau memerintahkannya sesuatu dan ia lambat, maka janganlah tergesa mengomelinya karena barangkali ia sedang dalam udzur. Janglah engkau memukul, mencerca, dan menggertak, serta cemberut kepada seorang pelayan. Dan tidaklah ada seorang yang melakukan hal tersebut kecuali anak perempuan yang memiliki akhlak tidak baik yang suka membenci semua manusia. Ketahuilah engkau wahai anak perempuan engkau tidak tahu betapa butuhnya engkau kepada seorang pelayan kecuali ketika pelayanmu keluar dari rumah, sehingga ibumu merasakan lelah dan kesusahan. Oleh karena itu, perlakukanlah pelayanmu degan perlakuan yang baik sehingga ia tetap betah di dalam rumah dan membantu kedua orang tuamu. Dan ketahuilah juga wahai anak perempuan bahwa semua pelayan merupakan manusia seperti kita. Mereka dapat merasakan seperti perasaan kita, maka kita tidak diperbolehkan untuk melarang mereka dan berbuat sombong kepada mereka.

Janglah engkau suka duduk dengan pelayan dan janganlah engkau bercakap-cakap dengannya kecuali sesuai kebutuhan agar engkau tidak mengambil wataknya, dan janganlah engkau bercanda dengan pelayan karena hal itulah yang membuatnya berani denganmu dan terkadang engkau mendengar perkataan yang tidak baik darinya.

24. Halimah, Zubaedah, dan Seorang Pelayan, Muti’ah

Halimah adalah anak perempuan yang beradab. Seluruh temannya, ayahnya, dan ibunya sangat menyayanginya. Halimah memiliki saudara perempuan bernama Zubaidah. Akan tetapi, Zubaidah memiliki akhlak yang tidak baik. Oleh karena itu, ayahnya, ibunya, dan setiap orang yang mengenalnya tidak suka dengan dirinya.

Di dalam rumah Halimah terdapat seorang pelayan bernama Muthi’ah. Pelayan tersebut selalu menemani Halimah, yaitu ketika mereka berdua berangkah ke sekolah, dan ketika mereka berdua pulang dari sekolah. Pelayan tersebut sangat menyayangi Halimah karena selalu memperlakukannya dengan baik: Halimah tidak pernah merendahkanya dan juga tidak sombong kepadanya. Akan tetapi, pelayan tersebut sangat tidak suka dengan Zubaidah, Karena ia selalu berbuat jahat dan menyakitinya hingga hatinya menjadi sempit dan tidak mampu untuk bersabar atas hal-hal yang menyakitkannya. Kemudian sang pelayan mengundurkan diri dari pekerjaannya, sehingga membuat Halimah dan ibunya sangat menyesal atas keluarnya  pelayan yang sempurna ini dari rumah.

Beberapa hari kemudian, seorang pelayan lain bekerja sebagai penggantinya. Akan tetapi, ternyata pelayan tersebut berwatak tidak baik dan berakhlak kasar dan seperti biasanya, Zubaidah menyakitinya bahkan terkadang memukulnya dan mencemoohnya, serta meludahi wajahnya sehingga sang pelayan dendam kepadanya. Kemudian akhirnya ia mencuri perhiasan Zubaidah dan melarikan diri dari rumah. Zubaidahpun menangis karena kehilangan perhiasannya. Akan tetapi tangisannya tidak bermanfaat untuknya. Kemudian ayah dan ibunya memberikan hukuman yang berat kepada Zubaidah. Pada akhirnya, Zubaidah sudah mulai taubat dari akhlaknya yang jelek.

Inilah balasan seorang anak perempuan yang suka menyakiti pelayannya.

25. Pertolongan Tetangga 

Ayah dan ibumu sangat menyayangi tetangga, ayah dan ibumu ingin agar engkau juga menyayangi tetangga karena mereka juga sangat menyayangi kedua orang tuamu, tetangga juga selalu membantu kedua orang tua apabila orang tua membutuhkan pertolongan. Ibumu terkadang meminjam sebagian peralatan kepada tetangga, dan sebaliknya tetangga juga meminjam sebagian peralatan kepada ibumu.

Setiap insan yang baik akan menyayangi tetangganya, dan tetangga juga akan menyayanginya untuk dapat menangkap seorang pencuri. Apabila seseorang datang dari perjalanan atau melahirkan anak, bagaimana tetangga datang menuju kerumahnya untuk menunjukkan kebahagaiaan mereka atas kedatangannya dari sebuah perjalanan dan hadirnya anak baru. Apabila ia jatuh sakit, merekapun sedih kepadanya dan bahkan datang menjenguk ke rumahnya serta bertanya tentang keadaannya dan mendoakan kesehatan untuknya.

26. Tata Krama Anak Perempuan kepada Tetangganya

Engkau harus menyayangi tetanggamu, menghormati dan tidak menyakiti mereka seperti mencela mereka, merendahkan mereka, meninggikan suaramu tatkala mereka tertidur, melempari rumah mereka, mengotori halaman dan dinding-ding rumah mereka. Disebutkan dalam hadits: “Siapa orangnya yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya”.

Jika engkau ingin bertemu dengan anak-anak tetangga, maka mulailah dengan uluk salam, tersenyum di hadapan mereka, bermainlah dengan mereka, dan jagalah untuk tidak bertengkar dengan salah satu diantara mereka, apabila salah satu diantara mereka tidak terlihat, maka bertanyalah perihal tentangnya, apabila ada yang sakit, maka jenguklah ia, apabila ibumu memberikanmu sebuah makanan atau buah kemudian tetanggamu datang, maka janglah lupa untuk makan dengannya.

Dengarkanlah cerita tentang Salma dan tetangganya, jadilah engkau seperti Salma, sehingga engkau menjadi gadis yang mulia dan terhorma diantara seluruh manusia.

27. Salma dan Tetangganya, Su’ad 

Salma adalah anak perempuan yang memiliki akhlak baik, seluruh ibu sangat berharap untuk memiliki seorang anak perempuan seperti Salma. Salma memiliki tetangga yang menyayanginya, dan tetangga tersebut juga menyayangi Salma. Pada masa libur sekolah, ayahnya ingin membawanya ke sebuah kebun binatang, kemudian Salma berkata kepada ayahnya: wahai ayah, aku akan pergi dengan tetanggaku, Su’ad karena aku tidak akan bahagia kecuali apabila aku pergi dengannya. Ayahnya pun sangan senang dengan kebaikan akhlaknya.

Ketika Salma dan tetangganya sudah sampai di kebun binatang, mereka berdua melihat-lihat berbagai macam burung yang mengagumkan dan beberapa hewan yang asing

Selang beberapa lama, Salma berkata kepada tetangganya: sekarang kita sudah melihat-lihat seluruh hewan yang ada di kebun binatang, apakah engkau ingin kita segera kembali? Tetangganya pun menjawab: iya wahai tetanggaku yang baik dan aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu kepadaku. Kemudian Salma pun meminta kepada ayahnya untuk segera kembali ke rumah.

Ketika Salma telah sampai di rumahnya, ia menceritakan semua yang ia lihat kepada keluarganya. Mereka pun merasa bahagia atas Salma bahkan mereka sangat bersyukur atas kasih-sayang Salma kepada tetangganya.

28. Sebelum Berangkat ke Sekolah

Seorang anak perempuan harus senantiasa menyukai ketertiban dan kebersihan: bangun dari tidur setiap pagi, mandi dengan menggunakan sabun, memakai handuk yang bersih, kemudian berwudhu dan shalat subuh berjama’ah, berjabat tangan setelah shalat, menyisir rambutnya, memakai pakaian sekolah dengan bersih dan rapi, kemudian mengulas materi pelajaran yang dipelajarinya sebelum tidur.

Kemudian sarapan pagi agar kuat untuk beraktifitas dan agar tidak membutuhkan makanan di luar rumah seperti halnya sebagian anak perempuan yang sarapan di rumah masing-masing, menata perelatan-peralatannya di dalam tempat penyimpanannya setelah melihat jadwal pembelajaran agar tidak melupakan satu buku atau satu daftar, kemudian meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk berangkat ke sekolah, lantas keluar rumah sebelum masuk kelas sehingga tidak terlambat datang.

29. Tata Krama Melangkahkan Kaki di Jalan 

Sudah seharusnya bagi murid perempuan untuk memilih jalan yang paling dekat dan aman serta sudah seyogyanya ia berjalan dengan lurus: tidak menoleh ke kanan dan ke kiri tanpa ada hajat, tidak bergerak dengan gerakan yang tidak pantas untuknya, tidak mempercepat dan memperlambat perjalanannya, tidak makan dan bernyanyi, bahkan tidak membaca buku sedang ia dalam keadaan sedang berjalan kaki.

menghindari lumpur dan hal-hal yang kotor agar tidak terjatuh dan membuat pakaian atau sepatu kotor, menjauhi desakan sehingga tidak bertabrakan dengan seseorang, tidak menghilangkan peralatan-peralatannya. Murid perempuan juga tidak berjalan di sisi kanan agar selamat dari tabrakan kendaraan, tidak berhenti di tengah jalan untuk melihat-lihat took atau segala sesuatu yang menarik perhatiannya, tidak membatasi pandangannya pada jendela, pintu, atau orang-orang yang lewat, tidak memberhentikan salah satu temannya hanya untuk berbicara kosong.

Apabila bertemu dengan perempuan yang lemah atau buta, maka bantulah ia sesuai kemampuan, apabila berjalan dengan dengan salah satu teman-temannya, maka jangan bersenda gurau dengan mereka, jangan meninggikan suara ketika berbicara atau tertawa, berhati-hati untuk tidak mencemooh seseorang atau mengumpatnya. Semua hal tersebut merupakan kebiasan-kebiasaan yang jelek dan berlawanan dengan rasa malu dan tata krama.

30. Tata Krama Murid Perempuan di Sekolah

Apabila murid perempuan sudah sampai ke sekolahnya, maka bersihkanlah sepatunya dengan pembersih, kemudian menuju ke kelasnya, mengetuk pintu dengan lembut, memasuki kelas dengan tata krama, mengucapkan salam kepada teman-temannya, berjabat tangan seraya tersenyum dan berkata: semoga Allah menjadika pagi kalian dengan kebaikan dan kebahagiaan, kemudian meletakkan tasnya di laci meja. Apabila gurunya datang, maka berdirilah dari tempatnya, menyambutnya dengan tata krama dan kehormatan, kemudian berjabat tangan.

Apabila bel berbunyi, maka bergegaslah menuju ke kelas, kemudian duduk dengan lurus dan penuh khidmat: tidak berbicara dengan teman-temannya, tidak bermain, tidak menoleh-noleh, kemudian masuk ke kelas setelah ada petunjuk guru dengan penuh tata krama dan aturan, menuju ke tempat duduk kemudian duduk dengan baik: duduk lurus dan tidak membengkokkan dadanya, tidak menggerak-gerakkan kedua kakinya, tidak berdesakan dengan selainnya, tidak meletakkan kaki di atas kaki yang lain, tidak mempermainkan kedua tangannya dan meletakkannya di bawah kedua pipinya. Seorang murid perempuan juga harus menjauhi perilaku menulis pada saat sedang membaca, dan menjauhi perilaku mengabsen pada waktu menulis, tidak mencipratkan tinta di atas lantai, tidak mengotori jari-jarinya atau pakaian-pakaiannya.

Pada saat duduk, seorang murid menyambut gurunya, diam untuk belajar, tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak mengajak orang lain berbicara atau membuatnya tertawa karena semua hal tersebut dapat menghalangi pemahaman, tidak melarang teman-temannya, sehingga membuat guru marah dan menyebabkan tertinggal pelajaran bahkan gagal dalam ujian, tidak berpindah dari tempatnya ke tempat yang lain tanpa izin, tidak sibuk sendiri dengan pelajaran lain pada saat pembelajaran.

31. Bagaimana Murid Perempuan Menjaga Barang-Barangnya 

Seorang murid perempuan harus menjaga peralatan-peralatannya, yaitu dengan menata semua pada tempatnya, sehingga tidak berubah atau hilang atau mengotori, serta agar tidak merasa letih ketika membutuhkannya dan waktunya hilang dalam mencarinya, selalu menyampuli kitab-kitab dan buku catatannya sehingga tidak sobek dan kotor, tidak menjilati jari-jari tangannya ketika ingin membalik lembar kitab-kitab dan buku catatannya karena hal tersebut merupakan kebiasaan yang jelek, berlawanan dengan tata krama, dan membahayakan kesehatan.

Seorang murid perempuan juga harus menjaga pensilnya sehingga tidak terjatuh dan pecah, apabila ingin mengasa pensil, maka jangan mengasah di atas kursi atau jangan mengasah pensil dengan sampul kitab-kitab dan buku catatannya, melainkan gunakakanlah tempat pensil atau pisau, dan janganlah menghisap pensil dengan bibirnya atau menghapus tulisan dengan air ludahnya, melainkan gunakanlah penghapus, atau mengeringkan tinta dengan menggunakan pakaiannya, melainkan gunakanlah handuk kecil. (*)

 

(Bersambung …. )

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR