Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Panduan Metodologis: Transliterasi Aksara Lontaraq ke Latin dalam Penelitian Filologi

Panduan Metodologis: Transliterasi Aksara Lontaraq ke Latin dalam Penelitian Filologi

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Jika sudah memantapkan diri dalam penelitian Filologi, tentu langkah pertama yang harus ditata adalah tahapan/cara melakukan transliterasi dari aksara Lontaraq ke Latin. Pekerjaan ini bukan sekadar mengganti lambang bunyi, melainkan proses teknis yang menuntut ketelitian linguistik dan pemahaman konteks sejarah teks. Penguasaan transliterasi adalah kunci utama untuk mengakses data primer yang tersimpan dalam naskah kuno.

Aksara Lontaraq, secara historis berkembang dari aksara Pallawa atau Kawi, merupakan sistem tulisan abugida di mana setiap konsonan secara inheren mengandung vokal /a/. Dalam konteks penelitian naskah lontaraq Pangkep, tantangan utama transliterasi adalah sifat aksara Lontaraq yang “kurang lengkap” secara fonetis—ia tidak mengenal tanda baca yang kompleks dan tidak menuliskan konsonan rangkap (geminat) serta bunyi nasalisasi di akhir kata. Oleh karena itu, transliterasi ilmiah memerlukan standardisasi agar teks dapat terbaca sesuai maknanya.

Ada dua pendekatan utama yang harus dipahami oleh peneliti. Pertama, Transliterasi Diplomatis, yaitu pekerjaan menyalin teks persis apa adanya. Jika dalam naskah asli tertulis “pka”, maka tetap ditulis “pka” meskipun maksudnya adalah “pakka”. Kedua, Transliterasi Standar (Edisi), menyesuaikan tulisan dengan kaidah bahasa modern dan menambahkan bunyi-bunyi yang secara implisit ada dalam ucapan tetapi tidak dituliskan dalam aksara Lontaraq.

Langkah-Demi-Langkah Proses Transliterasi

Tahap 1. Pembersihan dan Pemetaan Naskah

Sebelum menulis, bersihkan naskah dari debu (jika naskah fisik) atau gunakan filter kontras pada hasil digitalisasi agar goresan tinta terlihat jelas. Identifikasi gaya penulisan (handwriting) penyalin, karena setiap penulis memiliki karakteristik lekukan huruf yang berbeda.

Tahap 2. Identifikasi Huruf Dasar (Ina Sure’)

Aksara Lontara terdiri dari 23 huruf dasar. Peneliti harus mampu membedakan huruf yang mirip, seperti ka (ᨀ) dan ga (ᨁ), atau pa (ᨄ) dan ba (ᨅ).

Tahap 3. Penerapan Tanda Vokal (Ana’ Sure’)

Vokal dasar /a/ berubah jika diberi tanda diakritik:

  • Titik di atas: vokal i (ᨀᨗ – ki)

  • Titik di bawah: vokal u (ᨀᨘ – ku)

  • Tanda di kiri: vokal e (ᨙᨀ – ke)

  • Tanda di kanan: vokal o (ᨀᨚ – ko)

  • Tanda di kanan atas (seperti tanda centang): vokal e pepet (ᨀᨙ – kə) — catatan: ini jarang ditemukan pada naskah Lontara Makassar, lebih sering pada Bugis.

Tahap 4: Rekonstruksi Bunyi Sengau dan Geminat

Ini adalah tahap paling sulit. Dalam Lontara, kata Lampa (pergi) hanya ditulis la-pa. Peneliti harus menyisipkan huruf ‘m’ berdasarkan konteks kalimat. Begitu pula dengan konsonan rangkap seperti Tappa (wajah) yang hanya ditulis ta-pa.

Tabel Konversi Aksara Lontaraq (23 Aksara dasar Bugis-Makassar) ke Latin

Aksara Latin Aksara Latin Aksara Latin
ᨀ ka ᨁ ga ᨂ nga
ᨃ ngka ᨄ pa ᨅ ba
ᨆ ma ᨇ mpa ᨈ ta
ᨉ da ᨊ na ᨋ nra
ᨌ ca ᨍ ja ᨎ nya
ᨏ nca ᨐ ya ᨑ ra
ᨒ la ᨓ wa ᨔ sa
ᨕ a ᨖ ha ᨗ i
ᨘ u ᨙ e ᨚ o

Contoh Aplikasi Analisis

Misalkan dalam naskah Lontara Pangkep ditemukan kalimat: ᨔᨗᨕ ᨆᨒᨐᨘ

  • Transliterasi Huruf per Huruf: si-a ma-la-yu

  • Transliterasi Standar (Konteks Tesis): Siang Melayu (Merujuk pada hubungan antara Kerajaan Siang dan orang Melayu).

Tanpa analisis konteks, kata si-a bisa saja dibaca sia (garam) atau si-ia (dengan dia). Di sinilah ketajaman peneliti sejarah diperlukan untuk menentukan bahwa kata tersebut merujuk pada toponimi “Siang”.

Jadi, Transliterasi adalah fondasi bagi studi filologi dan sejarah lokal di Pangkep. Kesalahan dalam transliterasi akan berakibat pada kegagalan interpretasi sejarah. Bagi mahasiswa pascasarjana, penguasaan tabel konversi di atas harus dibarengi dengan pemahaman mendalam tentang fonologi bahasa Bugis-Makassar agar mampu menyajikan teks yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

Referensi:

Abas, Husen. (1983). Beberapa Masalah Transliterasi dan Ejaan Bahasa Bugis dan Makassar. Makassar: PLP2S.

Caldwell, Ian. (1988). South Sulawesi A.D. 1300-1600: Ten Bugis Texts. Canberra: Australian National University Press.

Djamaris, Edwar. (2002). Metode Penelitian Filologi. Jakarta: CV. Manasco.

Hadjrawi, Muhlis. (2015). Lontara’ Pangkep: Edisi Teks dan Kajian Filologis. Makassar: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Kassim, Ahmad. (1982). Sistem Tulisan Lontara: Suatu Tinjauan Linguistik. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Macknight, C.C. (2016). The Bugis Lontara’ Script: A History and Description. Canberra: ANU Press.

Matthes, B.F. (1875). Boeginesche Chrestomathie. Amsterdam: Spin. (Referensi klasik untuk bentuk huruf Lontara tertua).

Mattulada. (1985). Latoa: Satu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Noorduyn, J. (1993). Variation in the Bugis/Makasar Script. In Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde.

Pelras, Christian. (1979). L’oral et l’écrit dans la tradition bugis. In Asie du Sud-Est et Monde Insulindien.

Rahman, Nurhayati. (2006). Antropologi Sastra: Lontara’ Sebagai Sumber Inspirasi. Makassar: La Galigo Press.

Salim, Muhammad. (1990). Transliterasi dan Terjemahan Lontara Beru. Makassar: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.

Tol, Roger. (2008). The Last of the Writing Masters: Lontara’ Script in the 21st Century. In Archipel.

Yatim, Nurdin. (1983). Subsistem Fonologi Bahasa Makassar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Zainuddin, Cyril. (1970). Introduction to Indonesian Linguistics. Oxford: Oxford University Press.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR