Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (3): Nasehat yang Berisi Dua Perkara

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (3): Nasehat yang Berisi Dua Perkara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Nashoihul ‘Ibad ( نصائح العباد ) adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh salah satu ulama Nusantara Abad ke-19 dari Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab Nashoihul Ibad berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam.

Salah satu fokus utama kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Berikut ini Seri Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani, dan untuk Bagian Kedua ini memuat Terjemah dari Bab (1): Nasehat yang Berisi Dua Perkara, sambungan dari Bab yang sama dari seri sebelumnya

4. Umar dan Abu Bakar r.a.

 

Mengutip dari Syekh Abdul Mur’thi As Samlawi, diriwayatkan dari Umar r.a., sesungguhnya Nabi saw. bertanya kepada Malaikat Jibril a.s.:

“Kemukakan kepadaku tentang kebaikan Umar, lalu Jibril menjawab: Andaikata lautan menjadi tintanya dan pohon-pohon menjadi penanya, niscaya aku tidak akan mampu menghitungnya. Lalu Nabi bertanya lagi kepadanya: Sekarang, kemukakanlah kebaikan Abu Bakar! Berkata Jibril: Umar adalah salah satu kebaikan dari beberapa kebaikan “Abu Bakar.”

Dalam hal ini dinyatakan sebagai berikut:

“Keluhuran dunia dicapai dengan harta, sedang keluhuran akhirat dicapai dengan amal saleh.”

Urusan dunia tidak akan menjadi kuat dan maslahat melainkan dengan harta, seperti halnya urusan akhirat akan menjadi kuat dan maslahat hanya jika dicapai dengan amal saleh.

 

Dari Utsman r.a.:

“Bingung memikirkan dunia akan menjadikan hati gelap, sedangkan bingung memikirkan akhirat akan menjadikan hati terang.”

 

Dari Ali r.a.: ,

“Barangsiapa mencari ilmu, maka surgalah yang dicari dan barangsiapa mencari maksiat, maka nerakalah yang dicarinya.”

Maksudnya, barangsiapa yang sibuk mencari ilmu yang bermanfaat, yaitu pengetahuan-pengetahuan yang harus diketahui orang dewasa, maka pada hakikatnya dia tengah mencari surga dan ridha Allah. Sebaliknya, siapa yang ingin melakukan maksiat, pada hakikatnya dia ingin menuju neraka dan murka Allah.

 

“Orang mulia tidak berani berbuat maksiat kepada Allah dan orang yang bijaksana tidak akan mementingkan dunia atas akhirat.”

Orang yang mulia adalah orang yang baik perbuatannya, yang memuliakan dirinya dengan cara mempertebal ketakwaan dan kewaspadaan – dalam menghadapi maksiat.

Sedangkan orang bijaksana adalah orang yang tidak mendahulukan mengutamakan dunia dan yang menahan nafsunya dari perbuatan yang menyeleweng dari petunjuk akalnya yang sehat.

 

Dari Al-A’masyi r.a.

“Barangsiapa yang modal pokoknya takwa, maka lidah-lidah menjadi kelu untuk menyifati keuntungan agamanya. Dan barangsiapa yang modal pokoknya dunia, maka lidah juga tidak mampu menjumlah kerugian agamanya.”

Orang yang memegangi prinsip ketakwaan, menjunjung tinggi perintah Allah dan menjauhi laku-durhaka, serta segala perbuatannya berasaskan norma syariat, maka akan memperoleh kebajikan yang tiada terhingga banyaknya. Sedangkan yang memegangi norma-norma yang berselisih dengan syarak akan memperoleh kerugian yang banyak, sehingga sulit dibilang berapa jumlahnya.

 

Dari Bufyan Ats-Tsauri r.a.:

“Setiap maksiat yang timbul dari syahwat dapatlah diharapkan ampunannya, tapi setiap durhaka yang timbul dari sikap sombong tidak. dapat diharap ampumannya: karena kedurhakaan iblis itu berpangkal dari kesombongan, sedangkan kesalahan Adam a.s. berpangkal dari syahwat.”

Sufyan Ats-Tsauri r.a. adalah guru besar Imam Malik. Maksud hadis diatas: Setiap maksiat yang timbul dari keinginan nafsu, yaitu keinginan untuk berbuat sesuatu, maka ada harapan untuk diampuni. Sebaliknya, setiap maksiat yang timbul karena kesombongan,maka tidak ada harapan untuk diampuni. Karena maksiat yang dilakukan dari kesombongan berasal dari iblis, dia menganggap dirinya lebih baik daripada junjungan kita Nabi Adam a.s. Sedangkan kesalahan junjungan kita Nabi Adam a.s., berasal dari keinginan, yaitu keinginan beliau untuk mencicipi buah pohon yang dilarang-Nya.

 

Sebagian dari ahli zuhud berkata:

“Barangsiapa berbuat dosa sambil tertawa, maka Allah akan melempar dia ke neraka dalam keadaan menangis. Dan barangsiapa dengan menangis berbuat taat, maka Allah akan memasukkannya ke surga dalam keadaan tertawa.”

Ahli Zuhud, yaitu orang-orang yang tidak mempedulikan dunia. Mereka mengambilnya untuk sekadar keperluan yang sangat dibutuhkan saja. Maksud hadis di atas, barangsiapa yang berbuat suatu dosa dengan tertawa, yakni menanggung dosa dengan perasaan gembira atas dosanya itu, maka sesungguhnya Allah akan memasukkan dia ke neraka dalam keadaan menangis. Seharusnya dia bersedih dan beristigfar kepada Allah Swt., agar diampuni dosanya. Dan barangsiapa yang taat sambil menangis, – yakni takut kepada Allah swt. karena merasa telah menyepelekan kewajibannya, maka kelak dia akan masuk surga dengan penuh kegembiraan. Orang seperti ini sekaligus telah berbuat dua kebajikan: Kebajikan taat itu sendiri dan kebajikan penyesalannya terhadap dosa yang telah dia lakukan.

 

(Bersambung …. )

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Khazanah Keilmuan Islam

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Hukum Bacaan Mad 'Iwad
Oleh : Immim pangkep

Hukum Bacaan Mad ‘Iwad

0 Komentar

KELUAR