Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Nurul Yaqin (19): Perkawinan dengan Aisyah r.a dan Hijrah ke Thaif

Terjemah Nurul Yaqin (19): Perkawinan dengan Aisyah r.a dan Hijrah ke Thaif

BLOGGURU – Berikut ini lanjutan dari Part 18 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin.

PERKAWINAN DENGAN SITI ‘AISYAH

Selang sebulan kemudian Rasulullah saw. menikah lagi dengan Siti ‘Aisyah binti Abu Bakar, yang pada waktu itu umurnya tidak lebih dari tujuh tahun. Rasulullah saw. tidak pernah kawin dengan perawan selain Siti ‘Aisyah. Rasulullah saw. baru mencampurinya setelah berada di Madinah, sedangkan dengan Siti Saudah ia mencampurinya sewaktu masih berada di Makkah.

Setelah Siti Khadijah wafat, sebulan kemudian pamannya, Abu Thalib, meninggal dunia pula. Abu Thalib adalah orang yang selalu melindungi Rasulullah saw. dari perlakuan musuh-musuhnya. Sekalipun Abu Thalib tidak pernah mendustakan Rasulullah atas apa yang didatangkan kepadanya, bahkan dia meyakini kebenarannya, ia tidak mengucapkan kalimah Syahadat hingga akhir hayatnya. Sehubungan dengan itu Allah menurunkan firman-Nya:

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Q.9. 28 Al-Gashash: 58)

Hanya perbuatan-perbuatannya yang agung yang telah dilakukannya terhadap Rasulullah saw. kami memohon kepada-Nya semoga dia mendapat keringanan. Tidak Islamnya Abu Thalib dan sebagian besar kerabat Rasul mengandung hikmah yang nyata karena sesungguhnya, jika mereka segera mengikuti Rasul saw., niscaya ada orang yang mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang mencari pengaruh dan kebanggaan yang belum mereka miliki, akhirnya mereka melakukan buat-buatan itu.

Setelah orang-orang yang ingkar dan para pengikutnya mengetahui bahwa para pengikut Rasulullah saw. hanyalah terdiri dari orang-orang lain, dan bukan keluarganya, bahkan terkadang justru bekas musuhnya seperti “Utsman ibnu ‘Affan dari Bani Umayyah, mereka tidak mempunyai alasan hujjah sedikit pun buat menuduh Rasulullah saw. kecuali dengan taduhan-tuduhan bohong belaka manakala mereka terdesak dan tidak mempunyai alasan lain, yaitu seperti perkataan mereka bahwa Muham. mad seorang tukang sihir yang memecah belah seseorang dengan istrinya. Terkadang mereka mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang tukang ramal yang dapat meramal hal-hal gaib.

Rasulullah saw. menamakan tahun istri dan pamannya meninggal dunia sebagai ‘amul huzn (tahun kesedihan). Setelah Abu Thalib mening:gal dunia, orang-orang musyrik Quraisy dapat melancarkan tekanantekanan terhadap diri Rasulullah saw. yang belum pernah mereka lakukan sewaktu Abu Thalib masih hidup. Tekanan yang mereka lancarkan itu kian hari kian bertambah keras sehingga mereka berani menaburkan tanah di atas kepalanya ketika ia sedang berjalan, dan mereka pernah meletakkan kotoran kambing di tubuh Rasulullah saw. pada saat ia sedang menjalankan salat.

Pada suatu hari orang-orang kafir Quraisy menarik-narik tubuh Rasulullah saw. di antara sesama mereka, lalu mereka mengatakan, “Engkaukah orang yang hendak menjadikan tuhan-tuhan banyak menjadi satu Tuhan?”

Pada saat itu tidak ada seorang pun dari kalangan kaum Muslimin yang menyaksikan kejadian itu, berani maju untuk membebaskan Rasulullah saw. dari cengkeraman mereka karena kaum Muslimin pada saat itu masih lemah sekali. Akhirnya majulah Sahabat Abu Bakar dengan berani seraya berkata kepada mereka, “Apakah kalian hendak membunuh seorang lelaki yang hanya mengatakan, Rabb-ku-Allah?”

HIJRAH KE THAIF

Tatkala Rasulullah saw. melihat orang-orang Quraisy mulai berani menghina dirinya, ia bermaksud pergi menemui orang-orang Bani Tsagif di kota Thaif. Rasulullah saw. pergi ke Thaif dengan maksud meminta bantuan dan pertolongan dari mereka untuk menghadapi kaumnya hingga ia dapat menunaikan perintah Allah swt., yaitu menyiarkan dakwah Islam.

Orang-orang Thaif tinggal di dekat kota Makkah, dan pula Rasulullah saw. masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan mereka karena ibu Hasyim ibnu ‘Abdu Manaf, yaitu ‘Atikah as-Sulamiyyah, berasal dari Bani Salim ibnu Manshur, sedangkan Bani Salim ini adalah halif (sekutu) Bani Tsaqif.

Rasulullah saw. berangkat menuju Thaif dengan ditemani bekas hamba sahayanya, yaitu Zaid ibnul-Haritsah. Sesampainya di Thaif Rasulullah di sambut oleh pemimpin-pemimpin Thaif. Mereka bertiga, yaitu ‘Abdu Yalil, Mas’ud, dan Habib, semuanya anak ‘Amr ibnu ‘Umair ats-Tsagafiy. Lalu Rasulullah saw. mengemukakan maksud kedatangannya,.yaitu meminta pertolongan dari mereka untuk membantunya sehingga ia dapat menunaikan dakwahnya. Akan tetapi, mereka menolak permintaan Rasulullah dengan tolakan yang buruk, dan Rasulullah saw. tidak melihat adanya tanda-tanda kebaikan pada diri mereka. Pada saat itu juga Rasulullah saw. meminta kepada mereka agar hal tersebut jangan mereka siarkan supaya orang-orang Quraisy tidak mengetahuinya. Jika orang-orang Quraisy mengetahui hal ini, niscaya tekanan mereka akan bertambah keras karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah meminta bantuan dari orang-orang Thaif untuk memusuhi mereka.

Akan tetapi, orang-orang Tsagif tidak mau memenuhi apa yang diharapkan oleh Rasulullah saw., bahkan sebaliknya, mereka mengirimkan orang-orang bodoh dan anak-anak mereka untuk berbaris di sepanjang jalan, lalu melempari Rasulullah saw. dengan batu. Akibat perlakuan tersebut Rasulullah saw. mengalami luka-luka berdarah. Pada saat itu Zaid ibnul-Haritsah selalu menjadi perisai Rasulullah dari lemparan batu. Akhirnya Rasulullah saw. sampai pada sebatang pohon anggur yang riudang, lalu berteduh di bawahnya. Pohon anggur itu terletak di sebelah kebun milik ‘Atabah dan Syaibah. Keduanya anak Rabi’ah, dan mereka merupakan musuh Rasulullah saw. Pada waktu itu mereka berada di dalam kebun itu. Melihat keduanya berada di situ, Rasulullah saw. tidak suka, tetapi ia hanya bisa berdoa dengan kata-kata berikut ini:

Ya Allah, sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang lemahnya kekuatan diriku dan remehnya aku di mata manusia, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah, dan Engkau adalah Rabb-ku, kepada siapa pun Engkau serahkan diriku selagi Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak perduli dengan hal itu. Tatkala kedua anak Rabi’ah melihat Rasulullah saw. mengucapkan doa tersebut, keduanya merasa kasihan. Kemudian keduanya mengirimkan buah anggur kepada Rasulullah saw. melalui ‘Addas, bekas hamba sahaya mereka yang beragama Nasrani. Tatkala Rasulullah saw. mulai memakannya, dia mengucapkan bismillahir-rahmanir-rahim (dengan menyebut hama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). ‘Addas berkata, “Perkataan itu belum pernah diucapkan oleh penduduk negeri ini.” Lalu Rasulullah saw. bertanya, “Dari negeri manakah engkau, dan apa aga. mamu?” ‘Addas menjawab, “Aku pemeluk agama Nasrani dari Neinewi.”) Rasulullah saw. bersabda, “Kalau begitu, engkau berasal dari kampung orang yang saleh, yaitu Yunus ibnu Matta (Matius).” ‘Addas bertanya keheranan, “Siapakah yang mengajarimu tentang Yunus?” Lalu Rasulullah membacakan kepadanya Al-Quran yang di dalamnya terdapat kisah ten. tang Nabi Yunus. Tatkala ‘Addas mendengar hal tersebut, lalu ia langsung masuk Islam.

Setelah itu datanglah malaikat Jibril seraya membawa pesan dari Allah swt. Lalu malaikat Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan aku supaya menuruti apa yang kamu kehendaki terhadap kaummu oleh sebab apa yang telah mereka perbuat terhadap dirimu.” Akan tetapi, Rasulullah saw. hanya berdoa:

Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.

Mendengar doa yang diucapkan oleh Rasulullah itu, malaikat Jibril berkata, “Benarlah orang menamakanmu sebagai orang yang berhati lembut dan penuh dengan kasih sayang.”

Ketika Rasulullah saw. berada di Nakhlah, datanglah kepadanya serombongan jin untuk mendengarkan bacaan Al-Guran. Mereka adalah kaum jin yang berasal dari zaman Nabi Musa a.s. Tatkala mereka mendengar bacaan Al-Qur’an dari Rasulullah saw., lalu mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan. Mereka memberitahukan kaumnya tentang Rasulullah saw. Lalu Allah swt. menurunkan firman-Nya ber: kenaan dengan mereka itu yaitu:

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (-nya), lalu mereka berkata, “Diamlah kalian (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan melepaskan kalian dari azab yang redih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, dia tidak akan dapat melepaskan diri dari azab Allah di muka bum’ dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. 46 Al-Ahqaf: 2932)

Allah swt. telah menceritakan tentang jin ini dengan kisah yang cukup panjang, yaitu dalam surah Al-QQur’an yang juga dinamai dengan nama mereka. Permulaan surah itu mengatakan:

Katakanlah (hai Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al-Quran), :alu mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakJubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami….” (Q.5. 72 Al-Jin: 1-2). (*)

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Kekhalifahan Abbasiyah
Oleh : Immim pangkep

Kekhalifahan Abbasiyah

0 Komentar

KELUAR