Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Catatan Kuliah S2 Non Reguler (1): Studi Naskah Sejarah

Catatan Kuliah S2 Non Reguler (1): Studi Naskah Sejarah

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Mengakrabi Sirah Nabawiyah dalam Kitab Ar-Rahiqul Makhtum

BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, hari ini, Jumat (27/3/2026) merupakan kuliah perdana Pascasarjana (S2) Non Reguler Dirasah Islamiyah Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam (SPI) setelah libur semester 1 dan libur Ramadhan 1447 H. Sebetulnya awal perkuliahan semester 2 sudah dimulai dihitung sejak pelaksanaan Kuliah Umum Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. Penulis sempat mengikutinya dan mencatatnya disini: Kuliah Umum: Integrasikan Ekoteologi hingga Multilingual Academic Literacy.

Untuk semester genap ini, terdapat 5 mata kuliah yang penulis harus tuntaskan. Salah satunya adalah Mata Kuliah “Studi Naskah Sejarah” dengan dosen pengampu: Prof Dr Hasaruddin, M.Ag dan Dr Abu Haif, M.Ag. Sebelumnya, di akhir semester 1 penulis mencari tahu tentang mata kuliah ini dan melakukan pencatatan awal disini: Pengantar Studi Naskah Sejarah. Apa hubungan studi naskah sejarah dalam konteks pembelajaran sejarah peradaban islam? Apakah naskah sejarah yang dimaksud termasuk kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh para ulama? Ya, Studi naskah sejarah memiliki kedudukan yang sangat sentral dalam pembelajaran Sejarah Peradaban Islam (SPI). Naskah dan Kitab-kitab karya para ulama salaf bukan sekadar tumpukan kitab lama atau manuskrip kuno, melainkan sumber primer yang merekam memori kolektif, kebijakan politik, hingga dinamika sosial umat Islam di masa lalu.

Studi naskah, baik itu filologi maupun kritik teks tentu akan sangat membantu memastikan autentisitas peristiwa sejarah. Dalam konteks SPI, naskah sejarah mencakup kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama. Para ulama terdahulu seringkali berperan ganda sebagai ahli hukum/teologi sekaligus sejarawan (muarrikh). Tanpa mempelajari naskah asli para ulama, pemahaman kita terhadap SPI hanya akan bersifat sekunder (bergantung pada interpretasi orang lain). Naskah-naskah ini memberikan detail tentang sanad (jalur informasi) yang menjadi ciri khas historiografi Islam.

Beberapa Kitab Sejarah Karya Ulama untuk Tingkat Dasar, berfokus pada memahami garis besar alur sejarah (Prophetic history hingga kekhalifahan) dengan penyajian yang lebih naratif, diantaranya adalah Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalim dan Kitab Sirah Nabawiyyah Ibnu Hisyam yang merupakan ringkasan dari karya Ibnu Ishaq. Ini adalah standar emas untuk memahami fondasi awal peradaban Islam di masa Rasulullah. Kemudian ada pula Kitab Tarikh al-Khulafa Imam as-Suyuthi. Kitab ini sangat baik untuk pemula karena merangkum sejarah para khalifah mulai dari Abu Bakar hingga masa Abbasiyah dengan bahasa yang relatif mudah dipahami. Begitu pula Kitab Al-Bidayah wan Nihayah (Bagian Sirah & Khulafa) Ibnu Katsir. Meskipun sangat tebal, bagian awal kitab ini sering diringkas untuk tingkat dasar guna memahami awal mula penciptaan hingga sejarah para nabi. Lihat disini: Sekilas tentang Ibnu Katsir dan Kitab Al-Bidayah wan Nihayah

Untuk Kitab Sejarah karya Ulama untuk Tingkat Lanjutan, dimana pembelajaran terhadap kutub ini bisa dipakai untuk melakukan analisis kritis, sosiologis, dan metodologis, yaitu: Kitab Tarikh al-Rusul wa al-Muluk oleh Imam ath-Tabari. Kitab ini sering disebut sebagai “Induk Sejarah”. Kitab ini menggunakan metode isnad (menyebutkan sumber informasi secara lengkap), menuntut pembaca memiliki kemampuan mengkritisi jalur periwayatan. Selanjutnya ada Kitab Al-Kamil fi al-Tarikh Ibnu al-Athir yang sistematis dan kronologis dibanding ath-Tabari, sangat penting untuk memahami periode Perang Salib dan serangan Mongol.

Kitab lainnya adalah Al-Muqaddimah-nya Ibnu Khaldun. Kitab ini tidak hanya bicara “kapan” sesuatu terjadi, tapi “mengapa” peradaban bangkit dan runtuh. Ini adalah dasar ilmu sosiologi sejarah. Ada pula Kitab Siyar A’lam al-Nubala karya Imam adz-Dzahabi yang berfokus pada biografi Tokoh-tokoh besar. Kitab ini penting dipelajari untuk memahami peradaban melalui tokoh-tokoh intelektual dan politiknya.

***

Untuk pertemuan perdana ini, dosen pengampu Prof Dr Hasaruddin, M.Ag memberikan penugasan untuk mempelajari Kitab sederhana “Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin”. Sebagai langkah awal pengkajian kitab-kitab sejarah, tentu saja penulis sangat senang dengan penugasan ini, sekaligus membuat penulis melakukan pembelajaran dan refleksi ulang terhadap materi kitab yang hampir semua pondok pesantren salaf mempelajarinya. Alhamdulillah penulis pernah mempelajarinya lewat majelis ilmu beberapa ustadz dan telah pula mendapatkan sanad kitabnya. Download Kitab “Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin” disini: نور اليقين فى سيرة سيد المرسلين

Mempelajari kitab-kitab sejarah karya para ulama tentu akan memperkaya pemahaman Sejarah Peradaban Islam (SPI) dengan lebih utuh karena: Pertama, terkait Validasi Data atau menghindari bias sejarah modern atau orientalis dengan merujuk langsung pada pencatat sezaman. Kedua, Transmisi Intelektual. Kita bisa melihat bagaimana ilmu pengetahuan (Sains, Kedokteran, Filsafat) berkembang berdampingan dengan ilmu agama dalam satu naskah. Ketiga, tentu saja untuk Memahami Worldview Muslim. Naskah ulama mencerminkan cara pandang hidup masyarakat Muslim saat itu—bagaimana mereka melihat hubungan antara kekuasaan, keadilan, dan takdir Tuhan.

Demikian catatan singkat ini sebagai pengingat kegiatan akademik yang telah diikuti. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

Minasatene-Pangkep, 27 Maret 2026

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

KELUAR