
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Dalam Mata Kuliah Filsafat Ilmu, salah satu hal yang menarik perhatian penulis adalah pertanyaan tentang Bagaimana posisi epistemologis Al-Ghazali yang menyatakan bahwa intuisi mistik (kasyf) dan pencerahan kenabian (wahyu) memiliki keunggulan atas akal filosofis dalam mencapai kebenaran (hakikat). Pernyataan Al-Ghazali ini secara dialektis dijawab oleh Ibn Rusyd? yang menganalisis secara spesifik bahwa kemampuan akal (ratio) untuk mencapai kebenaran yang sama (atau lebih tinggi) tanpa memerlukan bantuan pencerahan mistik, dengan merujuk pada doktrinnya tentang Akal Aktif (Active Intellect).
Nah, pertentangan pemikiran ini sebenarnya berfokus pada analisis tentang Perbedaan dasar dalam sumber pengetahuan (epistemologi)—Intuisi vs. Akal Murni? Analisis dialektis antara Al-Ghazali dan Ibn Rusyd mengenai sumber pengetahuan (epistemologi) berpusat pada konflik antara Intuisi Mistik (Kasyf) dan Akal Murni (Ratio) sebagai jalan utama menuju kebenaran (Hakikat). Penjelasan lebih lengkap mengenai hal ini akan penulis paparkan berikut ini:
1. Posisi Epistemologis Al-Ghazali: Keunggulan Intuisi
Al-Ghazali, dalam karyanya Al-Munqidh min al-Dalal (Penyelamat dari Kesesatan) dan Ihya’ Ulum al-Din, mencapai kesimpulan bahwa akal filosofis memiliki batas inheren dan tidak mampu mencapai kebenaran esensial, terutama mengenai hal-hal metafisik (seperti sifat Tuhan dan hari akhir).
Puncak Kebenaran: Ditemukan melalui pengalaman Sufistik atau Intuisi Mistik (Kasyf). Ini adalah cahaya (nur) yang ditanamkan Tuhan ke dalam hati, yang memungkinkan penglihatan langsung terhadap realitas (musyahadah).
Wahyu/Kenabian: Merupakan manifestasi tertinggi dari kasyf dan secara epistemologis lebih unggul dari akal. Al-Ghazali melihat Kenabian bukan hanya sebagai pembawa hukum, tetapi sebagai sumber pengetahuan tertinggi yang melampaui kemampuan akal manusia biasa.
Fungsi Akal: Akal diakui hanya berfungsi sebagai alat pendahuluan (instrumental), penting untuk logika (mantiq) dan ilmu-ilmu dunia, tetapi gagal ketika mencoba memahami esensi Ilahi dan misteri penciptaan.
2. Jawaban Dialektis Ibn Rusyd: Otonomi Akal
Ibn Rusyd (Averroes), terutama dalam karyanya Tahafut at-Tahafut (Kerancuan dari Kerancuan) dan Fasl al-Maqal (Ulasan Penentuan), membela para filosof dan menjawab kritik Al-Ghazali dengan menegaskan otonomi dan kapasitas penuh akal (ratio) untuk mencapai kebenaran.
Argumen Kunci Ibn Rusyd
A. Kesesuaian Syariah dan Filsafat
Ibn Rusyd berargumen bahwa Syariah (Hukum Islam) mewajibkan penggunaan akal (filsafat) untuk merenungkan ciptaan dan mengenal Pencipta.
Tujuan Bersama: Menurut Fasl al-Maqal, filsafat dan agama memiliki tujuan yang sama: yaitu mencapai kebenaran. Keduanya adalah jalan yang sah untuk mengenal Tuhan.
Interpretasi Ta’wil: Akal adalah alat sah untuk melakukan interpretasi alegoris (ta’wil) terhadap teks-teks Syariah yang bersifat ambigu (mutasyabihat), sehingga tidak bertentangan dengan temuan akal yang pasti.
B. Doktrin Akal Aktif (‘Aql Fa’al)
Ibn Rusyd mengandalkan konsep Aristotelian-Neo-Platonis tentang Akal Aktif (Active Intellect) sebagai jembatan epistemologis menuju kebenaran, meniadakan perlunya intuisi mistik.
Sifat Akal Aktif: Akal Aktif adalah entitas kekal, universal, dan non-individual (atau substansi terakhir dalam hirarki emanasi). Ia adalah sumber iluminasi yang memungkinkan akal materi (‘aql hayūlānī) individu (akal potensial kita) menjadi Akal Perolehan (‘aql mustafād), yaitu akal yang telah mencapai kebenaran dan pengetahuan universal.
Epistemologi Akal Murni: Bagi Ibn Rusyd, pengetahuan tertinggi (hakikat) dicapai ketika Akal Individual bersatu (ittisāl) dengan Akal Aktif. Proses penyatuan ini adalah hasil dari disiplin intelektual dan pemikiran rasional yang ketat, bukan melalui latihan mistik atau ekstase.
Kesetaraan Kebenaran: Kebenaran yang dicapai melalui Akal Murni (filsafat) adalah setara dengan, atau bahkan merupakan bentuk yang lebih murni dari, kebenaran yang diwahyukan. Wahyu berfungsi untuk mengkomunikasikan kebenaran ini kepada massa dalam bentuk yang lebih mudah dipahami (simbolik dan imajinatif), sedangkan filsafat mencapai kebenaran dalam bentuk konseptual murni.
3. Kesimpulan: Kontras Sumber Pengetahuan
Jadi, Ibn Rusyd secara efektif membalikkan hierarki epistemologis Al-Ghazali. Jika Al-Ghazali menempatkan akal di bawah intuisi, Ibn Rusyd mengangkat akal ke tingkat tertinggi, menjadikannya alat yang sah dan bahkan diwajibkan oleh agama untuk mengenal Tuhan secara mendalam, tanpa perlu bergantung pada pengalaman subjektif mistik yang tidak dapat diverifikasi secara universal.
Demikian catatan singkat ini, semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.