
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Sudah kenal Kitab Matn Shofwatu Zubad atau lebih populer disebut Nadzom Zubad? Ya, Kitab Matn Zubad berisi nadzom (syair) puisi yang terdiri dari 1.000 bait lebih tentang Fikih Syafi’iyah. Kitab Matn Fikih ini populer diajarkan di Pondok Pesantren karena mudah dihafalkan dalam bentuk nadzom. Meski begitu Matn Zubad ini tak hanya menguraikan bait-bait syair tentang fiqih, akan tetapi juga mengandung materi bab Tauhid dan Tasawuf. Secara umum kitab Zubad dapat kita bagi menjadi tiga bagian yakni bagian bab aqidah/tauhid di bagian awal kitab, bab fiqih asy-Syafi’iyah di bagian tengah dan bab tasawuf di bagian akhir kitab. Sehingga mempelajari Matn Zubad, akan terasa lebih lengkap pemahaman khazanah keilmuan Islam kita, karena isinya mencakup semua materi dasar yang wajib diketahui sebagai umat Islam yaitu: ‘Aqidah, Fiqih dan Tasawuf.
Matan Zubad adalah hasil karya Abu al-Abbas Ahmad ibn Hussein ibn Hasan ibn ‘Ali ibn Yusuf ibn ‘Ali ibn Arsalan al-Ramli [753H -844H] atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Ruslan. Beliau lahir di Ramlah, Palestina dan wafat di Baitulmaqdis, Palestina. Matan Zubad ini banyak disyarahkan oleh para ulama seperti Ghayah al-Bayan fi Syarh Zubad Ibn Ruslan oleh al-‘Allamah Syamsuddin al-Ramli, Mawahib al-Shomad fi Hal Alfaadz al-Zubad oleh Syaikh Ahmad al-Hijazi al-Fasyani, Ifaadah al-Saadah al-Umad bi Taqrir Ma’ani Nazam al-Zubad oleh al-‘Allamah al-Sayyid Muhammad bin Ahmad bin ‘Abd al-Baari al-Ahdal, Faidh al-Manan Syarh Zubad Ibn Ruslan oleh al-‘Allamah al-Sayyid Yusuf bin Muhammad al-Bathah al-Ahdal dan lain-lain lagi.
Berikut ini Terjemah Matn Shofwatu Zubad (Nadzom Fiqh Syafi’iyah) – 3: Ushuluddin (Bait 31-50)
Artinya:
31. (Kalam-Nya) ditulis di lauhil mahfuzh dan dibaca dengan lisan, sebagaimana dihafalkan dengan pikiran
Artinya:
32. Dia (Allah) mengutus para rasul-Nya dengan mu’jizat-mu’jizat yang jelas kepada makhluk dan mengagumkan.
Artinya:
33. Dan Dia (Allah) mengkhususkan diantara para rasul-Nya Nabi Muhammad saw maka tiada Nabi setelahnya, selamanya.
Artinya:
34. Dia (Allah) mengutamakan beliau (Nabi Muhammad saw) atas seluruh (makhluk-Nya) yang lain sebab beliau adalah yang (diberi izin untuk) memberi syafa’at dan beliau adalah kekasih Allah.
Artinya:
35. Dan setelah beliau (Nabi Muhammad saw) yang paling utama adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kamudian yang paling utama yang kedua adalah Umar Al-Faaruq.
Artinya:
36. Setelah itu Usman bin Affan, lalu Ali bin Abi Thalib, enam orang sahabat yang tersisa, lalu para sahabat Ahli Badar.
Artinya:
37. Imam Syafi’iy, Imam Malik, Imam Nu’man bin Tsabit (yakni Abu Hanifah), Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Sufyan,
Artinya:
38. Dan selain mereka dari para imam (mereka semua berada) di atas petunjuk, sedangkan perbedaan pendapat (diantara mereka) adalah rahmat.
Artinya:
39. Adapun para wali memiliki karamah yang bertingkat-tingkat dan tidak berhenti pada batasan mendatangkan seorang anak tanpa ayah.
Artinya:
40. Dan tidak boleh bagi kita, selain karena alasan kekafiran untuk memberontak atas pemerintahan yang sah.
Artinya:
41. Adapun apa saja yang terjadi antara para sahabat maka kita wajib diam atas hal itu, dan kita menetapkan pahala ijtihad bagi mereka.
Artinya:
42. Wajib atas manusia untuk membuat Imam (pemimpin pemerintahan) dan tidak sesuatu pun yang wajib atas Tuhan (sebab Dia/Allah bertindak menurut kehendak-Nya).
Artinya:
43. Allah memberi pahala kepada orang yang mentaatinya karena karunianya (bukan karena kebaikan orang tersebut). Dan siapa saja yang Allah kehendaki Dia menyiksanya dengan keadilan-Nya.
Artinya:
44. Allah mengampuni dosa apapun yang Dia kehendaki selain dosa syirik (menyekutukan Allah dengan yang lain). Karena dosa syirik itulah kekalnya seorang dalam api neraka tanpa ada keraguan.
Artinya:
45. Dia berkehendak menyiksa siapa saja yang taat, sebagaimana Dia berhak memberi pahala kepada siapa saja yang berbuat maksiat dan memberinya nikmat.
Artinya:
46. Begitu pula Dia berhak menyiksa anak-anak kecil. Dan mensifati-Nya dengan kezaliman adalah suatu yang mustahil.
Artinya:
47. Dia memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan menahannya dari siapa saja yang Dia kehendaki. Rezeki itu adalah segala yang bermanfaat,walaupun haram.
Artinya:
48. Dan Dia mengetahui siapa yang mati dalam keadaan beriman maka orang itu tidak akan celaka, akan tetapi ia akan menjadi aman.
Artinya:
49. Abu Bakar Ash-Shiddiq, keadaannya pada masa sebelum dia Islam selalu dalam keadaan yang diridhai oleh Allah.
Artinya:
50. Sesungguhnya orang yang celaka itu pada hakekatnya adalah orang yang celaka pada zaman azali (dahulu) dan kebaikannya adalah kebahagiaan, yang mana hal itu tidak dapat diubah.
(***)
Bersambung ….
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Fikih/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.