Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin – Djuz 2 (8): Kewajiban terhadap Pelayan dan Cara Memaafkannya

Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin – Djuz 2 (8): Kewajiban terhadap Pelayan dan Cara Memaafkannya

BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 2 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.

14. Apa Kewajibanmu terhadap Pelayanmu? 

1. Engkau wajib memperlakukan pelayanmu secara baik dengan berbicara kepadanya dengan lemah lembut apabila engkau menginginkan sesuatu darinya. Dan janganlah engkau menyakitinya dengan kata-kata yang kasar dan jangan pula membentaknya atau bersikap sombong terhadapnya. Hendaklah engkau menunjukkan kesalahannya jika ia bersalah dengan lembut dan lunak, kemudian memaafkannya. Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW., “Berapa kali kita memberi maaf kepada pelayan ya Rasulullah ?” Beliau menjawab, “Maafkanlah dia setiap hari 70 kali.”
2. Apabila engkau memanggil pelayanmu sedangkan ia tidak segera menjawabmu, atau engkau menyuruhnya melakukan sesuatu, lalu ia berlambat-lambat, maka jangan terburu-buru menegurnya. Mungkin saja ia tidak mendengar suaramu atau sibuk. Hendaklah engkau suka memaafkan. dan bersabar atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan para pelayan, karena mereka biasanya tidak terdidik. Apabila mereka melayanimu dengan baik, maka janganlah engkau lupa berterima kasih kepada mereka atas kebaikan mereka dan memberi mereka imbalan atas hal itu.

Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan” (Ar Rahmaan: 60).

3. Janganlah menunjukkan kepada pelayan rahasia rahasia ayahmu agar tidak ada keinginan padanya untuk mencuri, dan jangan mengandalkannya dalam setiap keadaan. Hendaklah engkau berhati-hati terhadapnya. Jangan duduk bersamanya untuk bergurau dan berbicara yang tak berguna agar engkay tidak mengikuti tabiatnya dan tidak jatuh derajatmu di sisinya, dan agar ia tidak berani terhadapmu serta tidak berkurang adabnya terhadap dirimu. Janganlah menganiaya pelayan dengan membebaninya pekerjaan yang melebihi tenaganya atau tidak memberikan upahnya atau menunda-nundanya atau mengurangi upah yang berhak diperolehnya.

Dalam hadits: “Menzhalimi (-berbuat aniaya) pelayan mengenai upahnya termasuk dosa besar.” Janganlah memukulnya tanpa hak. Dalam hadits: “Barang siapa memukul dengan cambuk secara aniaya, ia akan dibalas atas perbuatan itu pada hari kiamat.”

15. Cara Memaafkan Pelayan 

1. Adalah Rasulullah SAW. tidak pernah membentak seorang pelayan pun. Sahabat Anas r.a. berkata, “Aku melayani Nabi SAW. selama 10 tahun, namun beliau tidak pernah mengatakan kepadaku, “Uff (cih)” sama sekali. Dan beliau tidak pernah berkata atas segala sesuatu yang aku lakukan: kenapa engkau lakukan itu? Dan tidaklah beliau berkata atas segala sesuatu yang aku tinggalkan: kenapa engkau meninggalkannya? Tidaklah istri-istrinya mencela aku, melainkan beliau berkata: biarkan dia. Sesungguhnya hal ini terjadi karena telah ditetapkan oleh takdir Allah.”

2. Diceritakan bahwa Imam Ali Karromallahu wajhahu memanggil seorang sahayanya, namun ia tidak menjawabnya. Maka Imam Ali memanggilnya untuk kedua dan ketiga kalinya. Namun ia tidak menjawabnya. Kemudian beliau mendatanginya. Dilihatnya sahaya itu sedang berbaring.

Maka Imam Ali berkata, “Hai anak, tidakkah engkau mendengar?” Anak itu menjawab: “Ya”. Imam Ali berkata: “Mengapa engkau tidak menjawab aku, ketika aku memanggilmu?” Anak itu menjawab: “Karena aku merasa aman dari hukumanmu. Maka aku pun bermalas-malasan.” Maka Imam Ali berkata, “Pergilah, engkau bebas merdeka demi ridha Allah.”

3. Diceritakan dari Qais bin ‘Ashim bahwa di saat ia sedang duduk pada suatu hari di rumahnya, tiba-tiba datang . kepadanya seorang sahaya perempuan membawa alat pemanggang daging yang ada dagingnya. Tiba-tiba alat itu terjatuh dari tangannya hingga menimpa seorang anaknya, lalu meninggal dunia. Sahaya itu terkejut. Kemudian Qais berkata kepadanya, “Tidak perlu engkau merasa takut.” Qais memaafkannya dan membebaskannya karena Allah Ta’ala. (*)

 

(Bersambung …. )

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR