
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Menulislah dan Engkau akan Bisa Biayai Dirimu Sendiri
BLOGGURU – Secara bahasa, Ahammiyatul Kitabah (أهمية الكتابة) berarti pentingnya menulis. Loh, menulis apa yang dimaksud? Ya, menulis dimaksud disini adalah bisa proses mencatat pengetahuan yang baru didapat, bisa pula proses ‘membukukan’ pengetahuan yang sudah dikuasai. Pengetahuan yang ditulis tersebut, bisa jadi adalah non fiksi dan bisa pula adalah fiksi. Intinya proses menulis adalah proses menuangkan pendapat, gagasan, penelitian serta pemikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan (karya tulis).
Apa pentingnya menulis? Salah satu manfaatnya adalah Menulis memperjelas pemikiran, memungkinkan si penulis mengartikulasikan dan menjelaskan dirinya kepada orang lain, dan memungkinkannya bekerja sama untuk membangun hal-hal yang tidak dapat kita lakukan sendiri. Menulis merupakan kegiatan yang tampaknya mudah, tetapi saat dilakukan, faktanya belum tentu seperti itu juga. Misalnya, mereka yang menulis puisi harus berhadapan dengan risiko memilih kata (diksi) yang mewakili perasaan atau suasana hati. Begitu pula, mereka yang menulis cerpen kadang bingung membangun konflik. Mereka yang menulis Esai, tak jarang harus bergelut dengan berbagai cara untuk membungkus subjektivitas dalam solusi.
Setiap penulis dengan karya tulis jenis apapun tentunya mengalami masalah masing-masing. Masalah tersebut sering kali menjelma menjadi tembok penghalang yang besar, yang (seolah) mencegah para penulis pemula untuk melanjutkan aktivitas menulisnya. Itu pula sebabnya tak sedikit penulis pemula yang mundur dan tumbang dari dunia kepenulisan. Namun, tak sedikit pula penulis yang mampu bertahan hingga kemudian bisa melewatinya, meski mereka lelah, penuh luka, dan berdarah-darah sampai melahirkan karya yang brilian dan best seller.
Bagaimana bertahan dalam dunia kepenulisan? Sepakat atau tidak, faktanya motivasi memiliki peran yang penting dalam semua lini kehidupan, termasuk dunia kepenulisan. Tanpa motivasi, mungkin orang akan berpikir, “Ah! Ngapain sih susah-susah ngelakuin ini?” atau “Ngapain sih susah-susah menulis, toh tidak membuat kaya juga?”. Paradigma seperti itu akan membelenggu seseorang dalam zona nyaman. Sehingga, tanpa disadari, justru berbalik membunuhnya dan selamanya tak bisa menghasilkan karya tulis.
Satu diantara para ulama yang produktif menulis tersebut adalah Imam al-Ghazali, “Hujjatul Islam”. Ungkapan al-Ghazali yang sangat masyhur dan memberi semangat kepada para penulis adalah, “Bila engkau bukan putra raja atau putra ulama besar, maka menulislah!”. Mengapa al-Ghazali menyatakan demikian? Bila membaca biografi beliau, kita akan tahu bahwa Imam al-Ghazali memang bukan putra raja atau putra ulama besar. Ayah beliau merupakan orang yang bekerja sebagai pemintal wol. Artinya, apa yang beliau ucapkan di atas merupakan fakta yang memang beliau sendiri alami.
Produktivitas ulama Islam dalam menulis tidak luput dari dorongan dan motivasi yang bersifat ukhrawi. Sebab, tulisan yang ia coret diharapkan menjadi ladang kebaikan yang pahalanya terus mengalir, sebanding lurus dengan manfaat yang dirasakan oleh pembacanya. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW:
Artinya:
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Apabila manusia meninggal, amal perbuatannya menjadi terputus, kecuali dari 3 hal: dari sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau dari anak saleh yang senantiasa mendoakannya (HR. Muslim no. 1631)
Menurut ulama, pemahaman hadits ini tidak hanya terbatas pada 3 perkara. Sebab, ada beberapa amal yang juga menjadi ladang mengalirnya pahala. Imam as-Sayuti menyebut 10 perkara, salah satunya adalah menyebarkan ilmu dengan cara mengajar, menulis, atau menulis catatan tambahan (Kitab I’anat Thalibin, 3/187).
Menurut Habib Zein bin Ibrahim Smith, ulama menafsirkan ilmu yang bermanfaat dalam hadits di atas dengan 3 aktivitas, yaitu menulis, mengajar, dan berfatwa. Aktivitas menulis lebih dekat secara makna, sebab manfaatnya lebih berkesinambungan daripada aktivitas lainnya. Imam as-Subki juga menegaskan, sealim apapun seseorang, ia hanya berguna selama ia hidup saja bila ia tidak meninggalkan satu karya pun, atau tidak memiliki murid yang menyerap keilmuannya dan menyebarkannya kepada orang lain (al-Manhaj as-Sawy, hal.122).
Sayyid Abdullah Alawi al-Haddad juga menjelaskan bahwa suatu karya tulisan seorang alim bisa menjangkau ke pelbagai tempat yang jauh dan tetap akan abadi meski penulisnya telah wafat. Dengan demikian, menulis termasuk aktivitas menyebarkan ilmu, sehingga penulisnya tercatat sebagai pengajar ilmu yang senantiasa mengajak kepada Allah meski sudah terkubur dalam tanah, sebagaimana hadits Nabi SAW:
Artinya:
Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:”Barangsiapa yang menghidupkan kebenaran melalui lisannya, maka ia mendapat pahala sampai hari kiamat, dan pahala tersebut mencukupi pahala kebaikannya” (Hilyatul Auliya, 8/179)
Oleh karena itu, Imam an-Nawawi-salah satu ulama Islam yang sangat produktif menulis- menyarankan bagi para pengajar yang sudah mapan keilmuannya agar memulai menulis. Dengan menulis, keilmuannya akan semakin mendalam, cakrawala pemahamannya pun juga semakin meluas. Sebab dalam proses menulis tersebut diperlukan pula proses verifikasi isi tulisan dengan cara mempelajari, menganalisis, meneliti, mengoreksi, dan membandingkannya dengan sumber lain. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, 1/29).
Manfaat menulis lainnya, sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Khatib al-Baghdadi, antara lain: memantapkan hapalan, menyucikan hati, mengasah karakter, memperbagus susunan kata, memperoleh popularitas, serta memperoleh pahala yang mengalir hingga akhir dunia. Beliau juga menyarankan para penulis memfokuskan tulisan mereka pada hal yang bermanfaat secara umum, atau hal yang memang dibutuhkan bagi orang lain, atau juga hal yang memang belum pernah dituangkan dalam suatu tulisan (al-Manhaj as-Sawy, hal. 123-124).
Terakhir namun bukan yang akhir, mari kita mencoba untuk menulis apa yang ada dalam pikiran kita, agar manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, namun juga dirasakan oleh orang lain. Menulislah tentang hal-hal yang dirasa sangat bermanfaat dan menginspirasi kebaikan untuk orang lain, sehingga terus membukakan kran aliran pahala bagi kita. Dengan menulis, nama kita akan dikenang abadi. Sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Ghazali “Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis!”.
Wallahu a’lam bish-shawab. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Pimred Blog Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.