Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Kitab Akhlaq lil Banat – Djuz 2 (3)

Kitab Akhlaq lil Banat – Djuz 2 (3)

BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 2, yang diperuntukkan bagi Perempuan (Remaja Putri pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.

6. Apa Kewajibanmu terhadap Ayah Ibumu? 

Wahai putri tercinta ! telah engkau ketahui betapa – besarnya cinta ayah dan ibumu kepadamu dan bagaimana kepayahan serta penderitaan yang mereka alami dalam mendidikmu dengan sabar dan gembira kedua orang tuamu membesarkanmu. Maka wajib bagimu membalas kebaikan ini dengan kebaikan, engkau kerjakan semua yang dapat engkau lakukan untuk berbakti kepada mereka. Meskipun demikian engkau akan tetap memandang betapa besar jasa mereka juga mengakui betapa engkau tidak dapat menunaikan hak. hak mereka dengan sepenuhnya. Sebab engkau itu harus menunaikan Kewajiban-kewajiban ini :

1. Engkau cintai kedua orang tuamu dengan tulus dan menghormati mereka dengan amat sangat. Engkau per. lakukan keduanya dengan sikap yang dapat menggembirakan mereka dan menghindari sikap apa pun yang mengecewakan mereka. Engkau dengarkan nasihat-nasihat keduanya dan sesegera mungkin engkau patuhi perintah-perintah mereka dan memenuhi segala apa yang mereka perlukan serta membiasakan berjabatan tangan dengan mereka setiap pagi dan sore. Hendaknya engkau menghadap kedua orang tuamu dengan wajah tersenyum dengan berdo’a agar mereka panjang umur dalam keadaan baik-baik, sehat dan tercapai segala keinginan mereka. Engkau do’akan pula agar Allah membalas keduanya dengan sebaik-baik balasan atas didikan mereka yang baik.

2. Hendaklah engkau sadari bahwa adanya ayah dan ibumu adalah nikmat yang besar, barokah serta rahmat atas dirimu yang telah diberikan oleh Allah kepadamu. Engkau nikmati dengan memandang keduanya dengan pandangan yang menyenangkan, karena hal itu terdapat pahala yang besar.

Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits: “Tidaklah seseorang memandang kepada ayah ibunya dengan pandangan kasih sayang, melainkan karena Allah menetapkan baginya pahala haji yang diterima.”

Hendaknya engkau jabat tangan mereka setiap hari dan selalu bermusyawarah dengan keduanya mengenai urusan”urusanmu, engkau masukkan kegembiraan pada mereka dan engkau tunaikan keperluan-keperluan mereka, ayah ibumu akan mendo’akan kebaikan atas dirimu. Betapa besar nikmat nikmat seperti ini ! Dan alangkah banyaknya pahala ini !

Maka seorang anak perempuan benar-benar tidak mengetahui besarnya nikmat dengan adanya ayah ibunya, kecuali bila ia sudah kehilangan mereka (meninggal dunia). Waktu itulah ia rasakan kerugian yang besar dan kesedihan yang sangat mendalam atas perpisahannya dengan mereka.

3. Hendaklah ia gunakan tata krama terhadap ayah ibunya dalam setiap waktu. Maka janganlah sampai membelakangi mereka dan jangan memanggil mereka dengan namanya. Jangan tertawa di hadapan ayah ibu bila tidak pada tempatnya atau dengan suara keras. Jangan lihat mereka dengan pandanganmu yang tajam, jangan berdusta kepada mereka, memaki mereka atau berbicara dengan perkataan yang buruk terhadap mereka, dan jangan engkau keraskan suaramu melebihi suara mereka.

Sebab Allah Ta’ala telah berfirman : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya dengan perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka dengan perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu dihadapan mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah do’a: wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil” (Al-iIsraa’ : 23, 24).

4. Hendaklah engkau selalu berusaha mendapat ridha ayah ibumu dengan bersungguh-sungguh dalam mempelajari pelajaran-pelajaranmu dan pergi setiap hari ke sekolah serta memelihara buku-buku, pakaian dan semua peralatanmu dengan mengaturnya di tempat-tempatnya, dan janganlah sampai engkau merusakkan atau menghilangkannya. Hendaklah engkau kerjakan pekerjaan rumah dan di luarnya yang dapat menggembirakan mereka berdua. Janganlah engkau suka mengganggu salah seorang saudara laki-lakimu, saudara perempuanmu atau kepada pelayan sekalipun. Janganlah engkau bertengkar dengan anak-anak perempuan tetanggamu atau teman-temanmu di sekolah.

5. Apabila engkau minta sesuatu dari ayah ibumu, janganlah memintanya di hadapan orang-orang. Dan jika ia tidak mengabulkan permintaanmu, maka diamlah, karena ia lebih tahu tentang maslahatmu (kebaikanmu).

Janganlah engkau marah atau menggerutu atau bermuka cemberut ataupun mendesak mereka untuk meloloskan permintaanmu. Apabila engkau duduk di depan mereka, maka duduklah dengan sikap yang baik. Janganlah meletakkan kaki yang satu di atas kaki yang lain dan jangan duduk di saat mereka berdiri, juga jangan sampai engkau berjalan mendahului mereka. Apabila salah satu dari keduanya memanggilmu, maka segeralah menjawabnya dan jangan menangguhkan atau berpura-pura seakan-akan tidak mendengarnya atau merasa bosan karena panggilan berulang-ulang dan waspadalah engkau dengan memaki ayah seseorang atau ibunya yang menyebabkan ia memaki ayah ibumu.

Dalam hadits: “Termasuk dosa besar adalah Bila Seseorang memaki ayah ibunya.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ada orang yang memaki ayah ibunya sendiri.” Nabi SAW. menjawab, “Ya, bila ia memaki ayah seseorang, lalu orang itu membalas memaki ayahnya, dan ia memaki ibu orang itu, lalu orang itu membalas memaki ibunya.”

6. Apabila engkau sudah besar, perhatikanlah ayah. Ibumu sedapat mungkin, baik dengan hartamu bila engkau mempunyai harta, atau dengan memenuhi keperluankeperluan mereka dan mengerjakan urusan-urusan rumah, seperti memasak, mencuci pakaian, membersihkan lantai dan lain-lain. Jadikan baktimu.kepada ibumu lebih besar daripada kepada ayahmu, karena dalam mengasuhmu ia lebih besar belas kasihnya dan lebih sengsara daripada ayahmu.

Apabila salah satu atau kedua-duanya meninggal! dunia, wajiblah anak perempuan berbakti kepada mereka dengan berdo’a dan memohonkan ampun, bersedekah untuknya serta membaca Al-Qur’an dan yang hadiah pahalanya peruntukkan ruh mereka.

Dalam hadits : “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW., “Wahai Rasulullah, apakah aku masih bisa berbakti kepada kedua orang tuaku manakala mereka sudah wafat ?

Rasulullah SAW. menjawab, “Ya”, menshalatkan kedua orang tuanya, memohonkan ampun bagi mereka, melaksanakan wasiat mereka, menghormati teman mereka, menyambung kekeluargaan yang hanya bisa melalui jalur kedua orang tua.”

7. Apabila engkau berbakti kepada ayah ibumu, maka engkau akan peroleh ridha Allah dan pahala-Nya yang besar sehingga engkau hidup bahagia di dunia dan akhirat.

Dalam hadits dikatakan : “Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua dan murka Allah adalah akibat murka kedua orang tua.” Dalam hadits yang lain : “Berbakti kepada ayah ibu lebih utama daripada shalat sunnah, sedekah, puasa, haji dan umrah serta jihad di jalan Allah.”

Dan itu akan menjadikan anak-anakmu akan berbakti kepadamu di masa mendatang. Sebagaimana yang tersebut dalam hadits : “Berbaktilah kamu kepada ayahmu, niscaya anak-anakmu akan berbakti kepadamu.” Adapun durhaka kepada ayah ibu, maka itu termasuk dosa terbesar. Sabda Nabi SAW.: “Sebesar-besar dosa adalah menyekutukan Allah dan durhaka kepada ayah ibu.”

Sabda Nabi SAW. yang lain: “Takutlah kalian akan mendurhakai kedua orang tua, karena bau surga akan tercium dari jarak 1000 tahun. Demi Allah, anak yang durhaka dan pemutus hubungan kekeluargaan tidak akan dapat mencium bau itu.” Rasulullah SAW. bersabda pula : “Terkutuklah mereka yang durhaka kepada kedua orang tuanya.”

8. Apabila engkau bersalah kepada ayah ibumu, maka segeralah mohon maaf selama keduanya masih hidup. Kalau tidak, maka engkau akan sangat menyesal. Berjanjilah kepada dirimu bahwa engkau tidak akan mengulangi lagi kesalahan itu. Karena hukuman atas kedurhakaan segera dilaksanakan di dunia, terutama setelah kedua orang tua wafat.

Dalam hadits: “Semua dosa Allah menangguhkan hukumannya sesuai kehendak-Nya hingga nanti hari kiamat, kecuali dosa durhaka kepada kedua orang tua. Karena Allah melangsungkannya di saat si pelaku masih hidup dan sebelum ia mati.”

Suatu hari datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW. minta dibai’at untuk dapat hijrah. la berkata, “tidaklah aku datang kepadamu, melainkan . Setelah aku membuat kedua orang tuaku menangis.” Maka Nabi SAW. berkata, “Kembalilah kepada mereka dan buatlah mereka tertawa sebagaimana engkau telah membuat mereka -menangis.”

9. Tiada sesuatu yang dapat lebih menggembirakan ayah ibu daripada melihat putri mereka yang menyenangkan hati, berbakti, taat, sopan santun dan cerdas. Begitu juga . sebaliknya, tiada sesuatu yang lebih menyedihkan hati mereka daripada melihat putri mereka yang pendurhaka, pembangkang, tidak sopan lagi bebal (bodoh). Maka berusahalah agar engkau menjadi anak perempuan yang menyenangkan hati kedua orang tua dan mintalah do’a dari mereka supaya engkau dapat mencapai puncak cita-citamu.

Dalam hadits dikatakan: “Do’a orang tua kepada anaknya laksana do’a Nabi terhadap umatnya.”

7. Kisah-kisah Nyata

1. Sayyidina Ismail putra Nabi Ibrahim a.s. adalah seorang yang sangat bakti kepada kedua orang tuanya. Ketika mencapai umur 13 tahun, Ibrahim ayahnya berkata kepadanya, “Wahai anakku sesungguhnya dalam tidurku, aku telah bermimpi menyembelihmu. Coba pikirkan bagaimana pendapatmu !” Ia menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya “Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (Ash-Shaffaat : 102).

Maka Nabi Ibrahim lalu mematuhi perintah Tuhannya dan hendak menyembelih putranya. Dalam suasana yang mencekam itu, Sayyidina Ismail teringat akan ibunya. Dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku ikatlah aku erat-erat agar tidak goyah dan lepaskan bajuku supaya tidak terkena darahku sehingga apabila ibuku melihatnya akan menambah . kesedihannya. Sampaikan salamku kepada ibuku. Jika ayah hendak mengembalikan bajuku kepada ibu, maka lakukanlah, karena hal itu akan dapat menghibur hatinya dan sebagai kenangan kepada anaknya.”

Setelah itu Nabi Ibrahim lalu menelungkupkan Ismail disampingnya dan menindihkan sebilah pisau pada tenggorokannya, akan tetapi hal itu tidak menjadikan Ismail terpengaruh. Dengan kekuasaan-Nya. Allah segera menggantinya dengan seekor domba dari surga, yang kemudian Nabi Ibrahim menyembelihnya.

Maka perhatikanlah wahai putri tercinta ! bagaimana bakti dan kesabaran Sayyidina Ismail! Dan bagaimana kepatuhan Nabi Ibrahim terhadap perintah Tuhannya! Begitu juga keteguhan beliau dalam menghadapi ujian yang nyata ini.

2. Sayyidina Ali Zainal Abidin r.a. adalah seorang yang banyak berbakti kepada ibunya sampai salah seorang sahabatnya berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu. Tapi mengapa kami tidak pernah melihat engkau makan bersama dengannya ?” Beliau menjawab, “Ya, karena saya khawatir tanganku mendahului mengambil makanan yang telah dilihat dan hendak dirasakannya sehingga akupun mendurhakainya.”

3. Suatu ketika datanglah seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW., lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, disini ada seorang anak muda yang hampir meninggal. Dikatakan kepadanya, ucapkanlah : Laa ilaha illallah. Namun ia tidak dapat mengucapkannya. Nabi SAW. berkata, Bukankah ia telah mengucapkan dimasa hidupnya ?” Orang-orangpun menjawab, “Benar.” Maka Nabi SAW. pun bertanya, “Apa kiranya yang menghalangi dia untuk mengucapkan kalimah itu menjelang kematiannya ?” Kemudian Rasulullah SAW. berdiri yang kemudian kami ikuti bersama-sama dibelakangnya dan pergi mendatangi anak muda itu.

Sesampai di tempat pemuda itu Nabi SAW. berkata, “Wahai anak muda ucapkanlah: Laa ilaha illallah.” Maka anak muda itu menjawab, “Aku tidak kuasa mengucapkannya.” Nabi SAW. lalu bertanya, “Mengapa ?” Anak muda itu menjawab, “Sebab aku telah durhaka kepada ibuku.” Nabi SAW. bertanya, “Apakah ia masih hidup ?” anak muda itu menjawab, “Ya.”

Nabi SAW, kemudian memerintahkan para sahabatnya, “Datangkan dia kesini.” Maka hadirlah ibunya. Kemudian Nabi SAW. berkata, “Bagaimana pendapatmu seandainya api sudah dinyalakan, lalu dikatakan kepadamu, jika engkau tidak juga memberi maaf kepadanya, ku lempar dia ke dalam api ini ?”

Perempuan itu menjawab, “Jika demikian aku maafkan dia.” Nabi SAW. berkata, “Jadikanlah Aliah Ta’ala dan kami sebagai saksi bahwa engkau telah meridhainya.” Maka perempuan itu berkata, “Ya Allah, aku jadikan Engkau dan Rasul-Mu sebagai saksi, bahwa aku telah meridhai putraku.”

Kemudian Nabi SAW. berkata, “Wahai anak ucapkanlah : Laa ilaha illallah.” Maka anak muda itu segera bisa mengucapkan : Laa ilaha illallah.

Rasulullah SAW. berkata, “Segala puji bagi Allah yang menyelamatkannya dengan perantaraanku dari api neraka.”

Wahai putri yang tercinta ! renungkanlan kisah ini agar engkau ketahui bahwa durhaka kepada kedua orang tua menyebabkan pada akhir yang buruk (Su’ul Khatimah). Semoga Allah melindungi kita darinya.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Algamah.seorang laki-laki yang shalih, banyak mengerjakan shalat dan puasa juga mengeluarkan sedekah, tetapi semua itu tidak berguna baginya hanya karena durhaka pada ibunya dia mendurhakai perintah-perintahnya dan hanya menuruti istrinya serta melebihkannya diatas ibunya.

Dalam hadits disebutkan: “Ada tiga macam perbuatan dosa yang apabila dilakukan, amalan shalih tidak berguna karenanya, yaitu menyekutukan Allah, durhaka ‘ pada kedua orang tua dan Iari dari peperangan.”

4. Ada seorang anak muda Yahudi melayani Nabi SAW., lalu sakit. Maka Nabi SAW. datang menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya, dan berkata kepadanya, “Masuklah agama Islam.” Mendengar itu, anak itu memandang kepada ayahnya yang juga berada di sampingnya.

Ayahnya berkata, “Taatilah Abal Qasim (Nabi).” Kemudian anak itu masuk Islam. Maka keluarlah Nabi seraya berkata, “Segala puji bagi Allah: yang telah menyelamatkan dia dari api neraka.”

Lihatlah bagaimana bakti anak ini kepada ayahnya, sekalipun sudah menjelang ajalnya. Dengan itu Allah memberinya taufik masuk Islam di hari akhir umurnya. Maka ia pun menjadi penghuni surga. Dari kisah ini engkau dapat mengetahui bahwa: bakti kepada kedua orang tua menyebabkan penghujung yang baik. (Husnul Khatimah)

5. Haiwah bin Syuraih seorang yang sangat berbakti kepada ibunya. Ia tidak pernah menentang perkataan ibunya walau termasuk ulama besar yang mempunyai banyak murid. Pada suatu hari datang sang ibu kepadanya di saat ia sedang mengajar. Kemudian sang ibu berkata kepadanya, “berdirilah wahai Haiwah, berikan gandum ini kepada ayam.” Maka ia : pun tidak merasa keberatan dan tidak berlambat-lambat. Ia tinggalkan mengajarnya dan segera mematuhi perintahnya.

6. Dan di antara orang-orang yang berbakti terhadap orang tua terdapat Dzarr bin Umar Al-Hamdani. Di antara bakti . dia kepada sang ayah pada siang hari ia tidak pernah berjalan bersama ayahnya, melainkan mengambil posisi di belakangnya. Dan tidak pada waktu malam, melainkan ia berada di depan untuk melindungi sang ayah dari mara bahaya. Tidak pernah ia naik atap, bila sang ayah berada dibawahnya.

8. Apa Kewajibanmu terhadap Saudara-saudaramu Laki-laki dan Perempuan? 

Sesungguhnya orang-orang yang paling dekat kepadamu sesudah ayah ibumu adalah saudara-saudaramu laki-laki dan perempuan. Maka amalkanlah tata krama ini supaya engkau mendapat ridha Allah, dan ridha kedua orang tuamu serta hidup bersama mereka dalam keadaan senang dan bahagia :

1. Engkau hormati mereka dalam setiap waktu dan keadaan, dan kau cintai mereka dengan cinta yang tulus.

Sesungguhnya Engkau dan mereka berasal dari satu keturunan. Mereka mencintaimu dan mengharapkan kebahagiaanmu. Maka hendaklah engkau selalu bersama mereka dalam keselarasan dan kebersatuan. Hindarilah halhal yang menyebabkan perselisihan dan pertengkaran dengan tidak mengindahkan omongan orang-orang yang suka dengki dan mengadu-domba, dan jangan mengurangi hak-hak orang tua. Dan hendaklah engkau maafkan mereka apabila mereka kurang memenuhi hak-hakmu.

2. Hendaklah engkau khususkan saudaramu yang lebih tua dengan lebih memuliakan dan menghormati, serta menganggapnya seperti kedua orang tuamu. Engkau amalkan nasihat-nasihat mereka dan tidak membantah perintah-perintah mereka.

Dalam hadits: “Hak saudara-saudara yang lebih tua atas adik mereka seperti hak seorang ayah terhadap anaknya.”

3. Hendaklah engkau kasihi saudara laki-lakimu dan saudara perempuanmu yang masih kecil dan engkau perlakukan mereka dengan kasih sayang dan kebaikan seperti perlakuan kedua: orang tuamu kepadamu, yaitu engkau bahagiakan mereka dan tidak engkau ganggu.

Dalam hadits dikatakan : ” Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah rumah yang diberi nama “Darul farah (rumah kebahagiaan)” yang tidak dimasuki oleh Seorangpun, kecuali oleh mereka yang membahagiakan anak-anak kecil.”

4. Hendaklah engkau tolong saudara-saudaramu yang laki-laki maupun perempuan dengan sekuat tenagamu.

Rasulullah SAW  bersabda:

 

Artinya:

“Perumpamaan dua saudara itu adalah laksana dua tangan, yang satu membersihkan yang lainnya.”

Engkau selalu mengalah dari mereka dan sabar menghadapi mereka. Apabila mereka bersalah, engkau ingatkan kesalahan mereka dengan halus dan lemah lembut, karena perkataan yang halus bisa enak kedengarannya, sedangkan perkataan yang kasar akan berakibat sebaliknya, dapat menumbuhkan kecemasan serta putusnya hubungan.

Hindarilah pertengkaran atau saling memaki atau juga mengadu-domba di antara mereka, dan janganlah engkau bergurau tentang sesuatu yang tidak layak dengan mereka atau mengambil barang mereka dengan tanpa perSetujuannya, begitu juga memutuskan hubungan dengan mereka ataupun berburuk sangka kepada mereka.

5. Saudaramu laki-laki adalah tangan kananmu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada Nabi Musa mengenai Saudaranya Nabi Harun a.s. : “Kami akan membantumu ‘ dengan saudaramu” (Al Qashash: 35).

Saudara laki-laki bagimu adalah senjata yang dapat . melindungi diri dari musuh-musuhmu di medan kehidupan. Sebagaimana kata penyair : Sesungguhnya orang yang tak punya saudara laki-laki adalah seperti orang yang pergi berperang tanpa senjata.

9. Persatuan sebagai Sumber Kekuatan 

Diceritakan bahwa seorang laki-laki mempunyai beberapa orang anak. Ketika ajal sudah mendekatinya, ia pun memanggil mereka dan memberinya masing-masing seikat tombak lalu menyuruh mereka untuk mematahkannya.

Maka satu persatu mereka berusaha mematahkannya dengan sekuat tenaga, namun tidak berhasil. Kemudian lakilaki itu melepaskan ikatan tombak tersebut dan memberinya masing-masing sebatang tombak. Maka mereka pun berhasil mematahkannya dengan mudah. Kemudian ia berkata kepada mereka, “Perumpamaan kalian adalah seperti ikatan ini. Jika kalian bersatu dan berkumpul, musuh tidak akan berhasil mengalahkan kalian. Tapi jika kalian berselisih dan bercerai berai, maka musuh akan mudah mengalahkan kalian sebagaimana tombak-tombak yang sudah teriepas ikatannya ini kalian akan dapat mematahkannya tanpa susah payah”

Kemudian ia mengalunkan sya’ir, Persatulah kalian hai anak-anakku bila musibah menimpa dan jangan bercerai-berai Tombak-tombak yang berkumpul jadi satu akan sulit dipatahkan dan bila sudah terpisah-pisah – mudahlah ia dipatahkan satu demi satu.

10.  Apa Kewajibanmu terhadap Kerabatmu? 

1. Sesungguhnya orang-orang yang paling dekat denganmu sesudah ayah ibumu dan saudara-saudaramu adalah para kerabatmu baik mereka laki-laki ataupun perempuan. Dalam hadits : “Saudara perempuan ibu (Bibi) itu sederajat dengan ibu, kedudukan saudara laki-laki dari ayah (Paman) seseorang adalah setara dengan ayahnya, putra saudara perempuan dari suatu kaum adalah termasuk diantara mereka.”  Mereka mempunyai hak-hak sama besar atas dirimu yang wajib engkau perlakukan kepada mereka.

2. Hal itu engkau laksanakan dengan cara memperlakukan mereka seperti perlakuanmu terhadap saudara-saudaramu. Maka engkau hormati orang yang. lebih tua di antara mereka dan engkau kasihi anak-anak ke cil mereka.

Engkau bersikap hangat pada saat bertemu mereka dengan wajah yang cerah dan tersenyum. Dan berbicara dengan mereka secara baik tanpa menunjukkan kesombongan dan kebanggaan.  Apabila mereka menyuruhmu melakukan sesuatu, maka patuhilah dan jangan membantah. Jadilah engkau wanita yang mudah akhlaknya. Apabila mereka membutuhkan sesuatu, maka segeralah menolongnya dengan sekuat tenaga.

3. Janganlah engkau berhenti mengunjungi mereka dari waktu ke waktu, terutama pada waktu-waktu yang tepat seperti hari-hari raya dan hari-hari bahagia lainnya atau disaat musibah dan peristiwa lain yang menyedihkan datang menimpanya. Bila diantara kerabatmu yang laki-laki atau perempuan sakit, segeralah pergi kerumahnya untuk menjenguknya seraya mendo’akan agar mereka lekas sembuh. Apabila ia berpulang ke rahmatullah, segeralah pergi ke rumahnya untuk mendo’akannya agar mendapat rahmat dan ampunan, dan untuk berta’ziah (Menyatakan bela sungkawa/berduka cita) dan menghibur anak-anak dan keluarganya serta menolong kesusahan mereka.

Dengan demikian mereka para kerabatmu akan senang terhadapmu, karena engkau gembira di kala mereka gembira “dan berduka karena mereka ditimpa susah. Mereka pun akan: tahu bahwa engkau seorang anak perempuan yang terdidik dan mau menunaikan kewajiban-kewajibannya terhadap para kerabatnya.

4. Bersatulah dengan kerabatmu dan hindarilah segala sesuatu yang menyebabkan putusnya hubungan dan permusuhan.

Waspadalah untuk tidak mendengar omongan perempuan yang suka mengadu-domba, karena ia hanya ingin memisahkanmu dari mereka. Maafkan mereka bila mereka berbuat jahil kepadamu. Janganlah engkau mendendam lantaran periakyan yang buruk itu.

Bilamana Allah memberi mereka kenikmatan, nampakkan kegembiraanmu karenanya dan jangan mendengki kepadanya.  Apabila engkau berbudi dengan tata krama itu, maka sudah barang tentu engkau akan hidup bersama para kerabatmu dalam keadaan rukun dan sejahtera, tenteram dan bahagia. Sebab kebahagiaan manusia tergantung pada kebahagiaan keluarga dan kerabatnya. Mereka bagaikan sayap seekor burung.

Sebagaimana kata penyair : Ketahuilah wahai putra paman, | manusia adalah sayap (bagi yang lainnya) dapatkah burung elang terbang tanpa sayap?

5. Allah telah memerintahkan agar berbuat baik kepada para kerabat dan mengaitkan mereka dengan ayah ibu. Disebutkan dalam firman Allah Ta’ala :

“Dan Sembahlah Allah dan janganlah kamu mensekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah . kepada. ibu bapak dan sanak kerabat” (An-Nisaa’: 36).

Dalam firman Allah Ta’ala yang lain: “Dan penuhilah hak sanak kerabat” (Al-israa’: 27).

Dalam hadits dikatakan : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung hubungan kekeluargaannya.” yakni berbuat baik kepada sanak kerabatnya. Dan seorang anak perempuan yang mau berbuat baik kepada sanak kerabatnya, maka Allah akan melapangkan rezekinya dan memanjangkan umurnya.

Dalam hadits : “Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan kerabatnya.”

Dan Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Se-‘ bagaimana yang dikatakan dalam hadits : “Telah datang seorang laki-laki kepada Nabi SAW. Ia berkata, “Wahai Rasulullah aku telah melakukan dosa besar. Apakah aku bisa bertaubat?”

Nabi SAW. bertanya, “Apakah engkau mempunyai seorang ibu?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Nabi SAW. bertanya lagi, “Apakah engkau mempunyai seorang bibi?” Orang itu menjawab, “Ya.” Kemudian Nabi SAW. berkata, “Berbaktilah kepadanya.”

6. Adapun anak perempuan yang suka berbuat jahat kepada sanak kerabatnya dan senang mengganggu mereka, maka ia akan mendapat kebalikan dari itu semua dan terhalang baginya dari masuk surga. Sebagaimana dalam hadits : “Seorang pemutus hubungan kerabat tidak akan : dapat masuk surga.” Allah juga akan segera menghukumnya di dunia, sedangkan di akhirat nanti, siksa baginya jauh lebih keras dan lebih dahsyat lagi.

Sebagaimana dalam hadits disebutkan : “Tidaklah suatu dosa yang hukumannya lebih pantas disegerakan oleh Allah terhadap pelakunya di dunia ini di samping hukuman lain yang disimpan Allah untuknya di akhirat, daripada dosa kezhaliman dan pemutusan hubungan kekeluargaan.”

7. Bilamana kerabatmu berbuat jahat kepadamu hendaklah engkau sabar dalam menanggapinya dan balaslah kejahatan mereka dengan kebaikan.

Dalam hadits : Ada seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, aku punya kerabat yang memutuskan hubungan denganku, tetapi aku tetap menyambung mereka. Aku tetap berbuat baik kepada mereka, walaupun mereka berbuat jahat kepadaku. Dan aku selalu bersikap sabar terhadap mereka, sedangkan mereka tidak juga menghiraukan aku.”

Maka Rasulullah SAW. berkata, “Jika benar apa yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau memberi makanan abu panas kepada mereka. Engkau selalu mendapat pertolongan dari Allah dalam menghadapi mereka selama engkau dalam keadaan itu.”

 

(Bersambung …. )

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Puasa Syawal dan Keutamaannya
Oleh : Immim pangkep

Puasa Syawal dan Keutamaannya

0 Komentar

KELUAR