
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Berikut ini beberapa nasehat ulama dalam menuntut ilmu dan mendayagunakan akal pikiran.
Orang yang Berakal
Sufyan bin Uyainah rahimahullah mengatakan:
Artinya:
“Orang yang berakal bukanlah orang yang hanya mengetahui kebaikan dan keburukan. Orang yang berakal tiada lain adalah orang yang apabila melihat kebaikan, ia mengikutinya; dan apabila melihat keburukan, ia pun menjauhinya.” [Sumber: Hilyatul Auliya’, jilid 8, hlm. 339 dan Syu’abul Iman no. 4664]
Akal Tidak Bisa Berdiri Sendiri
Imam Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan:
Artinya:
“Sesungguhnya (di antara) nikmat terbesar atas manusia adalah akal. Akal merupakan alat untuk mengenal ilah yang disembah (yaitu Allah). Akal juga jalan yang mengantarkan untuk membenarkan para rasul. Hanya saja, akal tidak bisa berdiri sendiri dalam mengetahui segala yang diinginkan dari seorang hamba. Itu sebabnya, para rasul pun diutus dan kitab-kitab suci pun diturunkan. Dengan demikian, syariat layaknya matahari sedangkan akal layaknya mata. Jika mata terbuka dan dalam kondisi sehat, niscaya akan melihat matahari.” [Sumber: Talbis Iblis, hlm. 3]
Salah Satu Sebab Sedikitnya Ilmu
Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:
Artinya:
“Kalau bukan karena lupa, niscaya ilmu itu akan sangat banyak.” [Sumber: Siyar A’lam Nubala’, jilid 4, hlm. 569]
Beginilah, Orang yang Fakih
Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:
Artinya:
“Apakah engkau pernah melihat seorang yang fakih dengan matamu? Seorang yang fakih adalah dia yang zuhud terhadap dunia, paham terhadap agamanya, dan selalu beribadah kepada Rabbnya.” [Sumber: Siyar A’lam Nubala’, jilid 4, hlm. 576]
Banyak Bekal Kebaikan, Tetapi Beramal dengan Kebodohan
Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:
Artinya:
“Janganlah (engkau) menjadi bagian dari orang-orang (yang) mengumpulkan ilmu (dari para ulama), dan membingkai (kebaikan) orang-orang bijak, dan (malah) mengalir dalam amalan arus orang-orang bodoh.” [Sumber: Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Diin, Beirut: Daar al-Ma’rifah, juz I, hlm. 59]
Hakikat Pemikiran yang Rendah
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan:
Artinya:
“Pemikiran yang rusak adalah makanan pokok bagi jiwa yang hina, jiwa yang berada pada puncak kerendahan.” [Sumber: Miftah Daris Sa’adah, jilid 1, hlm. 528]
Binasa karena Kebodohannya
Imam Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:
“Bacalah al-Quran hingga al-Quran bisa mencegahmu (dari kemaksiatan). Jika al-Quran belum mampu membuat engkau berhenti dari maksiat, berarti kamu belum membacanya. Terkadang, ada seseorang yang mempelajari fikih, namun dia tidak benar-benar memahaminya. Seseorang yang tidak bisa mengambil manfaat dari ilmunya, dia akan binasa karena kebodohannya.” [Sumber: az-Zuhud, karya Imam Ahmad, hlm. 231]
Ilmu, Amal, dan Keikhlasan
Sahl bin Abdillah at-Tasturi rahimahullah berkata:
Artinya:
“Dunia seluruhnya adalah kebodohan kecuali berilmu padanya, dan Ilmu seluruhnya adalah bencana kecuali beramal dengannya, dan amalan seluruhnya adalah debu yang beterbangan kecuali ada keikhlasan padanya, dan ikhlash itu adalah engkau berada dalam kekhawatiran, hingga engkau mengetahui apakah diterima darinya ataukah tidak.” [Sumber: Abu Nuaim al-Asfahani, dalam al-Hilyah, jilid 10, hlm. 194]
Negeri yang Sudah Mati Ilmunya
Suatu ketika Sufyan ats-Tsauri rahimahullah tiba di Asqalan. Selama berada di sana, tak ada seorang pun bertanya kepadanya tentang ilmu. Dia berkata, “Tenggelamkan saja negeri ini, dan aku keluar dari sini. Ini adalah negeri dimana ilmu telah mati.” Catatan: Imam Sufyan ats-Tsauri tidak ingin menetap di suatu negeri yang di sana tidak ada kegiatan belajar dan majelis ilmu. [Sumber: ‘Ihya ‘Ulumuddin, juz 1, hlm. 11]