
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Rangkuman Dauroh & Sertifikasi: Metode Cepat Memahami Ushul Qirā’āt ‘Asyarah dengan Mind Mapping (Bagian 1)
BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, penulis masih diberikan nikmat kesehatan, kesempatan dan waktu luang dalam mengikuti Dauroh dan Sertifikasi: Metode Cepat Memahami Ushul Qirā’āt ‘Asyarah dengan Mind Mapping dengan pemateri Dr. Izzat Muhammad Naufal hafidzhullah yang diselenggarakan oleh ASAS Institute Al-Qur’an via Zoom Meeting selama 3 hari, 11-13 Mei 2026. Tulisan ini merupakan Bagian 2 dari 3 Tulisan, yang pelaksanaan Daurohnya pada Selasa malam, 12 Mei 2026.
Materi dalam pertemuan kedua Dauroh dan Sertifikasi Guru Qur’an Profesional bersama Dr. Izzat Muhammad Naufal hafidzahullah merupakan tahapan krusial. Jika pertemuan pertama berfokus pada pengenalan tokoh imam dan sejarah, maka pertemuan kedua ini masuk ke dalam Jantung Ushul Qira’at. Dr. Izzat Muhammad Naufal hafidzahullah membedah kaidah-kaidah teknis yang menjadi fondasi perbedaan bacaan di seluruh Al-Qur’an menggunakan pendekatan visual yang sistematis.
Filosofi Mind Mapping dalam Ushul Qira’at
Dr. Izzat Muhammad Naufal hafidzahullah mengawali sesi dengan menekankan bahwa kesulitan utama belajar Qira’at adalah “kehilangan arah” di tengah banyaknya istilah teknis. Beliau memperkenalkan Mind Mapping bukan sekadar alat bantu, melainkan peta logika. Pertama, Struktur Hierarkis, Membagi satu pembahasan besar menjadi cabang-cabang kecil. Kedua, Kodifikasi Visual, terkait Penggunaan simbol dan warna untuk membedakan hukum bacaan antara satu imam dengan yang lain. Ketiga, Fokus pada ‘Ushul’, Menekankan bahwa jika seorang guru menguasai Ushul, maka ia telah menguasai 80% dari keseluruhan variasi Qira’at.
Bab Al-Basmalah (Kaidah di Antara Dua Surah)
Salah satu fokus utama dalam pertemuan ini adalah bagaimana menyambung akhir sebuah surah dengan awal surah berikutnya (kecuali At-Taubah). Dr. Izzat memetakan perbedaan ini menjadi empat mazhab utama:
1. Mazhab Basmalah, Mewajibkan membaca Basmalah di antara dua surah. Imam yang menempuh jalan ini antara lain Imam ‘Ashim, Al-Kisa’i, Ibnu Katsir, dan Qalun (dari Imam Nafi’).
2. Mazhab Washal, Menyambung akhir surah dengan awal surah berikutnya tanpa Basmalah, dengan memperhatikan hukum tajwid pertemuan huruf terakhir dan pertama. Ini adalah ciri khas Imam Hamzah.
3. Mazhab Saktah, Berhenti sejenak tanpa mengambil napas di akhir surah, lalu langsung masuk ke surah berikutnya tanpa Basmalah. Ini banyak dilakukan oleh Imam Abu ‘Amr dan Ibnu ‘Amir.
4. Mazhab Pilihan (Al-Wajhani), Beberapa perawi seperti Warsh memiliki pilihan antara Saktah, Washal, atau Basmalah (dengan syarat tertentu).
3. Mim Al-Jami’ (Mim Jamak)
Mim Jamak adalah huruf Mim sukun yang menunjukkan jamak laki-laki (seperti pada ’alaykum, bihiim, lakum). Dr. Izzat menjelaskan bahwa dalam qira’at, Mim ini tidak selalu dibaca sukun. As-Sukun oleh Mayoritas Imam (termasuk Hafsh an ‘Ashim yang kita gunakan) membaca dengan sukun, sedang As-Shilah (Menyambung dengan Wau) itu Membaca Mim dengan harakat dhommah diikuti wau sukun (contoh: ’alaykumuww). Untuk Wajib Shilah, oleh Imam Ibnu Katsir dan Abu Ja’far, sedang untuk Jaiz (Boleh) Shilah oleh Imam Qalun (memiliki dua jalan: sukun atau shilah). Untuk Kaidah Khusus Warsh, Imam Warsh hanya melakukan shilah jika Mim Jamak bertemu dengan Hamzah Qatha’ (Mim Jami’ Muqayyadah).
4. Mad dan Qashr (Panjang Pendek)
Dalam sesi ini, Dr. Izzat memberikan klasifikasi yang sangat rapi mengenai tingkatan panjang bacaan Mad. Ini sangat penting karena setiap Imam memiliki “standar harakat” yang berbeda untuk Mad Munfasil dan Mad Muttasil.
Untuk Mad Muttasil (Wajib), Semua Imam sepakat bahwa Mad Muttasil tidak boleh kurang dari 4 harakat. Namun, ada pembagian: Tawasuth (4-5 harakat) oleh Mayoritas Imam, sedang Isyba’ (6 harakat/Tul) hanya oleh Imam Warsh dan Imam Hamzah.
Mad Munfasil (Jaiz), Di sinilah letak perbedaan yang paling mencolok:
Qashr (2 harakat), Ibnu Katsir, Abu Ja’far, dan Qalun (salah satu riwayat), serta Abu ‘Amr Al-Bashri.
Fuaiqol Qashr (3 harakat), Sebagian riwayat dari jalur Thayyibah.
Tawasuth (4 harakat), Imam ‘Ashim, Al-Kisa’i, Khalaf.
Isyba’ (6 harakat), Warsh dan Hamzah.
5. Bab Al-Hamzatain (Pertemuan Dua Hamzah)
Dr. Izzat Muhammad Naufal hafidzahullah menyebut bagian ini sebagai “Mahkota Ushul”. Beliau membaginya menjadi dua kategori besar menggunakan mind map: Pertama, Hamzatain min Kalimah (Dua Hamzah dalam Satu Kata)
Contoh: A-andzartahum, A-idza. Kaidahnya berkisar pada:
Tahqiq, Membaca kedua hamzah dengan jelas (Hafsh).
Tas-hil, Menyamarkan bunyi hamzah kedua (seperti bunyi antara hamzah dan alif).
Ibdal, Mengganti hamzah kedua menjadi huruf mad.
Idkhal, Menyisipkan alif fashl di antara dua hamzah (seperti Qalun dan Abu ‘Amr).
Kedua, Hamzatain min Kalimatain (Dua Hamzah dalam Dua Kata). Jika hamzah pertama di akhir kata dan hamzah kedua di awal kata berikutnya.
Hamzah yang Sama Harakatnya, (Fathah-Fathah, Kasrah-Kasrah, Dhommah-Dhommah). Kaidahnya adalah menggugurkan salah satunya (Isqath) atau meringankannya (Tas-hil).
Hamzah yang Berbeda Harakatnya, Mengikuti kaidah perubahan bunyi sesuai dengan posisi harakat (apakah fathah di awal atau di akhir).
6. Al-Fath, Al-Imalah, dan At-Taqlil
Salah satu keindahan Qira’at adalah variasi bunyi vokal. Dr. Izzat Muhammad Naufal hafidzahullah menjelaskan:
Al-Fath, Membaca dengan vokal terbuka (seperti “A”).
Al-Imalah Al-Kubra, Memiringkan bunyi vokal mendekati bunyi “E” (seperti kata “sate”). Ini adalah ciri khas Imam Hamzah dan Al-Kisa’i.
At-Taqlil (Imalah Sughra), Bunyi di antara Fathah dan Imalah Kubra. Ini sering digunakan oleh Imam Warsh.
7. Metodologi Sertifikasi dan Praktik
Dr. Izzat Muhammad Naufal hafidzahullah menekankan bahwa setelah memahami peta konsep (teori), peserta harus melakukan Talaqqi. Beliau menunjukkan cara praktis melakukan Jam’ul Qira’at (menggabungkan bacaan): (1) Metode Al-Ayah: Menyelesaikan satu ayat dengan semua riwayat baru pindah ke ayat berikutnya. (2) Metode Al-Waqf: Berhenti pada setiap waqf yang memungkinkan, lalu mengulang variasi yang ada. Beliau mengingatkan bahwa seorang Guru Qur’an Profesional tidak boleh hanya “tahu” tapi harus “mahir” dalam mendemonstrasikan perbedaan tersebut tanpa merusak kaidah tajwid yang bersifat umum (seperti makhraj dan shifatul huruf).
Kesimpulan
Bahwa ilmu Qira’at adalah ilmu yang menjaga keaslian Al-Qur’an melalui jalur periwayatan yang mutawatir. Dr. Izzat memotivasi para peserta bahwa dengan Mind Mapping, kerumitan kitab-kitab klasik seperti Asy-Syathibiyyah dapat dipetakan secara modern tanpa mengurangi bobot keilmuannya.
Poin Kunci untuk Peserta: Kuasai dulu perbedaan Mad dan Mim Jamak karena ini yang paling sering muncul, Gunakan visualisasi warna untuk menghafal kelompok Imam (kelompok Madinah, Makkah, Kufah, dan lain-lain), serta Perbanyak mendengarkan rekaman syaikh yang ahli dalam Qira’at ‘Asyarah untuk mengasah telinga terhadap bunyi Tas-hil dan Imalah.
Referensi Terkait yang Disebutkan:
Matan Asy-Syathibiyyah untuk Qira’at Sab’ah.
Matan Ad-Durrah untuk penyempurna menjadi Qira’at ‘Asyarah.
Ghayatun Nihayah dalam biografi para Imam Qira’at.
Rangkuman ini mencakup poin-poin esensial dari durasi panjang rekaman tersebut, difokuskan pada pemahaman konseptual dan teknis yang disampaikan oleh Dr. Izzat Muhammad Naufal hafidzahullah. Barakakkahu fiikum. (*)
Minasatene-Pangkep, 13 Mei 2026
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel