
Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin
BLOGGURU – Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dan lain-lain.
Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi.
Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (26): Khauf dan Turunannya
Bagian Kedua Puluh Enam: Khauf dan Turunannya
Sedih, Tinduk, Belas Kasih, Khusyuk dan Wara’ sebagai Buahnya. ILMU KHAUF (TAKUT) yaitu menyaksikan sifat-sifat ketuhanan dan kaitannya dengan perbuatan mendekatkan dan menjauhkan, membahagiakan serta menyengsarakan, tanpa perantara maupun sesuatu yang mendahului.
Khauf ini ditujukan pada diri sendiri, dan harus diyakini karena termasuk bagian keimanan kepada Allah swt. Dan faedahnya bisa dirasakan oleh mereka yang berpindah dari melihat banyaknya amal menuju ketenangan dan keamanan dari rekayasa Allah. Sebab tidak ada yang merasa aman dari rekayasa Allah, melainkan orang-orang yang merugi.
Khauf yang tidak ditujukan untuk diri sendiri ada dua macam: Pertama, takut dicabut nikmatnya. Takut semacam ini mendorong untuk memiliki adab dan melihat nikmat. Kedua, takut terhadap hukuman yang diakibatkan oleh kejahatan. Kadar wajibnya, hendaknya takut ini mendorong untuk meninggalkan larangan dan mengerjakan perintah.
Dan hal atau keadaan khauf ini sebaiknya disertai rintihan dan kegelisahan hati karena membayangkan sesuatu yang tidak disukai atau lepas darinya. Jika keduanya adalah hal yang terpuji, hukumnya wajib atau sunah. Bila merupakan sesuatu yang tidak disukai, maka hukumnya menjadi terlarang atau makruh.
Selanjutnya, hakikat gabdh berarti mengetuk hati. Kadangkala sebabnya diketahui sehingga hukumnya sama dengan kesedihan, dan terkadang tidak diketahui dan menjadi hukuman bagi murid karena gegabah di kala senggang (basth).
Adapun hakikat isyfag yaitu bersatu dan seimbang antara khauf dan raja’, hakikat khusyuk berarti ketenangan dan diamnya hati beserta anggota tubuh, sebab hati menyaksikan sesuatu yang agung atau menakutkan secara nyata. Dan hakikat wara’ adalah menghindari sesuatu karena takut terhadap bahaya yang ditimbulkan olehnya. Allah swt. Mahatahu. (***)