
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: 5 Peristiwa Penting dalam Bulan Ramadhan
BLOGGURU – Mengapa Ramadhan disebut Bulan Jihad? Apakah di Bulan Ramadhan, umat Islam diperintahkan untuk berperang atau memerangi Orang-orang kafir? Syaikh Abdullah Azzam dalam Tarbiyah Jihadiyah menjelaskan arti jihad. Secara bahasa jihad berarti: Bersungguh-sungguh, mencurahkan kesungguhan, mengerahkan kekuatan secara maksimal. Sedangkan menurut terminologi, kata jihad mempunyai makna: mengorbankan jiwa dan harta dalam rangka membela agama Allah dan melawan musuh-musuhnya.
Mengapa Ramadhan disebut bulan jihad? Ya, salah satu alasannya karena memang dalam Sejarah Islam, banyak jihad (perang secara fisik) yang terjadi dan kemenangan yang diraih kaum muslimin pada bulan Ramadhan. Simaklah bagaimana dahsyatnya Perang Badar misalnya. Perang Badar terjadi pada Bulan Ramadhan bertepatan dengan tahun diwajibkannya puasa Ramadhan, yakni tahun 2 H. Sebanyak 313 pasukan Islam berhasil mengalahkan 1000 Pasukan Kafir Quraisy yang bersenjatakan lengkap.
Siapa yang dapat menyangka bahwa kemenangan gemilang pertama yang diraih umat Islam ini, yang kemudian menjadi penguat eksistensi kaum muslimin di Madinah dan pembuka bagi kemenangan-kemenangan Islam berikutnya terjadi di Bulan Ramadhan, yang notabene Umat dan Pasukan Muslim dalam kondisi berpuasa. Adakah pakar militer saat itu yang bisa memprediksi bahwa Rasulullah dan para sahabatnya bisa memenangkan peperangan? Dan kemenangan jihad ini terjadi di Bulan Ramadhan!
Enam tahun kemudian terjadi peristiwa yang jauh lebih besar dan mempesona. Inilah penaklukan paling indah dalam sejarah umat manusia. Penaklukan tanpa korban jiwa. Kemenangan besar tanpa tetesan darah! Sebanyak 10.000 pasukan muslim yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAWmemasuki gerbang Kota Makkah dengan tenang, menang tanpa perlawanan. Bukan hanya kemenangan secara fisik yang membuat pasukan Quraisy Makkah tidak berani memberontak, tetapi juga kemenangan hati sehingga keimanan masuk ke jiwa-jiwa mayoritas penduduk Makkah menggantikan seluruh kekufuran dan permusuhan mereka.
Maka, tak ada satupun yang membela saat 360-an berhala di sekeliling ka’bah dihancurkan. Tak ada yang meratapi atau melakukan demontrasi saat berhala-berhala itu dilenyapkan. Sebab, sesaat sebelum dilenyapkan dari Ka’bah, Allah SWT telah melenyapkan berhala-berhala sesembahan itu dari hati mereka. Inilah jihad dan kemenangan besar yang juga terjadi di bulan Ramadhan. Dan masih banyak sejarah jihad yang dimenangkan kaum muslimin di Bulan Ramadhan.
Pada Ramadhan 15 Hijriyah, terjadi perang Qadisiyyah dimana Orang-orang Majusi di Persia ditumbangkan. Pada Ramadhan 53 Hijriyah, umat Islam memasuki pulau Rhodes di Eropa. Pada Ramadhan 91 Hijriyah, umat Islam memasuki selatan Andalusia. Pada Ramadhan Tahun 92 Hijriyah, umat Islam keluar dari Afrika dan membuka Andalusia dengan komandan Thariq bin Ziyad. Pada Ramadhan 658 Hijriyah, Pasukan Islam di bawah kepemimpinan Saifuddin Qutuz berhasil mengalahkan pasukan Mongol dalam Perang Ain Jalut.
Tidak sedikit orang yang menjadikan puasa sebagai alasan bermalasan. Sehingga produktivitas pun turun. Padahal Ramadhan adalah bulan jihad. Memaknainya, kita harus memiliki niat dan semangat jihad. Produktifitas mestinya justru meningkat. Ramadhan dikenal dengan banyak nama. Syahrush shiyam. Syahrush shabr. Syarul Qur’an. Juga syahrul jihad, bulan jihad.
Keutamaan Jihad
Jihad merupakan ibadah yang memiliki keutamaan luar biasa di sisi Allah SWT. Di antara keutamaan itu adalah:
Suatu ketika pada hari Jum’at, Nu’man bin Basyir berada disisi mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu ada orang berkata, “Aku tak peduli, setelah aku masuk Islam tidaklah aku beramal melainkan memberi minum orang yang menjalankan ibadah haji.”
Yang lain berkata “Aku tak peduli, setelah aku masuk Islam tidaklah aku beramal melainkan memakmurkan masjidil haram.” Yang lain berkata, “Jihad membela agama Allah lebih utama dari apa yang kalian katakan”.
Lalu Umar bin Khattab menegur mereka seraya berkata, “Kamu jangan berdebat mengeraskan suaramu di mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Setelah selesai shalat Jum’at, Nu’man bin Basyir masuk ke rumah Rasulullah dan minta fatwa kepada beliau. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:
Artinya:
Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS. At-Taubah : 19-20)
Sesungguhnya, amatlah wajar jika jihad memiliki nilai lebih dari pada ibadah lain sebab jihad menggabungkan amal maaliyah dan amal nafsiyah. Maka pengorbanannya sangat luar biasa, berkurangnya atau habisnya harta; resikonya juga sangat tinggi, kehilangan nyawa!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Artinya:
Ribath (berjaga-jaga) satu hari di jalan Allah itu lebih baik dari pada dunia seisinya. (HR. Bukhari)
Karenanya kita kenal sahabat seperti Abbad bin Bisyr yang sangat menyukai ribath. Kita juga mengenal perkataan luar biasa dari Khalid bin Walid. “Berjaga pada sebuah malam yang dingin di tengah peperangan, lebih aku sukai daripada berada di sisi seorang gadis di malam pengantin.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Artinya:
Tidaklah akan disentuh oleh api neraka, dua kaki hamba yang berdebu karena membela agama Allah. (HR. Bukhari)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوَدِدْتُ أَنِّى أُقْتَلُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ
Artinya:
Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku senang sekali bila aku terbunuh fi sabilillah, lalu aku dihidupkan lalu aku terbunuh lalu aku dihidupkan lagi lalu aku terbunuh, lalu aku dihidupkan lagi lalu aku terbunuh. (HR. Bukhari dan Muslim)
Itulah cita-cita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Meskipun cita-cita syahid itu tidak terwujud, tetapi ia tetap menjadi motivasi bagi umatnya untuk berjihad dan syahid. Dengan jihad itulah tegak izzul Islam wal muslimin, dan saat jihad hilang dari sejarah umat maka yang terjadi adalah keterhinaan dan kekalahan.
Maka demikianlah, Jihad menjadi amalan utama dan salah satu amalan terbaik atas Umat Islam, baik jihad dalam pengertian perang (secara fisik), maupun jihad dalam pengertian perang melawan hawa nafsu, sebagaimana puasa Ramadhan yang diwajibkan atas seluruh umat Islam yang sudah baligh.
Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Pontren Modern Putri IMMIm Minasatene-Pangkep.