
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Transformasi Digital Pesantren untuk Mencetak Pemimpin Masa Depan
BLOGGURU – Menjadi guru sekaligus sebagai penulis berarti akrab dengan kata-kata. Setiap hari ada begitu banyak kata yang harus disampaikan, dijelaskan, diulang, dan kadang-kadang diterjemahkan kembali agar dapat dipahami oleh murid, siswa atau santri.
Ya, Ada pertanyaan yang datang bertubi-tubi, ada rasa ingin tahu yang harus dilayani, ada jawaban yang harus dicari, ada tugas yang harus diperiksa, dan ada berbagai macam karakter yang harus dihadapi dengan kesabaran.
Di dalam ruang kelas, guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan. Guru juga berhadapan dengan remaja yang sedang tumbuh, mencari arah, membangun keberanian untuk bertanya, dan perlahan-lahan menemukan cara mereka sendiri dalam memahami dunia. Karena itu, menjadi guru sekaligus sebagai penulis sesungguhnya adalah pekerjaan yang sangat dekat dengan kata-kata, pikiran, dan perasaan.
Dan di tengah kesibukan itu, saya menemukan satu teman yang sederhana: kopi. Bukan karena saya menganggap kopi sebagai sesuatu yang istimewa secara berlebihan. Bukan pula karena setiap persoalan hidup dapat diselesaikan dengan secangkir kopi. Kopi tetaplah kopi—minuman yang memiliki rasa, aroma, karakter, dan kandungan tertentu.
Tetapi bagi saya, kopi memiliki satu fungsi yang lebih sederhana dan lebih manusiawi: ia memberi jeda. Jeda dari ribuan kata. Jeda dari pertanyaan. Jeda dari kesibukan. Jeda dari rutinitas. Dan yang paling penting, jeda untuk kembali menemukan diri sendiri.
Kadang-kadang, setelah berjam-jam mengajar dan menulis, saya membutuhkan beberapa menit untuk duduk diam. Tidak ada papan tulis yang harus dijelaskan. Tidak ada buku yang harus dibuka. Tidak ada pertanyaan yang harus segera dijawab. Hanya ada secangkir kopi. Ya, Dari sanalah, pikiran seperti diberi kesempatan untuk bernapas.
Saya menikmati kopi bukan semata-mata karena rasa pahitnya. Ada kenikmatan tersendiri ketika aroma kopi perlahan memenuhi ruang, ketika uapnya naik dari cangkir, dan ketika tegukan pertama memberi tanda bahwa untuk beberapa menit saya tidak perlu terburu-buru.
Di tengah kehidupan yang menuntut semuanya serba cepat, kopi mengajarkan saya tentang perlambatan. Dan bagi seorang guru, halnya dengan penulis juga begitu, sesungguhnya membutuhkan perlambatan itu. Sebab mengajar dan menulis bukan hanya soal seberapa banyak materi yang dapat disampaikan dalam satu pertemuan. Mengajar juga tentang bagaimana guru menghadirkan suasana belajar yang membuat murid merasa nyaman untuk bertanya, berani mengemukakan pendapat, dan tidak takut melakukan kesalahan.

Jeda diantara menulis dan mengajar. (foto: ettaadil)
Di sinilah saya melihat hubungan yang menarik antara kopi, pembelajaran dan menulis. Murid-murid mungkin belum mengenal kopi sebagai sebuah jeda. Bagi sebagian mereka, kopi mungkin sekadar minuman orang dewasa, sesuatu yang pahit, atau bahkan sesuatu yang belum mereka perlukan.
Tetapi mereka mengenal sesuatu yang jauh lebih penting: kebutuhan untuk berhenti sejenak. Berhenti dari tekanan. Berhenti dari rutinitas. Berhenti dari ketegangan. Berhenti agar dapat kembali belajar dengan pikiran yang lebih segar. Maka, ketika saya menikmati kopi di sela-sela kesibukan mengajar, sesungguhnya saya sedang belajar tentang bagaimana menciptakan ruang jeda dalam pembelajaran.
Sebab pembelajaran yang menyenangkan tidak selalu lahir dari metode yang rumit. Kadang-kadang ia lahir dari suasana yang membuat seseorang merasa dihargai, didengar, dan diberi kesempatan untuk bernapas.
Guru yang terlalu sibuk mengejar target materi bisa saja lupa bahwa di hadapannya ada manusia. Guru yang terlalu banyak berbicara bisa saja lupa bahwa murid juga membutuhkan kesempatan untuk berbicara. Guru yang terlalu fokus memberikan jawaban bisa saja lupa bahwa pertanyaan sering kali jauh lebih penting daripada jawaban itu sendiri.
Maka, secangkir kopi bagi saya adalah semacam pengingat kecil: perlambatlah sedikit. Dengarkan. Amati. Nikmati prosesnya. Di dalam kelas, saya berhadapan dengan ribuan kata. Tetapi tidak semua hal harus diselesaikan dengan kata-kata. Ada kalanya seorang murid hanya membutuhkan senyum. Ada yang membutuhkan perhatian. Ada yang membutuhkan pengakuan bahwa pertanyaannya penting. Ada pula yang membutuhkan guru yang bersedia mengatakan, “Mari kita cari jawabannya bersama.”
Dalam konteks itulah kopi menjadi menarik. Kopi tidak mengajari saya bagaimana menjadi guru yang lebih hebat. Tetapi ia mengingatkan saya untuk menjadi guru yang lebih hadir. Hadir bukan sekadar secara fisik di ruang kelas, tetapi hadir dengan pikiran dan perasaan. Sebab pendidikan pada akhirnya bukan hanya transfer pengetahuan. Pendidikan adalah perjumpaan manusia dengan manusia. Dan setiap perjumpaan membutuhkan ruang.
Catatan-catatan yang dihimpun dalam tulisan dibawah ini lahir dari ruang kecil tersebut: ruang antara kesibukan dan keheningan, antara mengajar, ngeblog (menulis di media web blog) dan merenung, antara kata-kata dan jeda.
Daya tarik Café, dari Selfie hingga galang Empati
Autum in Paris: Une tasse de Café sur le mur
Menikmati “Kotor” di Rantepao dan Cerita Kopi Toraja di Jepang
Seperti Secangkir Kopi Hitam: Kamu Tidak Harus Menjadi Manis untuk Disukai Semua Orang
Ketika Orang Kampung Masuk Mal: Sebuah Siksaan bernama Modernisme
Kopi, Penikmatnya, dan Secangkir Gagasan: Dari Kenikmatan Personal Menuju Gerakan Sosial
***
Tulisan-tulisan tentang kopi dan penikmatnya ini tidak dimaksudkan sebagai kajian khusus tentang kopi. Ia lebih merupakan catatan perjalanan pikiran seorang penikmat kopi yang kebetulan juga seorang guru dan penulis. Di dalamnya mungkin terdapat renungan tentang rasa, kebiasaan, budaya, pertemanan, percakapan, ruang sosial, gagasan, bahkan kehidupan itu sendiri. Sebab semakin lama menikmati kopi, saya semakin menyadari bahwa kopi ternyata bukan hanya tentang apa yang berada di dalam cangkir.
Kopi juga tentang siapa yang duduk di sekeliling cangkir itu. Ada percakapan yang lahir. Ada persahabatan yang tumbuh. Ada gagasan yang bertemu. Ada perbedaan yang dipertukarkan dengan kepala dingin. Bahkan, dalam ruang sosial yang lebih luas, sebuah meja kopi dapat menjadi tempat orang membicarakan pendidikan, kebudayaan, lingkungan, masyarakat, hingga masa depan kampung dan bangsa.
Dari percakapan sederhana dapat lahir gagasan. Dari gagasan dapat lahir kesadaran. Dan dari kesadaran dapat lahir tindakan. Karena itu, saya tidak melihat kopi semata-mata sebagai minuman. Saya melihatnya sebagai medium perjumpaan.
Sebagai guru dan penulis, saya pun belajar bahwa pembelajaran terbaik sering kali bermula dari perjumpaan yang sederhana. Tidak selalu harus dengan ceramah panjang. Tidak selalu harus dengan teori yang rumit. Kadang-kadang cukup dengan sebuah pertanyaan yang baik. Sebuah percakapan yang jujur. Sebuah cerita. Sebuah pengalaman. Atau bahkan sebuah jeda.

Jeda diantara menulis dan mengajar. (foto: ettaadil)
Barangkali itulah yang ingin saya bagikan melalui sehimpun catatan ini: bahwa di tengah ribuan kata yang harus diucapkan seorang guru setiap hari, ada kalanya kita membutuhkan beberapa teguk kopi dan beberapa menit keheningan untuk menyadari kembali mengapa kita mengajar.
Saya menikmati kopi di tengah kesibukan mengajar bukan untuk melarikan diri dari kelas, melainkan untuk kembali ke kelas dengan pikiran yang lebih lapang. Setelah secangkir kopi, mungkin persoalan belum selesai. Tugas belum berkurang. Pertanyaan murid tetap akan datang. Materi pembelajaran tetap harus disampaikan.
Tetapi mungkin cara kita menghadapinya menjadi sedikit berbeda. Lebih sabar. Lebih santai. Lebih terbuka. Dan, semoga, lebih menyenangkan. Sebab pada akhirnya, guru bukanlah mesin penyampai materi. Guru adalah manusia yang juga membutuhkan jeda agar dapat terus menghadirkan kemanusiaan dalam proses pendidikan.
Maka, jika kelak ada yang bertanya mengapa saya menikmati kopi di tengah kesibukan mengajar, mungkin jawabannya sederhana: Karena di antara ribuan kata yang harus saya sampaikan kepada murid, saya juga membutuhkan beberapa menit untuk mendengarkan suara pikiran saya sendiri. Dan mungkin, di sanalah secangkir kopi menemukan maknanya. Bukan sekadar pahit atau manis. Bukan sekadar panas atau dingin. Tetapi sebagai sebuah jeda kecil untuk kembali menikmati kehidupan, pekerjaan, perjumpaan, dan pembelajaran dengan lebih menyenangkan.
(* Muhammad Farid Wajdi, nama pena: Etta Adil, Seorang Guru, Penulis dan Penikmat Kopi