
Ijazah Sanad (Sanad Riwayah). (foto: ist/blogguru)
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: 6 Metode Dapatkan Ijazah Sanad Al-Qur’an Bersambung ke Rasulullah
BLOGGURU – Bulan Ramadhan adalah bulan berlimpah pahala. Salah satu pintu untuk mendapatkan keberkahan Ramadhan adalah dengan mengikuti Majelis Ilmu, rajin mengikuti halaqah, pengajian, atau dauroh. Belajar Ilmu Agama (Ilmu-ilmu keislaman) dengan belajar ilmu pengetahuan umum itu berbeda. Belajar Ilmu-ilmu umum di kekinian sudah dapat dianggap cukup jika memiliki referensi yang bagus, rajin membaca buku dan aktif menulis, asalkan aktif mengikuti proses belajar mengajar (PBM) di sekolah, pesantren atau di bangku kuliah sudah dianggap cukup. Begitu pula dengan mencatatkan kehadiran pada seminar, kuliah umum, atau bahkan mengikuti pelatihan, webinar dan menonton video pembelajaran di Youtube sudah dapat dianggap cukup sebagai jalan menempuh pembelajaran.
Ramadhan seharus menjadi bulan berlimpah pahala bagi thalabul ilmi, para penuntut ilmu. Belajar Ilmu-ilmu keislaman tidak cukup dengan membaca buku atau kitab, apalagi jika hanya terjemahannya saja. Menuntut ilmu-ilmu keislaman atau ilmu-ilmu kepesantrenan, yang didalamnya ada perkataan Allah (Al-Qur’an), perkataan Nabi (Hadits), dan perkataan ulama (Tafsir Al-Qur’an-Hadits dan syarahnya), kesemuanya ketat pertanggung-jawabannya, bukan hanya di dunia, tapi juga di akherat.
Khazanah keilmuan Islam, bukanlah ilmu yang sifatnya coba-coba, tetapi menyangkut adab, akhlak, perilaku dan amaliah yang berdimensi dunia dan akhirat, berdimensi insani (hubungan horizontal) dan berdimensi ilahi (hubungan vertikal dengan Tuhan). Jika salah dalil dan referensi yang dipelajari, maka dampak bisa sangat fatal, yaitu berujung pada salah pengamalan dan dapat mengantarkan seseorang pada kesesatan. Pun tidak boleh sembarang orang menyampaikan atau menerima suatu pemahaman tanpa dalil Al-Qur’an-Hadits yang kuat, mengatas-namakan Allah dan Rasul-NYA sehingga berpotensi semua orang dapat berujar, berceramah, berpidato, berdakwah dan menyampaikan ajaran dan ilmu agama semaunya saja.
Khazanah keilmuan Islam haruslah didapatkan dari sosok guru/ustadz/kyai yang jelas dan mempunyai sanad, maka muaranya akan menghasilkan ilmu (pemahaman agama) yang bisa menentramkan hati dan menjernihkan akal pikiran, serta menghasilkan pengamalan ajaran agama sebagaimana diinginkan Allah dan Rasulnya.
Di kekinian, amat banyak oknum berlabel ustadz, kyai atau ulama yang justru membingungkan umat dan masyarakat. Seringkali kita dapati perkataan dan amalan tanpa dalil yang jelas. Yang dikemukakan kemudian bukan dalil (bersumber pada Al-Qur’an-Hadits), tapi dalih atau alasan yang menguntungkan pihaknya, organisasinya atau golongannya. Disisi lain juga banyak oknum yang menyalahkan ustadz, kyai atau ulama lain diluar organisasinya, yang tak sependapat dengannya malahan mudah saja mengkafirkan orang lain. Disinilah pentingnya bersanad atau mendasarkan keilmuan pada ustadz, kyai atau ulama yang jelas silsilah (sanad) keilmuannya.
Abdullah bin Mubarak berkata,
Artinya:
“Sanad itu bagian dari agama. Kalaulah tidak ada ilmu Isnad, pasti siapapun bisa berkata apa yang dia kehendaki.” [HR. Muslim]
Apa itu sanad keilmuan? Yang dimaksud dengan sanad keilmuan adalah garis silsilah pengajaran dimana suatu ilmu-ilmu keislaman didapatkan. Misalnya, penulis mendengar satu hadits/penjelasan kitab dalam suatu majelis ilmu (majelis riwayah maupun dirayah) dari seorang guru, dan seterusnya guru yang mengajarkan hadits/penjelasan kitab itu juga mendengar/menerima ilmu dari gurunya, dan seterusnya ke atas sampai kepada Rasulullah SAW (jika itu hadits), dan penulisnya (jika itu sanad kitab).
Sanad merupakan hal yang penting dalam dunia Islam, khususnya dalam menjaga validitas informasi dan kebenaran ajaran yang disampaikan dari guru ke murid, dari masa Rasulullah hingga guru kita atau dari penulis kitab hingga kita yang memelajari kitab tersebut. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Dr. Mahmud Thahan dalam kitabnya, Taysir Musthalah al-Hadits, bahwa sebuah kabar (خبر) tidak dapat diterima kebenarannya sebelum diketahui terlebih dahulu ketersambungan sanadnya.
Dr Mahmud Thahan menyebutkan sebuah definisi sanad secara bahasa dan istilah dalam Taysir Musthalah al-Hadits:
Artinya, “Sanad secara bahasa adalah al-mu’tamad (tempat bersandar atau bergantung), dinamakan demikian sebab hadits disandarkan kepada sanad atau bergantung kepadanya. Secara istilah, sanad adalah silsilah para perawi yang menyambung hingga ke matan,” (Dr Mahmud Thahhan, Taysir Musthalah al-Hadits, [Maktabah al-Ma’arif, cetakan ke-10: 2004], hal. 19).
Lihat pula: Mengejar Sanad Keilmuan Ulama
Dalam berbagai literatur di jelaskan bahwa sebaik-baik orang belajar adalah yang mempunyai guru. Lalu gurunya mempunyai guru lagi dan terus tersambung (wushul) dengan guru-guru lainnya. Itulah yang dinamakan sanad keilmuan. Sanad keilmuan apa saja yang harus dikejar dan dimana memperolehnya? Ya, tentu saja sanad keilmuan yang harus dikejar, jika kalian santri, dan lebih khusus lagi adalah santri tahfidzul qur’an, maka yang paling utama adalah sanad keilmuan yang berkaitan dengan Al-Qur’anul Karim.
Apa yang dimaksud dengan sanad tahfizul Qur’anul Karim? Sanad Tahfidz Al Quran merupakan sebuah landasan atau sandaran bahwa tahfidz tersebut sesuai dengan sumbernya. Dalam hal sanad tahfidz Al Quran berarti menyambung sanad bacaan sampai kepada Rasulullah SAW yang berarti sesuai dengan tata cara dan tuntunannya. Mengapa perlu bersanad, khususnya terkait Al-Qur’an? Ya, tentu dikarenakan adanya pemahaman tentang Islam (Al-Qur’an) yang hanya bisa didapatkan melalui guru/ustadz atau kyai, dan tidak bisa (tidak cukup) sebatas mempelajarinya sendiri melalui kitab-kitab tertulis dengan cara membaca (otodidak).
Sanad merupakan kekhususan umat Nabi Muhammad Saw yang tidak dimiliki umat-umat sebelumnya. Terkait hal ini Imam al-Sakhawi menulis dalam kitabya, “Fath al-Mugits bi Syarh Alfiyah al-Hadits”, sebuah bab khusus yang menjelaskan hal sanad ini. Imam al-Sakhawi menyebutkan:
Artinya, “Telah diriwayatkan kepada kami dari jalur Abu al-‘Abbas al-Daguli, ia berkata: Aku mendengar Muhammad ibn Hatim ibn al-Muzaffar berkata: ‘Sungguh Allah memuliakan umat ini (umat Nabi Muhammad), mengagungkan dan mengutamakannya dengan ‘isnad’. Tidak satu pun dari umat sebelumnya maupun setelahnya yang memiliki tradisi sanad. Mereka hanya memiliki suhuf, sedang suhuf-suhuf tersebut tercampur dengan banyak informasi,’….” (Imam al-Sakhawi, Fath al-Mugits bi Syarh Alfiyah al-Hadits, [Mesir: Maktabah al-Sunnah, cetakan ke-1, 2003], juz III, halaman 330).
Sanad pada masa kekinian dapat dikategorikan kepada 3 macam. Pertama, Sanad Riwȃyah atau Ijȃzah. Kedua, Sanad Fikrah; dan yang terakhir Sanad Tarbiyah dan Sulȗk (rohani dan akhlak). Sanad dalam kategori pertama berupa ijazah dari seorang guru kepada muridnya suatu kitab atau ilmu sebagaimana diperoleh dari guru sebelumnya. Sanad tersebut sangat penting untuk menghindari tadlȋs (keterputusan sanad secara tersembunyi). Selain itu sanad ini dengan kategori seperti ini juga sering digunakan dalam tabarrukan (memperoleh keberkahan) dan menjaga ketersambungan riwayat ulama-ulama kontemporer dengan tokoh-tokoh ulama di masa lalu.
Ulama yang menggunakan sanad kategori pertama ini biasanya dari kalangan ahli qira’at, hadits, dan musnid (kompilator sanad) dengan suatu shigat atau kalimat dari guru kepada murid. Kalimat yang biasanya dipakai adalah “Ajaztu laka”, “Saya ijazahkan kepadamu”. Ulama yang mahir dalam kategori sanad seperti adalah Syekh Yasin al-Faddani al-Makki, Syekh al-Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki, Syekh Ali Jum’ah, dan dan Syekh Sa’id Mamduh.
Yang kedua, Sanad Fikrah atau sanad pemikiran. Sanad dalam kategori ini diaplikasikan dengan talaqqi (belajar langsung) baik secara formal seperti sekolah, kampus, pesantren maupun informal seperti seminar, pengajian atau kursus. Bahkah untuk memperoleh sanad fikrah dapat dilakukan secara otodidak. Kendati demikian, fikrah yang didapat melalui talaqqi lebih kuat dan mantap dibandingkan otodidak (belajar sendiri).
Terakhir, yaitu Sanad Tarbiyah atau dapat disebut juga dengan suhbah (صحبة), yaitu interaksi langsung antar murid dan gurunya sehingga mewarisi kualitas spiritualnya. Sanad dengan jenis seperti ini dapat dijumpai pada ahli-ahli kalbu seperti ahli tarekat atau pesantren tradisional. Sanad dalam kategori ini lebih baik dari kategori sebelumnya, sebab dengan sanad inilah seseorang dapat mengubah akhlaknya sebagaimana akhlak Nabi, para sahabat, dan ulama salaf al-shalih. (Dr. Arrazy Hasyim, MA., Akidah Salaf Imam Al-Tahawi: Ulasan dan Terjemahan, [Ciputat: Maktabah Darus-Sunnah], halaman 29-36).
Nah, bagi para santri, pelajar dan mahasiswa Islam, wajib bagi kita untuk mewarisi sanad keilmuan Islam. Rajin-rajinlah mencari informasi dimana suatu pengajian, dauroh, atau majelis yang diadakan, baik di dalam maupun di luar pesantren, dibawakan oleh Ustadz, Kyai, atau Syaikh yang bersanad.
Wallahu a’lam bish-shawab. (*).
(* Muhammad Farid Wajdi, Pengasuh Pontren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep/Pewaris Sanad Hadits dan Kitab-kitab ‘Ulumusy Syar’i (Riwayah dan Dirayah), diantaranya: Kitab At-Tibyan fi Adab Hamalatuil Qur’an, Mulhatul I’rab, Hidayatus Sibyan, Tuhfatul Athfal, Al-Muqaddimah al-Jazariyah, Arbain An-Nawwiyah, Arbauna Haditsan fi Syahr Ramadhan, Arbaun Qur’aniyah, Kitab Tauhid, Qawaidul Arba’, Nawaqidul Islam, al-Muwatha Imam Malik, Shahih Bukhari, dan yang lainnya.
[…] 4. Mengejar Sanad Keilmuan selama Ramadhan […]