Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (30): Nasehat yang Berisi Lima Perkara

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (30): Nasehat yang Berisi Lima Perkara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Nashoihul ‘Ibad ( نصائح العباد ) adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh salah satu ulama Nusantara Abad ke-19 dari Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab Nashoihul Ibad berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam.

Salah satu fokus utama kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Berikut ini Seri Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani, dan untuk Bagian Ketiga Puluh ini memuat Terjemah dari Bab (4): Nasehat yang Berisi Lima Perkara, sambungan dari Bab yang sama dari seri sebelumnya.

 

 

Dari Nabi saw., beliau bersabda, “Ambillah kesempatan yang lima, sebelum (datang) yang lima: Masa mudamu sebelum datang masa tuamu: Sehatmu sebelum sakitmu, Kayamu sebelum fakirmu, Hidupmu sebelum matimu: Dan masa senggangmu sebelum kesibukanmu.” (H.R. Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

Hadis di atas menerangkan lima kesempatan yang baik, yang harus kita pergunakan sebelum datangnya lima perkara, yaitu:

1. Masa muda sebelum masa tua, yaitu kita harus taat ketika kita masih kuat sebelum datang masa tua kita.

2. Sehat sebelum sakit, yaitu kita rnelakukan amal saleh ketika kita sehat, sebelum datang sakit.

3. Kaya sebelum fakir, yaitu kita melakukan sedekah dengan perkara yang selebihnya dari keperluan orang yang harus kita beri nafkah, sebelum datang musibah yang merusak harta kita, maka jika kita tidak bersedekah dengan hal itu, niscaya kita menjadi orang yang fakir di dunia dan akhirat.

4. Hidup sebelum datang kematian, yaitu kita harus menjadikan sesuatu yang bermanfaat setelah kita mati, karena sesungguhnya orang yang telah mati itu terputus segala amalnya.

5. Waktu senggang sebelum datang kesibukan, yakni jadikanlah keuntungan masa libur kita di dunia ini, sebelum kita sibuk dengan ketakutan-ketakutan pada hari Kiamat yang tempat pertamanya adalah kubur.

 

Dari Yahya bin Mu’adz Ar-Raazi -semoga Allah memberi rahmat kepadanya, “Barangsiapa yang banyak kenyangnya, maka banyak dagingnya, barangsiapa yang banyak dagingnya, maka besar syahwatnya: barangsiapa yang besar syahwatnya, maka banyak dosanya: barangsiapa yang banyak dosanya, maka keras hatinya: dan barangsiapa yang keras hatinya, maka dia tenggelam dalam bahaya-bahaya dunia dan hiasannya.”

Barangsiapa yang banyak kenyangnya, maka banyak dagingnya. Berbeda dengan orang yang banyak makan sebab ketajaman zikir. Hal ini tidak akan membahayakan, karena sebagian dari para wali, tarekatriya adalah banyak makan, karena cepat tercernanya makanan dengan panasnya bekas zikir. Sesungguhnya bekas zikir itu laksana api, berbeda dengan bekas salawat kepada Nabi, yaitu sejuk.

Siapa saja yang banyak dagingnya, maka besar syahwatnya. Sedang perkara yang dapat memadamkan syahwat adalah lapar. Orang yang banyak syahwatnya, maka banyak dosanya, karena syahwat dapat menghalanginya dari Allah swt. Orang yang banyak dosanya, pasti keras hatinya, sehingga tidak dapat menerima nasihat-nasihat. Barangsiapa yang keras hatinya, maka dia tenggelam ke dalam bahaya dunia dan hiasannya.

 

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Orang-orang yang fakir memilih lima dan orang-orang yang kaya memilih lima. Orang-orang fakir memilih ketenteraman jiwa, kesenggangan hati, mengabdi kepada Tuhan, ringan hisab, dan derajat yang tinggi. Sedangkan orang-orang yang kaya memilih lelah jiwa, sibuk hati, penghambaan pada dunia, beratnya hisab dan derajat yang rendah.”

Tentang kesenggangan jiwa dan hati, Nabi bersabda, “Ya, Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau kehidupan yang mulia dan hati yang tenteram.”

Orang hartawan selalu resah dan gelisah, karena selalu mengurus dan memikir hartanya, karena itu, ia telah mengabdi pada dunia. Hisabnya juga akan berat, terutama yang menyangkut harta bendanya. Dia akan dimintai pertanggungjawaban secara mendetail sampai hal-hal yang sekecil-kecilnya, karena itu, ia akan merasa tersiksa karena menghadapi hisab tersebut.

Orang hartawan memilih derajat yang hina, sebab derajat keduniaan akan tidak berarti jika dibanding derajat akhirat.

 

Lima perkara termasuk obat hati ketika hati keras, yang lima diambil dari perkataan Sayid Jallil Ibrahim Al-Khawas, sebagaimana yang telah dikemukakan An-Nawawi dalam kitab At-Tibyan. Sebagian ulama menambah yang lima ini dengan perkara-perkara yang banyak, tetapi sebagian dari perkara-perkara tersebut dimasukkan pada yang lainnya. Lima perkara itu adalah:

1. Bergaul dengan orang-orang yang saleh, yaitu dengan cara menghadiri majelis-majelis dan cerita orang-orang saleh, juga di dalamnya termasuk diam dan menjauhi orang-orang yang tenggelam dalam kesalahan (kebatilan).

2. Membaca Alqur-an disertai menafsirkan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.

3. Mengosongkan perut dengan cara mengambil sedikit saja dari yang halal, karena sesungguhnya makan yang halal itu merupakan pokok segalanya, sehingga akan menyinari hati, maka cermin mata hati akan menjadi bersih dari karat yang menyebabkan hati menjadi keras. Dalam sebuah hadis marfu’ dikatakan “Tiga perkara akan menjadikan hati menjadi keras, yaitu suka makan, suka tidur dan suka istirahat.”

4. Salat malam, yaitu salat sunah setelah bangun tidur di malam hari.

5. Bersembah sujud di waktu menjelang Subuh, karena dalam waktu ini terdapat ketenangan dan di sinilah waktu diturunkan rahmat dari Allah swt.

 

 

Dari jumhur ulama, “Sesungguhnya pemikiran itu pada lima sasaran: Berpikir tentang bukribukti kebesaran Allah, hal ini dapat menimbulkan tauhid dan yakin, Berpikir tentang anugerah-anugerah Allah, hal ini dapat menimbulkan mahabbah dan syukur: Berpikir tentang janji-janji Allah, hal ini menimbulkan kecintaan hari Akhirat: Berpikir tentang ancaman Allah, hal ini menimbulkan rasa gentar bermaksiat, Dan berpikir tentang . kekurangan diri sendiri dalam mengabdi, padahal terlalu banyak Allah telah memberi kebaikan, hal ini akan membuahkan rasa malu terhadap Allah. “

Sayidina Ali -kartamallaahu wajhahuberkata: “Tidak ada ibadah (yang lebih sempurna) seperti berpikir.”

Sebagian orang yang makrifat mengatakan: “Bertafakur itu lampu hati, jika dia hilang, maka hatinya tidak bersinar.” Dalaim “sebuah ‘hadis dikatakan:

“Berpikir satu jam, lebih baik daripada ibadah enam puluh tahun.”

Syekh Al-Hafni berkata: “Berpikir mengenai perkara-perkara yang diciptakan Allah, sakratulmaut, siksa kubur dan ketakutan-ketakutan pada hari Kiamat, itu lebih baik daripada banyak beribadah, karena dengan cara itu kebaikan akan menjadi teratur.”

Khalik Ar-Rasyidi berkata: “Tafakur (berpikir) tidak akan berhasil, selain dengan senantiasa berzikir dengan ucapan yang disertai hati, sehingga zikir tetap berada dalam hatinya. Keberhasilan kedudukan ini menunggu kemakrifatannya, karena jika tidak makrifat kepada Allah, bagaimana zikirnya itu akan bisa tetap berada dalam hati dan lisannya.”

Makrifat, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Ibrahim, ialah kenaikan, yakni menetapkan Yang Maha Benar di atas segala yang dikuasainya serta Dia itu berbeda dengan segala yang dipahamkan. Objekobjek tafakur itu banyak, berbagai bukti kebesaran Allah adalah merupakan sasaran (objek) pemikiran yang paling mulia. Dimaksudkan di sini, adalah berpikir tentang berbagai keajaiban dalam titah-titah Allah, bukti-bukti kekuasaan Allah, baik batiniah maupun lahiriah dalam segala benda yang tersebar di jagad raya ini, juga berpikir tentang berbagai keistimewaan yang ada dalam diri kita masing-masing. Allah berfirman:

“Perhatikanlah apa yang ada di langit dan bumi.” (Q.S. Yunus: 101).

Allah swt. juga berfirman:

“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tada memperhatikan?” . (Q.S. Adz-Dzaariyat: 20-21).

Dengan bertafakur pada ayat-ayat Allah, maka akan melahirkan tauhid dan yakin. Tafakur semacam ini akan menambah kemakrifatan kepada Zat Allah, sifat-sifat dan nama-nama-Nya. Allah swt. berfirman:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di setiap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Alqur-an itubenar.” ”—(.S. Fushshilat: 53).

Selanjutnya, yakin yang merupakan buah pemikiran itu sendiri akan menghasilkan kegunaan lagi, antara lain: Tenteram dalam mengharapkan janji Allah, mantap terhadap jaminan Allah, menghadapkan seluruh minat dirinya kepada Allah dengan menghindari segala sesuatu yang dapat memalingkannya dari Allah dan kembali kepada Allah dalam segala halnya, dan akhirnya mencurahkan segala kemampuan untuk mencapai rida Allah.

Adapun berpikir tentang anugerah-anugerah Allah, adalah sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat berikut:

“… maka ingatkan nikmat-nikmat Allah, agar kalian beruntung.” (Q.S. Al-A’raf: 69).

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya.” | (Q.S. Ibrahim: 34).

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu maka dari Allah-lah (datangnya).” (Q.S. An-Nahl: 53).

Dengan berpikir semacam ini, maka cinta dan syukur, yaitu buah . dari tafakur ini akan menimbulkan kecintaan kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya lahir-batin, sebagaimana Dia mencintai dan meridai kita.

Berpikir tentang janji-janji Allah, maksudnya ialah janji-janji-Nya yang berhubungan dengan berbagai amal perbuatan yang menjadi kegemaran para kekasih Allah, juga berbagai amal perbuatan yang dijanjikan sebagai sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dalam hal ini Allah berfirman:

“Maka, apakah orang-orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)? Mereka tidak sama.” (Q.S. Ass aidah 18).

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa serta membenarkan adanya pahala yang terbaik ( surga), maka kelak Kami akan menyiapkan baginya yang mudah.” . (Q.S. Al-Lail: 5-7)

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang beramal saleh, bahwa Dia sungguhsungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.” -:. (Q.S. An-Nuur: 55):

Juga Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya mereka yang banyak berbakti, benarbenar berada di dalam surga yang penuh nikmat.” (Q.S. Al-Infithar: 13).

Berpikir seperti ini, maka akan menimbulkan cinta pada akhirat. Buah tafakur ini, adalah mencintai orang-orang bahagia, beramal seperti amalamal mereka, dan berakhlak seperti akhlak-akhlak mereka.

Berpikir tentang ancaman-ancaman Allah swt. dengan jalan menjauhi akhlak-akhlak yang disifati oleh Allah kepada musuh-musuh-Nya dan perkara-perkara yang telah disiapkan oleh-Nya untuk mereka, yaitu siksa dan bencana Allah SWT, berfirman, “Dan sesungguhnya Orang-orang yang durhaka, Benar-benar berada dalam neraka.” (Q.S. Al-Infithar: 14).

Allah swt. juga berfirman, “Maka, masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Q.S. Al-Ankabut: 40).

Berpikir seperti ini akan melahirkan takut berbuat maksiat kepada Allah swt. Tentang berpikir mengenai kekurangan diri sendiri dalam taat kepada Allah, padahal Dia telah banyak memberikan anugerah, maka ditunjuk-. kan oleh firman Allah, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat: 56).

Allah swt. juga berfirman, “Maka, apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami, menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Q.S. Al-Mukminun: 115).

Berpikir dalam sasaran tersebut akan melahirkan rasa malu, maksudnya akan menambah rasa takut kepada Allah swt., sehingga menyalahkan diri sendiri dan mencacinya, menjauhi kelalaian dan menggiatkan ibadah.

Selain itu, sebagian dari objek berpikir itu adalah berpikir tentang ilmu dan pandangan Allah. Allah swt. berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” —(Q.S. Qaaf: 16).

Pada ayat lainnya Allah swt. berfirman, “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Hadiid: 4).

Selain itu Allah swt. berfirman: –

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya.” (Q.S. Al-Mujaadilah: 7).

Buah dari berpikir ini ialah melahirkan perasan malu dilihat oleh Allah, jika melakukan perkara yang dilarang-Nya. Di antara objek berpikir adalah berpikir mengenai dunia ini, kesibukan-kesibukannya dan hilangnya kesibukan-kesibukan tersebut. Selain itu, juga berpikir mengenai akhirat, kenikmatan dan kekekalannya. Allah swt. berfirman:

“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, supaya kamu berpikir, tentang dunia dan akhirat.” (Q.S. Al-Bagarah: 219-220).

Pada ayat lain terdapat firman Allah Swt.:

“Tetapi kalian (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” — (QS. Al-A’la: 16-17).

Selain itu Allah swt. juga berfirman:

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, melamkan senda gurau dan mainmain. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Q.S. Al-Ankabut: 64).

Sasaran pemikiran lain lagi, ialah memperhatikan saat datang kematian, terjadi kerugian dan penyesalan jika tidak semaksimal mungkin dalam memanfaatkan kesempatan hidup. Sasaran ini dapat membuahkan berkurang lamunan yang bukan-bukan, untuk selanjutnya memperbanyak amal saleh dan lebih gigih lagi dalam menghimpun bekal menuju akhirat. Dalam masalah kematian ini, Allah berfirman:

“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kematian kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’.” (Q.S. Al-Jumuah: 8),

“Hai, orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Q.S. Al-Munafiqun: 9).

Di dalam ayat 11 surah yang sama, disebutkan, “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang, apabila telah datang waktu kematiannya…”

Dalam pelaksanaan pemikiran-pemikiran pada kerangka sasaran di atas, hendaklah mencanangkan juga petunjuk-petunjuk ayat, hadis maupun atsar.

Supaya disingkiri adanya pemikiran yang menyangkut Zat dan sifat Allah, juga pemikiran tentang proses terjadinya hakikat yang seperti itu. Dalam suatu hadis, Nabi bersabda, “Berpikirlah kalian tentang tanda-tanda kebesaran Allah, dan jangan berpikir tentang Zat Allah, karena kalian tidak akan mampu mengetahui kedudukan yang sebenarnya.” (*)

 

(Bersambung …. )

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Khazanah Keilmuan Islam.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Mengenal Matan Syatibiyah
Oleh : Immim pangkep

Mengenal Matan Syatibiyah

0 Komentar

KELUAR