Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali – 36: Larangan Bergunjing

Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin

Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin

BLOGGURU – Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dan lain-lain.

Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi.

Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (36): Larangan Bergunjing

Bagian Ketiga Puluh Enam : Larangan Bergunjing

ALLAH SWT. BERFIRMAN, “Adakah seseorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?” (QS. al-Hujurat (49): 12)

Firman Allah di atas dipertegas dengan sabda Nabi Muhammad saw. yang bersumber dari Abu Hurairah ra.  Dari Abu Hurairah ra. ada seorang laki-laki di sisi Rasulullah saw., lalu Rasulullah berdiri, tapi laki-laki itu “dak. Maka, beberapa orang berkata, “Alangkah lemahnya la. Rasulullah bersabda, “Kalian telah memakan daging Saudara kalian dan menggunjingnya.”

Dikatakan bahwa Allah swt. telah mewahyukan kepada Musa bin Imran as.,“Barang siapa mati dalam keadaan tobat dari perilaku ghibah, ia adalah orang terakhir yang masuk surga. Dan siapa yang mati dalam keadaan tetap dalam ghibah, berarti ia orang pertama yang masuk neraka.”

Ada pula yang mengatakan, “Ibrahim bin Adham pernah diundang dalam sebuah perhelatan. Kemudian, orang-orang di sekitarnya menggunjingkan seseorang yang tidak datang pada acara tersebut. Maka Ibrahim berkata, “Sungguh, nafsuku berbuat seperti ini terhadapku. Aku mendatangi sebuah tempat yang di dalamnya orang-orang berbuat ghibah.” Ia pun keluar dan tidak makan selama tiga hari.

Berkenaan dengan pergunjingan, dikatakan bahwa perumpaan orang yang menggunjing orang lain layaknya orang yang mendirikan alat pelontar (munjanig), yang ia gunakan untuk melemparkan kebaikannya ke timur dan ke barat.

Demikian pula disebutkan, pada hari kiamat nanti, seorang hamba diberi kitab (catatannya), tetapi tidak melihat catatan kebaikan di dalamnya. Ia pun berkata, “Manakah shalatku, puasaku, dan ketaatanku?” Lalu dijawab, “Amalamalmu hilang karena engkau telah menggunjing orang lain.” Maka dikatakan, “Barang siapa digunjingkan orang lain, maka diampunilah separuh dosa-dosanya.”

Disebutkan, ada seseorang menerima kitabnya dengan tangan kanan, lalu melihat catatan kebaikannya yang tak pernah ia lakukan. Kemudian dikatakan kepadanya, “Ini karena engkau digunjingkan orang, tapi engkau tak menyadarinya.”

Suatu saat ada kabar yang disampaikan kepada Hasan Bashri, “Seseorang telah menggunjingmu,” Maka, Hasan Bashri pun mengirimkan sebuah talam berisi manisan kepada orang tersebut sambil berujar, “Aku mendengar engkau telah menghadiahkan kebaikanmu untukku, maka aku ingin membalasnya.”

Dari al-Junaid ra., ia berkata, “Aku berada di Baghdad, di sebuah tempat untuk menanti jenazah yang akan kushalatkan. Kemudian aku bertemu seorang fakir yang menampakkan jejak-jejak ahli ibadah dan meminta-minta kepada orang-orang. Aku pun berkata dalam hati, andaikan orang ini melakukan amal yang bisa menjaga dirinya, itu akan lebih baik baginya.

Lantas, aku pulang ke rumah dan melakukan wirid pada malam hari. Selesai membaca wirid, aku tidur, dan bermimpi melihat orang fakir tersebut membawa dirinya di atas sebuah dipan panjang. Lalu mereka berkata kepadaku, Makanlah daging orang tersebut karena engkau telah menggunjingnya, dan aku pun melihat ahwal. Aku berkata. Aku tidak menggunjingnya, melainkan berkata dalam hatiku.” Maka dikatakan, “Engkau tidak termasuk orang yang ridha terhadap orang seperti ia. Pergilah, dan mintalah maaf kepadanya.”

Keesokan harinya aku mondar-mandir hingga melihat orang tersebut memunguti lembaran-lembaran sayur yang jatuh karena di cuci dalam air. Aku pun mengucapkan salam kepadanya, dan ia pun menjawab, “Hai Abu Oasim, kau akan mengulang lagi?” Aku menjawab, “Tidak.” Maka, ia berkata, “Semoga Allah mengampuni kita.”

(***)

 

 

 

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR