
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Puisi: Nahwu Cinta
BLOGGURU – Menulis Puisi Akrostik di dalam kelas bukan sekadar tugas merangkai kata, melainkan sebuah aktivitas Psikologi Sosial dan Literasi Kreatif yang sangat seru. Mengapa Ini Seru? Ya, Ada kepuasan tersendiri saat berhasil menemukan kata yang sulit dan menghubungkannya dengan karakter siswi/santri tersebut. Hal ini merupakan salah satu bentuk validasi diri, permainan teka teki atau bisa juga menjadi bahan canda. Terkadang akrostik yang dibuat secara santai memunculkan diksi-diksi lucu yang menggambarkan kebiasaan unik santri sekelas, yang membuat suasana kelas menjadi cair.
Proses kreatif menyusun dan merangkai puisi akrostik merupakan satu bentuk pembelajaran sastra tersendiri, ada penguatan aspek Literasi dan Linguistik (Kecerdasan Bahasa) didalamnya, khususnya menyangkut Pengayaan Kosakata dan Pengenalan Rima dan Irama. Pun ada penguatan Aspek Karakter dan Sosial (Emotional Intelligence), khususnya dalam membangun empati, meningkatkan Kepercayaan Diri, dan mempererat Ikatan (Bonding) sesama santri atau antara guru dengan santri.
Puisi akrostik juga bisa membangun Aspek Pedagogis bagi Guru. Sebagai guru bisa melihat bagaimana dinamika pertemanan di kelas dan bagaimana persepsi siswa terhadap diri mereka sendiri maupun teman-temannya. Dan tentu disana, ada Penyaluran Energi Kreatif untuk menghindari kejenuhan dari materi akademik yang berat (seperti Nahwu/Shorof) tanpa meninggalkan esensi belajar bahasa.

Santriwati SMA Kelas XII Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep. (foto: ist/*)
Berikut ini Sehimpun Puisi Akrostik (diposting memakai nama pena: Etta Adil di Web Blog Palontaraq) yang diambil atas nama dan untuk nama santriwati Kelas XII dibawah ini:
1. Adhwa Fitrah Ramadhani ~ Puisi: Karsa Sehat Adhwa
2. Adiibah Faradiba Efendi ~ Puisi: Puncak Ilmu dan Gembok Dompet Adiibah
3. Aleeya Nafeeza ~ Puisi: I‘rāb Sunyi Sang Penurut
4. Andi Nur Aqilah ~ Puisi: Kalem dalam Adab, Cemerlang dalam Prestasi
5. Aqilah Sadira Dewi ~ Puisi: Dari Bantimurung menuju Mimpi Mulia
6. Ashiiyfah Ana Idris ~ Puisi: “I’rab Cinta Calon Bhayangkari”
7. Fatimah Az-Zahra ~ Puisi: Menari dalam Doa, Tumbuh dalam Amanah
8. Fitriani ~ Puisi: Pulang Lewat Pendidikan
9. Fonny Meylia ~ Puisi: Simfoni Enam Tahun: Ketukan Hati Pemain Drumband
10. Haika Blingsia Tenri Betta ~ Puisi: Membaca Diri dengan Tartil

11. Hokky Mira Widyadana Palar ~ Puisi Etta Adil: Muhasabah Tetapkan Tujuan Hidup
12. Nabila Dzalsabilah ~ Puisi: Jejak Hafalan Seorang Santriwati
13. Najma Putri ~ Puisi: Santri diantara Waqaf dan Wasal
14. Nurhikmah – Puisi: Cahaya Hikmah dalam Langkah Sederhana
15. Nurul Awaliah ~ Puisi: Dari Hafalan ke Harapan
16. Nurul Bataritoja ~ Puisi: Bone di Masa Arumpone Batari Toja
17. Raisatuzzakinah Ikbal ~ Puisi: Langkah Manshub Menuju Cita
18. Salsa Syahida ~ Puisi: Final Render Desain Santri
19. Sofy Mumtazah ~ Puisi: Formasi Hati Dibalik Layar
20. St. Nabila Asmira ~ Puisi: I‘rab Diri dalam Diam
21. Trisna Dewi Agustin ~ Puisi: Nahwu untuk Menjaga Rasa
22. Yulfa Yansari ~ Puisi: Memilih Harmoni tanpa Sorotan Panggung
Demikianlah 22 Puisi Akrostik untuk dan atas nama Santriwati Kelas XII Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep. Barakallahu fiikum. (*)
Minasatene-Pangkep, 8 Januari 2026
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
@immim_pangkep Buku “Risalah untuk Putri IMMIM” #blogger #immim #immimputri #immimpangkep #santrikeren