Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Tarawih 8 Raka’at Menurut KH Maimoen Zubair (Mbah Moen)

Shalat

Shalat (foto: ist/*)

Related Post: Niat Shalat Tarawih

BLOGGURU – KH. Ahmad bin Syuaib Sarang dulu melarang santri-santrinya untuk melaksanakan sholat sunah 20 raka’at dengan niat sholat tarawih, beliau lebih memilih untuk melakukan sholat sunah 20 rakaat dengan niat sholat sunah Qiyami Ramadhan

” Kowe Tarawih cek lah cung, tapi aku solat
Qiyami Ramadhan..” dawuh Mbah Ahmad

Demikian kenang Syaikhina Maimoen tentang kakeknya itu, sebagaimana beliau kisahkan saat Haflah Akhirussanah Madrasah Hidayatul Mubtadi’in Lirboyo pada Jum’at malam Sabtu 09 Sya’ban 1438 H / 05 Mei 2017 M, Kakek Syaikhina Maimoen itu beralasan, bahwa sholat sunah Qiyami Ramadhan itu lebih luas dari pada sholat sunah Tarawih, sebab shalat sunah Tarawih itu tidak ada di zaman Rasulullah, dimana waktu itu Rasulullah sholat malam lumrahnya 8 rakaat, sementara sholat sunah Tarawih baru ada pada masa kekhalifahan sayyidina Umar bin Khattab

” Sholat Tarawih iku 20 rakaat, sing gawe
Sayyidina Umar, sedurunge Umar gak Ono
Tarawih, anane Qiyamu Romadhon, Dadi
Ono wong terawih kok ora 20 rakaat berarti
Yo dudu Tarawih..” jelas Mbah Moen

Sebagaimana maklum, bahwa Pada masa Rasulullah SAW sendiri, ada anjuran untuk melaksanakan Shalat Qiyam Ramadhan, namun anjuran tersebut hanya bersifat umum, yang mana sifat umum dari hal tersebut membuat respon beragam dari para sahabat, ada yang melaksanakan shalat Qiyam Ramadhan di rumah masing-masing dan ada juga yang melaksanakannya di masjid, ada yang shalat sendirian dan ada yang shalat berjamaah. Demikian juga Pada masa Abu Bakar yang tidak banyak perubahan berarti.

 

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنّ رسول اللَّهِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتمَعُوا

مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ، قَالَ: رَأَيْتُ الَّذِي

صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعنِي مِنْ الْخُرُوجِ إلَيْكُمْ إلَّا أَنِّي خشِيتُ أَنْ يُفْتَرضَ عَلَيْكم

 

Selanjutnya pada masa Umar bin Khattab, baru lah banyak terjadi perubahan. Pada zaman itu, sahabat yang shalat Qiyam Ramadan di masjid semakin banyak. Ada yang shalat sendirian, ada juga yg shalat berjemaah. Karena banyaknya jamaah itu, membuat masjid menjadi gaduh, hingga akhirnya Umar bin Khattab berinisiatif untuk mengumpulkan para sahabat dengan satu imam, ditunjuklah Ubay bin Kaab sebagai imam Shalat Qiyam Ramadan. Kisah ini lah yang terekam dalam hadits Riwayat Imam Bukhari yang sudah sangat populer sekali, bahkan Umar menyebut hal ini sebagai bid’ah yang paling baik.

عن عبدالرحمن بن عبدالْقَارِي قَالَ: خرجت مَعَ عمر بنِ الخطَّاب ليلة في رَمَضَانَ إلى الْمَسْجدِ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ

,يصَلِّي الرَّجُلُ لنَفْسِهِ، وَيصلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بصلَاته الرَّهْطُ، فَقَالَ عُمَرُ: إنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قارئ وَاحد لكان أَمثلَ

ثم عزم فَجَمَعَهُمْ على أبيِّ بْنِ كَعْبٍ، ثُم خَرَجْت معه لَيْلَة أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّون بِصَلَاة قَارِئِهِمْ، فَقَالَ عُمَرُ: نِعْمَتْ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

 

Jadi menurut Syaikhina Maimun, Sholat Sunnah 20 raka’at itu bisa disebut sebagai Sholat Sunnah Qiyami Ramadhan atau Tarawih, sementara Sholat Sunnah 8 rakaat tidak bisa disebut sebagai Sholat tarawih. Beliau menegaskan, bahwa mengikuti Sayyidina Umar adalah termasuk bagian dari perintah agama, yang mana menyelesihinya dan menentangnya bisa menyebabkan seseorang terhalang untuk masuk surga, hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah riwayat hadits.

 

أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة، وافترقت النصارى على اثنتين

وسبعين فرقة، وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة، قيل: من هي يا رسول الله؟

قال: من كان على مثل ما أنا عليه وأصحابي

” Anut Sayyidina Umar iku diperintah,
Kowe anut Sayyidina Umar kok ora
pati tenan, ati-ati Kowe nak ora mlebu
suargo..” dawuh Mbah Moen

Apa yang dijelaskan Syaikhina Maimoen tersebut kurang lebih Sama dengan pendapat dari guru beliau sendiri, yakni KH. Abu Fadhol bin Abdus Syakur Senori (Tuban) dalam karyanya yang berjudul “Kasyfut Tabarih fi Bayan Shalat Tarawih”. Menurut beliau, Orang-orang yang melaksanakan salat tarawih 8 Rokaat itu sama halnya seseorang yang melawan ijma’. Sementara Orang yang melawan ijma’, jika terjadi dalam suatu perbuatan yang sangat diketahui oleh seluruh Orang islam, maka ia menjadi kafir, dan apabila tidak demikian, maka ia fasiq (berbuat dosa). Dan hal ini juga sama halnya melawan Khulafa’ur Rasyidin. Dimana siapa saja yang menentang Khulafaur Rasyidin, maka sama halnya ia menentang Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

 

وإذا كان الأمر كذلك علمنا أن الذين صلوا التراويح اليوم ثمان ركعات مخالفون للإجماع، ومخالف الإجماع

.إن كان فی أمر معلوم من الدين بالضرورة فهو كافر، وإلا فهو فاسق، وهم مخالفون أيضا لسنة الخلفاء الراشدين

ومن خالف سنة الخلفاء الراشدين فقد خالف النبي صلی الله عليه وسلم، لأنه قال: فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِيْ، رواه أبو داود والترمذي

 

Wallahu Ta’ala a’lam. (*)

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR