
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Sebelumnya: Nadhom Lamiyah Ibnul Wardi – 6 (Bait 53-62)
BLOGGURU – Nadhom apa itu Nadhom Lamiyah Ibnul Wardi? Nadhom Lamiyah Ibnu Wardi disebut juga dengan nama “Nashihatul Ikhwan wa Mursyidatul Khullan”, yang artinya Nasehat bagi saudara-saudara, dan Petunjuk bagi para sahabat.
Nadhom Lamiyah Ibnu Wardi adalah sebuah nadhom tentang hukum dan adab, berisi pesan dan nasehat yang bijak, petunjuk kepada manusia tentang apa-apa yang bermanfaat dan baik sebagai bekal kebahagiaan dunia dan akherat. Nadhom Lamiyah Ibnu Wardi dapat juga dimaknai sebagai Qosidah yang luas maknanya, sempurna bentuknya, dan dalam bahasa yang bagus, dan indah. Sehingga sebagian bait dari qosidah atau nadhom tersebut menjadi mutiara hikmah yang seringkali dibawakan dalam majelis ilmu, ceramah dan dauroh ilmiyah.
Siapa sebenarnya Ibnul Wardi? Beliau bernama lengkap Umar bin Mudzoffar bin Umar bin Muhammad bin Abil Fawaris Abu Hafs Zainuddin ibnul Wardi. Beliau lahir Tahun 691 H (1292 M) dan wafat dalam Tahun 749 H (1349 M).
Karya tulis Ibnul Wardi selain Nadhom Laamiyah Ibnul Warni, diantaranya adalah:
1. Kharīdat al-ʿAjā’ib wa farīdat al-gha’rāib (Mutiara Keajaiban dan Keunikan hal-hal aneh), sebuah risalah geografis dengan bagian-bagian tentang sejarah alam.
2. Nadzmul Bahjah al Wardiyah, nadhom fiqih sebanyak 5063 bait.
3. Al Lubab fil I’rob
4. Syarah Alfiyah ibnu Malik
5. Syarah alfiyah ibnu Mu’ti.
Diantara ulama yang mensyarah karyanya adalah Syaikh Mas’ud Bin Hasan Al-Qinawi, yang mensyarah Nadhom Lamiyah Ibnul Wardi, dengan judul karya “Fathur Rohimir Rohman”.
Demikian sekilas tentang Ibnul Wardi dan berikut ini, Nadhom Lamiyah Ibnul Wardi – Part 7 (Bait 63-75):
– Laamiyah Ibnul Wardi –
Berkunjulang jarang-jarang karena hal ini akan menambah rasa cinta. Banyak berkunjung justru malah menambah rasa bosan
Kemuliaan seseorang tidak akan hilang sebab tidak memiliki harta, sebagaimana sinar matahari tidak akan hilang sebab munculnya kegelapan.
Ambillah mata pedang dan tinggalkan lah bungkusnya, karena kemuliaan seseorang bukan dikarenakan perhiasannya.
Kecintaanmu pada kampung halaman adalah sebuah kelemahan, Merantaulah maka engkau akan menemukan pengganti keluarga.
Air akan membusuk sebab diam dan bulan akan menampakkan purnamanya sebab berjalan.
Wahai para pencaci, jangan main main dengan ucapanku, sesungguhnya kecoa membenci wanginya mawar
Menghindarlah dan bersembunyilah jangan sampai panah dari Qobilah Tsual mengenai kalian
Jangan engkau tertipu dengan kelembutan seseorang karena ular yang lembutpun memiliki bisa yang mematikan.
Aku bagaikan air yang menyegarkan orang yang dahaga, tapi jika engkau panaskan maka aku akan menyakitimu bahkan membunuh.
Aku bagaikan kayu rotan, sulit dipatahkan tapi lentur dikendalikan
Hanya saja Aku hidup dizaman orang yang memiliki uang dialah yang berkuasa.
Dialah yang berkuasa dan wajib dimuliakan. Dan orang yang sedikit hartanya dianggap tidak berharga.
Seluruh orang dizamanku adalah orang orang yang tidak berpengalaman -dan aku termasuk bagian mereka – dan tinggalkanlah sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu. (***)