Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Mengakrabi Sirah Nabawiyah dalam Kitab Ar-Rahiqul Makhtum

Mengakrabi Sirah Nabawiyah dalam Kitab Ar-Rahiqul Makhtum

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

BLOGGURU – Segala puji bagi Alloh ta’ala yang telah mengutus RosulNya dengan petunjuk dan Ad-Dien al-haq untuk memenangkan atas seluruh agama, lalu menjadikannya sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan peringatan serta menjadikannya sebagai penyeru kepada Allah dengan izinNya, sebagai lentera yang bercahaya dan menjadikan padanya suri tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan ridho Alloh dan balasan di hari akhir serta banyak berdzikir kepadaNya.

Allahumma Shalli ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi Muhammad. Ya Alloh sampaikan sholawat dan salam kepada beliau, berkahi diri beliau, keluarga para sahabat serta Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat serta pancarkanlah bagi mereka sumber-sumber rahmat dan keridhoan. Amma ba’du

Sungguh bahagia dapat diberi kesempatan dan kesehatan belajar tentang Insan Kamil, Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa sallam. Kitab “Ar-Rahikul Makhtum” yang selama ini penulis pelajari hanya terjemahnya saja, “Sirah Nabawiyah”, Alhamdulillah dapat belajar sedikit demi sedikit dari kitab aslinya dalam Bahasa Arab. Kitab ini memang luar biasa, penulisnya, Syaikh Syafiyur Rahman al-Mubarakfury tentu telah melewati pembelajaran yang sangat banyak dan lama, penuh dengan ketelitian, dijiwai kecintaan (mahabbah) kepada Rasulullah, dan membekali diri dengan banyak referensi, sehingga karyanya “Ar-Rahikul Makhtum”  menjadi juara pada perlombaan internasional islam dunia di Pakistan dalam Bulan Rabiul Awwal Tahun 1396 H/ 1976 M.

Syaikh Syafiyur Rahman al-Mubarakfury memaparkan sedikit metode penulisannya dalam kitab karyanya tersebut, dan di akhir kalimah beliau berdoa, “Ya Alloh takdirkanlah bagi saya kebaikan di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, Pemilik Arsy yang Maha Mulia.”

Kitab Ar-Rohiqul Makhtum (bahasa Arab: الرحيق المختوم ) merupakan Kitab Sirah (Biografi) Nabi Muhammad, yang ditulis dalam Bahasa Arab dan Urdu oleh ShofiyurRahman al-Mubarakfuri. Versi bahasa Arabnya dianugerahi juara pertama oleh Liga Muslim Dunia, dalam Islamic Conference on Seerah, menyusul kompetisi terbuka untuk Buku Siroh Rasul Allah (kehidupan Muhammad) dalam Tahun 1979 (1399 H).  Kitab “Ar-Rahikul Makhtum” mampu menyaingi  170 manuskrip lainnya, 84 dalam bahasa Arab, 64 dalam bahasa Urdu, 21 dalam bahasa Inggris satu dalam bahasa Prancis dan satu dalam bahasa Hausa.

Kitab “Ar-Rahikul Makhtum”  menyediakan rujukan otentik yang menjadikannya lebih terpercaya dan tidak kontroversial. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Sealed Nectar.” Judul kitab diambil dari ayat Quran. “Yusqawna mirrohiq-(in)-makhtum-in (Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), yang merupakan ayat ke-25 dalam Qs. Al-Mutaffifin (Orang-orang yang Curang), secara singkat dapat diartikan sebagai “Bukti Kenabian”.

Siapa sebenarnya Syaikh Syafiyur Rahman al-Mubarakfury? Beliau lahir pada 6 Januari 1943 di Mubarakpur, dekat Kota Banares, India. Keluarga beliau dinasabkan kepada kaum Anshar, sebagai keturunan shahabat Nabi, Abu Ayyub Al-Anshari. Pendidikannya diawali Madrasah Ibtidaiyah di Darut Ta’lim Mubarakpur (1948), kemudian melanjutkan studi ke Ihya’ul ‘Ulum di kota yang sama. Selama 5 tahun, beliau fokus mempelajari bahasa Arab, Tafsir, Hadits, Fiqih, dan lain-lain. Beliau dinyatakan Lulus dalam Bulan Januari 1961 dengan predikat Mumtaz (Cum Laude).  Sebelumnya, beliau berhasil meraih ijazah bergelar Maulawi pada Februari 1959, juga titel `Alim dari Hai`ah Al-Ikhtibarat Li Al-Ulum Asy-Syarqiyyah di Allahabad, India pada Februari 1960.

Syaikh Syafiyur Rahman al-Mubarakfury mengajar  di Universitas Salafiyah, Banares, India, juga menyibukkan diri  sebagai Pimpinan Redaksi  majalah bulanan “Muhaddits” Universitas tersebut.  Beliau aktif menerbitkan artikelnya dalam bidang Tafsir dan Hadits.  Pada tahun 1396 H, beliau mengikuti lomba penulisan Sirah Nabawiyah di Pakistan yang diselenggarakan oleh Rabithah Alam Islami. Disinilah karya beliau yang berjudul Ar Rohiq Al Makhtum berhasil meraih gelar sebagai juara pertama.

Selama 10 Tahun, dalam Tahun 1988-1997 M, Syaikh  Syafiyur Rahman Al Mubarakfuri bekerja di Universitas Islam Madinah, tepatnya di Markaz Khidmah As Sunnah An Nabawiyyah, kemudian pindah ke Riyadh untuk mengawasi persiapan percetakan kitab-kitab hadits yang diterbitkan oleh Penerbit Darussalam.

Syaikh Syafiyur Rahman Al Mubarakfuri  menyadari betapa besarnya bahaya dan tantangan yang dihadapi umat Islam jika tak memahami sejarah, khususnya Sirah Nabawiyah.  Sirah sendiri memiliki arti yang serupa dengan Sejarah, namun Sirah lebih khusus, dilihat dari sumber, perincian dan tujuannya.  Sirah berasal dari kata “saraha” berarti perjalanan hidup sedangkan sejarah berasal dari kata syajarah (syajaratun) bermaksud pohon.  Siroh Nabawiyah pembahasannya bertumpu kepada perjalanan dan kisah hidup Nabi Muhammad ﷺ secara rinci. Pembahasan juga menekankan sifat pribadi, akhlak serta cara dia menjalani kehidupan sehari yang bisa diteladani. Sedangkan sejarah pembahasannya hanya mengenai peristiwa-peristiwa yang dianggap penting yang terjadi pada masa lampau. Lebih difokuskan kepada perkembangan peradaban ataupun perkembangan suatu zaman.

Siroh Nabawiyah bersumber hanya dari ayat Al-Quran, hadits nabi ﷺ, dan riwayat para sahabatnya. Sedangkan sejarah melalui sumber primer (bukti-bukti dan rujukan yang kukuh), sekunder (penyelidikan), dan lisan (saksi), Siroh mengkhususkan kepada seseorang individu sedangkan sejarah kepada peristiwa dan pelakunya. Kedudukan fakta Sirah Nabawiyah tidak bisa berubah karena kejadian telah tercatat di dalam al-Quran, hadits dan riwayat sahabat (tidak ada yang baru). Sedangkan sejarah bisa saja berubah dengan ditemukannya sumber ataupun bukti yang lebih awal (baru) atau jelas dari sumber sebelumnya (lebih tua).  Siroh Nabawiyah bertujuan sebagai pemberi teladan, contoh dan pendukung sejarah Islam.

Menjelang akhir hayatnya, Syaikh Syafiyur Rahman Al Mubarakfuri  sempat melakukan perjalanan ke India selama beberapa bulan untuk berobat. Dan tidak lama kemudian, akibat sakit yang cukup lama, beliau pun meninggal dunia di sana pada hari Jum’at, 10 Dzul Qa’dah 1427 atau yang bertepatan tanggal 1 Desember 2006.

Karya- Karya Beliau di antaranya:

1. Ar Rohiqul Al Makhtum , Sirah Nabawiyah yang menjadi Juara I Lomba Penulisan Sirah Nabawiyah yang diselenggarakan oleh RabithahAlam Islami. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

2. Raudhah Al Anwar fi Sirah An Nabi Al Mukhtar Shallallahu ‘alaihi wasallam , sirah nabawiyah yang lebih ringkas daripada yang pertama.

3. Syarh Bulughil Maram karya Ibnu Hajar Al Asqalani. Beliau mensyarahnya dengan syarah yang ringkas.

4. Ketika Bulan Terbelah

5. Sejarah Makkah Al Mukaramah

6. Sejarah Madinah Al Munawarah

7. Ringkasan atau Shahih Tafsir Ibnu Katsir, dan lain-lain.

Syaikh Syafiyur Rahman Al Mubarakfuri  menerapkan metode penulisan maupun penelitian yang khas, yaitu Sebelum menulis penelitian, beliau melihat perlunya menjadikan tulisan tersebut dalam ukuran sedang, guna menghindari model tulisan panjang yang menjenuhkan atau singkat tapi tidak padat isi. Jika beliau melihat dalam beberapa sumber adanya perbedaan yang signifikan dalam penyebutan kronologis kejadian, maka beliau melakukan analisis mendalam menyoroti segala aspek terkait, memantapkan pendapat yang rojih/kuat, lalu proses analisis pada bagian inti dari tulisannya tersebut.

Disisi lain, Syaikh Syafiyur Rahman Al Mubarakfuri juga menghindari  pemaparan dali-dalil/bukti penguat yang mengakibatkan tulisan terkesan panjang lebar dan sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Namun beberapa hal beliau tetap merujuk kepada dalil tersebut dikhawatirkan ada diantara pembaca yang merasa aneh dengan tulisan ini, melihat penulis lain mengambil pendapat yang bertentangan dengan data yang sebenarnya.

Berikut ini beberapa pembahasan yang sistematis (sesuai kronologis) dipaparkan dalam Kitab “Ar-Rahikul Makhtum” diantaranya tentang: Letak Geografis Arab & Kondisi Penduduknya, Kekuasaan & Emirat dikalangan Bangsa Arab, Agama Bangsa Arab, Gambaran Bangsa Arab Jahiliyyah, Nasab & Keluarga Nabi ﷺ, Kelahiran & Empat Puluh Tahun Sebelum Kenabian, Fase Mekkah, Dibawah Naungan Kenabian & Kerasulan, Perintah Melaksanakan Dakwah Kepada Alloh & Materi Dakwah, dan Tahapan Pertama : Upaya Dakwah.

Selanjutnya pembahasan Tahapan Kedua dari Kenabian: Dakwah Secara Terang-Terangan, dilanjutkan bahasan tentang Pemboikotan Menyeluruh Terhadap Keluarga Nabi ﷺ, Tahun Kesedihan, Faktor Kesabaran & Ketegaran Kaum Muslimin, Tahapan Ketiga : Dakwah Diluar Kota Mekkah, Menawarkan Islam Kepada Kabilah & Individu, Isro’ & Mi’roj, Bai’at Aqobah Pertama, Bai’at Aqobah Kedua (Bai’at Kubro), Mereka Yang Berhijrah, Parlemen Quraisy Darun Nadwah Mengadakan Sidang Istimewa, Nabi ﷺ Berhijrah, Kehidupan di Madinah, Kondisi aktual di Madinah Ketika Berhijrah, dan Membangun Masyarakat Baru.

Selanjutnya pembahasan tentang Perjanjian Dengan Yahudi, Perlawanan Berdarah, Perang Badar Kubro, Aktifitas militer Menjelang Perang Uhud, Konspirasi Untuk Membunuh Nabi ﷺ, Perang Bani Qoinuqa’, Perang Uhud
Ekspedisi Perang Antara Perang Uhud & Ahzab, Perang Ahzab, Perang Bani Quraizah, Aktifitas Militer Setelah Perang Bani Quraizhah, Perang Bani Mushtaliq / al Muraisi’, Perjanjian Hudaibiyah, Tahapan Kedua : Era Baru
Aktifitas Militer Setelah Perjanjian Hudaibiyah (Perang ghabah / dzu qorod), Perang Khaibar & Wadil Quro, dan Peperangan- Peperangan Lain di Tahun Ke 7 Hijriah

Selanjutnya pembahasan tentang Umroh Qodho’, Perang Mu’tah, Penaklukan Kota Mekkah, Tahapan Ketiga, Perang Hunain pengiriman duta dan satuan perang sepulang dari penaklukan Mekkah, Perang Tabuk Bulan Rajab Tahun 9 H, Abu Bakar Ash-Shiddiq Rhodiyallohu‘anhu Menunaikan Haji, Menyoroti Peperangan Pada Masa Rosululloh ﷺ, Manusia Berbondong-Bondong Memeluk Agama Alloh Ta’ala, Keberhasilan Dakwah Islam & Pengaruhnya, Haji Wada’ (Perpisahan), Rosululloh ﷺ Wafat, dan Detik-detik Perpisahan.

Mendekati akhir pembahasan, rasanya ada suasana batin yang mulai menyesakkan dada, seperti ikut merasakan langsung perpisahan dengan Rasulullah. Syaikh Syafiyur Rahman al-Mubarakfury menguraikannya dengan detail mulai: Permulaan Sakit, Pekan Terakhir, Lima Hari Sebelum Wafat, Empat hari sebelum wafat, Dua atau Sehari sebelum wafat, Sehari sebelum wafat, Hari Teakhir kehidupan Rosululloh ﷺ, Detik- detik terakhir, dan
Puncak kesedihan para sahabat Rodhiyalllohu’anhum.

Di akhir pembahasan, Syaikh Syafiyur Rahman al-Mubarakfury menguraikan sikap sahabat dan suasana kebatinan Umat Islam ditinggal Rasulullah. Beliau menuliskan: Sikap Umar Bin Khoththob Rhodiyallohu’anhu, Sikap Abu Bakar Rhodiyalllohu’anhu, Menangani Jasad Rosululloh ﷺ, Rumah TanggaNabi ﷺ, Sifat & akhlak ﷺ, Keindahan Fisik Beliau ﷺ, serta Kesempurnaan Jiwanya dan Kemuliaan Akhlak Beliau ﷺ.

Sungguh kitab “Ar-Rahiqul Makhtum” perlu dibaca setiap muslim, dan merasakan perjuangan beliau dalam menegakkan Dienullah. Syaikh Syafiyur Rahman al-Mubarakfury telah berhasil mengantarkan kita lewat kitab ini untuk lebih mengakrabi dan memahami sisi-sisi penting dalam perjalanan kehidupan Rasulullah SAW,  diulas secara lengkap dan terperinci kemudian ditutup dengan pemaparan detik-detik terakhir kehidupan beliau ﷺ serta gambaran sifat dan budi pekerti beliau ﷺ.

Alhamdulillah semoga Alloh memberikan Taufiq dan menjadikan ilmu yang bermanfaat serta diberkahi bagi kita semua. Amiin summa Aminn.  (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan Al-Qur’an-Hadits/Pengasuh Pontren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Mengakrabi Kitab Irsyadul Ibad
Oleh : Immim pangkep

Mengakrabi Kitab Irsyadul Ibad

0 Komentar

KELUAR