Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Sejarah Masuknya Islam di Pangkep

Sejarah Masuknya Islam di Pangkep

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Masuknya Islam ke Nusantara menurut Sarjana-sarjana Barat

BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri penulis masih diberikan kesehatan, waktu luang dan kesempatan untuk menulis: berbagi berbagai artikel dan esai khazanah keilmuan Islam, termasuk sejarah lokal Sulawesi Selatan, dan terkhusus lagi Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Kabupaten Pangkep.

Beberapa waktu lalu, Wahyullah, jurnalis MUI Pangkep TV mewawancarai penulis terkait Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Kabupaten Pangkep. Video Hasil Wawancara tersebut bisa disaksikan di Channel MUI Pangkep TV. Sebagai salah satu kabupaten yang masyarakatnya dikenal religius dalam wilayah Sulawesi Selatan, Kabupaten Pangkep memiliki sejarah panjang tentang masuk dan berkembangnya Islam, bahkan jauh lebih tua dan lama dibandingkan Gowa-Tallo (Kerajaan Makassar), kerajaan yang pernah memproklamirkan diri sebagai “Kerajaan Islam” yang terbesar dan pernah berjaya di Nusantara bagian timur.

Untuk membahas Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di bekas wilayah Kerajaan Siang, yang kini bernama Kabupaten Pangkep, sebetulnya tak banyak referensi yang bisa dikuliti. Siang sebenarnya adalah Kerajaan Prasejarah, dimana tidak ada catatan tertulis tentangnya, termasuk tradisi palontaraq alpa untuk mencatat perkembangan dan dinamika Siang, yang disebut dalam catatan pelaut Portugis, Antonio de Payva, sebagai Kerajaan “Maritim” Makassar yang pernah ada dan berjaya, namun tidak lagi pada saat kedatangannya, pada Tahun 1452. Artinya, pada saat kedatangan Antonio de Payva ke Bandar Pelabuhan Siang, Kerajaan Siang itu sudah menurun pengaruhnya dan tinggal menunggu waktu akan kehilangan eksistensinya. Salah satu sebabnya karena faktor ekonomi, bandar pelabuhan Siang mengalami pengendapan (penyempitan) selama ratusan tahun yang membuatnya tidak strategis lagi dikunjungi oleh para pedagang dari sebelah barat kepulauan Nusantara.

Namun ada satu catatan Pelaut Portugis itu yang menarik untuk dikaji, yaitu adanya komunitas pedagang Melayu yang bermukim di sepanjang pesisir Siang dan bahkan keberadaannya sudah menyatu dengan penduduk pribumi setempat. Raja Siang menginformasikan kepada Antonio de Payva bahwa Orang-orang Melayu itu sudah lama ada di Siang—disebut-sebut sekitar 50 tahun sebelumnya kedatangan Pelaut Portugis itu. Ini menarik. Faktanya, bahwa Orang-orang Melayu dimaksud adalah Beragama Islam. Berarti juga, Islam sudah masuk di Siang, sekitar 50 Tahun sebelum kedatangan rombongan Pelaut Portugis yang dipimpin oleh Antonio de Payva, yakni sekitar Tahun 1402.

Atas hipotesa diatas, penulis membandingkan proses masuknya Islam di Siang dan masuknya Islam di Kerajaan Makassar (Gowa-Tallo). Islam masuk di Siang melalui pintu perdagangan dengan Orang-orang Melayu. Pihak Istana Siang ketika itu malah melakukan penentangan Islam masuk Istana, dalam beberapa catatan Portugis disebutkan demikian. Hal ini karena masih besarnya pengaruh Komunitas Bissu dalam Istana, sebagai penasehat Raja. Sementara di Kerajaan Makassar (Gowa-Tallo) sendiri, Islam masuk melalui pintu Istana (Politik).  Perubahan sosial budaya yang drastis terjadi ketika Kerajaan Makassar mengadopsi Islam sebagai agama resmi pada awal 1607 melalui proses panjang dakwah yang dilakukan Dato Tallua (Dato ri’ Bandang, Dato ri Tiro dan Datok Patimang) ke berbagai wilayah Kerajaan Makassar dan sekitarnya. Jadi, ada perbedaan selisih sekitar 200 tahun Islam sudah masuk di Siang sebelum menjadi agama resmi Kerajaan Makassar. 

Demikian catatan singkat ini, penulis ketengahkan di hadapan pembaca yang budiman agar dapat menjadi kajian bersama tentang Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Siang (Kabupaten Pangkep). Semoga jika ada waktu dan diberikan kesehatan, dapat melanjutkannya di postingan berikutnya. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes MOdern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

 

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

‘Adad At-Tartibi
Oleh : Immim pangkep

‘Adad At-Tartibi

0 Komentar

KELUAR