
Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin
BLOGGURU – Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dan lain-lain.
Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi.
Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (40): Tentang Peminta-minta
Bagian Keempat Puluh: Tentang Peminta-minta
BARANG SIAPA MEMINTA-MINTA, padahal ia memiliki makanan pokok untuk satu hari, itu sama halnya telah merampok orang-orang lemah dan miskin. Barang siapa berniat mencari akhirat, Allah akan menempatkan kekayaannya di dalam hati dan menjadikannya sebagai orang kuat, sementara dunia akan mendatanginya dengan suka rela. Dan, siapa yang bertujuan mencari dunia maka Allah akan meletakkan kefakiran di depan matanya, kekuatan dan urusannya pun tercerai-berai.
Tidak ada dunia yang datang kepadanya selain yang sudah ditentukan untuknya. Barang siapa membuat perhatiannya menjadi satu, Allah mencukupinya dalam urusan dunia maupun akhirat. Barang siapa perhatiannya bercabang-cabang maka Allah tidak peduli di lembah manakah ia binasa. Seluruh dunia dari awal hingga akhir tak bisa menyamai satu kesedihan, terlebih umurmu yang pendek, sementara dunia yang kauraih hanya sedikit.
Selain itu, barang siapa ridha terhadap apa yang telah dibagikan Allah kepadanya maka Allah akan memberkahi apa yang telah dianugerahkan dan melapangkannya. Siapa yang tak mau meminta-minta berarti ia telah diberi anugetah terbaik.
Siapa pun yang kaubutuh terhadapnya maka rendahlah engkau di hadapannya. Jika engkau ingin hidup bebas, jangan membiasakan untuk berharap kepada yang lain, dan teguhlah dalam sifat qana’ah. Lantas, bagaimana bisa orang bebas yang mencari (murid) merendahkan diri kepada hamba, sedangkan ia telah menemukan segala yang ia inginkan di sisi Tuannya.
Sekiranya seseorang mengetahui apa yang ada dalam tindakan meminta-minta, tak seorang pun yang akan melakukan tindakan tersebut. Sebaliknya, andaikan orangorang mengetahui apa yang terdapat dalam hak orang yang meminta-minta, tentulah mereka tak akan pernah menolak orang yang meminta kepadanya. Tak seorang pun meminta hajat kepada seseorang, dikabulkan atau tidak, melainkan harga dirinya telah jatuh selama empat puluh hari.
(***)