Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Bahan Diskusi: Al-Asyariyah: Sejarah Lahirnya, Tokoh dan Pokok-pokok Ajarannya

Bahan Diskusi: Al-Asyariyah: Sejarah Lahirnya, Tokoh dan Pokok-pokok Ajarannya

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Ada yang sudah tahu sebelumnya apa itu aliran Al-Asy’ariyah? Ya, topik mengenai Al-Asy’ariyah sangat krusial bagi mahasiswa pascasarjana Program Dirasah Islamiyah karena aliran ini merupakan mainstream teologi Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah). Pertanyaan-pertanyaan berikut dirancang untuk menggali transisi metodologis, dialektika intelektual, dan pergeseran epistemologis yang dibawa oleh Imam al-Asy’ari.

Pertama, Pertanyaan Kritis tentang Teologi Al-Asy’ariyah, soal Analisis Transisi Metodologis (The Great Break). Sebagaimana diketahui bahwa Abu al-Hasan al-Asy’ari merupakan murid utama Al-Jubba’i (tokoh Mu’tazilah). Analisis bagaimana al-Asy’ari menggunakan perangkat dialektika (manhaj al-kalam) milik Mu’tazilah untuk meruntuhkan argumentasi mereka sendiri dan membangun ortodoksi baru. Apakah ini sebuah perubahan esensi pemikiran atau sekadar perubahan “seragam” metodologis? Untuk menjawabnya, silakan kaji referensi dari Al-Iji, Al-Mawaqif fi ‘Ilm al-Kalam; atau Richard C. Martin dkk, Defenders of Reason in Islam: Mu’tazilism from Medieval School to Modern Symbol.

Kedua, terkait Epistemologi Sifat: Konsep “Bila Kaifa” dan “Sifat Ma’ani”. Bagaimana Al-Asy’ariyah memposisikan diri di tengah pertentangan antara Mujassimah (antropomorfisme) dan Mu’tathilah (peniadaan sifat) melalui konsep Sifat Ma’ani? Bedah secara kritis efektivitas penggunaan kaidah bila kaifa (tanpa menanyakan bagaimana) dalam menjaga transendensi Tuhan sekaligus mempertahankan tekstualitas wahyu. Untuk menjawabnya, silakan buka kitab, Al-Asy’ari, Al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah; dan Al-Baghdadi, Al-Farqu bayna al-Firaq.

Ketiga, Rekonsiliasi Determinisme melalui Doktrin “Kasb”. Doktrin Kasb (akuisisi) sering dianggap sebagai titik tengah antara Jabariyah dan Qadariyah. Analisis kritik dari para filosof (seperti Ibnu Rusyd) yang menyatakan bahwa Kasb sebenarnya hanyalah “Jabariyah yang diperhalus”. Bagaimana penganut Asy’ariyah mempertahankan tanggung jawab moral manusia di bawah kehendak mutlak Tuhan (Iradah)? Untuk menjawabnya, silakan dalami Buku Ibnu Rusyd, Manahij al-Adillah fi ‘Aqa’id al-Millah; dan Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy.

Keempat, terkait Evolusi Teologi: Dari Al-Asy’ari ke Al-Ghazali dan Al-Razi. Aliran Asy’ariyah mengalami perkembangan pesat dari fase formatif ke fase filosofis (Kalam al-Muta’akhkhirin). Analisis bagaimana integrasi logika Aristotelian oleh Imam Al-Ghazali dan Fakhruddin al-Razi mengubah struktur argumen Asy’ariyah dalam menghadapi tantangan filsafat peripatetik (Falsafah). Untuk menjawabnya, silakan kaji Kitab dari Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah; dan Frank, R.M., Al-Ghazali and the Ash’arite School.

Kelima, tentang Teodisi dan Konsep “Al-Ashlah”. Berbeda dengan Mu’tazilah yang mewajibkan Tuhan berbuat baik (al-shalah wa al-ashlah), Asy’ariyah menolak kewajiban tersebut atas Tuhan karena akan membatasi kekuasaan-Nya. Analisis implikasi logis dari pandangan ini terhadap konsep keadilan Tuhan dalam menangani penderitaan manusia (evil) di dunia. Untuk menjawabnya, silakan kaji kitab dari Al-Juwayni (Imam al-Haramayn), Kitab al-Irsyad ila Qawati’ al-Adillah fi Ushul al-I’tiqad.

Sebagai mahasiswa Pascasarjana, tentu setiap dari kita diharapkan mampu membedakan antara karya Al-Asy’ari di masa awal (yang lebih condong ke tekstualis/Hanbali seperti dalam Al-Ibanah) dengan karya yang lebih dialektis (seperti Al-Luma’). Memahami evolusi teks ini sangat penting untuk melihat bagaimana Asy’ariyah berkembang menjadi madzhab yang sangat sistematis di tangan generasi penerusnya.

Demikian catatan singkat ini sebagai penegas dan bahan diskusi untuk topik “Al-Asy’ariyah”. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

Minasatene-Pangkep, 7 Oktober 2025

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR