Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Beberapa Nasehat Ulama dalam Menuntut Ilmu

Beberapa Nasehat Ulama dalam Menuntut Ilmu

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Berikut ini beberapa nasehat ulama dalam menuntut ilmu dan mendayagunakan akal pikiran.

Orang yang Berakal

Sufyan bin Uyainah rahimahullah mengatakan:

 

ليس العاقل الذي يعرف الخير والشر؛ إنما العاقل الذي إذا رأى الخير اتبعه، وإذا رأى الشر اجتنابه

 

Artinya:

“Orang yang berakal bukanlah orang yang hanya mengetahui kebaikan dan keburukan. Orang yang berakal tiada lain adalah orang yang apabila melihat kebaikan, ia mengikutinya; dan apabila melihat keburukan, ia pun menjauhinya.” [Sumber: Hilyatul Auliya’, jilid 8, hlm. 339 dan Syu’abul Iman no. 4664]

Akal Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan:

 

إِن أعظم النعم عَلَى الإنسان العقل لأنه الآلة فِي معرفة الإله سبحانه والسبب الذي يتوصل به إِلَى تصديق الرسل إلا أنه لما لم ينهض بكل المراد من العبد

بعثت الرسل وأنزلت الكتب فمثال الشرع الشمس ومثال العقل العين فَإِذَا فتحت وكانت سليمة رأت الشمس

 

Artinya:

“Sesungguhnya (di antara) nikmat terbesar atas manusia adalah akal. Akal merupakan alat untuk mengenal ilah yang disembah (yaitu Allah). Akal juga jalan yang mengantarkan untuk membenarkan para rasul. Hanya saja, akal tidak bisa berdiri sendiri dalam mengetahui segala yang diinginkan dari seorang hamba. Itu sebabnya, para rasul pun diutus dan kitab-kitab suci pun diturunkan. Dengan demikian, syariat layaknya matahari sedangkan akal layaknya mata. Jika mata terbuka dan dalam kondisi sehat, niscaya akan melihat matahari.” [Sumber: Talbis Iblis, hlm. 3]

Salah Satu Sebab Sedikitnya Ilmu

Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

 

لولا النسيان كان العلم كثيرا

 

Artinya:

“Kalau bukan karena lupa, niscaya ilmu itu akan sangat banyak.” [Sumber: Siyar A’lam Nubala’, jilid 4, hlm. 569]

Beginilah, Orang yang Fakih

Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

 

وهل رأيت فقيها بعينك! إنما الفقيه: الزاهد في الدنيا، البصير بدينه، المداوم على عبادة ربه

 

Artinya:

“Apakah engkau pernah melihat seorang yang fakih dengan matamu? Seorang yang fakih adalah dia yang zuhud terhadap dunia, paham terhadap agamanya, dan selalu beribadah kepada Rabbnya.” [Sumber: Siyar A’lam Nubala’, jilid 4, hlm. 576]

Banyak Bekal Kebaikan, Tetapi Beramal dengan Kebodohan

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

 

لا تكن ممن يجمع علم العلماء، وطرائف الحكماء، ويجري في العمل مجرى السفهاء

 

Artinya:

“Janganlah (engkau) menjadi bagian dari orang-orang (yang) mengumpulkan ilmu (dari para ulama), dan membingkai (kebaikan) orang-orang bijak, dan (malah) mengalir dalam amalan arus orang-orang bodoh.” [Sumber: Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Diin, Beirut: Daar al-Ma’rifah, juz I, hlm. 59]

Hakikat Pemikiran yang Rendah

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan:

 

فالأفكار الرديَّةُ: هي قُوتُ الأنفس الخسيسة، التي هي في غاية الدناءة

 

Artinya:

“Pemikiran yang rusak adalah makanan pokok bagi jiwa yang hina, jiwa yang berada pada puncak kerendahan.” [Sumber: Miftah Daris Sa’adah, jilid 1, hlm. 528]

Binasa karena Kebodohannya

Imam Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

 

اقرأ القرآن ما نهاك فإذا لم ينهك فلست تقرؤه رب حامل فقه غير فقيه ومن لم ينفعه علمه ضره جهله

 

“Bacalah al-Quran hingga al-Quran bisa mencegahmu (dari kemaksiatan). Jika al-Quran belum mampu membuat engkau berhenti dari maksiat, berarti kamu belum membacanya. Terkadang, ada seseorang yang mempelajari fikih, namun dia tidak benar-benar memahaminya. Seseorang yang tidak bisa mengambil manfaat dari ilmunya, dia akan binasa karena kebodohannya.” [Sumber: az-Zuhud, karya Imam Ahmad, hlm. 231]

Ilmu, Amal, dan Keikhlasan

Sahl bin Abdillah at-Tasturi rahimahullah berkata:

 

 الدُّنْيَا كُلُّهَا جَهْلٌ إِلَّا الْعِلْمَ فِيهَا، وَالْعِلْمُ كُلُّهُ وَبَالٌ إِلَّا الْعَمـَلَ بِهِ، وَالْعَمَلُ كُلُّهُ هَبَاءٌ مَنْثُورٌ إِلَّا الْإِخْلَاصَ فِيهِ، وَالْإِخْلَاصُ فِيهِ أَنْتَ مِنْهُ عَلَى وَجَلٍ حَتَّى تَعْلَمَ هَلْ قُبـِلَ أَمْ لَا

 

Artinya:

“Dunia seluruhnya adalah kebodohan kecuali berilmu padanya, dan Ilmu seluruhnya adalah bencana kecuali beramal dengannya, dan amalan seluruhnya adalah debu yang beterbangan kecuali ada keikhlasan padanya, dan ikhlash itu adalah engkau berada dalam kekhawatiran, hingga engkau mengetahui apakah diterima darinya ataukah tidak.” [Sumber: Abu Nuaim al-Asfahani, dalam al-Hilyah, jilid 10, hlm. 194]

Negeri yang Sudah Mati Ilmunya

Suatu ketika Sufyan ats-Tsauri rahimahullah tiba di Asqalan. Selama berada di sana, tak ada seorang pun bertanya kepadanya tentang ilmu. Dia berkata, “Tenggelamkan saja negeri ini, dan aku keluar dari sini. Ini adalah negeri dimana ilmu telah mati.” Catatan: Imam Sufyan ats-Tsauri tidak ingin menetap di suatu negeri yang di sana tidak ada kegiatan belajar dan majelis ilmu. [Sumber: ‘Ihya ‘Ulumuddin, juz 1, hlm. 11]

 

 

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Sejarah Masuknya Islam di Pangkep
Oleh : Immim pangkep

Sejarah Masuknya Islam di Pangkep

0 Komentar

KELUAR