
Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin
BLOGGURU – Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dan lain-lain.
Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi.
Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (34): Kejujuran dan Tanda-tandanya
Bagian Ketiga Puluh Empat : Kejujuran dan Tanda-tandanya
Intishal, ittishal, Tahqiq, dan Tafrid
KEJUJURAN BAGI ALLAH swt. merupakan sifat Dzatiyyah yang bersumber dari makna Kalam-Nya. Dalam sifat hamba, kejujuran berarti tidak adanya perbedaan antara rahasia dan terang-terangan, lahir dan batin. Dengan sifat jujur, tercapailah seluruh magam dan ahwal.
Meski keikhlasan beserta keagungannya itu memerlukan kejujuran, tetapi kejujuran tidak membutuhkan apa pun. Karena hakikat keikhlasan dalam beribadah yaitu menghendaki Allah dengan berlaku taat. Karena, terkadang Allah menjadi tujuan seseorang dalam shalat, tetapi justru ia melalaikan dengan ketidakhadiran hatinya.
Kejujuran yaitu menghendaki Allah dengan beribadah disertai kehadiran bersama-Nya. Jadi, setiap orang yang jujur berarti ikhlas, tetapi tidak setiap orang yang ikhlas itu jujur. Inilah makna terpisah (infishal) sekaligus bersambung (ittishal). Terpisah dari selain Allah dan bersambung dengan-Nya melalui kehadiran hati.
Adapun tahqiq artinya membedakan berbagai magam dan ahwal satu sama lain, dan memurnikannya dari segala sesuatu selain Allah dan noda-noda. Tafrid bermakna berdirinya hamba bersama Allah tanpa ilmu maupun ahwal. Sebab ia menyaksikan kesendirian Allah dalam menciptakan segala wujud dan kekuasaan-Nya yang mencakup segala sesuatu.
“ORANG YANG JUJUR BERARTI IKHLAS, TETAPI SETIAP ORANG YANG IKHLAS ITU JUJUR.”
(***)