
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Aksara Lontaraq sebagai aksara khas masyarakat Bugis Makassar merupakan salah satu perhatian penulis sebagai pemerhati budaya. Meski Aksara Lontaraq masih diajarkan di tingkat Sekolah Dasar, namun penggunaannya dalam kehidupan sosial masyarakat Sulawesi Selatan sudah sangat langka, dan malahan terancam punah karena tidak keberlanjutan pelestarian dan pemanfaatan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat.
Literasi terhadap aksara Lontaraq ini sangat rendah, itulah sebabnya upaya pelestarian dan pemanfaatan aksara ini harus menyentuh berbagai bidang kehidupan masyarakat. Tak hanya di lingkungan pendidikan, tapi juga dalam bidang sosial budaya dan keagamaan. Karena itu pula penulis menyambut baik penyelenggaraan Festival Aksara Lontaraq 2020 yang digelar oleh Dinas Perpustakaan Sulawesi Selatan bekerjasama dengan PT. Kabar Grup Indonesia, pada tanggal 28 Agustus 2020 tersebut sebagai salah upaya pemasyarakatan kembali aksara Lontaraq itu.
Beberapa catatan/artikel terkait penyelamatan dan pelestarian aksara Lontaraq ini telah penulis publikasikan sebelumnya jauh sebelum pelaksanaan Festival Aksara Lontaraq 2020, namun pelaksanaan kegiatan ini patut diapresiasi sebagai upaya refleksi dan memahami kembali pentingnya Aksara Lontaraq ini sebagai salah satu bagian terpenting dari perjalanan sejarah dan pembentukan peradaban gemilang Sulawesi Selatan di masa lalu.
Aksara Lontaraq Terancam Punah
Penggunaan Aksara Lontaraq di Sekolah diusul Diperdakan
Cho Tae Young dan Aksara Serang yang Terlupakan
Tantangan Penulisan Sejarah Daerah Sulawesi Selatan
Ucapan Menyonsong Ramadan dalam Bahasa Bugis
Humor: Jika Film Hollywood di Makassar-kan?
Semoga bermanfaat adanya. Salamaki Tapada Salama’. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Pemerhati Budaya/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.