Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (5): Nasehat yang Berisi Dua Perkara

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (5): Nasehat yang Berisi Dua Perkara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Nashoihul ‘Ibad ( نصائح العباد ) adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh salah satu ulama Nusantara Abad ke-19 dari Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab Nashoihul Ibad berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam.

Salah satu fokus utama kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Berikut ini Seri Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani, dan untuk Bagian kelima ini memuat Terjemah dari Bab (1): Nasehat yang Berisi Dua Perkara, sambungan dari Bab yang sama dari seri sebelumnya.

 

Ada yang mengatakan:

“Sesungguhnya syahwat itu dapat mana raja menjadi hamba dan kesabaran dapat mengubah hamba menjadi raja, bukankah anda melihat kisah Yusuf dan Zulaikha?”

Syahwat adalah keinginan dan kesenangan, padahal orang yang senang terhadap sesuatu, maka di saat itulah telah menjadi hamba sesuatu yang disenangi itu. Kesabaran adalah ketabahan, di mana dengan ketabahan inilah orang dapat menggapai yang dimaksud.

Dalam kisahnya: Zulaikha yang permasuri raja itu amat mencintai Yusuf, namun dengan penuh kesabaran si Yusuf mampu menghadapi segala bujuk rayu dan tipu daya Zulaikha. Akhirnya, Yusuf si budak itu menjadi raja.

 

 

Ada yang mengatakan:

“Berbahagialah orang yang akalnya menjadi pemimpin dan hawa nafsunya menjadi tawanan dan celakalah orang yang hawa nafsunya menjadi pemimpin sedang akalnya menjadi tawanan.”

Orang yang akalnya menjadi pemimpin dan hawa nafsunya menjadi tawanan, adalah orang yang mengikuti kehendak akalnya yang lurus dan nafsunya enggan melakukan larangan Allah swt., yaitu perkara-perkara yang tidak sesuai dengan syarak. Maksud orang yang hawa nafsunya menjadi pemimpin dan akalnya menjadi tawanan, adalah orang yang akatnya tidak lagi berfungsi untuk bertafakur mengenali Allah dengan segala kenikmatan dan keagungannya.[]

 

(Bersambung …. )

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Khazanah Keilmuan Islam

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR