
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Keistimewaan-Keistimewaan Al-Qur’an
BLOGGURU – Sebagai sebuah kitab suci, firman Allah SWT yang agung dan sangat istimewa, diturunkan hanya kepada Rasulullah yang juga pilihan dan penutup para nabi, maka idealnya Al-Quran mesti dibaca dan dilafalkan sesuai dengan standar tajwid, bukan sekadar mengedepankan suara yang merdu atau irama yang indah. Karena demikianlah Al-Quran diturunkan dan diriwayatkan hingga sampai kepada umat Islam di kekinian.
Dalam Bulan Ramadhan ini, setiap dari kita tidak hanya dituntut untuk Tadarrus dan Tadabbur Al-Qur’an, tapi juga dituntut untuk setiap saat membacanya sesuai dengan standar kesempurnaan bacaan Al-Quran itu sendiri menurut ilmu tajwid. Tilawah Al-Quran akan semakin indah dan menunjukkan keindahannya jika setiap muslim yang membacanya: 1. Tepat makhrajnya, 2. Sempurna sifat-sifatnya, 3. Terealisasi hukum-hukumnya, 4. Konsisten dalam pelafalan, 5. Proporsional, tidak berlebihan juga tidak serampangan. Demikianlah apa-apa yang telah disampaikan oleh Ibnul Jazariy dalam Al-Muqaddimah (Al-Muqaddimah al-Jazariyah):
Dan beliau Imam Ibnul Jazariy juga telah mengabarkan bahwa seorang muslim tidak akan pernah bisa mencapai kesempurnaan pelafalan, kecuali dengan melatih lidah kita di hadapan guru yang mahir (talaqqi dan musyafahah). Hanya dengan demikian, seorang muslim akan semakin merasakan nikmatnya berinteraksi dengan Al-Qur’an, terlebih lagi jika dibaca dan dihafalkan dengan mutqin di Bulan Ramadhan yang berlimpah pahala.
Karena Al-Qurân diturunkan dalam Bahasa Arab, maka sudah sepantasnya dibaca sesuai dengan lahjah Arab. Silakan dipelajari dan dipahami dengan baik mana bacaan Al-Qurân yang sesuai lahjah Arab dan mana bacaan Al-Qurân yang belum sesuai lahjah Arab.
Asy-Syekh Husni Syekh Utsman mengatakan dalam Haqqut Tilawah hal. 47:
Artinya:
“Maka wajib bagi para pembaca Al-Qurân, hendaknya mereka mengambil bacaannya tersebut dengan cara talaqqî dan mengambil sanad dari para syekh yang mana mereka mengambil bacaan Al-Qurânnya tersebut dari guru-guru mereka, agar supaya sampai kepastian bahwa bacaan yang dipraktikkan itu sesuai dengan apa yang datang dari Rasulullah ﷺ dengan sanad yang shahih dan bersambung.”
Kemudian beliau melanjutkan:
Artinya
“Adapun bila ia hanya menyandarkan bacaan Al-Qurânnya tersebut pada apa-apa yang telah ia baca dari buku-buku, atau sekedar taqlid pada apa yang ia dengar dari rekaman para qari’, maka berarti ia telah meruntuhkan salah satu dari tiga rukun qirâat yang shahih. Dan bacaannya yang diriwayatkan kepada orang lain itu terhitung sebagai salah satu kedustaan terhadap periwayatan Al-Qurânul Karim”.
Bulan Ramadhan adalah bulan berlimpah pahala, dan salah satu pahala yang dianjurkan untuk dikejar dalam bulan penuh kemuliaan ini adalah pahala tadarrus dan tadabbur Al-Qur’an. Mari perbanyak tilawah dan perbanyak tadabbur. Apalagi di bulan Ramadhan di mana satu kebaikan bisa dilipatgandakan menjadi 70 bahkan 700 kali lipat. Namun, apabila harus memilih salah satunya, mayoritas ulama lebih mengutamakan perbanyak tadabbur, walaupun tilawahnya tidak terlalu banyak.
Maka dari itu, mari kita mulai mentadabburi Al-Quran. Membaca dengan benar dan tepat, mencoba memahaminya berikut tafsirnya. Setiap dari kita tak hanya sekadar butuh membacaAl-Qur’an sebanyak mungkin ayat sampai mengkhatamkannya, tapi juga butuh untuk memahami kandungan makna dari ayat-ayat Al-Quranul Karim yang dibaca. Silakan miliki dan akrabi Kitab Tafsir Al-Qur’an, dari Tafsir ringkas Kemenag, Tafsir Jalalain, Tafsir As-Sa’di, Tafsir Al-Azhar Buya Hamka, Tafsir Fi Zhilalil Quran Sayyid Quthb, Tafsir Al-Asas Said Hawwa, Tafsir Ibnu Katsir, dan lain sebagainya.
Bulan Ramadhan adalah bulannya Al-Qur’an, bulan mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an dan memperbaiki interaksi dengan Al-Qur’an. Bukan berarti di bulan lain tidak akrab dengan Al-Qur’an, tapi dengan datangnya bulan Ramadhan itu, keakraban dengan Al-Qur’an semakin meningkat lagi. Mulailah untuk tidak hanya sekadar qira’ah dan tadarrus Al-Qur’an, tapi juga menghafalkan dan mentadabburi ayat-ayatnya. Karena itu pula sangat penting bagi setiap kita untuk belajar, memahami, dan menguasai bahasa Arab.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
Artinya:
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi dari ‘Ali bin Abi Thalib. Dan datang dari hadits ’Utsman bin ‘Affan riwayat Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Sekali lagi, mari mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an. Bukankah telah ditegaskan oleh Rasulullah bahwa sebaik-baik dari diri kita, sebagai seorang muslim adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Maka tentu jauh lebih utama jika dapat menjadi hafidz/hafidzah Al-Qur’an, yang tak hanya mahir (mutqin) bacaan Al-Qur’annya, tapi juga memahami kandungan makna dan isi Al-Qur’anul Karim.
Wallahu a’lam bish-shawab. (*).
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Al-Qur’an-Hadits/Pengasuh Pontren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.
[…] 3. Ramadhan Bulan Al-Qur’an […]