
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Tips Sukses Menguasai Ilmu-ilmu Kepesantrenan
BLOGGURU – Sebaik-baiknya orang belajar ialah yang mempunyai guru. Lalu gurunya itu mempunyai guru lagi dan terus tersambung (wushul) dengan guru-guru lainnya. Itulah yang dinamakan sanad keilmuan. Sanad atau jaringan mata rantai keilmuan sangat penting dalam Islam dikarenakan besok di hari kiamat, manusia bukan saja dimintai pertanggungjawabannya tetapi juga ditanyai darimana ia mengamalkan sesuatu. Dalam Alquran dijelaskan, “Dan Aku akan menanyaimu Orang-orang yang diutus kepada mereka dan sungguh Aku akan meminta laporan para rasul.” (QS Al A’raaf: 6).
M. Ishom el-Saha (Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Serang) menulis bahwa merujuk ayat ini, seorang ulama bernama Abu Abdurrahman al-Marwazi yang memiliki nama Ali bin Al-Hasan Saqiq bercerita. Aku Mendengar dari Abdullah bin al-Mubarak yang berkata: jika kamu kelak menghadapi persidangan di hadapan Allah di Padang Mahsyar, maka berpeganglah kepada “al-atsar”.
Ali bin Al-Hasan suatu saat melakukan konfirmasi tentang apa yang dimaksud Abdullah ibn al-Mubarak dengan “al-atsar” kepada Abu Hamzah Muhammad bin Maimun al-Saukri. Apa kamu dapat menjelaskan tentang “al-atsar”? Pastinya aku akan mengamalkan apa yang kamu katakan.
Abu Hamzah menjawab: “(al-atsar adalah) di hari kiamat kelak kamu akan ditanya dari siapa kamu mengamalkan. Misalnya kamu jawab: saya mengamalkan dari Abu Hamzah. Maka saat itu juga aku dihadirkan bersamamu di hadapan Allah.
Tidak selesai di situ saja. Kata Abu Hamzah: Aku juga ditanya hal serupa. Lalu aku jawab dari al-A’mas. Maka dihadirkan pula Al-A’mas. Beliau ketika ditanya maka akan menjawab: Saya mengamalkan berdasarkan didikan Ibrahim. Lalu Ibrahim dihadirkan dan ditanya tentang asal usul ilmunya. Ia menjawab dari Alqamah. Beliau pun menjawab dari gurunya Ibnu Mas’ud. Sahabat nabi inipun menjawab dari Rasulullah. Nabi Muhammad terus menjawab dari Jibril yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT.
Jadi, sanad keilmuan juga disebut “al-atsar” yaitu jaringan yang menghubungkan murid dengan guru sampai kepada Rasulullah SAW. Menurut Asyhal b. Hatim dari Ibn Aun dari Muhammad, ia berkata bahwa: “Ilmu merupakan urusan agama. Maka perhatikan dari siapa ilmu itu kalian dapatkan!”
Imam Abdullah bin Mubarak (wafat 181 H) -rahimahullah- berkata,
Artinya:
“Sanad itu bagian dari agama. Kalau lah tidak ada sanad, pasti siapapun bisa berkata apa yang dia kehendaki.” [Muqaddimah Shahih Muslim]
Beliau juga berkata,
Artinya:
“Perumpamaan orang yang mencari ilmu agama tanpa sanad, seperti orang yang naik ke atap sebuah bangunan tanpa tangga” [Riwayat Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al Kifayah fi Ilmi Riwayah hal.393]
Imam Sufyan Ats-Tsauri (wafat 161 H) -rahimahullah- berkata:
Artinya:
“Sanad adalah senjatanya orang beriman. Apabila tidak ada senjata tersebut, maka dengan apa mereka berperang (melawan syetan dan syubhat)?” [Riwayat Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Syaraf Ashabil Hadits hal.42].
Maka demikianlah sanad keilmuan, harus dipertanggung-jawabkan pada setiap mata rantai keilmuannya dan terus bersambung ke atas sampai guru pertamanya atau guru yang menuliskannya tentang suatu perkara keislaman. Itu pula sebabnya, sangat terlarang mengada-adakan sesuatu amalan dalam agama tanpa sumber atau gurunya, apalagi didalamnya membawa nama Allah dan Rasulullah terhadap suatu amalan.
Maka sekalipun itu untuk kebaikan dan tujuannya untuk kemaslahatan, maka tetap harus ada rujukan atau wajib ada referensinya terhadap seorang guru/ulama’ yang menurunkannya, sehingga amalan atau ilmu itu dapat dipertanggung-jawabkan, bukan hanya secara ilmiah di dunia tetapi juga di akherat kelak.
Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)
Artikel/Tulisan terkait (Sumber: Palontaraq.id) :
Dalam Sepekan, Raih Tiga Ijazah Sanad Kitab Matan Ilmu Tajwid
Mengenal Kitab Bulughul Maraam dan Ibnu Hajar al-Asqalani
Sekilas tentang Ibnu Katsir dan Kitab Al-Bidayah wan Nihayah
Kisah Adab Murid-Guru dibalik Penyusunan Kitab Alfiah Ibnu Malik
Imam Malik dan Kitab Al-Muwaththa’ yang Disepakati
Mengenal Syekh Zarnuji dan Kitab Ta’lim al-Muta’allim
Mengenal Kitab Irsyadul ‘Ibad dan Pengarangnya
Mengapa Mesti Belajar Matan Tuhfatul Athfal?
Mengenal Pengarang, Isi dan Terjemah Aqidatul Awwam
Sekilas tentang Matan Qathrunnada Wa Ballushshada
Kitab Kuning yang Wajib dipelajari Santri dan Ustadz
Download Kitab Tafsir Al-Qur’an (Link PDF Gratis)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.