
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Ada yang sudah kenal sebelumnya “Ta’iyyah Abi Ishaq Al-Albiri”? Qasidah ini adalah kumpulan petuah bijak Abu Ishaq At Tujibi Al Albiri Al Gharnati Al Andalusi atau yang lebih familiar disebut Syaikh Al-Albiri. Beliau menyusun Qasidah ini dalam mendidik anaknya agar bersemangat belajar dan menuntut ilmu, serta menghindarkan dari dari pengaruh gemerlap dunia dan tipu dayanya.
Qasidah Abi Ishaq al-Albiri ini memiliki beberapa versi yang memiliki perbedaan diksi, meski begitu kandungan maknanya tetap sama. Namun ada beberapa bait yang tidak ada dalam versi yang lain. Siapa sebenarnya Syaikh al-Albiri? Beliau bernama lengkap Abu Ishaq At Tujibi Al Albiri Al Gharnati Al Andalusi lahir sekitar tahun 375 H atau 985 M dan wafat sekitar tahun 459 H atau sekitar 1067 H.
Syaikh al-Albiri memiliki banyak keahlian dan kompetensi. Beliau dikenal sebagai seorang pujangga, sastrawan, dan penyair Muslim dari kota Granada, Andalusia (sekarang Spanyol). Sebagai seorang pujangga, tema syair karyanya pun sangat beragam, dari keutamaan ilmu syar’i, zuhud, celaan terhadap dunia, serta fenomena kezaliman yang muncul pada masa hidupnya. Syaikh Al-Abiri juga seorang pakar hadits, ahli qiraah Al Quran, ahli fikih mazhab Maliki, dan ulama mujahid yang berani menyerukan kebenaran di hadapan penguasa zalim.
Salah satu karya Syaikh al-Albiri, “Taiyyah Abu Ishaq Al Albiri” yang diketengahkan di hadapan pembaca sekalian, nilai sastra dan keindahan syairnya ini takkan bisa dinikmati kecuali oleh mereka yang memahami bahasa Arab. Sebagai seorang pembelajar, terjemah dari Syair ini penulis kutip dari beragam sumber, dari para ustadz yang mahir Bahasa Arab, namun sumbernya penulis tidak sebutkan dalam tulisan ini, karena sebagian besarnya merupakan hasil copas dari copas, berpindah-pindah dari satu media ke media lainnya, bahkan ada pula penulis temukan kutipannya di media sosial yang–maaf tidak disebutkan sumbernya–sehingga penulis pun tidak lagi menemukan sumber pertamanya. Kepada penerjemah pertamanya, semoga Allah SWT memberikan pahala yang setimpal.
Berikut ini terjemah Qasidah “Taiyyah Abu Ishaq Al Albiri”:
-Taiyyah Abu Ishaq Al Albiri-
Hari demi hari berganti menggerogoti hatimu, Detik demi detik berlalu mengikis jasadmu.
Dan kematian memanggilmu penuh kepastian, Kau, wahai karibku, kau yang aku inginkan…!
Namun aku lihat kau masih sangat mencintai dunia, padahal orang berilmu memilih menceraikannya.
Celakalah kau! Masih mendengkur dalam tidur panjang, Sungguh kau kan tersadar saat maut datang menjelang.
Bukankah sudah sering kau terperdaya oleh dunia? Namun sampai kapan kau tidak juga menyadarinya?
Abu Bakar, aku mengajakmu semoga kau penuhi, menuju kebaikan yang besar jika kau bisa memahami.
Menuju ilmu yang membawamu pada tampuk kepemimpinan, membuatmu ditaati ketika memberi perintah dan larangan.
Ilmu yang menyingkap gelapnya pandangan matamu, yang akan memberi petunjuk sepanjang perjalananmu.
Memberimu mahkota kemuliaan di tengah manusia, memberimu pakaian kemuliaan walau kau dipandang hina.
Yang bermanfaat tanpa jeda sepanjang usia, dan menjadi simpanan yang kekal setelah kau tiada.
Ia adalah pedang India yang tebasannya selalu tepat, yang dengannya kau tusuk lawanmu hingga sekarat.
Ia adalah harta yang takkan diincar penyamun, ringan dibawa dan berguna kapanpun di manapun
Harta yang akan berkembang jika kau bagi-bagikan, dan akan terus berkurang apabila kau sembunyikan.
Dan jikalau kau sudah mengecap manisnya ilmu, niscaya kau akan meletakkannya di atas segala sesuatu.
Sehingga dorongan nafsu takkan menyibukkanmu, Dunia beserta keindahannya tidak jadi fitnah bagimu
Dan indahnya taman dunia takkan melalaikanmu, hingga gadis-gadis jelita takkan membayangi benakkmu
Hakikat kekuatan jiwa adalah luasnya pengetahuan, bukan sebatas pemenuhan asupan minum dan makan
Maka biasakanlah diri dengan ilmu dan seriuslah menuntutnya,
dan jika Allah telah memberimu setelah kau payah menuntutnya.
Dan jika kau telah diberi kekokohan dalam ilmu,
dan ketika orang-orang sudah mengakui keunggulanmu
Jangan merasa aman, karena Allah akan menginterogasi,
Kau akan dicecar, apa kau amalkan apa yang kau pelajari.
Puncak ilmu adalah taqwa dengan sebenar-benarnya taqwa,
bukan pengakuan atas kedudukanmu di tengah manusia,
Dan akhlak mulia bagimu adalah sebaik-baik pakaian, namun aku lihat akhlak buruk telah kau kenakan.
Jika ilmu tidak memunculkan kebaikan dari dirimu, maka menjadi orang yang bodoh lebih baik bagimu.
Dan jika ilmu malah melemparmu ke jurang nista, maka celaka kau, celaka! Ilmumu adalah bencana
Yang ‘kan kau petik dari kemalasan hanya kebodohan, Dan kekerdilan meski kau tutupi dengan kesombongan
Jika kau bodoh, kau tak berguna meski wujudmu ada, dan jika kau pandai, kau berguna meski kau telah tiada
Kan kau ambil manfaat dari apa yang aku ucapkan, jika nanti kau telah faham benar yang aku maksudkan.
Namun bila nasihat-nasihat ini kau campakkan, sebab kau condong pada harta yang kau kumpulkan
Kelak kau akan tertunduk lesu penuh penyesalan, padahal sesal pada waktu itu takkan merubah keadaan…
Saat kau melihat teman-temanmu melenggang di Awan, tinggi di atasmu sedangkan kau masih di bawah tertahan…
Waktunya introspeksi dan saatnya meninggalkan santai, karena santai tidak mengantarmu pada apa yang kau cari…
Dan jangan pada harta kau tajamkan perhatian, karena hakikat harta adalah ilmu dalam kefahaman…
Dan orang bodoh tidak akan ada artinya bagi khalayak, meskipun dia memiliki limpahan harta seluas negeri Irak…
Ilmu akan menyebut namamu di tengah manusia, dan ia akan menulis namamu jika kau mau menulisnya…
Dan percuma kau sibuk meninggikan bangunan, jika dirimu sendiri kau robohkan dengan kebodohan…
Bodoh bila kau kira harta lebih utama dari ilmu, Demi umurmu, kau telah salah dalam keyakinanmu.
Wahyu bercerita tentang jauhnya perbedaan keduanya, Bacalah surat Thaha, agar kau faham perbedaannya…
Jika si kaya mengibarkan ketenaran dengan kekayaan, maka kau mengibarkan kemuliaan dengan keilmuan…
Jika si kaya duduk berbangga di atas empuknya sofa-sofa, maka kau bisa duduk di atas bintang-bintang angkasa…
Jika dia berjalan dengan gagah dengan pawai kuda, Kau lebih mulia dengan berjalan meniti jalan taqwa…
Jika karena harta si kaya di datangi gadis-gadis pujaan, maka wanita ‘kan tunduk sebab hikmah yang kau ucapkan…
Sungguh kemiskinan tidak akan membuatmu sengsara, jika kau benar-benar mengenali Tuhanmu yang kuasa…
Betapa banyak kemuliaan di sisi-Nya kau dapatkan, jika dalam kefanaan hidup kau selalu dalam ketaatan.
Maka terimalah petuah-petuahku ini penuh perhatian, Jika kau berpaling, niscaya kelak ‘kan kau temui kerugian…
Jagalah semuanya dengan lisanmu dan perbuatanmu, beniagalah kepada Allah demi meraih keberuntunganmu…
Nikmat dunia ini sama sekali tidak ada nilainya, berpeluh menahun demi kesenangan sesaat saja…
Renungkanlah seberapa besar nikmat dunia ini, seperti sekilas bayang atau nikmat dalam mimpi
Kau akan terbelenggu jika kau mencintainya, tapi kenapa kau pilih mencinta belenggu sengsara.
Dunia memberimu makan dari tanahnya, Tapi kelak kau yang jadi makanan baginya.
Kau ‘kan ditelanjangi jika kebanggaan duniawi kau kenakan, Dan kemuliaan kau kenakan jika ia kau tanggalkan…
Lihatlah, setiap hari karib-karibmu dikuburkan, Namun sedikitpun kau tiada mengambil pelajaran.
Kau dicipta untuk singgah di dunia, bukan meninggalinya, maka sungguh-sungguhlah untuk tujuan kau dicipta.
Usah berduka atas luputnya bagian duniamu, asalkan kau tak kehilangan bagian akhiratmu.
Kefanaan yang kau dapat sedikitpun takkan berguna, jika dalam keabadian kau diharamkan dari surga-Nya.
Jangan berkumpul bersama orang bodoh dalam canda tawa, karena canda tawamu kelak ‘kan berubah tangis nestapa.
Bagaimana kau bisa senang sedang nasibmu tak pasti, masuk surga atau di rantai ke neraka kau belum mengerti.
Maka mohonlah taufiq-Nya dalam perkara-perkara ini, dan ikhlaskan doamu dengan hati yang tulus lagi suci.
Berdoalah pada-Nya dalam sujud penuh pengakuan, seperti Dzun Nun bin Mata mengakui segala kesalahan.
Teruslah mengetuk pintu-Nya penuh harap pada-Nya, niscaya ‘kan dibukakan bagimu pintu rahmat-Nya.
Dan tunduklah memperbanyak menyebut-Nya di dunia, niscaya kau akan disebut-sebut oleh penghuni langit-Nya.
Dan jangan berkata, “Usiaku muda, sisa umurku masih lama!”, tapi hitung saja berapa banyak anak yang telah tiada.
Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.