
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, bahwa penulis masih diberikan kesehatan dan kesempatan dalam menuntaskan perkuliahan di akhir pekan pertama Bulan Desember 2025, yaitu mata kuliah Dinamika Peradaban Islam dengan dosen pengampu Prof Dr Muhammad Ilham, M.Pd, berlangsung mulai dari Pukul 20.00 WITA sampai selesai.
Adapun Mahasiswa S2 Non Reguler Dirasah Islamiyah Konsentrasi SPI UIN Alauddin yang mendapatkan giliran presentasi makalah adalah saudara Arjung Marendeng dengan topik bahasan “Perkembangan Islam pada Masa Bani Abbasiyah”. Penulis sendiri terkait topik bahasan ini mengajukan pertanyaan dan tanggapan sebagai berikut:
Pertanyaan (1): Daulah Abbasiyah didirikan atas klaim legitimasi teologis-politik yang berakar pada keturunan Nabi Muhammad (melalui paman beliau, Abbas) dan retorika pemulihan ajaran Islam dari “keduniawian” Bani Umayyah. Namun, Khilafah Abbasiyah mencapai puncak kekuatannya di Baghdad justru dengan menerapkan sistem administrasi Persia Sasanian dan merekrut elit militer Turki yang non-Arab. Analisis secara kritis bagaimana pragmatisme politik Khilafah ini dalam mengintegrasikan unsur-unsur non-Arab—yang awalnya menopang kekuasaannya—secara inheren menggerus dasar legitimasi teologis dan ideologisnya sendiri, sehingga mempercepat desentralisasi dan munculnya dinasti-dinasti tandingan (seperti Buwaihid dan Fathimiyah)? – Muhammad Farid Wajdi
Jawaban atas pertanyaan diatas sebenarnya memerlukan Analisis terkait Kontradiksi antara Legitimasi dan Struktur Kekuasaan Daulah Bani Abbasiyah. Bahwa Kontradiksi antara klaim legitimasi teologis (keagamaan) dan struktur kekuasaan pragmatis (sekuler/militer) adalah penyebab utama kerapuhan internal Daulah Abbasiyah. Khilafah Abbasiyah, dengan segala kecemerlangannya, menderita skizofrenia politik yang parah.
1. Dasar Legitimasi Ideologis (Awal Abbasiyah). Klaim Teologis: Abbasiyah memproklamirkan diri sebagai “yang berhak” (Ahl al-Bayt) untuk memimpin umat, berbeda dengan Umayyah yang dianggap sekuler dan otoriter. Mereka mendapat dukungan dari kaum Syiah dan Mawali (non-Arab) yang menuntut kesetaraan dan kepemimpinan yang lebih religius.
Wujud Ideologis: Pemindahan ibu kota ke Baghdad (pusat Persia) dan penunjukan Wazir Persia (seperti Barmakid) menunjukkan komitmen untuk integrasi Mawali dan adopsi gaya pemerintahan Persia yang canggih (birokrasi Sasanian).
2. Pragmatisme Struktural dan Penggerusan Identitas. Pragmatisme Abbasiyah dalam membangun dan mempertahankan negara menyebabkan perubahan drastis pada identitas Khilafah itu sendiri:
A. Adopsi Birokrasi Persia
Abbasiyah mengadopsi struktur birokrasi dan administrasi Sasanian (Persia pra-Islam) secara penuh. Ini berhasil menciptakan sistem pajak dan Diwan (kantor-kantor) yang sangat efisien, tetapi hal itu membawa konsekuensi, diantaranya Sekularisasi Administrasi. Sistem ini sangat profesional dan sekuler, meminggirkan peran ulama dan hukum agama dari manajemen negara sehari-hari (kecuali di bidang peradilan). Hal ini melemahkan klaim awal mereka sebagai pemerintahan teokratis murni.
Penguatan Identitas Lokal: Dominasi Wazir Persia dan birokrasi non-Arab ini memperkuat identitas regional Iran, yang kemudian menjadi dasar bagi munculnya dinasti-dinasti otonom Persia seperti Samanid dan Buwaihid yang mengklaim kekuasaan politik atas Baghdad itu sendiri.
B. Militerisasi oleh Mawali Turki
Puncaknya terjadi pada masa Khalifah Al-Mu’tasim, yang membentuk pasukan pengawal khusus yang terdiri dari budak militer etnis Turki (Ghilman). Penggerusan Legitimasi Politik: Ketika para Ghilman ini mulai membunuh dan menunjuk Khalifah sesuka hati (periode Anarki di Samarra), Khilafah kehilangan otoritas politik nyata dan berubah menjadi boneka militer. Bagaimana seorang Khalifah yang mengklaim sebagai pemimpin religius umat dapat dikendalikan oleh tentara bayaran non-Arab yang seringkali baru memeluk Islam?
Demikian catatan singkat ini sebagai pengingat kegiatan akademik yang telah diikuti. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
Minasatene-Pangkep, 7 Desember 2025
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.