Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Menjadi Narsum Bapelitbanda “Potensi Wisata Tammu Taung Pulau Pajenekang”

Menjadi Narsum Bapelitbanda "Potensi Wisata Tammu Taung Pulau Pajenekang"

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Pulau Pajenekang adalah satu diantara ratusan Pulau-pulau kecil yang berada dalam lingkup wilayah administratif pemerintahan kecamatan Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkep yang kaya akan tradisi, budaya dan adat istiadat. Salah satu diantara tradisi unik yang ada di Pulau Pajenekang tersebut adalah tradisi Tammu Taung (perayaan ulang tahun).

Karena alasan Perayaan adat Tammu Taung yang memiliki kunikan, makna, dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya inilah yang kemudian menarik perhatian peneliti dari BRIN (Badan Riset Nasional) untuk melakukan kajian akademis, yang pada akhirnya nantinya dapat diusulkan sebagai warisan budaya tak benda.  Kajian awal ini difasilitasi oleh Badan Perencanaan Pembangunan dan Penelitian Daerah (Bapelitbanda) Pemkab Pangkep dengan mengundang banyak pihak (narasumber) untuk dimintai tanggapan, salah satunya penulis sebagai pemerhati budaya yang telah banyak menulis buku Sejarah dan Kebudayaan Pangkep.

Muhammad Farid Wajdi. (foto: ist/*)

Muhammad Farid Wajdi. (foto: ist/*)

Pulau Pajenekang dengan tradisi tammu taung-nya memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Tak menutup kemungkinan dengan tradisi tammu taung tersebut dapat dimanfaatkan untuk menarik wisatawan dari luar pulau dan bahkan dari luar kabupaten berkunjung ke Pulau Pajenekang.

Jika dilihat dari sejarahnya, Tammu Taung berawal dari kisah Haruna Rasyid yang diberi gelar “Gallarrang” oleh masyarakat setempat. Kala itu, ia melakukan pelayaran ke Kabupaten Maros pada zaman Belanda dan mengibarkan bendera yang berwarna merah, hitam, dan putih. Saat ditanya oleh Belanda, mengapa menambahkan warna hitam pada bendera tersebut, Haruna Rasyid menjawab, ia berharap ada orang kulit hitam yang akan menjadi pemimpin.

Mendengar alasan itu, ia langsung ditangkap oleh Belanda. Di dalam penjara, Haruna Rasyid bernazar bahwa jika ia bebas maka akan membuat a’tenne-tenne (membuat kue manis), a’janna-janna (membuat makanan lezat), dan a’rannu-rannu (bersenang-senang) di Pulau Pa’jenekang. Nazar tersebut ternyata terkabulkan, sehingga digelarlah perayaan Tammu Taung ini.

Perayaan Tammu Taung berlangsung selama tiga pekan setiap bulan Muharram. Pada Jumat pertama bulan Muharram, masyarakat membuat jamuan makanan dari campuran kelapa muda dan gula aren, disebut ‘”Akkaluku Lolo” yang disajikan setelah shalat Jumat.  Pada Jumat kedua bulan Muharram, masyarakat membuat Jepe’ syura –sejenis bubur–, sebelum itu lembaga adat Pulau Pa’jenekang harus menaikkan bendera merah putih di depan para tokoh adat, dilanjutkan setelah shalat Isya, lembaga adat bersama para tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan tokoh agama melakukan dzikir bersama serta melantunkan lagu-lagu tasawuf diiringi rebana.

Pada Jumat ketiga, puncak acara Tammu Taung, diadakan ‘kenduri’ 12 macam jenis kue manis, seperti Dodoro (Dodol), Biji Nangka, Kue Lapis, Onde-onde, Cucur, Se’ro-se’ro, Bolu rampah, Kue serikaja, Bapele’, Mabel, Putu kacang, dan Kuning gulung. Semua jenis jamuan kue manis tersebut selalu hadir saat perayaan adat Tammu Taung, sebagai penggambaran kebahagiaan, do’a dan pengharapan agar ke depan masyarakat lancar rezekinya.

Perayaan adat Tammu Taung diawali dengan lembaga adat kumpul bersama di Balla Lompoa dan melakukan satu rangkaian tradisi “aru pendek” di depan Gallarang. Kemudian, masyarakat mengelilingi Pulau Pa’jenekang dan melakukan ziarah kubur. Sebelum melakukan ziarah kubur di makam Gallarrang, terlebih dahulu disambut dengan “A’ngaru” oleh Jubir adat. Lalu, salah satu anggota dewan adat membacakan sejarah Pulau Pa’jenekang kepada masyarakat yang hadir dalam perayaan adat Tammu Taung.

Dengan dijadikannya perayaan adat Tammu Taung sebagai objek pariwisata, dapat memperkenalkan Pulau Pa’jenekang sebagai penunjang pariwisata bahari di Kabupaten Pangkep, dengan sendirinya dapat melestarikan eksistensi perayaan adat Tammu Taung, serta memberikan dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat Pulau Pajenekang maupun pulau-pulau sekitarnya. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru dan Pemerhati Budaya/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

KELUAR