
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Siapa yang tidak kenal Imam Abu Hasan al-Asyari أبو الحسن الأشعري) )? Nama lengkap beliau: Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Abu Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari Abdullah bin Qais bin Hadhar. Imam Asy’ari adalah salah seorang keturunan dari sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Abu Musa Al-Asy’ari. Beliau lahir di Bashrah pada tahun 260 H/873 M dan wafat di Baghdad pada tahun 324 H/935 M. Sebagian besar hidupnya berada di Baghdad.
Orang Pondok Pesantren seringkali mengatakan, “Jangan sebut diri golongan Ahlussunnah wal jama’ah, kalau belum mengenal Imam Abu Hasan al-Asyari ini.” Hal ini karena Imam Abu Hasan Asy’ari (873-935 M), yang dilahirkan di Basrah, Irak, pada tahun 260 H/873 M adalah Pendiri madzhab teologi Asy’ariyah. Ulama ahli hadis sepakat bahwa Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (mendapat julukan Nashir ad-Din) merupakan salah satu pembesar ahli hadits, sehingga madzhabnya dilandaskan pada asas dasar yang sesuai dengan prosedur Ahli Sunah Waljamaah.
Masa Kecil Imam Asy’ari
Ayah beliau, Ismail adalah seorang ulama ahli hadis yang menganut paham Ahlus-Sunnah wal Jama’ah. Hal ini terbukti bahwa ketika Ismail menjelang wafat berwasiat agar al-Asy’ari diasuh oleh Zakaria As-Saji, pakar hadis dan fikih mazhab Syafi’i yang sangat populer di kota Bashrah, sebagaimana diungkap Ibnu Asakir (1347 H) dalam Tabyin Kidzb al-Muftari. Damaskus: Percetakan al-Taufiq. hlm. 35. Imam Asy’ari juga menimba ilmu dari ulama ahli hadis lainnya, seperti Abdurrhaman bin Khalaf al-Dhabbi, Sahal bin Nuh al-Bashri, Muhammad bin Ya’qub al-Maqburi, dan lain-lain. Hal tersebut mengantarkan al-Asy’ari menjadi ulama yang menguasai hadits, tafsir, fikih, ushul fikih, dan lain-lain.
Di usianya yang relatif muda, ayah Imam Asy’ari berpulang ke rahmatullah. Maka, beliau belajar di bawah bimbingan ayah tirinya, yaitu Abu Ali al-Juba`i yang merupakan tokoh Muktazilah di Kota Bashrah kala itu. Berkenaan dengan hal ini, al-Hafizh adz-Dzahabi menyatakan, “Abu al-Hasan al-Asy’ari awalnya seorang Muktazilah mengambil ilmu dari Abu Ali al-Juba`i. Kemudian beliau lepaskan pemikiran Muktazilah, lalu menjadi pengikut sunnah dan imam para ahli hadits.”
Tajuddin as-Subki menyatakan bahwa selama 40 tahun Abu al-Hasan al-Asy’ari menganut madzhab Muktazilah sebelum akhirnya Allah melapangkan dadanya, lalu membela Agama Allah dengan membantah segala pemikiran yang sesat.
Ibnu ‘Asakir mengisahkan darinya (Abu al-Hasan al-Asy’ari), bahwa ia berkata, “Terbenak di hatiku (Abu al-Hasan), beberapa permasalahan dalam ilmu akidah. Maka, aku pun berdiri untuk menjalankan shalat dua rakaat. Dan aku meminta kepada Allah agar Dia memberikanku petunjuk menuju jalan yang lurus. Akupun tertidur, tak lama kemudian aku bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Aku mengadukan beberapa permasalahan kepadanya. Lalu Rasulullah mewasiatkan, ‘Tetapilah sunnah-ku.’ Aku pun terbangun dan aku membandingkan beberapa permasalahan ilmu akidah dengan dalil yang aku temukan di dalam al-Quran dan hadis. Kemudian, aku menetapinya dan aku membuang selainnya di balik punggungku.”
Ketidakpuasan al-Asy’ari tersebut dapat dilihat pula dengan memperhatikan beberapa hal, antara lain riwayat yang menyatakan bahwa sebelum al-Asy’ari keluar dari aliran Muktazilah, beliau tidak keluar rumah selama 15 hari. Kemudian pada hari Jumat setelahnya beliau keluar ke Masjid Jami’ dan menaiki mimbar dengan berpidato, “Sebenarnya saya telah menghilang dari kalian selama lima belas hari ini. Selama ini saya meneliti dalil-dalil semua ajaran yang ada. Ternyata saya tidak menemukan jalan keluar. Dalil yang satu tidak lebih kuat daripada dalil yang lain. Lalu aku memohon petunjuk kepada Allah dan ternyata Allah memberikan petunjuknya kepadaku untuk meyakini apa yang saya tulis dalam beberapa kitab ini. Mulai saat ini aku mencabut semua ajaran yang selama ini aku yakini.” Kemudian al-Asy’ari menyerahkan beberapa kitab yang ditulisnya kepada jamaah disana, diantaranya Kitab al-Luma’ fi al-Radd ‘ala Ahl al-Zaygh wa al-Bida’, kitab yang memaparkan kerancuan Muktazilah, “Kasyf al-Astar wa Hatk al-Asrar”, dan kitab-kitab lainnya.
Sejak saat itulah beliau ~ Imam Abu Hasan al-Asy’ari ~ berpegang pada prinsip ahli sunah waljamaah, serta menangkis segala pemikiran yang bertentangan dengan pemikiran ahli sunah. Abu al-Hasan al-Asy’ari memiliki kecerdasan dan ketajaman pemahaman yang sangat luar biasa. Demikian juga, dia dikenal dengan kanaah dan kezuhudanya. Sayangnya, meski ajaran aqidahnya dianut mayoritas umat Islam di Indonesia bahkan dunia, tak banyak yang mendalami Kitab Teologi Asy’ariyah, yaitu Kitab Al-Lumaa. Padahal sebenarnya dengan metode tanya-jawab dalam penulisannya, Imam al-Asyari berhasil mengurai persoalan ketauhidan dengan bernas dan lengkap. Tak heran jika kitab “Al-Lumaa’ ini ikut serta mendorong kelahiran Teologi Asy’ariyah pada abad ke-4 Hijriah.
Fase Pemikiran Imam Asy’ari
Ada perbedaan pendapat tentang fase pemikiran Abul Hasan Al-Asy’ari sebagian pihak mengklaim Abul Hasan Al-Asy’ari hanya melewati dua fase, pihak lainnya mengklaim Abul Hasan Al-Asy’ari melewati tiga fase pemikiran. Abu Bakar bin Furak, Ibnu Khaldun dan ulama-ulama lainnya berpendapat bahwa Abul Hasan Al-Asy’ari hanya melewati dua fase pemikiran saja yaitu dari Muktazilah ke Ahlussunah. Ibnu Khaldun berkata: Hingga akhirnya tampil Syekh Abu al-Hasan al-Asy’ari dan mendebat sebagian tokoh Muktazilah tentang masalah-masalah shalah dan ashlah, lalu dia membantah metodologi mereka dan mengikuti pendapat Abdullah bin Sa’id bin Kullab, Abu al-Abbas al Qalanisi, dan al-Harits al-Muhasibi dari kalangan pengikut salaf dan Ahlussunnah. Dari pernyataan Ibnu Khaldun tersebut ia menyimpulkan bahwa setelah al-Asy’ari keluar dari paham Muktazilah, beliau mengikuti mazhab Abdullah bin Sa’id bin Kullab, al-Qalanisi, dan al-Muhasibi yang menurutnya dia merupakan pengikut Ahlussunnah.
Ulama-ulama seperti Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyah, syekh Utsaimin dan ulama-ulama kontemporer lainnya berpendapat bahwa Abul Hasan Al-Asy’ari melewati tiga fase pemikiran dalam hidupnya. Yaitu dari Muktazilah ke Kullabiyah ke Ahlus Sunnah. Sebagian ulama tidak menganggap Kullabiyah sebagai Ahlussunah karena ada beberapa masalah akidah yang bertentangan dengan Suni seperti hanya menetapkan tujuh sifat saja bagi Allah dan menetapkan sifat Dzatiyah tetapi menafikan sifat Ikhtiariyah bagi Allah.
Ibnu Taimiyah berkata, “Dialah yang mengarang kitab–kitab yang isinya membantah Jahmiyah, Muktazilah dan firkah lainnya. Dia termasuk ahli kalam dalam masalah sifat-sifat Allah. Metode yang dia tempuh mendekati metode ahlul hadits dan sunah, namun masih termuat cara-cara bidah. Karena beliau menetapkan sifat Dzatiyah dan menolak sifat Ikhtiariyah bagi Allah, Tetapi ketika membantah Jahmiyah dikarenakan mereka menolak sifat dan sifat Uluw (Allah berada di tempat yang tinggi). Sarat dengan hujah dan dalil dan menerangkan keutamaan hujah dan dalil tersebut. Maka apa yang dikemukakan itu menyapu bersih syubhat Muktazilah. Dan ini membantu bagi kalangan cendekia. Jadilah dia seorang imam dan panutan bagi orang yang muncul setelahnya dalam masalah penetapan sifat dan membantah orang yang menafikannya.
Walaupun antara mereka (Ibnu Kullab dan pengikutnya dengan golongan yang dibantahnya masih ada persamaan dalam kaidah-kaidah pokok. Hal inilah yang menyebabkan sebagian kaidah yang mereka munculkan. Menjadi batil dilihat dari kacamata akal dan karena menyelisihi sunah Rasulullah”. Dari pernyataan Ibnu Taimiyah diatas, ia beranggapan bahwa kaidah-kaidah yang dilakukan Kullabiyah untuk membantah Muktazilah masih memiliki kesamaan terutama dalam kaidah pokok, ditambah karena Kullabiyah hanya menetapkan sifat Dzatiyah dan menolak sifat Ikhtiariyah bagi Allah.
Imam Asy’ari dalam Penetapan Sifat-sifat Allah
Abu al-Hasan Al-Asy’ari pada masa menjadi Muktazilah ia meniadakan semua sifat-sifat Allah dengan dalih menyucikan keesaan Tuhan, karena Wasil bin Atha’ berpendapat bahwa siapa pun yang menetapkan adanya sifat kadim bagi Allah, maka dia telah menetapkan adanya dua Tuhan. Muktazilah berpendapat bahwa Tuhan tidak memiliki sifat, sebab apabila Tuhan memiliki sifat, maka sifat tersebut harus kekal seperti halnya dzat Tuhan. Kemudian Abul Hasan Al-Asy’ari hanya menetapkan tujuh saja sifat Allah yaitu hayah, ilmu, qudrah, iradah, sam’u, bashir, dan kalam.
Adapun sifat khabariyah tentang Allah dia pun menakwilnya. Apa yang dicetuskan oleh Abul Hasan al-Asy’ari ketika itu tersebar ditengah masyarakat dan menjadi titik awal berkembangnya Teologi Asy’ariyah. Kemudian Abul Hasan Al-Asy’ari menetapkan semua sifat Allah tanpa tasybih, tahrif, takwil, dan tanpa menafikannya sesuai dengan metodologi salaf.
Sesungguhnya Allah bersemayam di atas ‘Arasy sebagimana yang dinyatakan firman-nya “Tuhan yang maha pemurah itu bersemayam di atas ‘Arasy” (QS.Thaha, 20:5) Allah pun memiliki ‘wajah’ Sebagaimana dinyatakan firman-nya “Maka kekallah wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan (QS.ar-Rahman, 55:27), dan Allah memiliki “Tangan” yang tidak terbayangkan, sebagaimana firman-nya “Yang aku ciptakan dengan Tangan ku” (QS.Shad, 38:75); dan “bahkan tangan tangan Allah terbuka” (al-Mai’dah, 5:64); dan Allah memiliki ‘Mata’, yang tidak terbayangkan, sebagaimana firman-nya: “yang berlayar dengan pengawasan mata kami” (QS.al-Qamar,54:14) Barangsiapa yang menyatakan nama Allah itu bukan ‘Allah’ maka tersesatlah dia.
— Abu al-Hasan Al Asy’ari, al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah: Bab 2: hlm 10.
Tim riset asal Mesir menyoroti perkara pemikiran Abu al-Hasan al-Asy’ari yang pada periode belakangan semakin mengikuti pemikiran Salaf dan meninggalkan metode-metode Mu’tazilah ataupun ahlul Kalam yang mendahulukan dalil Aqli (akal) ketimbang dalil Naqli (wahyu), di mana di salah satu kitab terakhir Abu al-Hasan mengatakan.
“…Tidak diperbolehkan bagi kita menghilangkan sisi Zhahir Al-Qur’an tanpa ada suatu Hujjah…”
— Abu al-Hasan Al Asy’ari, al-Ibanah : Bab 2: hlm 40
Ibnu Taimiyah berkata, “Barang siapa yang menyatakan Abul Hasan al-Asy’ari menafikan sifat dan beliau memiliki dua pendapat dalam menakwilkan sifat Allah, maka orang tersebut telah berdusta atas nama Abul Hasan. Yang melakukan takwil seperti ini adalah pengikutnya yang belakangan seperti Abul Ma’ali dan lainnya. Mereka memasukkan ushul (akidah/prinsip pokok) muktazilah ke dalam mazhabnya.”
pada abad ke-20, Syekh Musthafa Hamdu ‘Ullayan Al-Hambali dan Syekh Hammad al-Ansyari juga mengutip catatan-catatan para Ulama yang dekat masa hidupnya dengan Abul Hasan al-Asy’ari bahwa sang Imam lebih dekat kepada Madzhab Hambali dan menolak konsep takwil dalam menafsirkan ayat dan hadits. Hal ini juga disepakati Syekh Abdul Aziz Marzuq Ath-Tharifi dalam kitab Khurasaniyyah yang menyoroti kitab Al-Ibanah tentang Istiwa dan ketinggian Allah dalam keyakinan Abul Hasan al-Asy’ari.
Dr. Sa’id bin Musfir Al-Qahthani menambahkan bahwa klaim Asy’ariyah bahwa Imam Abul Hasan al Asy’ari mengikuti aqidah mereka adalah keliru berdasarkan kitab-kitab terakhir Imam Asy’ari yang justru menunjukkan sang Imam mengingkari keyakinan yang diklaim oleh kaum Asy’ariyah.
Guru-Guru Imam Asy’ari
Murid-murid Imam Asy’ari
Murid-murid Imam al-Asy’ari tidak hanya para pakar dalam bidang teologi saja tetapi mereka berangkat dari latar belakang keilmuan yang beragam, seperti ahli hadis, ahli tafsir, ahli fikih, ahli tasawuf, dan lain-lain, sehingga mazhab dan pelbagai pemikiran al-Asy’ari disebarkan melalui pintu berbagai studi keislaman seperti melalui ilmu hadis, ilmu fikih, ilmu tafsir, ilmu tasawuf, dan lain-lain.[34] Di antara murid-murid Imam al-Asy’ari tersebut adalah:
Karya Tulis
Imam Asy’ari meninggalkan karya-karya tulis, kurang lebih berjumlah 90 kitab dalam berbagai fase pemikirannya. Ada tiga kitabnya yang terkenal, yaitu Kitab Al-Luma, l-Ibanah ‘an Ushulid Diniyah, dan
Maqalat al-Islamiyyin.
Kitab-kitab yang lainnya:
Diolah dari berbagai sumber. Barakallah fiikum, semoga bermanfaat adanya.
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.