
BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 3, yang diperuntukkan bagi Perempuan (Remaja Putri pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.
Adab Makan Sendirian
1. Wahai putri tercinta! ketahuilah, bahwa manusia berakal makan adalah untuk hidup, karena makan itu hal yang di wajibkan untuk kesehatan badannya. Jika ia tidak makan, pastilah ia mati.
Kebalikannya adalah orang bodoh. la hidup untuk makan sehingga keinginannya hanya mengisi perut saja sebagaimana binatang. Maka engkau tidak boleh berlebih-lebihan makan demi mematuhi firman Allah “azza wa jalla: “Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang berlebihlebihan” (Al-A’raaf: 31).
Hendaklah engkau amalkan adab-adab pada waktu makan, yaitu:
2. Hendaklah kamu berniat untuk menjadi kekuatan dalam melakukan ketaatan dan beribadah, supaya mendapat pahala atas niat itu. Telah disebutkan dalam hadits: “Sesungguhnya semua amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan yang diniatkannya.”
Janganlah engkau makan hanya bertujuan untuk sekedar merasakan kenikmatan dan kelezatan, sehingga engkau makan di setiap waktu, dan memasukkan makanan di atas makanan yang lain. Dalam hadits dikatakan: “Sesungguhnya termasuk perbuatan melampaui batas, apabila engkau makan segala yang engkau sukai.”
Akan tetapi makanlah pada waktu-waktu tertentu di saat engkau ingin makan. Makanlah makanan yang ada dan jangan tanyakan yang tidak ada. Janganlah engkau makan sampai kekenyangan, akan tetapi berhentilah walau engkau masih menyukainya, karena terlalu kenyang dapat mengganggu kesehatan serta menyebabkan sifat bebal (bodoh).
Nabi SAW. telah melarang hal itu dengan sabdanya: “Tidaklah anak Adam (manusia) memenuhi sebuah wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam makan beberapa suap yang mampu menegakkan sulbinya (tulang punggung). Bilamana harus mengisi perut maka ia isi sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk napasnya.”
Nabi SAW pernah bersabda: “Seburuk-buruk umatku adalah mereka yang makan-makanan yang nikmat, sehingga tubuh mereka tumbuh karenanya, sedang keinginan mereka hanyalah beragamnya makanan dan pakaian dan mereka berbicara tidak keruan.” Nabi SAW. bersabda pula: “Janganlah kamu sekalian makan terlalu kenyang, karena kekenyangan itu merusak agama, menimbulkan penyakit dan menyebabkan malas beribadah.”
3. Hendaklah engkau memelihara kebersihan dengan mencuci kedua telapak tanganmu pada sebelum dan sesudahnya makanmu. Dalam hadits dikatakan: “Wudhu (mencuci kedua telapak tangan) sebelum makan adalah menolak kemiskinan, dan sesudahnya dapat mencegah kegilaan atau sejenisnya.”
Hendaklah kamu makan dengan tanganmu yang kanan. Dalam hadits: “Hendaklah seseorang dari kamu makan dengan tangan kanannya dan minum dengan tangan kanannya pula, mengambil dengan tangan kanannya dan memberi juga dengan tangan kanannya. Sesungguhnya syaitan itu makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kiri pula, memberi dengan tangan kirinya mengambil juga dengan tangan kirinya.”
Hendaklah pertama kali engkau ucapkan: Bismillahir Rahmaanir Rahiim (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Dan Penyayang). Dalam hadits: “Apabila seseorang dari kamu makan, hendaklah ia menyebut nama Allah.
Jika ia lupa pada awalnya, hendaknya ia mengucapkan: Bismillah awwalahu wa aakhirahu (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya).”
Janganlah engkau mengotori tangan dan bajumu dengan makanan. Janganlah menumpahkan kuah atau meletakkan tulang-tulang di atas soprah. Jangan banyak. minum pada waktu makan, karena hal itu dapat menghambat : pencernaan makanan.
Janganlah meniup makanan dan minuman. Dalam hadits disebutkan: “Meniup dalam makanan itu menghilangkan barokah.”
Terdapat pula larangan menghembus dalam minuman. Janganlah engkau minum dari mulut kendi, karena bisa membuatnya berbau busuk dan mungkin sekali di dalamnya terdapat kotoran atau hewan yang tidak kau lihat.
Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki minum dari mulut sebuah kendi, lalu merayap seekor ulat yang masuk ke dalam perutnya. Jangan bernapas atau bersendawa dengan gelas masih dimulut atau minum dari bagian gelas yang retak. Telah disebutkan dalam hadits tentang larangan yang mengatakan bahwa ia adalah tempat duduk syaitan.
4. Jangan pula engkau makan atau minum sambil berdiri. Karena perbuatan itu juga tidak diperbolehkan. Dalam hadits dikatakan: “Janganlah engkau makan sambil berjalan.”
Para dokter pun telah melarangnya, karena usus besar (tempat pencernaan) tidak siap untuk menerima makanan dalam keadaan berjalan. Ya, mereka para dokter menyuruh untuk bergerak setelah makanan menetap di dalam perut. Sebagaimana dalam peribahasa Arab: “Makanlah pada waktu siang dan beristirahatlah, dan makanlah pada waktu malam lalu berjalanlah.”
Maka berjalanlah sebelum tidur, walaupun seratus langkah, karena berjalan termasuk penyebab terbesar dalam melancarkan pencernaan dan waktu malam biasanya diliputi ketenangan. Maka kita harus bergerak pada waktu itu. Sebaliknya waktu siang adalah waktu bergerak dan Cukup untuk pencernaan.
Janganlah engkau tinggalkan makan siang atau makan malam. Sebab dalam hadits disebutkan: “Meninggalkan makan siang dapat menyebabkan sakit, sedangkan meninggalkan makan malam dapat menyebabkan lekas tua.” Dalam hadits lain: “Makanlah pada waktu malam walaupun hanya segenggam kurma.”
Hendaklah engkau makan pagi sebelum keluar dari rumahmu. Seorang bijaksana berkata kepada putranya, “Wahai anakku, janganlah keluar dari rumah sehingga engkau makan terlebih dulu, karena dengan itu akalmu bisa tetap terjaga dan hilanglah segala kebodohan.”
5. Termasuk adab adalah jangan engkau minum atau bicara sementara makanan masih berada di mulutmu. Jangan mengusap kedua bibirmu dengan lidah sesudah makan dan minum, tetapi usaplah dengan kain pembersih (serbet).
Janganlah minum air dengan sekali teguk tanpa bernapas, tetapi minumlah sekali teguk, lalu kemudian bernapas di luar gelas. Dalam hadits disebutkan: “Teguklah air dengan kuat dan jangan meneguknya sekaligus (tanpa bernapas), karena penyakit hati itu disebabkan tegukan sekaligus.”
Rasulullah SAW. apabila minum air dalam gelas, beliau bernapas tiga kali. Dalam setiap napas beliau mengucapkan Alhamdulillah (memuji Allah Ta’ala) dan mengucap syukur setelah selesainya.
Janganlah engkau makan sambil telungkup di atas perut. Sebab telah disebutkan hadits tentang larangan melakukan hal itu. Jangan pula makan sambil terlentang atau bersandar di bantal, karena perbuatan itu menimbulkan kesombongan dan banyak makan serta merupakan kebiasaan penguasa yang sombong.
Janganlah makan sambil bersandar di salah satu sisi badanmu, karena perbuatan itu mengganggu kesehatan, ia menghalangi kelancaran masuknya makanan ke dalam usus besar sehingga menjadikan ia lemah.
Dalam hadits dikatakan kadang-kadang Rasulullah SAW. berlutut untuk makan dan terkadang duduk di atas punggung kedua telapak kakinya. Kadang-kadang pula beliau menegakkan kakinya yang kanan dan duduk di atas kakinya yang kiri.”
Nabi SAW. bersabda, “Aku tidak pernah makan sambil bersandar, karena sesungguhnya aku adalah seorang hamba biasa. Aku makan sebagaimana hamba makan dan duduk sebagaimana hamba duduk.”
Janganlah engkau makan makanan yang panas, tetapi sabarlah sampai ia menjadi dingin sedikit untuk mudah mengambilnya. Disebutkan dalam hadits: “Janganlah engkau makan makanan panas, karena ia menghilangkan barokah.”
Hendaklah engkau kecilkan suapan dan mengunyah makanan dengan baik karena itu membantu pencernaan. Jangan mengambil makanan lain sebelum menelan yang ada di mulutmu, karena hal itu menunjukkan kerakusan terhadap makanan.
6. Apabila engkau selesai makan, cucilah kedua tangan dan bibirmu dengan baik yaitu dengan menggunakan sabun, kemudian keringkanlah keduanya dengan kain pembersih (serbet) yang bersih dari salah satu sisinya. Kemudian bersihkan sisa-sisa makanan di sela gigi-gigimu dengan tusuk gigi.
Dalam hadits: “Semoga Allah merahmati orangorang dari umatku yang mau membersihkan sisa makanan di sela-sela gigi pada waktu mereka berwudhu dan setelah ia makan.” Setelah membersihkan gigi hendaklah engkau berkumur. Sebab mungkin saja dalam mulut keluar darah yang dapat menajisi mulut. Mengenai hal ini terdapat atsar dari ahlil bait alaihimus salam (keluarga Nabi SAW.) sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam kitabnya Al-lhya’.
Syukurilah nikmat Allah Ta’ala dalam hatimu atas makanan yang telah diberikan-Nya kepadamu. Dan saksikanlah bahwa makanan adalah kenikmatan pemberian-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan syukurilah nikmat Allah, jika hanya kepada-Nya saja kamu benar-benar menyembah” (An-Nahl: 114).
Dalam hadits disebutkan: “Sesungguhnya Allah ridha kepada hamba yang telah makan lalu mau memuji-Nya atas makanan itu, dan habis minum lalu memuji-Nya atas minuman tersebut.” Nyatakan rasa syukurmu dengan lisanmu seraya mengucapkan, “Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah) yang telah memberiku makanan ini, dan memberikannya sebagai rezeki kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku.”
Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa mengatakan hal itu, diampuni semua dosa-dosanya yang terdahulu.” Bacalah pula do’a, “Segala puji bagi Allah berupa pujian yang banyak lagi baik dan mendapat berkat tidak terbatas dan tiada berhenti, dan selalu dibutuhkan, wahai Tuhan kami.
Ya Allah berkatilah kami atasnya dan berilah kami makanan yang lebih baik darinya.” Kecuali sesudah minum susu, maka katakanlah, “Ya Allah, berkatilah kami olehnya dan tambahilah kami darinya.” Karena tiada yang lebih mencukupi sesuatu makanan dan minuman selain susu.
Ucapkanlah sehabis minum air: “Segala puji bagi Allah yang menjadikannya tawar dan segar dengan rahmat-Nya, dan tidak menjadikannya asin sekali sampai pahit karena dosa-dosa kami.” Adapun kalau sehabis makan, maka bacalah: “Aul huwallahu Ahad” (surat Al-Ikhlash) dan “Li iilaafi Quraisyin” (surat Quraisy).
Adab Makan bersama Sekelompok Orang
1. Sunnah bagimu untuk tidak menyendiri pada waktu makan. Maka makanlah engkau bersama keluargamu atau tamu-tamumu. Dalam hadits disebutkan: “Adalah Rasulullah SAW. tidak makan sendirian.” Disebutkan pula dalam riwayat yang lain: “Berkumpullah untuk memakan yang kalian miliki, niscaya bagi kalian makanan itu diberkati.”
“Sebaik-baik makanan adalah yang dimakan oleh banyak orang.” Apabila engkau makan bersama orang lain, maka pakailah adab-adab berikut ini di samping adab-adab yang telah lalu.
Janganlah engkau cepat-cepat duduk atau memulai makan sebelum orang perempuan yang lebih tua (umurnya) darimu atau lebih tinggi kedudukannya daripadamu. Kecuali bila engkau orang yang diikuti dan diteladani, karena engkau sebagai tuan rumah. Maka patutlah engkau memulai makan supaya para hadirin tidak lama menunggu.
Janganlah duduk berlama-lama di depan hidangan sehingga engkau menjadi orang terakhir yang berdiri dari tempat itu dan nampak seperti orang yang serakah dan tamak, kecuali bila engkau menjadi tuan rumah, maka dianjurkan bagimu melakukan itu.
Dalam hadits disebutkan: “Adalah Nabi SAW. apabila makan bersama orang banyak, beliau menjadi orang terakhir yang makan”. Janganlah terburu berdiri atau berhenti makan, walaupun engkau masih tetap berada di depan hidangan, supaya orang-orang di sebelahmu tidak merasa malu dan segera berhenti makan mengikutimu.
Dalam hadits: “Apabila makanan telah dihidangkan, maka janganlah ada seseorang yang lalu berdiri, walaupun ia sudah merasa kenyang, sehingga orang-orang selesai makan, karena perbuatan Itu dapat membuat malu teman duduknya, sedangkan mungkin Ia masih menyukal makanan itu.”
2. Hendaklah di dalam majelis Itu engkau memilih tempat yang pantas bagimu, lalu duduk dengan sopan, dan tidak mempermainkan alat-alat makan, jangan engkau sering menoleh ataupun bergerak dan jangan pula mendesak orang yang ada disebelahmu.
Termasuk adab apabila engkau mengkhususkan salam dan bertanya tentang keadaan orang yang duduk di dekatmu dalam majelis itu. Hal itu dimaksudkan untuk menimbulkan kegembiraan kepadanya serta menghilangkan rasa sepi dan jemunya.
Termasuk adab pula adalah jangan engkau duduk menghadap ke pintu kamar laki-laki. Jangan pula dengan sengaja engkau memandang aneka makanan dan wajah orang-orang yang sedang makan. Jangan mengulurkan tangan ke arah makanan yang jauh darimu, tetapi ambillah makanan yang terdekat darimu. Kecuali buah-buahan, maka tidaklah mengapa engkau mengambil buah yang engkau sukai.
Dalam hadits: “Seusai makan Nabi SAW. mengelilingkan buah-buahan kepada para sahabatnya. Maka ditanyakan kepadanya tentang hal itu. Beliau menjawab: bukankah buah-buahan itu satu macam?” Makanlah buah-buahan itu sebiji demi sebiji dan jangan makan dua biji sekaligus. Telah tersebut dalam sebuah hadits tentang larangan melakukan hal itu, kecuali atas izin temanmu.
Janganlah menarik makanan dari hadapan temanmu ke arah dirimu dan jangan memakannya untuk dirimu sendiri tanpa menawari temanmu. Apabila engkau makan pisang misalnya, jangan engkau letakkan kulitnya di hadapan orang lain, sehingga menimbulkan sangkaan bahwa engkau tidak makan apa-apa. Ini nerupakan dusta.
Dan jangan melemparkan kulitnya di jalanan supaya idak menyebabkan orang lain tergelincir. Dan usahakan jangan menimbulkan suara waktu mengunyahnya hi, terutama bila engkau menikmati sesuatu makanan, karena hal itu menunjukkan sifat keserakahan.
3. Apabila engkau tidak dapat menahan ludah atau ingus, maka menjauhlah dari majelis.
Janganlah mengeluarkan suara keras di saat meludah atau mengeluarkan ingus. Begitu pula apabila engkau berbicara, maka bicaralah dengan perkataan yang sesuai dengan suasana. Disebutkan dalam hadits bahwa Nabi SAW. menanyakan kuah kepada keluarganya. Mereka menjawab, “Kami hanya mempunyai cuka.”
Maka beliau menyuruh mengambilnya, lalu memakannya seraya berkata, “Sebaik-baik kuah adalah cuka, sebaik-baik kuah adalah cuka.” Janganlah engkau menyebut sesuatu yang menjijikkan atau bercerita tentang yang menyedihkan pada saat makan berlangsung, karena hal itu tidak sesuai dengan adab.
Janganlah makan dari atas talam atau dari tengah makanan. Dalam hadits dikatakan: “Makanlah dari sekitar pinggiran talam dan jangan makan dari tengahnya, karena barokah turun di tengahnya.”
4. Termasuk adab pula: jangan engkau menyentuh suatu makanan dengan tanganmu, tetapi ambillah dengan sendok, kecuali bila makan bersama-sama dalam satu talam. Maka hal itu tidak mengapa, akan tetapi makanlah bagian yang ada di depanmu. Jangan mengibaskan tangan dalam talam dan jangan pula mendahulukan kepala ketika engkau memasukkan suapan ke dalam mulutmu. Apabila engkau mengeluarkan sesuatu dari mulutmu, maka palingkan wajahmu dari makanan dan ambillah dengan tangan kirimu.
Roti yang engkau patahkan dengan gigimu, janganlah engkau celupkan sisanya ke dalam kuah. Begitu pula, jika engkau mengambil sesuatu dari dalamnya, lalu engkau letakkan dalam piring atau mulutmu, maka janganlah mengembalikannya ke tempatnya semula supaya orang lain tidak merasa jijik dengannya.
5. Janganlah engkau bersendawa di hadapan seseorang, tetapi palingkanlah wajahmu darinya. Bersendawalah dengan pelan.
Janganlah mencium makanan dengan hidungmu. Nabi SAW. telah melarang hal itu dengan sabdanya: “Janganlah kamu mencium makanan seperti yang dilakukan hewan buas.”
Apabila seseorang menawarkan makanan kepadamu, sedang engkau tidak menyukainya, maka jangan menampakkan ketidaksukaanmu kepadanya, apalagi engkau mencelanya atau mengatakannya: aku tidak menyukainya. Akan tetapi kemukakanlah alasan kepadanya dengan ungkapan yang halus, seperti perkataan: aku harap engkau maafkan aku atau terima kasih banyak bagimu atau yang semacam itu.
Telah dikemukakan bahwa Nabi SAW. sama sekali tidak pernah mencela makanan. Dalam hadits disebutkan: “Orang-orang menghidangkan biawak panggang kepada Rasulullah SAW. Beliau mengulurkan tangan ke arah makanan itu. Mereka para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah ia adalah daging biawak.” Maka beliau lalu mengangkat kembali tangannya. “
Khalid bin Walid r.a. berkata, “Wahai Rasulullah apakah biawak itu haram? “Nabi SAW. menjawab, “tidak,” tetapi ia tidak terdapat di negeri kaumku, sehingga aku tidak menyukainya.”
6. Apabila engkau mencuci kedua tanganmu, maka janganlah lalu mengibaskannya supaya percikan airnya tidak mengenai orang yang hadir.
Apabila engkau makan di tempat seseorang, maka do’akanilah dia seusai makan dan ucapkanlah: “Ya Allah, perbanyaklah kebaikannya, berkatilah dia dengan rezeki yang Engkau berikan kepadanya, mudahkanlah dia melakukan kebaikan dengan rezeki itu dan puaskanlah dia dengan rezeki yang Engkau berikan kepadanya serta jadikanlah kami dan dia sebagai orang-orang yang bersyukur.”
Dalam hadits: “Nabi SAW. berbuka puasa di rumah Sa’ad bin Ubadah r.a. Kemudian Nabi SAW. berdo’a dan mengucapkan: “Orang-orang yang puasa berbuka di tempatmu, dan orang-orang yang shalih memakan makananmu sedangkan para malaikat mendo’akan kalian semuanya.”
Nabi SAW. makan di rumah Abdullah bin Busr r.a. kemudian berkata, “Ya Allah, berkatilah mereka dengan rezeki yang Engkau berikan kepada mereka dan ampunilah dosa-dosa mereka serta kasihilah mereka.”
Apabila engkau menghadiri jamuan makan, maka janganlah mengambil sesuatu makanan yang kau bawa pulang ke rumahmu, itulah yang dinamakan suatu kekeliruan, kecuali bila si pemiliki rumah mengizinkan atau engkau ketahui keridhaannya, maka hal itu tidak mengapa.
Ketika itu ambillah mana yang engkau inginkan atau yang disetujui teman-temanmu. Janganlah engkau menghadiri walimah (perjamuan makan) jika engkau tidak diundang, sehingga menjadi tamu yang tak diundang. Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa berjalan untuk menghadiri jamuan makan sedang ia tidak diundang, maka iapun berjalan sebagai orang fasik (berbuat jahat) dan makan makanan haram.”
(Bersambung …. )