
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Hari ini, Ahad (26/10/2025), penulis mendampingi Santriwati Putri IMMIM “Melody Corps”, Group Drumband SMPS yang mengikuti “Pangkep Marching Festival” dan karena kegiatan ini penulis absen/tidak sempat mengikuti perkuliahan “Filsafat Ilmu” pada Pukul 08.00 – 10.00 WITA dan perkuliahan “Perkembangan Pemikiran Islam” pada Pukul 10.00 – 12.00 WITA.
Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, meski harus berlarian dari Lapangan Citramas, tempat penyelenggaraan Pangkep Marching Festival 2025, penulis pada akhirnya dapat meluangkan waktu mengikuti perkuliahan S2 Non Reguler Program Dirasah Islamiyah Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam (SPI) untuk mata kuliah “Studi Qur’an” pada Pukul 16.00 – 18.00 WITA yang dibawakan oleh Dr Muhammad Daming Kaluku, dan pada Pukul 20.00 – 22.00 WITA, mata kuliah “Dinamika Peradaban Islam” yang dibawakan oleh Prof Dr Hasaruddin, M.Ag.
Pada Perkuliahan “Studi Qur’an”, Penulis mempersilana Sdri Indah Sari menyajikan makalah/artikelnya yang berjudul “Kontribusi Peradaban Islam terhadap terhadap Budaya, Bahasa, Seni dan Sastra”. Lihat disini: Makalah Study Qur’an_Indah Sari Dewi. Semua mahasiswa menyimak presentasi Sdri Indah Sari dan setelahnya diminta mengajukan pertanyaan, tanggapan dan konfirmasi. Pada saat sesi tanggapan ini, penulis mempertanyakan masalah Fenomena hibridisasi budaya. Mengapa hal ini penting ditanyakan? Karena Fenomena Hibridisasi Budaya ini haruslah dijelaskan melalui konsep sintesis atau asimilasi kritis yang menjadi ciri khas Peradaban Islam pada masa keemasan, khususnya selama periode Dinasti Abbasiyah. Ini tidak menunjukkan bahwa kontribusi Islam bersifat non-orisinil, melainkan menegaskan bahwa kontribusi terbesarnya terletak pada sinergi budaya yang terstruktur oleh suatu kerangka filosofis dan etis yang unik.

Kuliah S2 Non Reguler-Dirasah Islamiyah, SPI – Mata Kuliah Studi Qur’an (16/10/2025). (foto: ist/*)
Bagaimana sebenarnya Mekanisme Hibridisasi Budaya dalam Peradaban Islam. Setidaknya Hibridisasi terjadi melalui tiga mekanisme utama: (1) Absorpsi Selektif (Penyaringan Kritis)
Peradaban Islam tidak mengadopsi elemen-elemen pra-Islam secara mentah-mentah. Prosesnya sangat selektif, dipandu oleh prinsip dasar agama: Tauhid (Keesaan Tuhan). Pada tahap ini, ada Penyaringan Filosofis. Ilmu-ilmu Yunani (seperti logika Aristoteles dan kedokteran Galen) diserap. Namun, unsur-unsur yang bertentangan dengan Tauhid (misalnya, konsep ketidakkekalan alam semesta atau politeisme) dihilangkan atau ditafsirkan ulang. Para filsuf Muslim seperti al-Farabi dan Ibnu Sina mengolah filsafat Yunani menjadi Filsafat Islam yang berlandaskan pada teologi Islam. Ada pula Penyaringan Estetika. Dalam seni rupa, Islam menyerap motif-motif dekoratif dari Persia dan Bizantium, tetapi menolak representasi figuratif yang masif dan cenderung mengarah pada pemujaan (syirik). Penolakan ini justru melahirkan inovasi seni yang khas, yaitu kaligrafi dan arabes/geometri yang abstrak.
Mekanisme kedua adalah Pengolahan, Pengembangan, dan Sistematisasi. Setelah diserap, elemen-elemen tersebut tidak hanya dipertahankan, melainkan dikembangkan dan disistematisasi secara ilmiah. Inilah tahap di mana sinergi menciptakan orisinilitas baru. Ilmu Pengetahuan, seperti Ilmu hitung dari India (angka nol, sistem desimal) dan ilmu geometri dari Yunani dikembangkan oleh sarjana Muslim. Al-Khawarizmi tidak hanya menyalin, tetapi menciptakan disiplin ilmu baru: Aljabar (al-jabr), yang merupakan kontribusi orisinal yang menggabungkan logika dan perhitungan. Pada tahap ini pula Ilmu Kedokteran digabungkan. Pengetahuan medis Yunani dan Persia disatukan. Tokoh seperti al-Razi dan Ibnu Sina menyusun ensiklopedia komprehensif (seperti Qanun fi al-Tibb) yang jauh melampaui sumber aslinya. Mereka menambahkan metode klinis, eksperimen, dan penemuan baru, menjadikannya sistem medis yang dominan selama berabad-abad.
Mekanisme ketiga, Eksportasi sebagai Produk Khas Islam. Produk akhir yang diekspor kembali ke Eropa (melalui Spanyol/Sisilia) atau ke dunia timur bukan lagi ilmu Yunani atau Persia, melainkan hasil olahan yang termutakhirkan dan terintegrasi dalam kerangka Islam. Contoh Transmisi: Ketika filsafat Yunani masuk ke Eropa pada Abad Pertengahan, ia datang dalam bentuk komentar dan interpretasi Muslim (syarah), seperti komentar Ibnu Rusyd (Averroes) atas Aristoteles. Ibnu Rusyd telah menyajikan Aristoteles yang telah difilter dan disistematisasi secara Islam.
Setelah semua tanggapan dan pertanyaan diajukan, Prof Muhammad Daming memberikan penegasan dan pemaknaan dari sumber Al-Qur’an. Perintah Al-Qur’an dan Hadits untuk mencari ilmu (Tafakkur dan Tadabbur) memberikan legitimasi teologis untuk mempelajari banyak khazanah keilmuan, tak terkecuali dalam Bidang Bahasa, Sastra dan Seni. Penetapan Bahasa Arab sebagai bahasa ilmu pengetahuan global memungkinkan ilmu dari India, Persia, dan Yunani disatukan, dikembangkan, dan disebarkan dalam satu lingua franca.
Pada perkuliahan “Dinamika Peradaban Islam” yang dibawakan oleh Prof Dr Hasaruddin, M.Ag., dipersilakan Sdri Tuti Wahyuni menyajikan makalah/artikel berjudul “Prosesi Pengangkatan Khalifah Utsman bin ‘Affan dan Kebijakan Politiknya (Kepemimpinannya pada 6 Tahun Pertama dan Masa Sesudahnya)”. Usai penyajian makalah, dilanjutkan dengan sesi pertanyaan, tanggapan dan konfirmasi yang dipandu oleh Sdr. Abdul Muthalib.
Beberapa bahan diskusi yang mengemuka terkait Materi Kuliah “Proses Pengangkatan Khalifah Utsman bin ‘Affan dan Kebijakan Politiknya” bisa dilihat di web blog Palontaraq: Bahan Diskusi: Proses Pengangkatan Khalifah Utsman bin ‘Affan dan Kebijakan Politiknya
Demikian catatan kuliah sore dan malam hari ini (26/10/2025). Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
Minasatene-Pangkep, 26 Oktober 2025
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.