
BLOGGURU – Berikut ini lanjutan dari Part 7 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin.
Muhammad tidak mewarisi harta apa-pun dari ayahnya, bahkan dia dilahirkan dalam keadaan yatim, tak berayah lagi tidak mampu, dan selanjutnya ia dititipkan pada kalangan Bani Sa’d. Tatkala ia telah mencapai usia yang cukup untuk bekerja, maka ia mulai bekerja menggembala ternak bersama-sama dengan saudara sepersusuannya di daerah pedalaman. Begitu pula tatkala ia kembali ke Makkah, ia pun bekerja menggembalakan ternak milik penduduk kota Makkah dengan imbalan upah beberapa girath emas seperti apa yang telah dituturkan Iman Bukhari di dalam kitah Shahih-nya.
Tidak mengherankan jika para nabi melepaskan dirinya dari masalah duniawi dan kesibukan-kesibukannya karena hal ini merupakan keharusan bagi mereka. Seandainya mereka berada dalam kekayaan yang berlimpah, niscaya perkara duniawi akan melalaikan dan menyibukkan dirinya dari kebahagiaan ukhrawi yang abadi. Oleh sebab itu Anda pasti melihat semua syariat Ilahi dan sepakat menganggap baik perbuatan zuhud (menjauhi keduniawian).
Hal ini telah dibuktikan oleh para nabi zaman dahulu. Mereka merupakan saksi yang paling agung dalam masalah ini. Nabi ‘Isa a.s. adalah orang yang paling menjauhi keduniawian, demikian pula apa yang telah dilakukan oleh Nabi Musa dan Nabi Ibrahim a.s. Sewaktu masih kecil mereka tidak hidup dalam kemewahan, tetapi mereka hidup dalam kesederhanaan. Yang demikian merupakan hikmah yang agung dari Allah, sengaja dinampakkan Allah kepada nabi-nabi-Nya supaya mereka menjadi teladan buat para pengikutnya dalam mencegah diri dari mengejar keduniawian karena sesungguhnya perkara duniawi itu merupakan penyebab malapetaka dan musibah.
Demikian pula yang menggembalakan kambing atau domba, bukan hanya seorang nabi, melainkan mereka semua pernah menggembalakannya sesuai dengan berita yang dikemukakan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Shahih-nya dari Rasulullah saw. Hal ini pun mengandung hikmah yang sangat besar karena seorang manusia bila menggembala kambing atau domba yang merupakan makhluk paling lemah, niscaya hatinya akan dipenuhi dengan rasa kasih sayang dan sikapnya akan menjadi lemah lembut. Bilamana ia beralih untuk menggembalakan manusia, maka modal pertama yang berhasil diraihnya ialah, dirinya terlepas dari sifat egois dan tidak ada kecenderungan untuk menganiaya, dan dengan demikian ia akan menjadi orang yang mempunyai kondisi paling prima untuk mengemban tugas berat ini.
Tatkala Muhammad tumbuh menjadi seorang pemuda, ia mulai berdagang. Yang menjadi temannya pada saat itu adalah As Saib ibnu Abu Saib. Ia pernah membawa dagangan Siti Khadijah r.a. ke negeri Syam dengan imbalan upah yang diambil dari keuntungannya. Setelah Siti Khadijah menyatakan kesediaan untuk menikah dengannya, sedangkan Siti Khadijah adalah wanita pengusaha yang kaya, lalu Muhammad bekerja mengembangkan hartanya, dan dia selalu memakan dari hasil keringatnya sendiri. Allah swt. menyebutkan hal ini sebagai anugerah daripada-Nya sebagaimana diungkapkan Allah dalam surat Adh-Dhuha berikut ini:
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kecukupan. (Q.S. 93 Adh-Dhuha: 68)
Allah telah memberi perlindungan dan membuatnya berkecukupan sebelum masa kenabiannya dan sebelum ia mendapat hidayah berkat kenabiannya. Selanjutnya Allah memberinya petunjuk Al-Kitab, iman, dan agama Nabi Ibrahim a.s., padahal sebelumnya ia tidak mengetahui tentang hal-hal tersebut. Sehubungan dengan hal ini Allah swt. berfirman:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah AlKitab (Al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman ita, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. (Q.5. 42 Asy-Syura: 52)
Muhammad adalah orang yang paling baik di antara kaumnya dalam masalah akhlak, paling jujur perkataannya, paling dipercaya, dan paling jauh dari perbuatan keji meskipun perilaku rendah telah membudaya pada masa itu. Selain itu, Muhammad adalah orang yang paling utama di antara kaumnya dalam hal memelihara harga diri, paling mulia di dalam bergaul, paling baik dalam bertetangga, paling besar rasa maafnya, dan paling jujur dalam berbicara: oleh sebab itu mereka menjulukinya sebagai Al-Amin (orang yang dipercaya). Hal itu berkat anugerah yang telah dilimpahkan oleh Allah kepadanya berupa hal-hal yang baik lagi terpuji dan watak watak terpuji seperti penyantun, penyabar, bersyukur, adil, rendah diri, memelihara kehormatan diri, dermawan, pemberani, dan pemalu. Hal tersebut diakui oleh musuh bebuyutannya sendiri, yaitu AnNadhr ibnu.
Harits dari kalangan Bani ‘Abdud-Dar. Ia pernah mengatakan kepada kaumnya, “Dahulu, ketika Muhammad masih remaja, kalian telah rela dengan keputusannya, dan dia adalah orang yang paling dipercaya per. kataannya di antara kalian. Ketika ia telah dewasa ia datang membawa berita kepada kalian, tetapi kalian mengatakannya sebagai seorang tukang tenung. Tidak, demi Allah, dia bukan seorang tukang tenung.” An-Nadhr ibnul-Harts menyatakan hal ini dalam sanggahannya terhadap apa yang telah dikatakan oleh orang-orang Arab terhadap diri Nabi saw., yang pada waktu itu sedang menghadiri musim haji sehingga akibatnya mereka mengakui apa yang dikatakannya.
Tatkala kaisar Romawi, Heraclius, bertanya kepada Abu Sufyan yang pada saat itu menjadi utusan Nabi saw. untuk menyampaikan pesannya, “Apakah kalian menuduhnya pernah melakukan kedustaan sebelum ia (Rasulullah saw.) mengatakan apa yang telah dikatakannya itu?” Abu Sufyan spontan menjawab, “Tidak.” Lalu Kaisar Heraclius berkata, “Sungguh, bila ia tidak membiarkan dirinya berbuat dusta terhadap manusia. maka ia pun tidak akan membiarkan dirinya berbuat dusta terhadap Allah.” Demikianlah menurut hadis yang dikemukakan oleh Imam Bukhari di dalam awal kitab Shahih-nya.
Allah swt. memelihara dirinya sejak ia masih kecil dari semua perbuatan jahiliyah yang bertentangan dengan ajaran syariat” yang dibawanya kemudian. Sudah menjadi pembawaannya ia sangat benci kepada berhalaberhala sehingga ia sama sekali belum pernah menghadiri pesta atau perayaan yang biasa diselenggarakan oleh para penyembahnya. Rasulullah saw. pernah bercerita, “Tatkala aku masih kecil, aku mulai membenci berhala-berhala, dan aku pun benci terhadap syair (yang biasa diucapkan oleh orang-orang jahiliah), dan aku belum pernah mempunyai maksud untuk melakukan suatu perbuatan yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliah kecuali hanya dua kali, tetapi sebelum kedua hal itu terjadi Allah swt. menghalang-halangi diriku melakukan perbuatan tersebut. Kemudian setelah peristiwa itu aku sama sekali tidak mempunyai maksud lagi untuk melakukan perbuatan jelek sehingga Allah memuliakan diriku dengan risalah-Nya.
“Pada suatu malam aku berkata kepada seorang teman yang samasama menggembala ternak denganku, “Tolong perhatikan domba gembalaanku ini dan jaga mereka, aku bermaksud memasuki kota Makkah dan ikut menonton pertunjukan sebagaimana layaknya pemuda-pemuda lainnya. Lalu aku keluar dari daerah pengembalaan untuk tujuan tersebut sehingga aku sampai di sebuah rumah yang terletak paling pinggir di kota Makkah. Ketika itu aku mulai mendengar suara musik rebana dan seruling untuk pesta perkawinan salah seorang dari mereka. Kemudian di tempat itu aku duduk beristirahat sambil mendengarkan suara musik tersebut, tetapi tiba-tiba Allah mendatangkan rasa kantuk yang sangat hingga aku tertidur pulas, dan baru pada keesokan harinya aku terbangun setelah merasakan sengatan panas matahari pagi. Aku tidak sempat menyaksikan pertunjukkan tersebut sama sekali: dan hal serupa pernah pula menimpa diriku pada kesempatan lain.”
Rasulullah saw. belum pernah memakan daging sembelihan yang disembelih untuk nushub ” sebagaimana ia pun mengharamkan atas dirinya khamar, padahal minuman khamar telah membudaya di kalangan kaumnya. Semuanya itu merupakan sifat-sifat yang dianugerahkan oleh Allah swt. kepada para nabi-Nya supaya mereka memiliki persiapan yang matang untuk menerima wahyu daripada-Nya.
Para nabi semuanya dimaksum (dipelihara) dari perbuatan-perbuatan yang kotor dan buruk, baik sebelum mereka diangkat menjadi nabi maupun sesudahnya. Sebelum masa kenabian, hal tersebut dimaksudkan supaya mereka bersiap-siap menerima perkara yang agung yang kelak akan dipikulkan kepadanya. Sesudah masa kenabian, hal tersebut dimaksudkan supaya mereka menjadi teladan yang paling utama buat umatnya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam-Nya yang paling utama dan paling sempurna kepada mereka. (*)