
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Mengenal Kitab Aqidah: Al-Qowa’idul Arba’
BLOGGURU – Tulisan ini merupakan tulisan kedua tentang Al-Qowa’idul Arba’ di Blog Guru ini. Tulisan kali ini menyajikan terjemahan dari Pokok-pokok atau hal-hal prinsipil tentang Aqidah dari Kitab Matan Al-Qowa’idul Arba’.
Muqaddimah Matan AL-QAWĀ’IDUL ARBA’ (Bagian Pertama)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan, “Saya memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah,Tuhan ‘Arsy yang agung agar memeliharamu di dunia dan akhirat dan menjadikanmu diberkahi di manapun engkau berada “.
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 31》
Kunci-kunci Kebahagiaan (Bagian Kedua)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Semoga Allah menjadikanmu termasuk orang yang apabila diberi bersyukur, apabila ditimpa musibah bersabar, dan apabila berbuat dosa meminta ampun kepada Allah. Karena tiga hal ini adalah kunci kebahagiaan.
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 31》
Mentauhidkan Allah adalah Agama yang Hanif
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Ketahuilah, semoga Allah membimbing Anda dalam mena’ati-Nya.
Bahwasanya agama yang hanif adalah agama Nabi Ibrahim ‘alaihis salām : yaitu anda beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya saja.
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 31》
Tujuan Penciptaan Manusia
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Dengan agama yang hanif inilah (yaitu mentauhidkan Allah) Allah memerintahkan semua manusia dan untuk tujuan inilah Allah menciptakan mereka, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
Artinya:
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku ” (QS.Adz-Dzāriyāt: 56).
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 31》
MenTauhidkan Allah adalah Syarat Sahnya sebuah Ibadah
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan: “Jika anda telah mengetahui bahwa Allah menciptakan anda untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa ibadah tidaklah dikatakan sebagai ibadah kecuali jika disertai tauhid, sebagaimana shalat, tidaklah dikatakan sebagai shalat kecuali jika disertai dengan bersuci”.
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 32》
Jika Kesyirikan masuk dalam Sebuah Ibadah
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Jika kesyirikan masuk dalam sebuah ibadah, maka rusaklah ibadah tersebut , sebagaimana hadats apabila mencampuri thahārah (maka rusaklah thaharah tersebut)”.
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 32》
Jika Kesyirikan Bercampur dengan Ibadah
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Jika anda sudah mengetahui bahwasanya kesyirikan apabila bercampur dengan ibadah, maka : Akan rusaklah ibadah tersebut, Akan gugurlah semua amalannya, dan jadilah pelakunya menjadi orang yang kekal di dalam Neraka《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 32》
Pentingnya Memahami Kesyirikan
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Engkau telah mengetahui bahwasanya perkara yang paling penting bagi Anda adalah mengenal hal tersebut (kesyirikan) , semoga Allah memurnikan anda dari jaring ini, yaitu kesyirikan kepada Allah, [yang Allah Ta’ala telah berfirman tentangnya:
Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang berada di bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS.An-Nisaa`: 116).]
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 32》
Kaidah-kaidah untuk Memahami Kesyirikan
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Dan hal tersebut (mengenal kesyirikan) adalah dengan mengetahui empat kaidah yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya”
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 33》
Kaidah Pertama untuk Memahami Kesyirikan
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
Kaidah pertama, yaitu anda perlu mengetahui bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah Dialah sang Pencipta dan Pengatur (segala urusan).
Namun demikian, hal itu tidaklah menyebabkan mereka masuk ke dalam agama Islam.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :
Artinya:
“Katakanlah: “Siapa yang memberi rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati (menghidupkan) dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (mematikan), dan siapa yang mengatur segala urusan? ‘Maka mereka (kaum musyrikin) akan menjawab:’ Allah ’. Maka katakanlah:’Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)” (QS. QS. Yunus: 31).
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 33》
Kaidah Kedua untuk Memahami Kesyirikan
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Kaidah kedua: Bahwasanya mereka (orang-orang yang berbuat syirik) berkata:
“Kami tidaklah berdoa dan tidak beribadah kepada mereka (sembahan selain Allah, pent.) melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dan meminta syafa’at”.
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 34》
Dalil Bahwasanya Kaum Musyrikin Mendekatkan Diri kepada Allah dengan Perantaraan Wali-wali atau Orang-orang Shalih atau yang lainnya
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Dalil tentang qurbah (mendekatkan diri) adalah firman Allah Ta’ala :
Artinya:
“Dan orang-orang yang mengambil wali-wali atau sesembahan dari selain Allah (berkata):”Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” (QS. Az-Zumar: 3).
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 34》
Dalil Bahwasanya Kaum Musyrikin Meminta Syafaat kepada Selain Allah
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Dalil tentang syafa’at adalah firman Allah Ta’ala :
Artinya:
“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, dan mereka (musyrikin) berkata: “Mereka (sembahan selain Allah) itu adalah perantara kami di sisi Allah” (QS. Yunus: 18).
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 34》
Syafaat ada dua Macam
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Syafa’at itu ada dua macam: Syafa’at manfiyyah (yang ditolak keberadaannya), Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan keberadaannya).
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 35》
Syafaat yang Ditolak serta Dalilnya
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Syafa’at manfiyah (yang dinafikan atau ditolak) adalah syafaat yang diminta kepada selain Allah, dalam perkara yang tidak satupun yang mampu memberikannya kecuali Allah.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dzalim”. (QS. Al-Baqarah: 254).
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 35》
Contoh syafa’at yang ditolak : orang yang mengatakan :
🚫”Wahai Rasulullah berilah saya syafa’at ”
🚫”Wahai Ali berilah saya syafa’at ”
🚫”Wahai Husein berilah saya syafa’at ”
🚫”Wahai Syaikh Abdul Qadir Al-jaelani berilah saya syafa’at ”
🚫”Wahai Wali Sunan kalijaga berilah saya syafa’at ”
Dan seterusnya
Ini semua meminta syafa’at kepada selain Allah dan meminta syafa’at kepada selain Allah yang tidak satupun memberikan nya kecuali Allah adalah KESYIRIKAN. HATI-HATI !!!!!
Syafaat yang Ditetapkan atau Yang Diperbolehkan
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan : “Syafa’at mutsbatah (ditetapkan) adalah syafa’at yang diminta dari Allah.
Orang yang mensyafa’ati (yang Allah berikan syafa’at kepadanya) adalah yang dimuliakan (oleh Allah) dengan syafa’at tersebut, sedangkan yang mendapatkan syafa’at adalah orang yang Allah ridhai, baik ucapan maupun perbuatannya, sesudah Allah mengizinkannya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
Artinya:
“Siapakah yang mampu mensyafa’ati di sisi Allah tanpa izin-Nya ??” (QS. Al- Baqarah: 255).
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 35》
Kaidah Ketiga untuk Memahami Kesyirikan
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Kaidah yang ketiga, Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada ditengah-tengah manusia yang memiliki berbagai bentuk peribadahan. Di antara mereka ada yang menyembah Para malaikat, Para nabi, Orang-orang shalih, Pepohonan, Bebatuan, Matahari, dan bulan. Mereka semua diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau tidak membedakan mereka.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :
Artinya:
“Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan agar agama ini untuk Allah semata” (QS.Al-Baqarah: 193).
(Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M, hlm.36)
Dalil bahwa Kaum Musyrikin ada yang Menyembah Matahari dan Bulan
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Dalil matahari dan bulan adalah firman Allah Ta’ala :
Artinya:
“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam , siang , matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan” (QS.Fushshilat: 37).
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 35》
Dalil bahwa Kaum Musyrikin ada yang Menyembah Matahari dan Bulan
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Dalil matahari dan bulan adalah firman Allah Ta’ala :
Artinya:
“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam , siang , matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan” (QS.Fushshilat: 37).
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 36-37》
Dalil Bahwasanya Kaum Musyrikin ada yang Menyembah Malaikat
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Dalil para Malaikat adalah firman Allah Ta’ala :
“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat : “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?”.
Artinya:
Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. (QS. Saba’ 34:41)
Artinya:
“Dan dia (Nabi Muhammad) tidak pernah memerintahkan kalian untuk menjadikan para Malaikat dan para Nabi sebagai sembahan-sembahan” (QS. Ali ‘Imran: 80)]].
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 37》
Dalil Bahwasanya Kaum Musyrikin ada yang Menyembah Para Nabi
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan : “Dalil (penyembahan mereka kepada) para Nabi adalah firman Allah Ta’ala :
Artinya:
“Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman: Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sesembahan selain Allah?”. ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib (QS.Al-Maidah: 116).
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 37》
Dalil Bahwasanya Kaum Musyrikin ada yang Menyembah Orang-orang Shaleh
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan : “Dalil (penyembahan mereka kepada) orang-orang shalih adalah firman Allah Ta’ala :
Artinya:
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (dengan Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya” (QS.Al-Isrā`: 57).
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 38》
Dalil bahwasanya Kaum Musyrikin ada yang Menyembah Pepohonan dan Bebatuan
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan : “Dalil (penyembahan mereka kepada) pepohonan dan bebatuan adalah firman Allah Ta’ala :
Artinya:
“Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-lāta dan Al-‘Uzza, dan Manat yang ketiga yang paling terakhir (sebagai anak perempuan Allah) ?” (QS.An-Najm: 19-20).
Dan hadits Abi Waqid Al-Laitsi, dia berkata : “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju (perang) Hunain, dan ketika itu kami baru saja terbebas dari kekafiran (muallaf).
Sementara itu, orang-orang musyrik mempunyai sebuah pohon bidara yang dipakai berdiam diri (dalam bentuk beribadah) di sisinya dan mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di situ (untuk cari berkah, pent.).
Pohon itu dikenal dengan nama Dzatu Anwath (yang mempunyai tempat menggantung).
Kami kemudian melalui pohon bidara itu, lalu kami mengatakan:
“Wahai Rasulullah, jadikanlah bagi kami pohon untuk menggantungkan senjata dalam rangka mencari berkah, sebagaimana mereka (musyrikin) mempunyai pohon tersebut….” Al-Hadits.
(Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 38-39)
Kaidah Keempat untuk Memahami Kesyirikan
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah ta’ala mengatakan :
“Kaidah keempat: Sesungguhnya kaum musyrikin di zaman kita lebih parah dibandingkan kaum musyrikin zaman dulu.
▪️Kaum musyrikin zaman dahulu berbuat syirik pada saat lapang (bergelimang kenikmatan) dan mereka mengikhlaskan (ibadah kepada Allah semata) ketika berada dalam keadaan sempit (tertimpa musibah).
▪️Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita berbuat syirik dalam setiap keadaan, baik ketika lapang maupun sempit.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :
Artinya:
“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah]”
(QS.Al- Ankabut: 65).
《Matn Al-Qawā’id Al-Arba’ Maktabah Al-Malik Al-Fahd Mutun Thālib Al-‘Ilmi Mustawa Al-Awwal Cetakan ke enam 1349 H – 2018 M halaman : 40》
Wallahu a’lam bish-shawab. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.