Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Tahrif dan Inhiraf

Tahrif dan Inhiraf

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Apa itu Tahrif? Tahrif (تحريف: “penyelewengan, pengubahan”) merupakan istilah Arab yang digunakan oleh Muslim untuk perubahan yang tidak dapat diperbaiki lagi menurut tradisi [Islam] yang dilakukan oleh orang Yahudi dan Kristen terhadap Manuskrip-manuskrip Alkitab, terutama Taurat, Zabur, dan Injil. Secara etimologi, tahrif al-Qur’an merupakan istilah dalam bahasa Arab, yang terdiri dari dua kata, yaitu tahrif dan al-Qur’an. Kata tahrif merupakan ism mashdar (kata benda) dari kata kerja harrafa-yuharrfu-tahrifan, yang artinya memalingkan, mengubah, atau mengganti.

Sementara itu Ibnu Manzur menulis dalam karyanya Lisan al-Arab bahwa tahrif artinya pengubahan makna kata dengan arti yang serupa, memalingkan, atau menggerakkan. Sebagai contoh dari makna penggantian atau pengubahan adalah firman Allah yang Artinya: ”Yaitu (sebagian) orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya”. (QS. An-Nisa’/4;46).

Praktek tahrif yaitu tentang penggantian huruf-huruf, kalimat-kalimat al-Quran atau yang lebih spesifik pada surat dan ayat al-Quran adalah merupakan perubahan teks untuk mengubah arti dari yang asli, praktek ini disebut juga tabdil. Kemudian istilah “yuharrifuna” merupakan suatu bentuk lafadz yang menunjukkan bahwa tahrif yang terjadi pada kitab Bibel itu terjadi saat ini dan waktu yang akan datang. Dan mempunyai arti bahwa mereka (Yahudi) mengubah secara tekstual maupun kontekstual. Perubahan tersebut dalam bentuk redaksi teks maupun pada bentuk penafsiran-penafsiran suatu teks.

Fenomena tahrif itu tidak hanya terjadi pada kitab al-Quran namun juga terjadi pada Bibel (al-Kitab) yang dianut oleh umat Kristen saat ini. Tahrif diklasifikan menjadi 2 macam, yaitu tahrif lafdzi dan maknawi; Tahrif lafdzi adalah mendahulukan atau mengakhirkan baik dalam menambah atau mengurangi dalam menyusun ayat-ayat Allah. Sedangkan tahrif maknawi adalah penggunaan lafadz-lafadz dalam kalam Allah yang tidak sesuai pada tempatnya sehingga dapat merubah maksud atau makna ayat-ayat tersebut.

Dalam al-Qur’an kata tahrif disebut dalam bentuk kata kerjanya saja. Penyebutan yang demikian terulang sebanyak empat kali. Kata-kata ini terdapat pada surat an-Nisa’ ayat 46, al- Baqarah ayat 75, surat al-Maidah ayat 13 dan 41.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tahrif secara bahasa berarti pemalingan, pengubaan, atau penggerak. Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan tahrif adalah pengubahan.

Lalu, Apa bedanya Tahrif dengan Inhiraf? Bagaimana pula sehingga terjadi penyamaan Tahrif dengan Takwil? Berikut ini beberapa syarh (penjelasan) mengenai Tahrif dan Inhiraf tersebut sebagaimana termaktub dalam Kitab Aqidah ath-Thahawiyah.

Banyaknya Ahlul Bid’ah yang Menamakan Tahrif dengan Takwil

Al-Imam Al-Qadhi Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi Ad-Dimasyqi (W. 792 H) rahimahullah ta’ala mengatakan :

“Setiap kali jauhnya masa maka akan tampaklah kebid’ahan , dan banyaknya tahrif (penyelewengan) yang dinamakan oleh ahlul bid’ah dengan takwil (tafsir) agar bisa diterima (agar bisa laku kebid’ahannya)”.

《Syarh Al-‘Aqîdah Ath-Thahāwiyyah Iibni Abil ‘Izz Al-Hanafi , Maktabah Al-Imam Al-Wādi’î : 16》

 

قَالَ الإِمَامُ القَاضِي ابْنُ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيُّ الدِّمَشْقِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى

وَكُلَّمَا بَعُدَ الْعَهْدُ، ظَهَرَتِ الْبِدَعُ، وَكَثُرَ التَّحْرِيفُ الَّذِي سَمَّاهُ أَهْلُهُ تَأْوِيلًا لِيُقْبَلَ

《شَرْحُ العَقِيْدَةِ الطَّحَاوِيَّةِ لِابْنِ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيِّ مكتبة الإمام الوادعي : ١٦》

 

Sedikitnya Orang yang Bisa Membedakan antara Tahrif dengan Takwil

Al-Imam Al-Qadhi Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi Ad-Dimasyqi (W. 792 H) rahimahullah ta’ala mengatakan :

“Sedikit sekali orang-orang yang mendapatkan petunjuk untuk membedakan antara tahrif dan takwil”

《Syarh Al-‘Aqîdah Ath-Thahāwiyyah Iibni Abil ‘Izz Al-Hanafi , Maktabah Al-Imam Al-Wādi’î : 16》

 

قَالَ الإِمَامُ القَاضِي ابْنُ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيُّ الدِّمَشْقِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى :

وَقَلَّ مَنْ يَهْتَدِي إِلَى الْفَرْقِ بَيْنَ التَّحْرِيفِ وَالتَّأْوِيلِ.

《شَرْحُ العَقِيْدَةِ الطَّحَاوِيَّةِ لِابْنِ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيِّ مكتبة الإمام الوادعي : ١٦》

 

Mentakwil Harus Ada Dalil

Al-Imam Al-Qadhi Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi Ad-Dimasyqi (W. 792 H) rahimahullah ta’ala mengatakan :

“Ingatlah terkadang bisa saja dinamakan penyelewengan ucapan dari dzahirnya kepada makna yang lainnya yang lafadznya memiliki kemungkinan makna lain pada kalimat tersebut dengan takwil (tapi harus dengan qarînah atau dalil , pent)

Dan jika tidak ada disana qarinah yang mengharuskan makna tersebut dan dari sinilah terjadilah kerusakan”.

《Syarh Al-‘Aqîdah Ath-Thahāwiyyah Iibni Abil ‘Izz Al-Hanafi , Maktabah Al-Imam Al-Wādi’î : 16》

 

قَالَ الإِمَامُ القَاضِي ابْنُ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيُّ الدِّمَشْقِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى :

إِذْ قَدْ يُسَمَّى صَرْفُ الْكَلَامِ عَنْ ظَاهِرِهِ إِلَى مَعْنًى آخَرَ يَحْتَمِلُهُ اللَّفْظُ فِي الْجُمْلَةِ تَأْوِيلًا، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ ثَمَّ قَرِينَةٌ تُوجِبُ ذَلِكَ، وَمِنْ هُنَا حَصَلَ الْفَسَادُ.

《شَرْحُ العَقِيْدَةِ الطَّحَاوِيَّةِ لِابْنِ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيِّ مكتبة الإمام الوادعي : ١٦》

 

Berhati-hatilah dengan Tahrif “Penyelewengan Makna” yang Dinamakan dengan Takwil

Al-Imam Al-Qadhi Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi Ad-Dimasyqi (W. 792 H) rahimahullah ta’ala mengatakan :

“Apabila mereka telah menamakan penyelewengan dari dzahirnya dengan takwil maka akan bisa diterima dan bisa laku bagi orang-orang yang tidak bisa membedakan diantara keduanya”.

《Syarh Al-‘Aqîdah Ath-Thahāwiyyah Iibni Abil ‘Izz Al-Hanafi , Maktabah Al-Imam Al-Wādi’î : 16》

 

قَالَ الإِمَامُ القَاضِي ابْنُ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيُّ الدِّمَشْقِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى :

فَإِذَا سَمَّوْهُ تَأْوِيلًا قُبِلَ وَرَاجَ عَلَى مَنْ لَا يَهْتَدِي إِلَى الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا.

《شَرْحُ العَقِيْدَةِ الطَّحَاوِيَّةِ لِابْنِ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيِّ مكتبة الإمام الوادعي : ١٦》

Yang Dibutuhkan bagi Kaum Mukminin ketika Datang Tahrif “Penyelewengan Makna”

Al-Imam Al-Qadhi Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi Ad-Dimasyqi (W. 792 H) rahimahullah ta’ala mengatakan :

“Orang-orang yang beriman membutuhkan setelah itu (yakni ketika adanya kelompok sesat yang menamakan tahrif dengan takwil) kepada penjelasan dalil-dalil dan menolak kesamaran yang datang padanya”

Sumber:  Syarh Al-‘Aqîdah Ath-Thahāwiyyah Iibni Abil ‘Izz Al-Hanafi , Maktabah Al-Imam Al-Wādi’î : 16.

 

قَالَ الإِمَامُ القَاضِي ابْنُ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيُّ الدِّمَشْقِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى

فَاحْتَاجَ الْمُؤْمِنُونَ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى إِيضَاحِ الْأَدِلَّةِ، وَدَفْعِ الشُّبَهِ الْوَارِدَةِ عَلَيْهَا

《شَرْحُ العَقِيْدَةِ الطَّحَاوِيَّةِ لِابْنِ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيِّ مكتبة الإمام الوادعي : ١٦》

 

Sebab Banyaknya Tahrif

Al-Imam Al-Qadhi Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi Ad-Dimasyqi (W. 792 H) rahimahullah ta’ala mengatakan :

“Banyaknya pembicaraan dan kekacauan (yakni menamakan tahrif dengan takwil),  sebabnya adalah :

▪️Karena mereka mau mendengarkan syubhat-syubhat dari orang-orang yang sesat

▪️Dan mereka memasuki pada ilmu kalam yang tercela, yang para salaf telah mencelanya dan mereka para salaf telah melarang dari melihat pada buku-buku ahli kalam , menyibukkan padanya dan mendengarkan Ocehan-ocehan mereka para ahli kalam , karena melaksanakan perintah Allah Rabb mereka.

Allah SWT berfirman :

 

وَإِذَا رَأَيْتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِىٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِۦ

 

Artinya:

“Apabila kamu melihat orang-orang yang masuk pada suatu masalah tanpa ilmu pada ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain”. (QS. Al An’ām 6:68)

Sesungguhnya makna ayat ini mencakup mereka ahli kalam “.

Sumber: Syarh Al-‘Aqîdah Ath-Thahāwiyyah Iibni Abil ‘Izz Al-Hanafi , Maktabah Al-Imam Al-Wādi’î : 16

 

قَالَ الإِمَامُ القَاضِي ابْنُ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيُّ الدِّمَشْقِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى

، وَكَثُرَ الْكَلَامُ وَالشَّغَبُ، وَسَبَبُ ذَلِكَ إِصْغَاؤُهُمْ إِلَى شُبَهِ الْمُبْطِلِينَ، وَخَوْضُهُمْ فِي الْكَلَامِ الْمَذْمُومِ، الَّذِي عَابَهُ السَّلَفُ، وَنَهَوْا عَنِ النَّظَرِ فِيهِ وَالِاشْتِغَالِ بِهِ وَالْإِصْغَاءِ إِلَيْهِ

امْتِثَالًا لِأَمْرِ رَبِّهِمْ، حَيْثُ قَالَ: {وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ} [الأنعام: 68] (الْأَنْعَامِ: 68) فَإِنَّ مَعْنَى الْآيَةِ يَشْمَلُهُمْ

《شَرْحُ العَقِيْدَةِ الطَّحَاوِيَّةِ لِابْنِ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيِّ مكتبة الإمام الوادعي : ١٦》

Tingkatan-tingkatan Tahrif dan Inhiraf

Al-Imam Al-Qadhi Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi Ad-Dimasyqi (W. 792 H) rahimahullah ta’ala mengatakan :

“Masing-masing dari tahrif (penyelewengan) dan inhiraf (penyimpangan) ada tingkatan-tingkatannya , terkadang bisa bisa sampai derajat :

1️⃣ Kufur

2️⃣ Fasiq

3️⃣ Maksiat

4️⃣ Kesalahan.

Sumber:  Syarh Al-‘Aqîdah Ath-Thahāwiyyah Iibni Abil ‘Izz Al-Hanafi , Maktabah Al-Imam Al-Wādi’î : 17.

 

قَالَ الإِمَامُ القَاضِي ابْنُ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيُّ الدِّمَشْقِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى :

وَكُلٌّ مِنَ التَّحْرِيفِ وَالِانْحِرَافِ عَلَى مَرَاتِبَ: فَقَدْ يَكُونُ كُفْرًا، وَقَدْ يَكُونُ فِسْقًا، وَقَدْ يَكُونُ مَعْصِيَةً، وَقَدْ يَكُونُ خَطَأً.

《شَرْحُ العَقِيْدَةِ الطَّحَاوِيَّةِ لِابْنِ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيِّ مكتبة الإمام الوادعي : ١٧》

 

Perbedaan antara Tahrif dan Inhiraf

Asy-Syaikh Yāsin bin ‘Ali bin Sālim Al-Hausyabi Al-‘Adni rahimahullah ta’ala :

“Bahwasanya yang namanya tahrif (penyelewengan) itu terjadi pada nash-nash adapun inhiraf (penyimpangan) terjadi pada prilaku atau tingkah laku dan ibadah-ibadah”.

Sumber:  Ta’liq Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah Libni Abil Izz Al-Hanafi Maktabah Al-Imam Al-Wādi’î Cetakan Kedua 2009 M – 1430 H halaman : 17.

 

قال الشيخ ياسين بن علي بن سالم الحوشبي العدني رحمه الله تعالى :

“أن التحريف يكون في النصوص وأما الإنحراف فيكون في السلوك والعبادات”

《تَعْلِيْقُ شَرْحِ العَقِيْدَةِ الطَّحَاوِيَّةِ لِابْنِ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيِّ مكتبة الإمام الوادعي الطبعة الثانية ٢٠٠٩ م ١٤٣٠ هجرية ص : ١٧》

 

Tingkatan-tingkatan Tahrif (Penyelewengan Aqidah)

Asy-Syaikh Yāsin bin ‘Ali bin Sālim Al-Hausyabi Al-‘Adni rahimahullah ta’ala mengatakan :

“Tingkatan-tingkatan tahrif (penyelewengan) ada tiga perkara :

1️⃣. Kekufuran. Hal tersebut seperti tahrifnya kelompok Bāthiniyyah dan Jahmiyyah

2️⃣. Kefasikan dan kemaksiatan. Hal tersebut apabila bersumber dari hawa nafsu dan sikap fanatisme , dan hal tersebut memiliki sisi makna dalam bahasa arab selama tidak mengandung makna kekurangan dan celaan pada hak Allah , dimana tahrif ini bisa menjadi kekufuran (mengandung makna kekurangan dan celaan pada hak Allah) , hal tersebut seperti penjelasan mereka 《kebersamaan Allah》 dengan bercampur dan berdesakan, maka ini adalah kekufuran .

3️⃣. Kesalahan. Hal tersebut muncul dari ijtihad dan baiknya niat , dan memiliki sisi makna dalam Bahasa Arab.

Sumber: Ta’liq Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah Libni Abil Izz Al-Hanafi Maktabah Al-Imam Al-Wādi’î Cetakan Kedua 2009 M – 1430 H halaman : 17

قال الشيخ ياسين بن علي بن سالم الحوشبي العدني رحمه الله تعالى :

مراتب التحريف فهي ثلاث :

الأولى : الكفر ، وذلك كتحريف الباطنية و الجهمية

الثانية : الفسق والمعصية ، وذلك إذا صدر عن هوى وتعصب ، وله وجه في اللغة العربية ، مالم يتضمن نقصا أو عيبا في حق الله، حيث يكون كفرا ، وذلك تفسيرهم 《معية الله 》 بالاختياط والمزاحمة ، فهذا كفر .

الثالثة : الخطأ ، وهو الصادر عن اجتهاد وحسن نية ، وله وجه في اللغة

《تَعْلِيْقُ شَرْحِ العَقِيْدَةِ الطَّحَاوِيَّةِ لِابْنِ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيِّ مكتبة الإمام الوادعي الطبعة الثانية ٢٠٠٩ م ١٤٣٠ هجرية ص : ١٧》

 

Tingkatan-tingkatan Inhiraf (Penyimpangan Aqidah)

Asy-Syaikh Yāsin bin ‘Ali bin Sālim Al-Hausyabi Al-‘Adni rahimahullah ta’ala mengatakan, “Adapun tingkatan-tingkatan inhiraf (penyimpangan) maka hal tersebut ada empat, yaitu:

1️⃣. Kekufuran , hal tersebut apabila menyimpangkan sesuatu dari ibadah-ibadah kepada selain Allah , diantaranya : shalat , menyembelih , nadzar ….. dan ibadah-ibadah lainnya.

2️⃣. Kefasikan , seperti melakukan perkara-perkara yang dilarang , Allah ta’ala berfirman :

 

وَإِن تَفْعَلُوا۟ فَإِنَّهُۥ فُسُوقٌۢ بِكُمْ ۗ

 

Artinya:

“Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu”. (QS.Al Baqarah 2:282)

3️⃣. Kemaksiatan , seperti meninggalkan perkara-perkara yang diperintahkan , Allah subhanahu wa ta’ala berfirman ketika menceritakan tentang Nabi Musa ‘alaihis salām :

 

قَالَ يَٰهَٰرُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوٓا۟

 

Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat

 

أَلَّا تَتَّبِعَنِ ۖ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِى

 

Artinya:

(Sehingga) kamu tidak mengikuti aku ? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku ?” (QS. Thāhā 20:92 – 93)

Perhatian:  Patokan ini tidak membatasi pengertian kefasikan dan kemaksiatan , karena kefasikan terkadang digunakan untuk menyebut perbuatan meninggalkan perkara-perkara yang diperintahkan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِلَّآ إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِۦٓ ۗ

 

Artinya:

“Kecuali Iblis (tidak mau sujud ketika diperintahkan sujud). Dia adalah dari golongan jin, maka ia telah fasik (mendurhakai) perintah Tuhannya. (QS. Al Kahfi 18:50) .

Demikian juga kemaksiatan , terkadang digunakan untuk menyebut perbuatan melakukan perkara-perkara yang dilarang , sebagaimana pada firman Allah ta’ala :

 

وَعَصَىٰٓ ءَادَمُ رَبَّهُۥ فَغَوَىٰ

 

Artinya:

“Dan Adam mendurhakai Tuhannya dan sesatlah ia “.

4️⃣. Kesalahan , ini apabila muncul dari kebodohan dan lupa “.

Sumber: Ta’liq Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah Libni Abil Izz Al-Hanafi Maktabah Al-Imam Al-Wādi’î Cetakan Kedua 2009 M – 1430 H halaman : 17.

 

قال الشيخ ياسين بن علي بن سالم الحوشبي العدني رحمه الله تعالى :

أما مراتب الانحراف فهي أربع :

الأولى : الكفر ، وذلك إذا صرف شيئا من العبادات لغير الله من : صلاة وذبح ونذر …. إلخ

الثانية : الفسق ، كارتكاب المنهيات ، قال تعالى : { وَإِن تَفْعَلُوا۟ فَإِنَّهُۥ فُسُوقٌۢ بِكُمْ ۗ }

الثالثة : المعصية ، كترك المأمورات ، قال سبحانه و تعالى حاكيا عن موسى عليه السلام : قَالَ يَٰهَٰرُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوٓا۟ . أَلَّا تَتَّبِعَنِ ۖ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِى

تنبيه : هذا الضابط ليس بمطرد في الفسق المعصية ، لكون الفسق في ترك المأمورات ، قال الله تعالى : {إِلَّآ إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِۦٓ ۗ} . وهكذا المعصية ، قد ترد في ارتكاب المنهيات ، كما في قوله تعالى : {وَعَصَىٰٓ ءَادَمُ رَبَّهُۥ فَغَوَىٰ }

الرابعة : الخطأ ، وهذا إذا صدر عن جهل ونسيان

《تَعْلِيْقُ شَرْحِ العَقِيْدَةِ الطَّحَاوِيَّةِ لِابْنِ أَبِي العِزِّ الحَنَفِيِّ مكتبة الإمام الوادعي الطبعة الثانية ٢٠٠٩ م ١٤٣٠ هجرية ص : ١٧》

 

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Mengejar Ilmu yang Bermanfaat
Oleh : Immim pangkep

Mengejar Ilmu yang Bermanfaat

0 Komentar

KELUAR