Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Keutamaan Membaca Al-Qur’an dan Adabnya dalam Kitab Al-Tibyan Fi Adab Hamalat Al-Quran

Keutamaan Membaca Al-Qur'an dan Adabnya dalam Kitab Al-Tibyan Fi Adab Hamalat Al-Quran

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Keistimewaan Penghafal Al-Qur’an

BLOGGURU – Apa dan bagaimana kitab Al-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an? Ya, Al-Qur’an sebagai Panduan Hidup bagi seorang muslim, dan supaya seorang muslim mendapatkan manfaat, maslahat dan fadhilah yang sebanyak-banyaknya dari mengakrabinya, maka diperlukan adab berinteraksi dengan Al-Qur’anul Karim. Nah, salah satu sifat yang memandu Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an tersebut adalah Kitab Al-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an yang dikarang dan disusun oleh Imam Nawawi hafidzahullah.

Mengapa sangat perlu memahami adab berinteraksi dengan Al-Qur’an, ketika membaca, mempelajari atau mengajarkan Al-Qur’an? Allah SWT berfirman, “Sungguh Orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Quran), melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya dan menambah karunia-Nya kepada mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuru (Fathir [35]: 29-30)

Diriwayatkan dari Utsman bin Affan r.a. bahwa ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Quran.” (HR. Bukhari).  Diriwayatkan pula dari Aisyah r.anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Orang yang pandai membaca Al-Quran akan bersama para malaikat yang mulia. Adapun orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan susah payah mendapatkan dua pahala” (HR. Bukhari-Muslim dalam kitab Shahih-nya)

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asyari, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Quran seperti buah utrujah, aromanya sedap dan rasanya lezat; perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Quran seperti buah kurma tiada baunya tetapi rasanya manis; perumpamaan seorang munafik yang membaca Al-Quran seperti raihanah, aromanya sedap tetapi rasanya pahit; sedangkan perumpamaan seorang munafik yang membaca Al-Quran seperti hanzhalah, tidak berbau dan rasanya pahit” (HR. Bukhari-Muslim)

Diriwayatkan dari Umar bin Khathab bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Sungguh Allah meninggikan derajat sebagian kaum dengan Al-Quran dan merendahkan derajat kaum yang lain dengannya” (HR. Muslim). Diriwayatkan pula  dari Abu Umamah Al-Bahili ia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda, “Bacalah Al-Quran karena ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.anhuma, dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda, “Tiada rasa iri yang dibenarkan kecuali dalam dua hal: rasa iri terhadap orang yang diberi karunia pemahaman kandungan Al-Quran kemudian ia mengamalkannya siang malam, dan terhadap orang yang dikaruniai Allah harta yang kemudian ia infakkan siang malam ” (HR. Bukhari-Muslim). Diriwayatkan pula  dari Abdullah bin Mas’ud. dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda. “Tiada rasa iri yang dibenarkan kecuali dalam dua hal: iri terhadap orang yang dikaruniai oleh Allah harta kemudian Allah memberinya kemampuan untuk menggunakannya dalam kebenaran, dan rasa iri terhadap orang yang dikaruniai hikmah oleh Allah kemudian ia menggunakannya untuk memutuskan perkara juga mengajarkannya.”

Diriwayatkan dari Abdullah bin Masud r.a., ia berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang membaca satu huruf saja dari Kitabullah maka ia mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan itu akan dikalikan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu dihitung satu huruf, akan tetapi alif dihitung satu huruf lam satu huruf dan mim juga dihitung satu huruf” (HR. Tirmidzi). Diriwayatkan pula dari Abu Said Al-Khudri , dari Nabi bahwa beliau bersabda, “Allah SWT berfirman: ‘Siapa yang sibuk membaca Al-Quran dan berdzikir kepada-Ku sehingga tidak sempat meminta kepada-Ku maka akan Kuberikan sebaik-baik apa yang Kuberikan kepada orang yang meminta! Sedangkan keutamaan firman Allah di antara seluruh perkataan seperti keutamaan Allah atas seluruh ciptaan-Nya” (HR. Tirmidzi, menurutnya hasan shahih)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas – Rodliallahu Anhuma – ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang tidak memiliki hafalan Al-Quran sedikit pun, diibaratkan seperti rumah yang roboh” (HR. Tirmidzi, ia katakan: hadits ini berderajat hasan shahih)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash – Rodliallahu Anhu – , dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Dikatakan kepada shahibul quran: Bacalah dan naiklah (ke derajat yang lebih tinggi)! Bacalah dengan tartil, sebagaimana kamu membacanya dengan tartil ketika di dunia, tempat yang dijanjikan bagimu bertepatan dengan ayat terakhir yang kamu baca” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i. Tirmidzi mengomentari: hadits ini berderajat hasan shahih). Diriwayatkan pula dari Muadz bin Anas – Rodliallahu Anhu – ia berkata bahwa Rosulullah SAW bersabda, “Siapa yang membaca Al-Quran dan mengamalkan isinya, ia akan mengenakan mahkota kepada kedua orang tuanya pada Hari Kiamat, yang cahayanya lebih baik daripada cahaya mentari yang menerpa rumah-rumah dunia. Andaikata hal itu terjadi pada kalian, bagaimana menurut kalian jika hal tersebut didapatkan oleh orang yang mengamalkan Al-Quran?” (HR. Abu Daud).

Imam Ad-Darimi – rahimahullah- meriwayatkan dengan sanadnya, dari Abdullah bin Masud r.a., Rasulullah bersabda, “Bacalah Al-Quran karena Allah benar-benar tidak akan mengadzab hati orang yang menghafal Al-Quran dan Al-Quran benar-benar merupakan jamuan Allah , maka barang siapa yang mendatanginya ia akan aman, bergembiralah siapa saja yang sangat mencintai Al-Quran!’. Diriwayatkan pula dari Abdul Hamid Al-Himani, ia berkata, saya bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri tentang manakah yang lebih ia sukai: Orang yang berperang ataukah orang yang membaca Al-Quran? Ia menjawab: Orang yang membaca Al-Quran; karena Nabi bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya”.

Lihat pula: Keutamaan Besar bagi Penghafal Al-Qur’an

Keutamaan Al-Qur’an sudah dipahami dengan baik, sebagaimana kutipan Al-Qur’an dan Hadits diatas, tapi bagaimana sebenarnya praktek interaksi setiap hari dengan Al-Qur’an? Bagaimana seharusnya adab menghargai dan memuliakan Al-Qur’an? Bagaimana panduan belajar, menghafal dan mengajarkan Al Qur’an? Bagaimana hukum atau tradisi khataman Al-Quran? Bagaimana hukumnya mengambil upah dari mengajarkan Al-Qur’an? Atau tradisi menangis tatkala membaca Al-Quran? Untuk menjawab semua masalah diatas, maka salah satu referensi yang tepat adalah Kitab At-Tibyan Fi Adab Hamalat Al-Quran.

Kitab At-Tibyan-fi-Adab-Hamalat-Al-Quran

Kitab At-Tibyan-fi-Adab-Hamalat-Al-Quran

Kitab At-Tibyan mengulas banyak hal tentang akhlak atau adab yang harus dijaga saat berinteraksi dengan Al-Qur’an, ditulis/dikarang oleh Imam Abi Zakariya Muhyiddin Yahya ibn Syarafuddin An-Nawawi dari Damaskus, atau familiar disebut Imam An-Nawawi. Nama Imam An-Nawawi cukup populer di kalangan pembelajar pesantren, baik santri maupun ustadznya karena banyak karyanya dikaji dalam Pengajian Kitab Kuning, seperti: Al-Arba’in An-Nawawiyah, Al-Adzkar, Riyadus Shalihin, dan Minhajut Thalibin.

Karya-karya Imam An-Nawawi banyak meringkas berbagai bidang ilmu, sehingga terbilang cukup mudah untuk dipelajari dengan sistematika pembahasan yang menarik, seperti Kitab Al-Tibyan ini yang terdiri atas 10 Bab, yaitu: 1) Sekilas tentang keutamaan membaca dan menghafal Al-Qur’an; 2) Keunggulan membaca Al-Quran dan pembaca Al-Quran dibanding selain keduanya; 3) Memuliakan ahli Al-Quran dan larangan menghina mereka; 4) Adab pengajar dan pelajar Al-Quran; 5) Adab penghafal Al-Quran dan pahalanya; 6) Adab membaca Al-Quran; 7) Mengenai adab khalayak umum terhadap Al-Quran; 8) Ayat serta surat yang disunnahkan dibaca di waktu atau keadaan tertentu; 9) Mengenai menulis Al-Quran dan memuliakan mushaf; 10) Bab khusus mengulas istilah-istilah dalam kitab At-Tibyan.

Meski ringkas, At-Tibyan tidak dibiarkan hanya berupa uraian hasil kesimpulan tanpa ada landasan Al-Quran serta hadits, atau rujukan komentar para ulama. Hanya saja, hadits yang dicantumkan disebutkan tanpa rangkaian panjang sanadnya, dan hanya disebutkan mukharrij-nya saja.

Kitab Al-Tibyan adalah Panduan bagaimana cara mengagungkan dan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Al-Qur’anul Karim haruslah dibaca dengan khusyuk, memperhatikan makhraj hurufnya dengan tepat, membelanya dari penakwilan orang yang menyelewengkannya dan gangguan orang yang melampaui batas, membenarkan isinya, menjalankan hukum-hukumnya, memahami ilmu dan perumpamaannya, memperhatikan nasihatnya, memikirkan keajaiban dan mengamalkan ayat-ayatnya yang muhkam (jelas) dan menerima ayat-ayatnya yang mutasyabih (samar), mencari keumuman dan kekhususan, nasikh dan mansukh-nya, menyebarkan keumuman dan kekhususan ilmu-ilmunya.

Lihat pula: Lirik Lagu “Mars Murajaah” bagi Hafidz/Hafidzah Al-Qur’an

Hal-hal yang perlu diperhatikan dan sangat ditekankan adalah memuliakan Al-Qur’an dari hal-hal yang terkadang terabaikan oleh sebagian orang ketika membaca bersama-sama, diantaranya: Perilaku tidak terpuji dengan tertawa terbahak-bahak, Berbuat bising, Tangannya bermain-main, Bercakap-cakap ketika membaca Al-Qur’an, Memandang kepada sesuatu yang dapat melalaikan dan melencengkan pikiran dan tumpuan, Memandang sesuatu yang tidak boleh dipandang (Semisal: memandang lelaki Imrod (yang mulus wajahnya dan tampan) tanpa keperluan adalah haram, dipandang pula sebagai bukan adab penghafal Al-Qur’an).

Perlu diketahui bahwa orang yang telah selesai menghafalkan Al-Qur’an sebutannya adalah Al-Hamil bukan Al-Hafidz, karena Al-Hafidz itu adalah untuk sebutan orang telah menghafalkan 100.000 hadits. Adapun fadhilah menghafalkan Al-Qur’an adalah akan dikenakannya mahkota kepada kedua orang tuanya. Ada pula ulama yang menyebutkan bahwa Orang yang tidak memiliki hafalan Al-Quran sedikitpun, diibaratkan seperti rumah yang kosong (tidak berpenghuni) dan mudah ditempati syaitan.

Wallahu a’lam bish-showab. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Q & A about Imam Ahmad bin Hanbal
Oleh : Immim pangkep

Q & A about Imam Ahmad bin Hanbal

1 Komentar

Susi redha izzati, Selasa, 21 Nov 2023

Alhamdulillah sdh bs mmbc rangkuman dr AT TYBYAN…terimakasih bnyk …

Reply

KELUAR